Pada awalnya ada sebuah kata; kebebasan. Ada sebuah mimpi; kebahagiaan. Keduanya seolah menyatu di dalam cita-cita; otentisitas. Katanya dengan hidup otentik –asli sesuai panggilan hati-, orang bisa mencapai kebebasan, dan dengan itu, ia akan mencapai kebahagiaan. Kita bisa menerima ini, karena tampak langsung menyentuh akal budi maupun hati nurani yang kita punya.
Seringkali kita diminta untuk melihat ke dalam diri sendiri, dan hidup seturut dengan panggilan hati terdalam yang kita punya. Sekilas ini semua terlihat menarik. Namun apakah saran semacam itu masih tepat untuk situasi Indonesia sekarang?
Di tengah sedikitnya lapangan kerja yang layak, apakah kita masih meminta anak-anak kita untuk menjadi otentik, dan setia pada panggilan hati mereka sendiri? Apakah kita siap dengan resiko, bahwa mungkin saja, mereka tidak mendapat pekerjaan yang layak, dan hidup di dalam kegagalan, ketika mengejar mimpi dan panggilan hati mereka dengan penuh semangat?
Slogan Sesat?
Di dalam kolom terbarunya di New York Times, David Brooks (2011) berpendapat, bahwa slogan “jadilah otentik”, “ikutilah panggilan hatimu”, dan “wujudkan mimpimu” adalah slogan yang sesat. Itu adalah bentuk dari budaya individualisme yang amat dalam tertanam di dalam budaya Amerika. Ia juga berpendapat bahwa slogan itu tidak lagi berlaku sekarang ini; slogan itu salah.
Bagi Brooks yang justru sekarang ini harus menjadi fokus adalah kemampuan untuk mengikatkan diri pada satu cita-cita yang terkait dengan kebaikan masyarakat, dan bukan semata mengikuti panggilan hati, atau panggilan mimpi. Orang diajak untuk mengikatkan diri dan kemampuan mereka pada satu cita-cita luhur, yang terkait erat dengan kebaikan bersama, dan bukan memenuhi panggilan hati mereka semata.
Lagi pula apa sebenarnya panggilan hati itu? Apakah kita pernah yakin dengan panggilan hati kita? Apakah kita sungguh bisa yakin, apa yang menjadi mimpi hidup kita? Karena bisa saja panggilan hati dan mimpi itu berubah di dalam perjalanan hidup yang berliku.
Menurut Brooks “orang-orang muda yang paling sukses tidak melihat ke dalam diri mereka, dan merencanakan hidup.” Mereka melihat kebutuhan di luar, dan terpanggil untuk memberikan diri mereka, guna memenuhi kebutuhan itu. Brooks memberikan beberapa contoh; seorang wanita tergerak untuk menemukan obat bagi penyakit Alzheimer, karena saudaranya menderita penyakit tersebut, atau seorang pria muda terdorong merumuskan model manajemen yang lebih baik, karena bekerja di bawah seorang bos yang tidak punya karakter kepemimpinan, dan berbagai contoh lainnya.
“Kebanyakan orang”, demikian tulis Brooks, “tidak mencari dan membentuk diri mereka, lalu menjalankan kehidupan. Mereka dipanggil oleh masalah, dan jati diri mereka dibentuk secara bertahap oleh panggilan itu.” Artinya orang tidak mencari ke dalam diri mereka sendiri, tetapi melihat keluar, dan membaktikan hidup mereka untuk sesuatu di luar diri mereka tersebut. Menjadi otentik tidak berarti hidup sesuai dengan mimpi ataupun panggilan hati, tetapi justru untuk melepaskan diri, dan membiarkannya terbentuk seturut panggilan kebutuhan masyarakat.
Redefinisi
Juga anak-anak kita sekarang sering diajarkan untuk menjadi orang-orang yang berpikir mandiri. Mereka diminta untuk mampu mengekspresikan diri mereka di hadapan komunitasnya. Namun Brooks juga mencatat, bahwa dua kualitas ini tidak selalu baik. Kadang menjadi menjadi orang baik berarti menekan dorongan diri, dan menjalankan prosedur yang sudah ada dengan patuh.
Tentang ini Brooks mengutip pernyataan Atul Gawande, sewaktu ia menjadi pembicara di Harvard Medical School, Amerika Serikat; “menjadi seorang dokter yang baik seringkali berarti menjadi bagian dari tim, mematuhi perintah institusi, dan mengisi semua ceklis yang perlu diisi.”
Di dalam teori klasik tentang otentisitas diajarkan, bahwa diri manusia adalah pusat dari kehidupan. Namun bagi Brooks ungkapan itu menyesatkan. Pusat dari hidup bukanlah diri manusia, melainkan kehidupan itu sendiri, yang selalu bergerak dan berubah dalam bentuk jaringan. Kebahagiaan lahir bukan dari upaya manusia untuk menjadi dirinya sendiri, tetapi dari upaya manusia untuk terlibat di dalam tugas-tugas hidupnya dengan setia. Maka “tujuan dari hidup bukanlah menemukan dirimu sendiri; tetapi justru untuk melepaskannya.”
Pertimbangan
Argumen Brooks amat menarik. Ia menantang slogan populer yang beredar di masyarakat. Namun saya punya dua catatan untuknya. Yang pertama, untuk bisa memberikan diri pada masyarakat, orang harus tahu terlebih dahulu, apa yang bisa ia berikan. Dengan kata lain ia harus tahu dulu di bidang apa ia mampu memberikan sumbangan secara maksimal, baru ia kemudian bisa aktif berpartisipasi untuk kebaikan masyarakat.
Yang kedua, maka dari itu, argumen Brooks sebenarnya tidak bertentangan dengan teori otentisitas klasik. Ia hanya menegaskan fokus dari teori otentisitas klasik dalam kaitannya dengan kepentingan bersama. Dengan kata lain ia memberikan suntikan sosialitas pada teori otentisitas klasik yang memang terkesan amat individualistik.
Argumen Brooks bisa ditempatkan sebagai sintesis antara teori otentisitas klasik di satu sisi yang amat menekankan agenda panggilan hati pribadi, dan pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari masyarakat, maka ia harus memberikan sumbangan nyata bagi komunitasnya di sisi lain. Masalahnya tinggal bagaimana kita bisa menghayatinya dalam hidup sehari-hari. Itu yang memang selalu menjadi masalah
Wednesday, June 15, 2011
Friday, June 10, 2011
Pengganggu/ yang tak terduga
Orang benci para pengganggu (the disruptor). Namun penganggu itu bermata dua. Kehadirannya dibenci sekaligus dirindukan. Di tengah situasi penuh kompetisi, para pengganggu berharga bagaikan permata. Ide-ide mengalir tak terduga deras dari kepala dan tutur kata mereka.
Ketika ada masalah mereka diajak untuk menganalisis situasi. Namun tak berhenti di situ; para pengganggu datang, menemukan anggapan-anggapan lama yang masih ada, dan membuatnya mati. Para penganggu adalah para pembunuh klise (pandangan umum).
Di dalam wacana filsafat, para pembunuh klise seringkali disebut sebagai orang-orang yang melahirkan hipotesis disruptif. Apa itu? Hipotesis disruptif adalah “pernyataan yang tidak masuk akal yang secara sengaja dibuat untuk membuat orang berpikir ke arah yang berbeda.” (Williams, 2011)
Bagaimana Jika?
Di dalam teori evolusi, konsep hipotesis disruptif, menurut Williams, dapat disamakan dengan konsep ekuilibrium dinamis, yakni suatu proses, di mana proses perubahan datang secara bertahap, dan pada beberapa waktu khusus, proses tersebut berjalan terbalik tanpa terduga. Dalam arti ini dapatlah ditegaskan, bahwa tujuan dari hipotesis disruptif adalah untuk menganggu bisnis yang tampak seimbang, stagnan, serta mendorong proses berpikir ke arah yang sebelumnya tak ada.
Bahkan Luke Williams menegaskan, “kemampuan untuk bertanya ‘bagaimana jika’ adalah kemampuan yang amat penting bagi seorang pembuat keputusan.” Di dalam cara berpikir tradisional, orang membuat keputusan berdasarkan data yang ada, yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Namun hipotesis disruptif bergerak ke arah sebaliknya, yakni menolak untuk menarik kesimpulan secara logis dan tertebak (predictable), serta bergerak ke arah sebaliknya, yakni merumuskan yang tak terduga (the unpredictable) itu sendiri.
Saya bisa memberikan satu contoh. Kita tidak perlu bertanya, bagaimana ban mobil bisa lebih kuat dan tahan lama, melainkan yang harus kita tanyakan adalah, mengapa mobil perlu memakai ban? Pertanyaan pertama adalah pertanyaan logis yang membutuhkan jawaban yang logis pula. Sementara pertanyaan kedua lebih merupakan suatu provokasi untuk berpikir ke arah yang tak terduga.
