Friday, June 17, 2011

Beriman Secara Ilmiah

Apa artinya menjadi orang yang beriman? Beriman berarti meyakini seperangkat ajaran tertentu, sekaligus nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Beriman berarti percaya bahwa seperangkat ajaran tertentu bisa membawa hidup manusia ke arah yang lebih baik. Ini berlaku untuk semua agama, ataupun ideologi yang ada di dunia.

Beriman tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga menghayati nilai yang terkandung di dalam ajaran itu.
Orang tidak boleh hanya beriman, atau memahami nilai-nilai hidup dari imannya. Orang juga mesti menerapkan secara konsisten nilai-nilai itu di dalam hidup kesehariannya. Jika tidak diterapkan maka iman dan penghayatan nilai hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Dengan kata lain harus ada kesesuaian antara keimanan yang diyakini, nilai-nilai hidup yang diperoleh, dan perilaku keseharian.

Itulah artinya menjadi orang beriman sekarang ini.

Berilmu

Ilmu pengetahuan adalah hasil karya manusia yang dengan menggunakan akal budinya berusaha memahami cara kerja alam, baik alam natural (gunung, mahluk hidup) maupun alam sosial (masyarakat, ekonomi, politik). Yang menurut saya paling penting bukanlah hasil dari ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi cara berpikir ilmiah yang ada di belakangnya.

Cara berpikir ilmiah ini menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memudahkan hidup manusia. Di Indonesia orang hanya mau menggunakan teknologi yang telah diciptakan oleh orang lain. Kita malas berpikir secara ilmiah, maka itu kita menjadi bangsa konsumtif yang tidak produktif dalam soal pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Apa yang dimaksud dengan cara berpikir ilmiah? Cara berpikir ilmiah adalah cara berpikir yang mematuhi prinsip-prinsip ilmiah tertentu. Setidaknya ada lima prinsip ilmiah, yakni sikap intersubyektif, sikap pencarian tanpa henti, sikap rasional, sikap koheren, dan sikap sistematis-komunikatif. Saya akan coba paparkan satu per satu.

Prinsip-prinsip Ilmiah

Sikap intersubyektif adalah sikap yang mencoba mencari pembuktian orang kedua untuk setiap bentuk pengetahuan. Artinya orang tidak dapat menyandarkan pengetahuannya pada mimpi belaka, karena mimpi tidak bisa dialami oleh orang kedua. Orang juga tidak dapat menyandarkan pengetahuannya pada ilusi, halusinasi, ataupun intuisi subyektifnya semata. Semua bentuk pengetahuan harus bisa diuji oleh orang kedua.

Di dalam filsafat ini juga disebut sebagai cara berpikir verifikatif. Artinya orang harus mengecek terlebih dahulu, apakah pengetahuannya sesuai dengan realitas, atau tidak. Orang tidak boleh mempercayai dan menyebar gosip, karena gosip seringkali tidak bisa diverifikasi, tetapi hanya diyakini secara buta.

Prinsip kedua adalah sikap mencari terus tanpa henti. Orang yang berpikir secara ilmiah tidak pernah puas dengan apa yang ada. Ia terus mencari cara untuk menemukan hal-hal baru yang berguna untuk kehidupan. Ia terus meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu, guna mendapatkan kebenaran yang lebih dalam.

Orang yang berpikir ilmiah tidak meyakini sesuatu, hanya karena itu dikatakan oleh seorang ahli. Orang yang berpikir ilmiah juga tidak meyakini sesuatu, hanya karena itu dipaksakan oleh otoritas penguasa. Mereka terus mencari apa yang sungguh benar pada satu konteks tertentu, tanpa pernah berhenti dan merasa puas dengan pemikirannya sendiri.

Prinsip ketiga adalah sikap rasional. Di dalam pencarian dan pembuktian pengetahuannya yang berlangsung terus menerus, orang yang berpikir ilmiah memegang teguh satu prinsip, yakni ia harus berpikir rasional. Semua sikap dan posisi teoritisinya harus didukung oleh argumen dan data yang kuat. Ia tidak ngotot mempertahankan pendapat yang lemah dan miskin data.

Prinsip keempat adalah koherensi. Artinya orang bisa menarik kesimpulan berdasarkan data-data dan argumen yang sesuai dengan kesimpulan tersebut. Tidak boleh ada pernyataan ataupun argumen yang “melompat”. Orang yang berpikir ilmiah mampu mematuhi prinsip koherensi ini, baik di dalam pernyataan maupun tindakannya sehari-hari.

Prinsip terakhir adalah prinsip komunikatif. Orang yang berpikir ilmiah mampu menyampaikan idenya secara runtut, sehingga bisa dimengerti oleh orang yang mendengarnya berbicara, atau membaca tulisannya. Percuma orang amat pintar, tetapi tidak bisa menyampaikan idenya secara jernih pada orang lain. Jika itu yang terjadi, yang kemungkinan besar tercipta adalah kesalahpahaman.

