Friday, October 14, 2011

"Doktrin malu"



Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), malu adalah merasa sangat tidak senang, rendah, hina, dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat, atau tidak disetujui oleh umumnya manusia. Istilah ini mengilhami banyak karya fiksi ataupun nonfiksi, seperti film nonfiksi garapan seorang penulis sekaligus sutradara kawakan, April Rouveyrol, berjudul Shy (2008), yang mengisahkan betapa rasa malu menjadi mahkota manusia yang sangat agung.

Timothy Bottoms, salah satu tokoh dalam film itu, rela melemparkan jabatan penting, mengasingkan diri dan hijrah ke sebuah kota kumuh di Amerika, bahkan ingin menjadi seorang petugas satpam lagi dengan penghasilan rendah hanya karena dirinya tak lagi memperoleh senyum dukungan dari para bawahannya, tak ada lagi dukungan politik dari masyarakat sekitarnya.

Begitu pun di alam nyata, manusia selalu menunjukkan rasa malunya untuk membuktikan kekuatan integritas atau kualitas kemanusiaannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Roh Moo-hyun, mantan Presiden Korea Selatan, yang terpaksa bunuh diri dengan cara terjun dari sebuah batu karang setinggi 20-30 meter di pegunungan bagian selatan Semenanjung Korea tahun 2009. Hal itu terjadi hanya karena ia harus menanggung malu akibat keterlibatannya dalam kasus korupsi.

Pertengahan 2010, Yukio Hatoyama berikrar mundur dari tampuk singgasana Perdana Menteri Jepang. Setali tiga uang dengan Roh Moo-hyun, keputusannya dilandasi rasa malu karena gagal dalam memenuhi janji kampanye memindahkan pangkalan Marinir AS di lepas pantai selatan Pulau Okinawa.

Apa yang dilakukan oleh dua tokoh di atas—walau ekstrem dan radikal—sebenarnya tidak lain sebuah pembuktian bahwa mereka adalah bagian dari habitat manusia, habitat yang punya rasa malu. Secara langsung, saat yang bersamaan mereka juga menunjukkan eksistensinya sebagai manusia, makhluk yang berbudaya.

Filosofi "Lalat"

Belajar Berpikir Kritis

Bagi banyak orang, lalat adalah hewan yang menjijikan. Lalat terbang ke sana- kemari, ia hinggap di tempat sampah, di kotoran hewan, bahkan mungkin di makanan kita. Dengan keadaan seperti ini, lalat membawa banyak kuman di tubuhnya dan menjadi penyebar penyakit, sehingga banyak orang berusaha menjauhkan makanan dan minuman mereka dari lalat, agar tidak terkena penyakit seperti diare dan sebagainya. Maka, predikat hewan yang menjijikkan sangat tepat ditujukan kepada lalat.

Akan tetapi, jika kita bisa melihat secara detail bagian-bagian tubuh lalat, kita akan menemukan satu bagian lalat yang sungguh menjadi inspirasi bagi kita untuk belajar kritis. Bagian itu adalah mata lalat. Mengapa mata lalat bisa menjadi inspirasi belajar kritis? Mata lalat yang majemuk dapat memberikan inspirasi pada pikiran kita untuk berefleksi tentang sudut pandang dan cara berpikir para filsuf, yakni para pecinta kebjaksanaan. Sebab, mata majemuk lalat melihat suatu ‘hal’ dari beberapa pembagian mata majemuknya, sehingga lalat bisa menangkap obyek yang dilihatnya dengan jelas. Begitu pula belajar sikap kritis, ibarat mata lalat, pikiran kita diajak untuk mengenali sudut pandang para filsuf satu per satu dalam memahami dunia.

Hal ini bukanlah suatu hal yang biasa dan sia-sia, namun melatih pikiran kita untuk bisa ‘bergerak’ dalam berbagai sudut pandang, sehingga kita juga terbiasa melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang seperti mata majemuk lalat. Selain itu, belajar berpikir kritis menguntungkan kita dalam mengambil keputusan yang paling baik. Mengapa? Karena dengan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, kita dapat memahami masalah dengan lebih jelas, sehingga kita pun dapat mengambil solusi yang paling baik. Baik di sini dalam arti tepat dan adil untuk semua subjek yang terkait dengan masalah tersebut.

Penerapan

Dalam berbagai sudut pandang, ide yang tidak diwujudkan ibarat harimau ompong, yang hanya bisa mengaum tanpa bisa menggigit sasarannya. Begitu juga ide tentang mata majemuk lalat yang tertera di atas tidak akan bisa memberikan bukti perubahan yang nyata dalam kehidupan kita, jika tidak dituangkan dalam hidup kita sehari-hari. Maka, kita harus menarik kaki Sang ide, agar ide tersebut bisa membumi dan merubah kehidupan yang kita alami saat ini. Sebagai contoh, kemajemukan sudut pandang kita dapat digunakan untuk melihat masalah-masalah politik yang terjadi di negara kita, serta posisi dan tindakan apakah yang paling baik yang akan kita ambil, agar Indonesia semakin membaik kondisinya. Tentunya, kita sebagai masyarakat Indonesia juga mempunyai peran dalam membangun bangsa dan Negara.

Tantangan bagi kita adalah bagaimana kita dengan sikap kritis tersebut, kita bisa membawa perubahan yang radikal dalam hidup kita. Dengan modal latihan kemajemukan sudut pandang para Pecinta Kebijaksanaan, kita bisa memberikan kontribusi dalam membangun negara. Sehingga, bukan hanya sebagai komentator dalam pertandingan politik antara klub-klub partai politik, tetapi berpartisipasi dalam pertandingan sebagai pelatih yang memberikan instruksi kepada para pemain politik, agar bermain dengan baik, jujur dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat.

Kemajemukan sudut pandang dapat melatih sikap kritis kita terhadap segala sesuatu. Dan dengan sikap kritis, kita dapat ambil bagian dalam membangun Negara, agar lebih baik serta mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Antagonis - Politik

Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...