George Bernard Shaw, seperti dikutip oleh Williams, pernah membedakan antara prediksi dan provokasi. Prediksi adalah kemampuan untuk melihat apa yang ada di depan mata, dan bertanya, “mengapa?” Sementara provokasi adalah kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang belum ada, dan kemudian bertanya, “bagaimana jika?” Di tengah dunia yang semakin tak pasti, menurut Williams, kemampuan untuk mengajukan pertanyaan “bagaimana jika” akan memicu terciptanya inovasi. Dan itu yang amat dibutuhkan di berbagai bidang sekarang ini di Indonesia.
Dibutuhkan
Para pengganggu dibutuhkan ketika situasi sedang stagnan, ketika tidak ada perubahan berarti. Para pengganggu juga dibutuhkan, ketika keuntungan (sesuatu yang diharapkan diperoleh) kecil, padahal ada kemungkinan untuk memperoleh keuntungan lebih besar. Ketika perubahan tampak begitu lambat, dan perusahaan mulai kehilangan daya juangnya, pada saat itu dibutuhkanlah kehadiran para pengganggu yang mengajukan pertanyaan maupun pernyataan yang tak terduga; hipotesis disruptif.
Para penganggu adalah ibu bagi lahirnya hipotesis disruptif. Mereka menjauh dari klise, yakni penyataan umum yang telah tersebar, yang mengarahkan cara berpikir orang pada umumnya. Seperti layaknya udara, klise itu bertebaran di semua area. Ingatlah; para pengganggu adalah para pembunuh klise.
Klise
Klise memang ada di mana-mana. Tetapi tak semua orang bisa menemukannya. Ini terjadi karena orang tenggelam di dalamnya, sehingga tidak lagi mampu melihatnya. Maka orang perlu melakukan penelitian kecil, guna menemukan klise yang ada. Menurut Williams penelitian untuk menemukan klise yang bertebaran harus bersifat sederhana, informal, intuitif, dan kualitatif.
Setelah klise tampak maka orang perlu membaliknya, kalau perlu sampai 180 derajat. Dengan cara ini orang bisa memperoleh sudut pandang yang sebelumnya tak terlihat. Ketika semua orang berpikir A, maka bisa dipastikan, bahwa A pasti klise, maka tidak tepat, dan tidak lagi berlaku. Maka sekali lagi saran saya –searah dengan Williams- berpikirlah terbalik; berlawanan 180 derajat dengan apa yang ada.
Yang juga diperlukan adalah secercah keberanian. Semakin berani hipotesis “bagaimana jika” yang diajukan, maka semakin bagus. Orang bisa melihat dengan cara pandang yang sama sekali baru. Pada akhirnya para pengganggu dirindukan, karena mereka menghasilkan yang tak terduga. Di tangan mereka lahir ide-ide yang mengagetkan, sekaligus… mengubah dunia
Ketika ada masalah mereka diajak untuk menganalisis situasi. Namun tak berhenti di situ; para pengganggu datang, menemukan anggapan-anggapan lama yang masih ada, dan membuatnya mati. Para penganggu adalah para pembunuh klise (pandangan umum).
Di dalam wacana filsafat, para pembunuh klise seringkali disebut sebagai orang-orang yang melahirkan hipotesis disruptif. Apa itu? Hipotesis disruptif adalah “pernyataan yang tidak masuk akal yang secara sengaja dibuat untuk membuat orang berpikir ke arah yang berbeda.” (Williams, 2011)
Bagaimana Jika?
Di dalam teori evolusi, konsep hipotesis disruptif, menurut Williams, dapat disamakan dengan konsep ekuilibrium dinamis, yakni suatu proses, di mana proses perubahan datang secara bertahap, dan pada beberapa waktu khusus, proses tersebut berjalan terbalik tanpa terduga. Dalam arti ini dapatlah ditegaskan, bahwa tujuan dari hipotesis disruptif adalah untuk menganggu bisnis yang tampak seimbang, stagnan, serta mendorong proses berpikir ke arah yang sebelumnya tak ada.
Bahkan Luke Williams menegaskan, “kemampuan untuk bertanya ‘bagaimana jika’ adalah kemampuan yang amat penting bagi seorang pembuat keputusan.” Di dalam cara berpikir tradisional, orang membuat keputusan berdasarkan data yang ada, yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Namun hipotesis disruptif bergerak ke arah sebaliknya, yakni menolak untuk menarik kesimpulan secara logis dan tertebak (predictable), serta bergerak ke arah sebaliknya, yakni merumuskan yang tak terduga (the unpredictable) itu sendiri.
Saya bisa memberikan satu contoh. Kita tidak perlu bertanya, bagaimana ban mobil bisa lebih kuat dan tahan lama, melainkan yang harus kita tanyakan adalah, mengapa mobil perlu memakai ban? Pertanyaan pertama adalah pertanyaan logis yang membutuhkan jawaban yang logis pula. Sementara pertanyaan kedua lebih merupakan suatu provokasi untuk berpikir ke arah yang tak terduga.
George Bernard Shaw, seperti dikutip oleh Williams, pernah membedakan antara prediksi dan provokasi. Prediksi adalah kemampuan untuk melihat apa yang ada di depan mata, dan bertanya, “mengapa?” Sementara provokasi adalah kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang belum ada, dan kemudian bertanya, “bagaimana jika?” Di tengah dunia yang semakin tak pasti, menurut Williams, kemampuan untuk mengajukan pertanyaan “bagaimana jika” akan memicu terciptanya inovasi. Dan itu yang amat dibutuhkan di berbagai bidang sekarang ini di Indonesia.
Dibutuhkan
Para pengganggu dibutuhkan ketika situasi sedang stagnan, ketika tidak ada perubahan berarti. Para pengganggu juga dibutuhkan, ketika keuntungan (sesuatu yang diharapkan diperoleh) kecil, padahal ada kemungkinan untuk memperoleh keuntungan lebih besar. Ketika perubahan tampak begitu lambat, dan perusahaan mulai kehilangan daya juangnya, pada saat itu dibutuhkanlah kehadiran para pengganggu yang mengajukan pertanyaan maupun pernyataan yang tak terduga; hipotesis disruptif.
Para penganggu adalah ibu bagi lahirnya hipotesis disruptif. Mereka menjauh dari klise, yakni penyataan umum yang telah tersebar, yang mengarahkan cara berpikir orang pada umumnya. Seperti layaknya udara, klise itu bertebaran di semua area. Ingatlah; para pengganggu adalah para pembunuh klise.
Klise
Klise memang ada di mana-mana. Tetapi tak semua orang bisa menemukannya. Ini terjadi karena orang tenggelam di dalamnya, sehingga tidak lagi mampu melihatnya. Maka orang perlu melakukan penelitian kecil, guna menemukan klise yang ada. Menurut Williams penelitian untuk menemukan klise yang bertebaran harus bersifat sederhana, informal, intuitif, dan kualitatif.
Setelah klise tampak maka orang perlu membaliknya, kalau perlu sampai 180 derajat. Dengan cara ini orang bisa memperoleh sudut pandang yang sebelumnya tak terlihat. Ketika semua orang berpikir A, maka bisa dipastikan, bahwa A pasti klise, maka tidak tepat, dan tidak lagi berlaku. Maka sekali lagi saran saya –searah dengan Williams- berpikirlah terbalik; berlawanan 180 derajat dengan apa yang ada.
Yang juga diperlukan adalah secercah keberanian. Semakin berani hipotesis “bagaimana jika” yang diajukan, maka semakin bagus. Orang bisa melihat dengan cara pandang yang sama sekali baru. Pada akhirnya para pengganggu dirindukan, karena mereka menghasilkan yang tak terduga. Di tangan mereka lahir ide-ide yang mengagetkan, sekaligus… mengubah dunia
Mengapa Kita Bersatu?
Sungguh sebenarnya kita sudah menipu: menipu dunia, menipu diri sendiri, dan menipu sejarah kita sendiri. Bahwa kita adalah manusia dan masyarakat modern, bahkan posmodern, dan bahwa kita adalah masyarakat demokratis yang ditandai oleh manusia-manusia yang egaliter, progresif, mundial, dan menghargai minoritas. Sesungguhnya itu hanyalah sebuah tipu.
Sebagaimana para elite dan pemimpinnya yang getol menggunakan biaya rakyat untuk melakukan upaya pencitraan diri, kita pun sesungguhnya aktor-aktor murahan yang sibuk dengan pencitraan bahwa kita adalah masyarakat yang sama maju dan modernnya dengan bangsa-bangsa ”hebat” lainnya. Dalam realitasnya, kita tetap tenggelam dalam kemenduaan atau semacam skizofrenia kultural, di mana diri yang kita citrakan itu bertempur atau berebut tampil dengan diri kita yang tradisional, primordial, mistik, dan klenik.