Iman dan Ilmu

Pertanyaan penting yang perlu untuk kita diskusikan disini adalah, bagaimana orang bisa hidup beriman di satu sisi, sekaligus tetap menerapkan pola berpikir ilmiah di dalam hidupnya? Saya memiliki pendapat bahwa di abad ke-21 ini, iman tidak lagi bisa dipahami sebagai keyakinan buta, tetapi justru harus hidup dan berkembang dalam konteks berpikir ilmiah. Ada beberapa prinsip yang bisa digunakan.

Pertama, iman haruslah bersifat intersubyektif. Artinya iman itu harus mengakar pada konteks, dan tidak bisa mengambang menjadi dogma yang dipaksakan. Iman harus hidup dan menjawab beragam permasalahan manusia, baik permasalahan eksistensial, maupun masalah sosial yang sedang dihadapi di depan mata. Iman harus keluar dari hati, dan mewujud menjadi tindakan nyata, yang berupaya menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik bagi semua orang, tanpa kecuali.

Dua, iman haruslah terus mencari. Iman tidak boleh berhenti di tempat. Iman tidak boleh percaya buta. Iman harus berproses, mencari, dan tak berhenti bergerak, sampai kita mati.

Iman semacam ini sejalan dengan prinsip ilmiah di atas, yakni sikap yang terus mencari. Iman yang tidak puas dengan ajaran-ajaran dangkal yang menindas, tetapi menggali refleksi lebih dalam secara terus menerus, guna memberi makna yang lebih dalam bagi hidup manusia.

Tiga, iman juga harus rasional. Ajaran-ajaran kuno tidak boleh dibaca secara harafiah, melainkan secara metaforik-simbolik. Cerita Adam dan Hawa bukanlah cerita sejarah, melainkan suatu ungkapan iman orang-orang terhadap Tuhannya. Cerita Musa membelah laut merah juga jangan dibaca secara harafiah, melainkan juga sebagai ungkapan iman.

Empat, iman juga harus koheren dengan tindakan. Kita sudah muak melihat orang berkhotbah soal cinta dan kebaikan, namun perilaku sehari-harinya amat jahat. Iman harus sejalan dengan pikiran dan tindakan. Percuma orang mengaku berima dan beragama, kalau tindakannya koruptif, manipulatif, dan tidak adil. Percuma!

Pendidikan

Sebagai pendidik kita perlu untuk mengajarkan anak didik kita beriman secara ilmiah, seperti telah saya paparkan di atas. Pendidikan agama dan iman tidak hanya secara dogmatis dengan bahasa “pokoknya”. Pendidikan agama dan iman juga harus melibatkan proses intersubyektif (guru-murid, murid-murid, guru-guru), proses pencarian iman yang lebih dalam dan lebih luas, kemampuan membedakan antara cerita sejarah dan ungkapan iman, serta penciptaan iman yang hidup dalam perbuatan sehari-hari yang nyata dan toleran.

Kita perlu ingat apa yang dikatakan Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brasil. Baginya pendidikan adalah soal penyadaran, dan bukan soal menghafal atau pemindahan pengetahuan semata. Pendidikan menyadarkan siswa akan situasinya di dunia, sehingga ia bisa bersikap kritis, dan melakukan tindakan nyata, guna memperbaiki situasi sekitarnya. Pendidikan yang berpijak pada paradigma “beriman secara ilmiah” adalah suatu bentuk proses penyadaran, bahwa kita hidup di dalam masyarakat multikultur yang terus berubah. Maka kita tidak pernah boleh beriman dan beragama secara buta
Freire juga mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses pembebasan dari kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan yang berpijak pada paradigma “beriman secara ilmiah” adalah suatu upaya membebaskan siswa dari kebodohan dan kemiskinan di dalam beriman. Jika orang tetap hidup dalam kebodohan dan kemiskinan iman, ia akan membawa penderitaan bagi orang-orang sekitarnya, baik itu penderitaan fisik maupun emosional.

Pada akhirnya kita perlu ingat apa yang pernah dikatakan oleh Driyarkara, filsuf Indonesia, bahwa pendidikan adalah proses pemanusiaan. Dengan pendidikan “beriman secara ilmiah” ini, anak diajak untuk menjadi semakin manusiawi dalam hidupnya. Ia menjadi pribadi yang lembut, empatik, tegas, rasional, humoris, dan amat terbuka pada perubahan di dalam hidup beragama.

Bukankah itu yang kita inginkan untuk anak-anak kita? Dan bukankah itu yang kita inginkan dari orang-orang yang berbeda agama dengan kita?

Horor Kebudayaan

Kecuali sibuk menjadi panitia pasar bebas, para penyelenggara negara saat ini bergerak nyaris tanpa gagasan dan praksis ideologis yang berbasis pada kultur kebangsaan.

Antara struktur dan kultur terbentang lubang besar; dalam dan gelap. Di situ terjadi praktik berbagai anomali nilai, antara lain, dalam politik dan ekonomi. Anomali politik tampak pada crime democracy, demokrasi curang, yang menjadikan politik tak lebih siasat jahat untuk menggenggam kekuasaan. Politik dipisahkan dari keagungannya: martabat. Politik takluk pada berhala uang.

