Saturday, November 16, 2013

IDEOLOGI yang MERUSAK



Saya yakin, anda pasti melihat dunia sebagai tempat yang baik-baik saja, walaupun masalah dan penindasan bersembunyi di balik kenyataan sehari-hari. Orang hidup dengan nyaman, walaupun di depan matanya, penindasan dan penderitaan terjadi setiap harinya, tanpa celah.

Politik
Dua ideologi yang menjangkiti dunia politik kita adalah: ideologi kerakusan dan ideologi apatisme. Ideologi kerakusan adalah suatu bentuk kesalahan berpikir yang menyatakan, bahwa politik adalah arena untuk mencari uang dan kekuasaan. Orang menjadi walikota atau anggota DPR bukan untuk mengabdi pada kebaikan bersama, melainkan untuk menjadi kaya dan terkenal di masyarakat. Ideologi kerakusan ini yang menjadi kanker politik dan menghancurkan kehidupan politik kita di Indonesia.

Ideologi apatisme adalah kesalahan berpikir yang menyatakan, bahwa politik adalah urusan pemerintah semata. Warga negara biasa tidak perlu ikut campur. Serahkan semua urusan pada yang berwewenang. Ideologi ini salah total, karena membiarkan urusan politik dimonopoli oleh segelintir orang yang seringkali rakus (ideologi kerakusan) dan korup. Kontrol sosial atas politik adalah persyaratan utama dari masyarakat yang beradab, dimana warganya peduli dan ambil bagian dalam politik.

Ekonomi
Ekonomi Indonesia juga mengalami penyakit ideologi, yakni ideologi pasar bebas dan ideologi ilusi. Ideologi pasar bebas adalah bentuk kesalahan berpikir, dimana peraturan untuk mengatur kinerja ekonomi dianggap sebagai hambatan yang buruk untuk ekonomi. Di dalam ideologi ini, pasar haruslah dibiarkan bebas, sehingga tercipta hukum pasar yang membawa kebaikan bagi semua. Ideologi langsung ambruk di mata pengalaman empiris, bahwa negara-negara yang mengaku menggunakan pasar bebas justru memiliki banyak aturan untuk melindungi ekonomi negaranya (AS dan Inggris), dan negara-negara yang sungguh menggunakan pasar bebas justru terus diterjang krisis ekonomi yang berkepanjangan (negara-negara di Sub-Sahara Afrika).
Ideologi kedua yang menjangkiti ekonomi Indonesia adalah ideologi ilusi, dimana ekonomi dianggap semata-mata sebagai pergerakan uang yang pucat, tanpa wajah dan hati nurani. Ukuran kemakmuran lalu adalah pendapatan per kapita dan Gross Domestic Bruto, yang kerap kali adalah angka-angka pucat yang menyembunyikan banyak penindasan, ketidakadilan dan kesalahpahaman di belakangnya. Ekonomi sejatinya adalah urusan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa manusia. Percuma angka-angka statistik tinggi, tapi orang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Kultur dan Prasangka
Ideologi juga menjadi kanker yang menggerogoti kultur di Indonesia. Dalam arti ini, kultur tidak hanya berarti budaya, melainkan sebuah cara hidup tertentu yang dianut oleh sekelompok orang. Cara hidup semacam ini mengandaikan adanya pandangan dunia tertentu yang menjadi latar belakang sekaligus tolak ukurnya. Dalam artinya yang paling negatif, dua hal ini lalu berubah menjadi prasangka atas sekelompok orang tertentu, dan prasangka tidak pernah bisa dilepaskan dari ideologi.

Ada satu ideologi dalam konteks ini yang berakar begitu dalam pada cara pandang orang Indonesia dan juga dunia internasional pada umumnya, bahwa negara kita miskin dan ketinggalan, karena kemalasan orang-orangnya. Kemalasan ini lahir dari mentalitas yang memang sudah melekat pada diri orang Indonesia. Tidak ada ideologi yang lebih jahat dan salah dari pada ini. Fungsi filsafat dan ilmu pengetahuan pada umumnya di Indonesia adalah untuk mengubur dalam-dalam cara berpikir semacam ini.

Tuesday, November 12, 2013

Pendidikan yang POLITIS



Apakah yang perlu diperbaiki supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih baik? Adalah pendidikan. Itulah yang pasti jawaban yang akan dikemukakan oleh mayoritas masyarakat. Mereka berpikir, ketika semua orang Indonesia bisa mendapatkan pendidikan bermutu, maka kemampuan sumber daya manusia akan meningkat, dan ini akan bisa memperbaiki situasi Indonesia. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah, pendidikan macam apa yang kita perlukan?