Situasi mental semacam ini membuat diri kita sebagai pribadi maupun komunal (bangsa) senantiasa mengalami kerancuan dalam menentukan fundamen-fundamen nilai dan identitas kita sendiri. Situasi yang beberapa dekade lalu coba dipecahkan melalui sebuah mekanisme indoktrinal melalui simbol-simbol kekuasaan, baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, kemudian pecah berserak dalam alam liberal yang dihasilkan oleh reformasi. Karena itu, kerancuan nilai dan moral, serta psikologi yang neurotik di atas pun menggelegak, memberi semacam permisi tanpa batas bagi siapa saja untuk mengekspresikan neurotika atau ”kegilaan” skizofreniknya masing-masing.
Tak pelak, usaha apa pun yang mencoba mengingatkan, mendesak, atau menghidupkan kembali nilai-nilai fundamental yang kita kenali lewat sejarah (misalnya dalam peringatan-peringatan hari kebangsaan nasional) tak pernah efektif dan akan selalu gagal dalam praksisnya. Reformasi dengan segala implikasi deliberatifnya sebenarnya tak lain adalah semacam penolakan, pengingkaran, bahkan pengkhianatan dari ide-ide dan realitas kultural yang hidup dan tumbuh di masa para pendiri bangsa ini berjuang.
Para pejuang dan pendiri bangsa itu, dalam semua keterbatasan, mesti diakui masih menggenggam dengan kuat apa yang disebut keyakinan serta jati dirinya yang tradisional dan primordial. Kesejatian itu masih ada. Kesejatian yang mampu menegakkan sikap dengan jernih dan tegas, misalnya dalam menghadapi penindasan kaum kolonial, hasrat memerdekakan diri, atau mengambil sikap secara bertanggung jawab terhadap ide-ide intelektual atau simbol-simbol kultural yang berasal dari luar.
Namun, dalam diri yang neurotik atau skizofrenik, kesejatian itu luntur dan lenyap. Kita pun mengalami kesulitan bahkan kehilangan posisi eksistensial kita sebagai manusia maupun bangsa dalam menyikapi tuntutan-tuntutan zaman, termasuk simbol-simbol kultural yang begitu gencar dipenetrasi gerak globalisme.
Ide persatuan itu
Karena itu, persoalannya mungkin bukan sekadar pada tidak berfungsinya lembaga-lembaga formal (modern, demokratis, dan kapitalis), produk-produk hukumnya, atau metode law enforcement-nya. Namun, lebih pada kualitas dan kapasitas, tepatnya pada realitas manusianya di tingkat individual maupun sosial.
Realitas kita sebagai manusia dan bangsa itulah yang sesungguhnya jadi bom bunuh diri terbesar bagi apa yang diidealisasikan sebagai ”Persatuan Indonesia”. Sebuah ide yang pada masa lalu sesungguhnya bukan sebuah visi atau harapan kosong, tetapi sudah menjelma dalam hidup perjuangan para pendahulu kita. Setidaknya dalam bentuk-bentuk dasar alamiahnya.
Semua itu, bila dicermati, berangkat bukan dari ide-ide nasionalisme yang merebak dan dibawa oleh pelajar-pelajar Indonesia dari Timur Tengah, Eropa, lalu ke Asia Tenggara sejak paruh pertama abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Kebiasaan dan tradisi yang kita hidupi selama ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya menunjukkan tidak ada ide atau simbol kultural asing yang dapat diterima, diterapkan, atau jadi praksis begitu saja dalam tempo yang begitu ringkasnya.
Tradisi ratusan etnik yang ada di negeri ini dalam memperlakukan ide atau simbol-simbol asing sebagai masukan dalam proses pendewasaan diri atau penciptaan identitas baru, butuh waktu berabad-abad. Itulah yang terjadi pada suku bangsa Jawa, Batak, Bugis, Betawi, dan lainnya. Karena itu, kelirulah jika kita mengira bahwa dasar-dasar etik, normatif, maupun intelektual-ideasional dari persatuan bangsa Indonesia itu berasal dari adopsi gagasan- gagasan asing.
Dalam realitas historis-kulturalnya sebagai komunitas (etnik) maupun sebagai ”bangsa”, Indonesia adalah sebuah wilayah di mana secara kultural memiliki satu tingkat interdependensi yang tinggi.
Keberadaan satu komunitas atau etnik tidak dapat dilepaskan dari keberadaan komunitas dan etnik lainnya. Satu sama lain sangat bergantung bukan hanya dalam arti ekonomis atau perdagangan, baik secara barter maupun dengan alat tukar, tetapi juga kultural. Yakni ketika etnik atau suku bangsa-suku bangsa itu meraih kedewasaannya—dalam pengetahuan atau ekspresi-ekspresi kebudayaannya—melalui perjumpaan dan proses hibridisasi dengan unsur-unsur simbolik dari kultur (suku-) bangsa lainnya.
Begitulah proses yang terjadi dalam ribuan tahun sejarah kawasan ini sejak ia terbentuk karena es yang mencair dan perpindahan serta persilangan penduduk yang terjadi dari arah timur (Papua), utara (Taiwan), dan barat (Sumatera). Sebuah proses pembentukan bangsa-bangsa yang hingga saat ini masih menjadi unsur kejutan dan tak terjelaskan oleh ilmuwan di atas muka bumi ini. Bagaimana proses itu kemudian melahirkan 500-an etnik dan 700-an bahasa dengan segala macam identitas fisiknya dan menjadi kekayaan sebuah bangsa yang tak tertandingi bangsa mana pun di dunia.
Sesungguhnya inilah kawasan terunik dalam sejarah yang bahkan tak dapat disamakan begitu saja dengan kawasan sejenis, seperti Mediterania di pertigaan Afrika, Eropa, dan Asia. Pembentukan suku bangsa-suku bangsa yang ada tak pernah melalui sebuah dominasi dari kekuatan atau kekuasaan satu suku atau etnik tertentu. Tidak juga oleh Jawa yang kebetulan berpenduduk paling banyak dan memiliki kegiatan sosio-ekonomi-politik-kultural paling aktif saat itu.
Itulah sebabnya, setiap etnik atau suku bangsa dapat mengembangkan kualitas dan kebudayaannya masing-masing, serta melahirkan karya-karya terbaiknya. Semua itu dihasilkan oleh sebuah kondisi masyarakat di mana multikulturalisme adalah keniscayaan, sebuah takdir yang diterima (given), dan menciptakan interkulturalisme yang tidak tertandingi masa mana pun hingga hari ini.
Betapa jenialnya multikulturalisme yang mutualistik itu mengembangkan sebuah ikatan yang tak terputus secara kultural, diikuti oleh produk-produk ekonomi, sosial, atau politiknya. Ikatan itu dibangun lewat kesadaran. Mereka terikat untuk ber-(kerja)-sama dalam proses pematangan dan pendewasaan diri.
Ikatan itu begitu primordial, mengendap dalam sanubari terdalam kita sebagai anggota komunitas, juga akhirnya sebagai bangsa. Kita tak mungkin merasa keberatan adanya suku bangsa lain di komunitas atau rumah kita karena adanya kau (mereka) menentukan adanya aku (kami): adanya kita! Betapa indah ketika Empu Prapanca menegaskannya dalam slogan pendek: Bhinneka Tunggal Ika.
Orang Indonesia
Itulah fundamen persatuan kita yang disilakan dalam Pancasila, yang mestinya lebih tepat diformulasikan sebagai ”Persatuan (dari keberagaman bangsa) Indonesia”. Tanpa kekuatan fundamental ini, semua ide baru tentang persatuan atau nasionalisme tiada gunanya. Tanpa kesadaran akan dasar realitas historis-kultural ini, kita akan mudah dipecah oleh kepentingan-kepentingan sempit-sementara yang membuat konflik tiada henti hingga mengerahkan kekerasan tak terperi.
Maka, sebuah ilusi bila kita bicara tentang ide-ide atau simbol-simbol kultural yang diadopsi begitu saja untuk menjelaskan, apalagi memproyeksikan kesatuan dan kemajuan bangsa ini tanpa memperhitungkan realitas primordial yang mengendap di balik kulit peradaban artifisial kita sekarang ini. Betapa mudah peradaban kulit itu dipermainkan, menjadi alat untuk menghancurkan, bisa kita saksikan belakangan ini.