Anomali ekonomi melahirkan hegemoni kelas berkuasa yang berujung pada penumpukan modal, aset negara, dan pemusatan akses ekonomis. Akibatnya, keadilan dan kesejahteraan tak terdistribusi optimal. Peternakan kemiskinan (masyarakat miskin) dan perluasan lapangan pengangguran jadi kenyataan yang menikam hati nurani bangsa.

Dua anomali tersebut membuyarkan cita-cita besar membangun negara kesejahteraan.
Hedonisme

Liputan Kompas (6/5) tentang penghapusan pendidikan Pancasila kian menegaskan ketakhadiran negara dalam praksis ideologis. Pelenyapan nilai-nilai Pancasila (musyawarah, gotong royong, kerukunan, dan toleransi beragama) dari praksis pendidikan telah menghadirkan horor kebudayaan dalam rumah kebangsaan. Kengerian dan ketakutan itu terkait dengan penguatan masyarakat mesin, yang oleh Erich Fromm (1968) digambarkan sebagai masyarakat yang diberi makanan dan hiburan cukup tetapi pasif, tidak hidup, dan nyaris tanpa perasaan.

Masyarakat mesin hanya berkutat pada dua kutub: produksi dan konsumsi yang melebur mereka menjadi eksemplar-eksemplar makhluk tanpa identitas kultural dan karakter. Konsumtivisme dan hedonisme jadi berhala gaya hidup. Egoisme jadi pedoman jiwa dan ruh kepribadian. Pragmatisme disunggi sebagai ideologi. Kebuasan ala serigala menjadi semangat persaingan. Kecerdasan diartikan kelicikan. Kejujuran dianggap kebodohan. Idealisme dan kritisisme jadi bahan olok-olokan.

Penguatan masyarakat mesin di satu sisi melahirkan masyarakat hedonistik, di sisi lain memunculkan masyarakat fundamentalistik. Masyarakat hedonistik terbentuk dalam masyarakat sekuler, masyarakat fundamentalistik terbentuk dalam yang taat beragama. Dua kecenderungan itu antara lain terbaca dalam penelitian sebuah lembaga survei di Yogyakarta terhadap kecenderungan gaya hidup anak muda masa kini. Dua fenomena itu juga semakin kita rasakan akhir-akhir ini. Anak-anak muda (dan masyarakat umum) yang kritis, idealis, dan nasionalis cenderung menjadi minoritas.
Kebangsaan

Penguatan hedonisme dan penguatan agama sebagai ideologi (baca: tandingan Pancasila) menunjukkan kegagalan negara di dalam membangun kebangsaan. Kebangsaan hanya dihadirkan melalui simbol dan wacana, tidak dalam kerja ideologis dan konstitusional negara. Ironisnya, negara justru menyuburkan hedonisme dengan merestui praktik-praktik kuasa kapital. Berbagai instrumen kapitalisme menancap di setiap jengkal ruang sosial republik. Mereka hadir jadi mesin pengisap keuntungan finansial, sekaligus mesin pelumat identitas dan karakter bangsa.

Negara yang hadir melalui rezim berkuasa justru mengeksploitasi konsumtivisme dan hedonisme itu jadi alat penumpulan kritisisme publik atas berbagai perilaku aktor kekuasaan yang menyimpang. Represi ekonomis, yang sangat terasa dalam kehidupan berbiaya tinggi, terbukti ampuh menjadikan masyarakat tak berdaya. Akhirnya semua orang cenderung menyerah, melakukan berbagai kompromi demi bisa bertahan hidup.

Ironi lain adalah politik ”pembiaran” negara atas fundamentalisme agama yang potensial mengancam kemajemukan, kerukunan, dan toleransi sosial. Fundamentalisme agama bahkan sering dieksploitasi jadi komoditas politik untuk mengubah fokus perhatian publik atas kasus-kasus besar dan genting seputar korupsi. Negara menganggap maraknya pemberitaan isu agama bisa jadi ”hiburan” publik di tengah berbagai kepahitan hidup. Krisis ideologis yang diidap negara telah melahirkan horor kebudayaan di masyarakat: menguatnya masyarakat mesin, terancamnya nilai-nilai kemajemukan, kerukunan, musyawarah, gotong royong, dan toleransi berbudaya/beragama. Dampak lain adalah kian merosotnya etika dan etos bangsa.

Rezim berkuasa dan penyelenggara negara lainnya (legislatif, yudikatif) akan kehilangan legitimasi politiknya jika membiarkan krisis itu terus berlangsung. Rakyat sudah bosan melihat dan mendengar para penyelenggara negara sibuk berebut dan bertengkar soal kekuasaan dan uang. Rakyat menunggu munculnya para ksatria politik yang mampu dan berani mengatasi horor kebudayaan akibat krisis ideologis itu

Antagonis - Politik

Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...