Bila kita tak mengerti kenapa itu terjadi dan bagaimana solusinya, pertama, karena kita menerima kulit itu sebagai isi (esensi). Kedua, kita tidak mengakui psikologi kultural kita yang skizofrenik. Ketiga, karena kita tidak berani mengekspresikan jati diri primordial itu: menganggapnya kuno, terbelakang, beku, klenik, dan memalukan. Padahal dalam diri yang ”kuno” itu kekuatan kita sebenarnya berada.
Tidak bisa lain, kita harus melakukan terapi keras, sebagaimana para psikiater terhadap pasiennya pada tingkat patologi mental itu. Kita harus berani mengakui dan menerima diri kita yang ”tersembunyi” atau disembunyikan dengan sengaja atau direkayasa oleh kultur asing itu. Justru dalam kualitas yang disebut primordial itu unikum dan kesejatian kita ada, kekuatan sebenarnya yang kita punya.
Artinya, sungguh bukan kesalahan bila Anda (dengan khusyuk dan setia) menjadi Bali, Banten, Banjar, atau Madura. Tidak juga keliru jika Anda (juga dengan khusyuk dan setia) menganut agama apa saja. Ketika Anda sejati menjalaninya dan menjadi apa yang diidealkan oleh kesatuan etnik atau kepercayaan, sesungguhnya Anda sudah menjadi Indonesia. Karena itu, jika Anda masih tak mampu menenggang orang lain, merebut wilayah orang lain, memainkan kuasa dan dominasi atas orang lain, tentu saja Anda belum, bahkan—mungkin—bukan manusia dengan etnik dan agama di mana Anda terlahir di situ. Anda tidak sejati.
Konsekuensinya, Anda belum atau tidak layak menjadi orang Indonesia. Boleh jadi Anda justru menjadi pengingkar atau pengkhianatnya
Sebagaimana para elite dan pemimpinnya yang getol menggunakan biaya rakyat untuk melakukan upaya pencitraan diri, kita pun sesungguhnya aktor-aktor murahan yang sibuk dengan pencitraan bahwa kita adalah masyarakat yang sama maju dan modernnya dengan bangsa-bangsa ”hebat” lainnya. Dalam realitasnya, kita tetap tenggelam dalam kemenduaan atau semacam skizofrenia kultural, di mana diri yang kita citrakan itu bertempur atau berebut tampil dengan diri kita yang tradisional, primordial, mistik, dan klenik.
Situasi mental semacam ini membuat diri kita sebagai pribadi maupun komunal (bangsa) senantiasa mengalami kerancuan dalam menentukan fundamen-fundamen nilai dan identitas kita sendiri. Situasi yang beberapa dekade lalu coba dipecahkan melalui sebuah mekanisme indoktrinal melalui simbol-simbol kekuasaan, baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, kemudian pecah berserak dalam alam liberal yang dihasilkan oleh reformasi. Karena itu, kerancuan nilai dan moral, serta psikologi yang neurotik di atas pun menggelegak, memberi semacam permisi tanpa batas bagi siapa saja untuk mengekspresikan neurotika atau ”kegilaan” skizofreniknya masing-masing.
Tak pelak, usaha apa pun yang mencoba mengingatkan, mendesak, atau menghidupkan kembali nilai-nilai fundamental yang kita kenali lewat sejarah (misalnya dalam peringatan-peringatan hari kebangsaan nasional) tak pernah efektif dan akan selalu gagal dalam praksisnya. Reformasi dengan segala implikasi deliberatifnya sebenarnya tak lain adalah semacam penolakan, pengingkaran, bahkan pengkhianatan dari ide-ide dan realitas kultural yang hidup dan tumbuh di masa para pendiri bangsa ini berjuang.
Para pejuang dan pendiri bangsa itu, dalam semua keterbatasan, mesti diakui masih menggenggam dengan kuat apa yang disebut keyakinan serta jati dirinya yang tradisional dan primordial. Kesejatian itu masih ada. Kesejatian yang mampu menegakkan sikap dengan jernih dan tegas, misalnya dalam menghadapi penindasan kaum kolonial, hasrat memerdekakan diri, atau mengambil sikap secara bertanggung jawab terhadap ide-ide intelektual atau simbol-simbol kultural yang berasal dari luar.
Namun, dalam diri yang neurotik atau skizofrenik, kesejatian itu luntur dan lenyap. Kita pun mengalami kesulitan bahkan kehilangan posisi eksistensial kita sebagai manusia maupun bangsa dalam menyikapi tuntutan-tuntutan zaman, termasuk simbol-simbol kultural yang begitu gencar dipenetrasi gerak globalisme.
Ide persatuan itu
Karena itu, persoalannya mungkin bukan sekadar pada tidak berfungsinya lembaga-lembaga formal (modern, demokratis, dan kapitalis), produk-produk hukumnya, atau metode law enforcement-nya. Namun, lebih pada kualitas dan kapasitas, tepatnya pada realitas manusianya di tingkat individual maupun sosial.
Realitas kita sebagai manusia dan bangsa itulah yang sesungguhnya jadi bom bunuh diri terbesar bagi apa yang diidealisasikan sebagai ”Persatuan Indonesia”. Sebuah ide yang pada masa lalu sesungguhnya bukan sebuah visi atau harapan kosong, tetapi sudah menjelma dalam hidup perjuangan para pendahulu kita. Setidaknya dalam bentuk-bentuk dasar alamiahnya.
Semua itu, bila dicermati, berangkat bukan dari ide-ide nasionalisme yang merebak dan dibawa oleh pelajar-pelajar Indonesia dari Timur Tengah, Eropa, lalu ke Asia Tenggara sejak paruh pertama abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Kebiasaan dan tradisi yang kita hidupi selama ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya menunjukkan tidak ada ide atau simbol kultural asing yang dapat diterima, diterapkan, atau jadi praksis begitu saja dalam tempo yang begitu ringkasnya.
Tradisi ratusan etnik yang ada di negeri ini dalam memperlakukan ide atau simbol-simbol asing sebagai masukan dalam proses pendewasaan diri atau penciptaan identitas baru, butuh waktu berabad-abad. Itulah yang terjadi pada suku bangsa Jawa, Batak, Bugis, Betawi, dan lainnya. Karena itu, kelirulah jika kita mengira bahwa dasar-dasar etik, normatif, maupun intelektual-ideasional dari persatuan bangsa Indonesia itu berasal dari adopsi gagasan- gagasan asing.
Dalam realitas historis-kulturalnya sebagai komunitas (etnik) maupun sebagai ”bangsa”, Indonesia adalah sebuah wilayah di mana secara kultural memiliki satu tingkat interdependensi yang tinggi.
Keberadaan satu komunitas atau etnik tidak dapat dilepaskan dari keberadaan komunitas dan etnik lainnya. Satu sama lain sangat bergantung bukan hanya dalam arti ekonomis atau perdagangan, baik secara barter maupun dengan alat tukar, tetapi juga kultural. Yakni ketika etnik atau suku bangsa-suku bangsa itu meraih kedewasaannya—dalam pengetahuan atau ekspresi-ekspresi kebudayaannya—melalui perjumpaan dan proses hibridisasi dengan unsur-unsur simbolik dari kultur (suku-) bangsa lainnya.
Begitulah proses yang terjadi dalam ribuan tahun sejarah kawasan ini sejak ia terbentuk karena es yang mencair dan perpindahan serta persilangan penduduk yang terjadi dari arah timur (Papua), utara (Taiwan), dan barat (Sumatera). Sebuah proses pembentukan bangsa-bangsa yang hingga saat ini masih menjadi unsur kejutan dan tak terjelaskan oleh ilmuwan di atas muka bumi ini. Bagaimana proses itu kemudian melahirkan 500-an etnik dan 700-an bahasa dengan segala macam identitas fisiknya dan menjadi kekayaan sebuah bangsa yang tak tertandingi bangsa mana pun di dunia.
Sesungguhnya inilah kawasan terunik dalam sejarah yang bahkan tak dapat disamakan begitu saja dengan kawasan sejenis, seperti Mediterania di pertigaan Afrika, Eropa, dan Asia. Pembentukan suku bangsa-suku bangsa yang ada tak pernah melalui sebuah dominasi dari kekuatan atau kekuasaan satu suku atau etnik tertentu. Tidak juga oleh Jawa yang kebetulan berpenduduk paling banyak dan memiliki kegiatan sosio-ekonomi-politik-kultural paling aktif saat itu.
Itulah sebabnya, setiap etnik atau suku bangsa dapat mengembangkan kualitas dan kebudayaannya masing-masing, serta melahirkan karya-karya terbaiknya. Semua itu dihasilkan oleh sebuah kondisi masyarakat di mana multikulturalisme adalah keniscayaan, sebuah takdir yang diterima (given), dan menciptakan interkulturalisme yang tidak tertandingi masa mana pun hingga hari ini.
Betapa jenialnya multikulturalisme yang mutualistik itu mengembangkan sebuah ikatan yang tak terputus secara kultural, diikuti oleh produk-produk ekonomi, sosial, atau politiknya. Ikatan itu dibangun lewat kesadaran. Mereka terikat untuk ber-(kerja)-sama dalam proses pematangan dan pendewasaan diri.
Ikatan itu begitu primordial, mengendap dalam sanubari terdalam kita sebagai anggota komunitas, juga akhirnya sebagai bangsa. Kita tak mungkin merasa keberatan adanya suku bangsa lain di komunitas atau rumah kita karena adanya kau (mereka) menentukan adanya aku (kami): adanya kita! Betapa indah ketika Empu Prapanca menegaskannya dalam slogan pendek: Bhinneka Tunggal Ika.
Orang Indonesia
Itulah fundamen persatuan kita yang disilakan dalam Pancasila, yang mestinya lebih tepat diformulasikan sebagai ”Persatuan (dari keberagaman bangsa) Indonesia”. Tanpa kekuatan fundamental ini, semua ide baru tentang persatuan atau nasionalisme tiada gunanya. Tanpa kesadaran akan dasar realitas historis-kultural ini, kita akan mudah dipecah oleh kepentingan-kepentingan sempit-sementara yang membuat konflik tiada henti hingga mengerahkan kekerasan tak terperi.
Maka, sebuah ilusi bila kita bicara tentang ide-ide atau simbol-simbol kultural yang diadopsi begitu saja untuk menjelaskan, apalagi memproyeksikan kesatuan dan kemajuan bangsa ini tanpa memperhitungkan realitas primordial yang mengendap di balik kulit peradaban artifisial kita sekarang ini. Betapa mudah peradaban kulit itu dipermainkan, menjadi alat untuk menghancurkan, bisa kita saksikan belakangan ini.
Bila kita tak mengerti kenapa itu terjadi dan bagaimana solusinya, pertama, karena kita menerima kulit itu sebagai isi (esensi). Kedua, kita tidak mengakui psikologi kultural kita yang skizofrenik. Ketiga, karena kita tidak berani mengekspresikan jati diri primordial itu: menganggapnya kuno, terbelakang, beku, klenik, dan memalukan. Padahal dalam diri yang ”kuno” itu kekuatan kita sebenarnya berada.
Tidak bisa lain, kita harus melakukan terapi keras, sebagaimana para psikiater terhadap pasiennya pada tingkat patologi mental itu. Kita harus berani mengakui dan menerima diri kita yang ”tersembunyi” atau disembunyikan dengan sengaja atau direkayasa oleh kultur asing itu. Justru dalam kualitas yang disebut primordial itu unikum dan kesejatian kita ada, kekuatan sebenarnya yang kita punya.
Artinya, sungguh bukan kesalahan bila Anda (dengan khusyuk dan setia) menjadi Bali, Banten, Banjar, atau Madura. Tidak juga keliru jika Anda (juga dengan khusyuk dan setia) menganut agama apa saja. Ketika Anda sejati menjalaninya dan menjadi apa yang diidealkan oleh kesatuan etnik atau kepercayaan, sesungguhnya Anda sudah menjadi Indonesia. Karena itu, jika Anda masih tak mampu menenggang orang lain, merebut wilayah orang lain, memainkan kuasa dan dominasi atas orang lain, tentu saja Anda belum, bahkan—mungkin—bukan manusia dengan etnik dan agama di mana Anda terlahir di situ. Anda tidak sejati.
Konsekuensinya, Anda belum atau tidak layak menjadi orang Indonesia. Boleh jadi Anda justru menjadi pengingkar atau pengkhianatnya
Thursday, June 9, 2011
Pendidikan sebagai lahan untuk mengeruk keuntungan
Semangkin berkembangnya dunia pendidikan maka semangkin banyak muncul di indonesia lembaga2 pendidikan yang hanya mengejar ke untungan tanpa menyadari arti dan tujuan kita.
Mendirikan lembaga pendidikan yang tujuanya untuk ikut mencerdaskan bangsa kita yang selama ini masih memprihatinkan masalah pendidikan adapun demikian perlu kita waspadai bahwa banyak oknum2 yang dengan sengaja mengambil keuntungan dari kejadian tersebut dengan mendirikan lembaga pendidikan di indonesia tanpa memperhatikan fasilitas pendukung dunia pendidikan untuk mencapai tujuan yang memuaskan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang ada.
Mendirikan lembaga pendidikan yang tujuanya untuk ikut mencerdaskan bangsa kita yang selama ini masih memprihatinkan masalah pendidikan adapun demikian perlu kita waspadai bahwa banyak oknum2 yang dengan sengaja mengambil keuntungan dari kejadian tersebut dengan mendirikan lembaga pendidikan di indonesia tanpa memperhatikan fasilitas pendukung dunia pendidikan untuk mencapai tujuan yang memuaskan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang ada.
Thursday, May 19, 2011
Metode Pengajaran Rosulullah SAW Kepada Para Sahabatnya.
Metode yang ditempuh Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam dalam mengajar para sahabatnya tidak terlepas dari metode yang ditempuh oleh Al Qur’an. Karena Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam adalah penyampai Kitabullah, Beliau menjelaskan aspek-aspek hokum, menegaskan ayat-ayatnya serta mengaplikasikan Al Qur’an dalam kehidupan keseharian.
Al Qur’an turun secara bertahap kepada beliau selama kurag lebih sua puluh tiga tahun. Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bertabligh kkepada kaumnya dan masyarakat sekitarnya, merinci ajaran-ajarannya secara terperinci serta mempratikkan hokum-hukumnya.
Bila kita sadar kenyataan tersebut, maka seakan-akan kita menemukan sekolah yang besar, yang pengasuhnya adalah Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam. Materi pelajarannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Murid-muridnya adalah para sahabatnya. Seperti halnya Al qur’an yang turun secara bertahap, as-sunnah juga tidak di bentuk sekaligus. [1]
As Sunah dibentuk untuk mendidik umat Islam, baik bekenaan dalam permasalahan agama, sosial, etika dan politik, dalam keadaan perang dan damai ataupun dalam kondisi mudah dan sulit serta mencakup aspek ilmiah dan amaliah, aspek teoritis dan praktis.
Berikut adalah bagaimana Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam mengajar kepada para sahabatnya
Pengajaran bertahap, Al Qur’an menempuh jalan bertahap dalam menentang akida-akidah rusak dan tradisi-tradisi berbahaya dan memberantas segala bentuk kemungkaran yang dilakukan oleh umat manusia pada masa pra islam (jahiliyyah). Al Qur’an juga menggunakan cara bertahap dalam menancapkan akidah yang benar, ibadah, hokum, ajaran kepada etika luhur dan membangkitkan keberanian orang-orang yang berada disekitar Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam agar selalu bersabar dan berteguh hati. Dalam semua hal itulah, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjelaskan Al Qur’an Al Karim memberikan fatwa kepada manusia, melerai pihak-pihak yang bersengketa, menegakkan hukuman dan mempratekkan ajaran-ajaran Al Qur’an, semua itu merupakan sunah.
Pusat-pusat pengajaran, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjadikan Dar Al Akram bin Abdi manaf di Makkah sebagai markas dakwah dalam islam, tatkala pada awalnya dakwah itu dilakukan secara tersembunyi. Tempat itu dikenal dengan sebutan “Dar Al Islam”. Kaum muslimin yang awal berkumpulnya disekitar Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjauhi kaum musyrikin untuk membaca Al Qur’an, mempelajari dasar-dasar Islam dan menghafal Al Qur’an yang sedang turun kepada beliau. Kemudian tak seberapa lama, tempat tinggal Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam di Makkah menjadi pusat kegiatan kaum muslimin dan pesantren yang mereka gunakan untuk menerima Al Qur’an dan as Sunnah dari Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam.
Para sahabat mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah secara berdampingan dan mereka saling memberitahu apa yang mereka ketahui, mereka selalu berkeinginan untuk menguasai apa yang disampaiakn oleh Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam.
Disamping itu pusat kegiatan belajar tidak hanya di tempat-tempat khusus, melainkan terkadang Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam di mintakan fatwa di tengah perjalanan, dan dimana saja beliau Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam berada. Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam selalu duduk bersama para sahabatnya dan memberikan pelajaran dan membersihkan hati mereka.[2]
Diriwayatkan dari Anas ra, Bahwasannya tatkala mereka selesai menyelesaikan shalat subuh, mereka duduk membentuk halaqah, seraya membaca Al Qur’an dan mempelajari bebagai kefadhuan dan kesunnahan.[3]
Kebaikan Pendidikan dan Pengajaran¸ Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam merupan figure pendidik, penyelamat, dan pengajar sekaligus pembimbing, beliau diutus untuk meyempurnakan akhlak, beliau bergaul dengan seluruh kaum muslimin dan kaum kafir dengan baik
Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda “bagi kalian aku hanyalah seorang ayah, karena itu bila kalian buang hajat, maka jangan menghadap kiblat dan jangan (pula) membelakanginya.[4]
Bila berbicara Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menggunakan makna yang sangat jelas, diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata
“Bahwa Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallamtidak berbicara secara beruntun seperti kalian (para sahabat), tetapi beliau (Muhammad) berbicara dengan bahasa yang tegas dan jelas sehingga bisa dihafal oleh pendengarnya”[5]
Bila ada yang bertanya, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam selalu memberikan jawaban yang lebih luas dari yang ditanyakan.[6]
Contohnya : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya.
Rasulullah memerikan fatwa tersebut diatas ketika ada seorang sahabat yang sedang berlayar namun tidak cukup membawa air untuk bersuci, sahabat bertanya : bolehkah aku berwudhu dengan air laut, kemudian Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya. menjawab “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.”. Sabda beliau “Laut itu airnya suci dan mensucikan, menjawab pertanyaan sahabtnya, namun sabda beliau “bangkainya pun halal.” Merupakan tambahan jawaban dari pertanyaan sahabat. Lih : Subulus Salam, Kitb Air, bab Tharah, Hadist No 1.
[1] Lih : Ushul Al Hadits li Muhammad Ajaj Al Khatib, hal 49
[2] Lih: Majma Az Zawaid hal 132, Juz I
[3] Ibid
[4] Musnad Imam Ahmad, hal 100 hadits No. 7362, Juz II, Fathul Bary, hal 255, Juz I
[5] Lih : Al Jami’ Li Akhlaq ar Ra’wi wa Adab as-sami’, hal 96/B dan Fathul Bary hal 390, Juz I
[6] Fathul Bariy, hal 289, Juz VII
Al Qur’an turun secara bertahap kepada beliau selama kurag lebih sua puluh tiga tahun. Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bertabligh kkepada kaumnya dan masyarakat sekitarnya, merinci ajaran-ajarannya secara terperinci serta mempratikkan hokum-hukumnya.
Bila kita sadar kenyataan tersebut, maka seakan-akan kita menemukan sekolah yang besar, yang pengasuhnya adalah Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam. Materi pelajarannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Murid-muridnya adalah para sahabatnya. Seperti halnya Al qur’an yang turun secara bertahap, as-sunnah juga tidak di bentuk sekaligus. [1]
As Sunah dibentuk untuk mendidik umat Islam, baik bekenaan dalam permasalahan agama, sosial, etika dan politik, dalam keadaan perang dan damai ataupun dalam kondisi mudah dan sulit serta mencakup aspek ilmiah dan amaliah, aspek teoritis dan praktis.
Berikut adalah bagaimana Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam mengajar kepada para sahabatnya
Pengajaran bertahap, Al Qur’an menempuh jalan bertahap dalam menentang akida-akidah rusak dan tradisi-tradisi berbahaya dan memberantas segala bentuk kemungkaran yang dilakukan oleh umat manusia pada masa pra islam (jahiliyyah). Al Qur’an juga menggunakan cara bertahap dalam menancapkan akidah yang benar, ibadah, hokum, ajaran kepada etika luhur dan membangkitkan keberanian orang-orang yang berada disekitar Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam agar selalu bersabar dan berteguh hati. Dalam semua hal itulah, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjelaskan Al Qur’an Al Karim memberikan fatwa kepada manusia, melerai pihak-pihak yang bersengketa, menegakkan hukuman dan mempratekkan ajaran-ajaran Al Qur’an, semua itu merupakan sunah.
Pusat-pusat pengajaran, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjadikan Dar Al Akram bin Abdi manaf di Makkah sebagai markas dakwah dalam islam, tatkala pada awalnya dakwah itu dilakukan secara tersembunyi. Tempat itu dikenal dengan sebutan “Dar Al Islam”. Kaum muslimin yang awal berkumpulnya disekitar Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menjauhi kaum musyrikin untuk membaca Al Qur’an, mempelajari dasar-dasar Islam dan menghafal Al Qur’an yang sedang turun kepada beliau. Kemudian tak seberapa lama, tempat tinggal Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam di Makkah menjadi pusat kegiatan kaum muslimin dan pesantren yang mereka gunakan untuk menerima Al Qur’an dan as Sunnah dari Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam.
Para sahabat mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah secara berdampingan dan mereka saling memberitahu apa yang mereka ketahui, mereka selalu berkeinginan untuk menguasai apa yang disampaiakn oleh Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam.
Disamping itu pusat kegiatan belajar tidak hanya di tempat-tempat khusus, melainkan terkadang Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam di mintakan fatwa di tengah perjalanan, dan dimana saja beliau Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam berada. Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam selalu duduk bersama para sahabatnya dan memberikan pelajaran dan membersihkan hati mereka.[2]
Diriwayatkan dari Anas ra, Bahwasannya tatkala mereka selesai menyelesaikan shalat subuh, mereka duduk membentuk halaqah, seraya membaca Al Qur’an dan mempelajari bebagai kefadhuan dan kesunnahan.[3]
Kebaikan Pendidikan dan Pengajaran¸ Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam merupan figure pendidik, penyelamat, dan pengajar sekaligus pembimbing, beliau diutus untuk meyempurnakan akhlak, beliau bergaul dengan seluruh kaum muslimin dan kaum kafir dengan baik
Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda “bagi kalian aku hanyalah seorang ayah, karena itu bila kalian buang hajat, maka jangan menghadap kiblat dan jangan (pula) membelakanginya.[4]
Bila berbicara Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam menggunakan makna yang sangat jelas, diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata
“Bahwa Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallamtidak berbicara secara beruntun seperti kalian (para sahabat), tetapi beliau (Muhammad) berbicara dengan bahasa yang tegas dan jelas sehingga bisa dihafal oleh pendengarnya”[5]
Bila ada yang bertanya, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam selalu memberikan jawaban yang lebih luas dari yang ditanyakan.[6]
Contohnya : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya.
Rasulullah memerikan fatwa tersebut diatas ketika ada seorang sahabat yang sedang berlayar namun tidak cukup membawa air untuk bersuci, sahabat bertanya : bolehkah aku berwudhu dengan air laut, kemudian Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya. menjawab “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.”. Sabda beliau “Laut itu airnya suci dan mensucikan, menjawab pertanyaan sahabtnya, namun sabda beliau “bangkainya pun halal.” Merupakan tambahan jawaban dari pertanyaan sahabat. Lih : Subulus Salam, Kitb Air, bab Tharah, Hadist No 1.
[1] Lih : Ushul Al Hadits li Muhammad Ajaj Al Khatib, hal 49
[2] Lih: Majma Az Zawaid hal 132, Juz I
[3] Ibid
[4] Musnad Imam Ahmad, hal 100 hadits No. 7362, Juz II, Fathul Bary, hal 255, Juz I
[5] Lih : Al Jami’ Li Akhlaq ar Ra’wi wa Adab as-sami’, hal 96/B dan Fathul Bary hal 390, Juz I
[6] Fathul Bariy, hal 289, Juz VII
Thursday, May 12, 2011
AKHLAQ SEBAGAI DASAR PENDIDIKAN KEMANUSIAAN
Manusia adalah makhluk Tuhan yang tertinggi. Untuk mengkohkohkan ketinggian martabat manusia dalam rangka memenuhi fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi, ajaran islam menegaskan perlunya ilmu dan agama. Akhirnya dalam hubungan manusia dengan agama, maka agama akan menjadi sumber paling luhur bagi manusia. Sebab yang digarap oleh agama adalah masalah yang mendasar bagi umat manusia, yaitu akhlaq. Kemudian segi ini dihidupkanya dengan kekuatan ruh tauhid dan ibadah kepada Tuhan, sebagai kewajiban dan tujuan hidup dari perputaran roda sejarah manusia di dunia.
Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah yang terakhir. Beliau diutus menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Beliau membawa misi yang universal dan abadi. Universal artinya untuk seluruh manusia dan abadi maksudnya sampai ke akhir zaman. Dalam inti ajaran agama (Islam) yang beliau bawa adalah mengadakan bimbingan bagi kehidupan mental dan jiwa manusia, sebab pada bidang inilah terletak hakekat manusia yang menentukan bentuk kehidupan lahir. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlaq”.
Akhlaq memiliki makna berbeda dengan moral. Moral mengandung makna laku-perbuatan lahiriah. Seorang yang punya moral saja, boleh diartikan seseorang karena kehendaknya sendiri berbuat sopan atau kebajikan karena suatu motif materiil, atau ajaran filsafat moral semata. Sifatnya sangat sekuler atau duniawi. Sikap itu biasanya ada selam ikatan-ikatan materiil itu ada, termasuk didalamnya penilaian mata manusia, ingin memperoleh kemasyhuran dan pujian dari manusia. Sikap yang tidak punya hubungan halus dan mesra dengan Yang Maha Kuasa, Yang Transcendent. Berbeda dengan akhlaq ialah perbuatan suci yang terbit dari lubuk jiwa yang paling dalam, karena mempunyai kekuatan yang hebat. “Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, daripadanya timbul perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran”. (Al Ghozali “Ihya Ulumuddin”)
Menurut ajaran islam berdasarkan praktek Rosulullah, pendidikan akhlaqul (akhlaqul karimah) adalah faktor penting dalam membina suatu ummat atau membangun suatu bangsa. Suatu pembangunan tidaklah ditentukan oleh semata dengan faktor kredit atau besarnya investasi yang melimpah, tetapi kalau manusia pelaksananya tidak memiliki akhlaq, niscaya segalanya akan berantakan baik itu disebabkan oleh penyelewengan atau korupsi. Demikian pula pembangunan tidak mungkin berjalan hanya dengan kesenangan melontarkan fitnah kepada lawan-lawan politik atau hanya mencari-cari kesalahan orang lain. Bukan pula dengan jalan memasang slogan-slogan kosong atau hany bertopang dagu. Yang diperlukan dalam pembangunan ialah Keikhlasan, kejujuran, jiwa kemanusiaan yang tinggi, sesuainya kata dengan perbuatan, prestasi kerja, kedisiplinan, jiwa dedikasi dan selalu berorientasi selalu ke depan serta pembaharuan untuk kepentingan bersama.
Program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha ialah pembinaan akhlaq mulia. Ia harus ditanamkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat. Akhlaq dari suatu bangsa akan menentukan sikap hidup dan laku-perbuatanya. Intelektual suatu bangsa tidak besar pengaruhnya dalam pembangunan atau keruntuhan, akan tetapi akhlaq jualah yang akan menentukan bangun dan runtuhnya suatu bangsa. “Kekalnya suatu bangsa ialah selama akhlaqnya kekal, jika akhlaqnya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu”. (Ahmad Syauqi Bey)
Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah yang terakhir. Beliau diutus menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Beliau membawa misi yang universal dan abadi. Universal artinya untuk seluruh manusia dan abadi maksudnya sampai ke akhir zaman. Dalam inti ajaran agama (Islam) yang beliau bawa adalah mengadakan bimbingan bagi kehidupan mental dan jiwa manusia, sebab pada bidang inilah terletak hakekat manusia yang menentukan bentuk kehidupan lahir. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlaq”.
Akhlaq memiliki makna berbeda dengan moral. Moral mengandung makna laku-perbuatan lahiriah. Seorang yang punya moral saja, boleh diartikan seseorang karena kehendaknya sendiri berbuat sopan atau kebajikan karena suatu motif materiil, atau ajaran filsafat moral semata. Sifatnya sangat sekuler atau duniawi. Sikap itu biasanya ada selam ikatan-ikatan materiil itu ada, termasuk didalamnya penilaian mata manusia, ingin memperoleh kemasyhuran dan pujian dari manusia. Sikap yang tidak punya hubungan halus dan mesra dengan Yang Maha Kuasa, Yang Transcendent. Berbeda dengan akhlaq ialah perbuatan suci yang terbit dari lubuk jiwa yang paling dalam, karena mempunyai kekuatan yang hebat. “Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, daripadanya timbul perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran”. (Al Ghozali “Ihya Ulumuddin”)
Menurut ajaran islam berdasarkan praktek Rosulullah, pendidikan akhlaqul (akhlaqul karimah) adalah faktor penting dalam membina suatu ummat atau membangun suatu bangsa. Suatu pembangunan tidaklah ditentukan oleh semata dengan faktor kredit atau besarnya investasi yang melimpah, tetapi kalau manusia pelaksananya tidak memiliki akhlaq, niscaya segalanya akan berantakan baik itu disebabkan oleh penyelewengan atau korupsi. Demikian pula pembangunan tidak mungkin berjalan hanya dengan kesenangan melontarkan fitnah kepada lawan-lawan politik atau hanya mencari-cari kesalahan orang lain. Bukan pula dengan jalan memasang slogan-slogan kosong atau hany bertopang dagu. Yang diperlukan dalam pembangunan ialah Keikhlasan, kejujuran, jiwa kemanusiaan yang tinggi, sesuainya kata dengan perbuatan, prestasi kerja, kedisiplinan, jiwa dedikasi dan selalu berorientasi selalu ke depan serta pembaharuan untuk kepentingan bersama.
Program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha ialah pembinaan akhlaq mulia. Ia harus ditanamkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat. Akhlaq dari suatu bangsa akan menentukan sikap hidup dan laku-perbuatanya. Intelektual suatu bangsa tidak besar pengaruhnya dalam pembangunan atau keruntuhan, akan tetapi akhlaq jualah yang akan menentukan bangun dan runtuhnya suatu bangsa. “Kekalnya suatu bangsa ialah selama akhlaqnya kekal, jika akhlaqnya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu”. (Ahmad Syauqi Bey)
Saturday, May 7, 2011
Misi Pendidikan
Setiap pendidik memiliki misi yang kuat untuk mencapai tujuan pendidikan dalam mengantarkan peserta didik menjadi insan yang kamil. Segala kemampuan dalam bentuk usaha baik materi atau imateri akan menjadi modal dalam perjuanganya.
Sekarang, mari kita bertanya pada para insan pendidikan Indonesia atau pada diri kita sendiri, apa misi kita? Apa yang akan membuat kita rela mengorbankan segala milik kita demi mencapai misi itu? Apa misi pendidikan kita? Apakah itu benar-benar misi yang deminya kita rela berkorban? Atau sekedar basa-basi slogan?
Tanpa misi yang kuat tak akan pernah terjadi MESTAKUNG. Karena tanpa misi tidak akan pernah terjadi kondisi kritis. Bila sebuah institusi memiliki banyak masalah tetapi institusi itu tidak memiliki misi, ini bukanlah kondisi kritis. Ini hanya sebuah kondisi rumit yang tidak akan mendorong MESTAKUNG (ketika sesuatu sistem berada pada kondisi kritis, segala sesuatu di dalam sistem itu akan mengatur dirinya sendiri tanpa paksaan. Di dalam pengaturan tersebut, tiap-tiap bagian sistem itu secara serentak bergerak bahu-membahu untuk keluar dari kondisi kritis, sehingga menghasilkan suatu terobosan baru yang luar biasa. Alam sekitar pun turut mendukung. Ini berlaku pada setiap makhluk hidup serta alam sekitar pada kondisi kritis.)
Ki Hajar Dewantara, 70 tahun yang lalu, telah merumuskan misi pendidikan Indonesia. Di antaranya misi itu adalah pendidikan kita untuk membebaskan, membangun rasa tanggung jawab, dan menjadi serasi. Pendidikan kita mestinya membebaskan anak didik dari berbagai keterbatasan. Dengan pendidikan, anak didik kita menjadi bebas memilih profesi yang ia minati, bebas mengejar prestasi, bebas menentukan pilihan hidup. Apakah pendidikan kita mencerminkan kebebasan ini? Tampaknya banyak anak didik kita yang merasa tidak terbebas dari berbagai kekangan. Mereka merasa terlalu terbebani dengan berbagai tugas sekolah yang tidak jelas arahnya. Mereka merasa terkungkung dengan peraturan sekolah yang tidak jelas apa maksudnya.
Bagaimana dengan para guru kita dan insan pendidikan kita? Apakah mereka memiliki kebebasan untuk memilih cara terbaik untuk mendidik putra-putrinya? Apakah mereka memiliki kebebasan untuk menentukan nilai kelulusan putra-putrinya? Ataukah mereka terpaksa mengikuti sebuah peraturan yang sebenarnya kurang tepat? Membebaskan adalah misi utama sebuah pendidikan, kapan pun, di mana pun.
Tentu saja, Ki Hajar telah memahami sejak awal, konsekuensi dari sebuah kebebasan adalah tanggung jawab. Karena kita memiliki kebebasan menentukan cara mendidik putra-putri kita maka kita harus bertanggung jawab atas hasil pendidikan itu. Jika kita tidak memiliki kebebasan itu maka kita boleh untuk tidak bertanggung jawab terhadap pedidikan. Karena putra-putri kita bebas memilih jalan hidup mereka – berkat pendidikan – maka mereka pasti bertanggung jawab penuh terhadap semua pilihannya. Ini lah misi kedua dari pendidikan.
Hidup serasi. Tragedi di jaman modern ini: banyak orang sukses ternyata tidak bahagia. Mereka merasa hampa dalam hidup. Lebih menyedihkan lagi banyak orang tidak sukses juga hidup tidak bahagia. Hidup serasi, itulah misi pendidikan dari Bapak Pendidikan kita. Pendidikan mesti mendorong putra-putri kita untuk meraih impian, sukses maksimal, dan hidup bahagia dalam keserasian. Serasi dalam sukses karir dan bahagia dalam keluarga. Serasi kemajuan pribadi dan kontribusi sosial.
Kami mengadopsi misi pendidikan Ki Hajar menjadi misi APIQ. Pertama, misi APIQ adalah membebaskan. Siswa yang belajar APIQ menjadi bebas. Ia menjadi bebas mengembangkan kreativitas mereka dalam matematika. Matematika bukan menjadi beban yang mengikat siswa. Tetapi matematika menjadi sarana untuk lebih bebas. Bebas berpikir, bebas berekspresi, dan bebas berkreasi.
Bertanggung jawab adalah misi kedua APIQ. Saya mengamati suasana ruang belajar APIQ sebelum dan sesudah terjadi proses pembelajaran. Tidak ada perbedaan mencolok antara keduanya. Padahal di tengah-tengah proses pembelajaran terjadi perubahan drastis. Sebelum pembelajaran, ruang kelas tertata rapi. Mulai pembelajaran masih rapi tetapi mulai berubah. Di tengah pembelajaran, benar-benar berubah. Ruang kelas acak-acakan. Beragam jenis permainan berserakan di mana-mana. Onde milenium, dadu milenium, kartu milenium. lembar kerja standar, dan lain-lain saling tumpang tindih. Menjelang akhir pembelajaran, para siswa dan guru merapikan kembali ruang kelas mereka. Itu adalah sedikit cara dari APIQ untuk memperkenalkan tanggung jawab kepada putra-putri kita.
Misi untuk menjadi serasi merupakan misi yang paling mendasar untuk APIQ. Sejak awal kami merintis APIQ, serasi adalah mantra mujarab kami. Serasi mengaktifkan otak kiri dan otak kanan. Serasi menumbuhkan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Serasi disiplin belajar matematika dan kreatif mengembangkan matematika.
Dengan perjuangan tak kenal menyerah dan dukungan dari berbagai pihak kami mengejar misi APIQ. Dengan semangat yang lebih besar lagi, mari kita kejar misi pendidikan kita. Misi pendidikan yang membebaskan, bertanggung jawab, dan serasi. Majulah Indonesia!
Sekarang, mari kita bertanya pada para insan pendidikan Indonesia atau pada diri kita sendiri, apa misi kita? Apa yang akan membuat kita rela mengorbankan segala milik kita demi mencapai misi itu? Apa misi pendidikan kita? Apakah itu benar-benar misi yang deminya kita rela berkorban? Atau sekedar basa-basi slogan?
Tanpa misi yang kuat tak akan pernah terjadi MESTAKUNG. Karena tanpa misi tidak akan pernah terjadi kondisi kritis. Bila sebuah institusi memiliki banyak masalah tetapi institusi itu tidak memiliki misi, ini bukanlah kondisi kritis. Ini hanya sebuah kondisi rumit yang tidak akan mendorong MESTAKUNG (ketika sesuatu sistem berada pada kondisi kritis, segala sesuatu di dalam sistem itu akan mengatur dirinya sendiri tanpa paksaan. Di dalam pengaturan tersebut, tiap-tiap bagian sistem itu secara serentak bergerak bahu-membahu untuk keluar dari kondisi kritis, sehingga menghasilkan suatu terobosan baru yang luar biasa. Alam sekitar pun turut mendukung. Ini berlaku pada setiap makhluk hidup serta alam sekitar pada kondisi kritis.)
Ki Hajar Dewantara, 70 tahun yang lalu, telah merumuskan misi pendidikan Indonesia. Di antaranya misi itu adalah pendidikan kita untuk membebaskan, membangun rasa tanggung jawab, dan menjadi serasi. Pendidikan kita mestinya membebaskan anak didik dari berbagai keterbatasan. Dengan pendidikan, anak didik kita menjadi bebas memilih profesi yang ia minati, bebas mengejar prestasi, bebas menentukan pilihan hidup. Apakah pendidikan kita mencerminkan kebebasan ini? Tampaknya banyak anak didik kita yang merasa tidak terbebas dari berbagai kekangan. Mereka merasa terlalu terbebani dengan berbagai tugas sekolah yang tidak jelas arahnya. Mereka merasa terkungkung dengan peraturan sekolah yang tidak jelas apa maksudnya.
Bagaimana dengan para guru kita dan insan pendidikan kita? Apakah mereka memiliki kebebasan untuk memilih cara terbaik untuk mendidik putra-putrinya? Apakah mereka memiliki kebebasan untuk menentukan nilai kelulusan putra-putrinya? Ataukah mereka terpaksa mengikuti sebuah peraturan yang sebenarnya kurang tepat? Membebaskan adalah misi utama sebuah pendidikan, kapan pun, di mana pun.
Tentu saja, Ki Hajar telah memahami sejak awal, konsekuensi dari sebuah kebebasan adalah tanggung jawab. Karena kita memiliki kebebasan menentukan cara mendidik putra-putri kita maka kita harus bertanggung jawab atas hasil pendidikan itu. Jika kita tidak memiliki kebebasan itu maka kita boleh untuk tidak bertanggung jawab terhadap pedidikan. Karena putra-putri kita bebas memilih jalan hidup mereka – berkat pendidikan – maka mereka pasti bertanggung jawab penuh terhadap semua pilihannya. Ini lah misi kedua dari pendidikan.
Hidup serasi. Tragedi di jaman modern ini: banyak orang sukses ternyata tidak bahagia. Mereka merasa hampa dalam hidup. Lebih menyedihkan lagi banyak orang tidak sukses juga hidup tidak bahagia. Hidup serasi, itulah misi pendidikan dari Bapak Pendidikan kita. Pendidikan mesti mendorong putra-putri kita untuk meraih impian, sukses maksimal, dan hidup bahagia dalam keserasian. Serasi dalam sukses karir dan bahagia dalam keluarga. Serasi kemajuan pribadi dan kontribusi sosial.
Kami mengadopsi misi pendidikan Ki Hajar menjadi misi APIQ. Pertama, misi APIQ adalah membebaskan. Siswa yang belajar APIQ menjadi bebas. Ia menjadi bebas mengembangkan kreativitas mereka dalam matematika. Matematika bukan menjadi beban yang mengikat siswa. Tetapi matematika menjadi sarana untuk lebih bebas. Bebas berpikir, bebas berekspresi, dan bebas berkreasi.
Bertanggung jawab adalah misi kedua APIQ. Saya mengamati suasana ruang belajar APIQ sebelum dan sesudah terjadi proses pembelajaran. Tidak ada perbedaan mencolok antara keduanya. Padahal di tengah-tengah proses pembelajaran terjadi perubahan drastis. Sebelum pembelajaran, ruang kelas tertata rapi. Mulai pembelajaran masih rapi tetapi mulai berubah. Di tengah pembelajaran, benar-benar berubah. Ruang kelas acak-acakan. Beragam jenis permainan berserakan di mana-mana. Onde milenium, dadu milenium, kartu milenium. lembar kerja standar, dan lain-lain saling tumpang tindih. Menjelang akhir pembelajaran, para siswa dan guru merapikan kembali ruang kelas mereka. Itu adalah sedikit cara dari APIQ untuk memperkenalkan tanggung jawab kepada putra-putri kita.
Misi untuk menjadi serasi merupakan misi yang paling mendasar untuk APIQ. Sejak awal kami merintis APIQ, serasi adalah mantra mujarab kami. Serasi mengaktifkan otak kiri dan otak kanan. Serasi menumbuhkan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Serasi disiplin belajar matematika dan kreatif mengembangkan matematika.
Dengan perjuangan tak kenal menyerah dan dukungan dari berbagai pihak kami mengejar misi APIQ. Dengan semangat yang lebih besar lagi, mari kita kejar misi pendidikan kita. Misi pendidikan yang membebaskan, bertanggung jawab, dan serasi. Majulah Indonesia!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Antagonis - Politik
Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...
-
Sekilas tentang Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Apa itu Pemanasan Global? Pemanasan Global adalah proses kenaikan suhu rat...
-
Rubella, umumnya dikenal sebagai campak Jerman, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. Nama "rubella" berasal dari...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sains dan tekhnologi saling bedampingan. Seiring semakin pesatnya perkembangan tekhnologi, maka diperlu...