Pendidikan Apolitis
Jawaban yang seringkali muncul ialah, pendidikan sains dan pendidikan moral. Kemudian Pendidikan sains disamakan dengan pendidikan fisika, matematika, kimia, dan biologi. Sementara, pendidikan moral disamakan dengan pendidikan agama. Pada konsep inilah yang saya kurang setujui.
Pendidikan sains, dengan beragam cabangnya, tentu diperlukan. Pendidikan moral dan pendidikan agama tentu juga diperlukan. Namun, cara mengajarnya harus diubah. Dengan kata lain, paradigma mengajarnya harus diubah, sehingga bahan yang diajarkan juga ditafsirkan dengan cara yang sama sekali baru.
Pada hemat saya, pendidikan Indonesia sedang sakit, dan penyakit yang diderita adalah penyakit apolitis (eine apolitische Bildung). Apolitis berasal dari dua kata a, yang berarti anti, atau tidak/tanpa, dan politik, yang berasal dari bahasa Yunani kuno, Politikos, yang berarti segala sesuatu yang terkait dengan warga negara. Pendidikan yang apolitis berarti pendidikan yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal kewarganegaraan.
Artinya, pendidikan terputus dari keprihatinan sosial politik. Ia hanya terfokus pada soal ketrampilan untuk bisa bekerja di perusahaan-perusahaan. Ia hanya terfokus untuk mengabdi pasar dan agama, dan tidak pernah mempertanyakan peran pasar dan agama tersebut. Pendidikan seolah-olah adalah barang netral yang tak ada hubungannya dengan pertarungan sosial politik di luar kelas. Inilah penyakit pendidikan kita di Indonesia.

Krisis Pendidikan
Pendidikan juga hanya dilihat sebagai hubungan antar murid dan guru, seolah masyarakat di luar tak mempengaruhi proses pendidikan di dalam kelas. Penelitian-penelitian di dalam ilmu pendidikan pun mengabaikan pengaruh keadaan sosial politik yang ada di luar kelas. Ia menjadi penelitian yang netral dan basi, serta nyaris tak berguna, karena tak bisa menangkap kenyataan yang ada dari proses politik dan kekuasaan di luar kelas yang juga mempengaruhi dunia pendidikan.
Di sisi lain, pendidikan juga menjadikan segala bentuk tes sebagai ukuran dan tujuannya. Singkat kata, orang belajar, supaya ia bisa lulus tes. Titik. Sehingga menjadi tujuan utama pendidikan. Pendidikan menjadi begitu sempit dan dangkal, karena mengabaikan kekayaan sekaligus kerumitan diri manusia. Ia juga menjadi impoten, karena mengabaikan pengaruh sosial politik yang ada.
Konsep tes pun lalu juga disempitkan semata sebagai sebuah upaya untuk memuntahkan ulang apa yang telah dikatakan oleh guru dan buku. Seorang anak dianggap murid yang baik, ketika ia bisa membeo apa kata buku, atau apa kata gurunya. Tes lalu menjadi proses cuci otak. Pendidikan semacam ini tidak akan pernah memperbaiki keadaan Indonesia, melainkan justru memperparah kerusakan moral dan politik yang ada.

Sikap Kritis dan Kreativitas
Pendidikan yang apolitis ini juga membunuh sikap kritis. Padahal, sikap kritis sangat diperlukan, supaya orang bisa peka pada keadaan yang salah, lalu berusaha mempertanyakan dan memperbaikinya. Sikap kritis juga diperlukan, supaya orang bisa memilih pemimpin yang baik, terutama menjelang pemilu 2014 nanti. Dengan kata lain, sikap kritis adalah prasyarat dari warga negara yang baik di dalam masyarakat demokratis, seperti Indonesia. Apalagi sebagai kodrat manusia, kita dibekali pikiran untuk bertafakur.
Pendidikan yang inhumanis (unmenschliche Bildung) juga mengancam kreativitas berpikir. Padahal, kreativitas adalah kunci dari kemajuan budaya dan ekonomi suatu bangsa. Pendidikan yang inhumanis, sejauh saya mengerti, juga berarti pendidikan yang apolitis, yakni pendidikan yang mengabaikan pengaruh sosial politik. Pendidikan yang apolitis juga menghancurkan kreativitas itu sendiri.
Pendidikan yang apolitis adalah pendidikan yang tidak relevan. Ia menciptakan robot-robot patuh yang tidak mampu berpikir kritis dan kreatif. Ia juga menghasilkan robot-robot yang mampu menghafal buku dan kata-kata guru, tetapi tidak mampu membuat terobosan yang penting bagi perkembangan budaya, seni, dan teknologi itu sendiri. Tak heran, di Indonesia, penemuan amat sedikit, karena kreativitas dan sikap kritis, yang merupakan kunci dari terobosan baru, dibunuh oleh dogma budaya, dogma agama dan sikap apolitis dari birokrasi pendidikan.
Pendidikan yang apolitis, pada akhirnya, membunuh peradaban itu sendiri, dan hal-hal yang membentuk peradaban itu, seperti budaya, seni, dan ekonomi. Pendidikan politis menjadi noda bagi peradaban. Ia menciptakan ahli yang tak punya rasa kemanusiaan dan kepedulian pada keadaan masyarakatnya. Ia menghasilkan manusia-manusia arogan, tanpa cita rasa dan hati nurani.

Pendidikan yang Politis
Dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang tanpa hati nurani. Ini terjadi  karena pendidikan sains dan teknologi diputus dari analisis sosial politik di luar kelas, yang menghasilkan keprihatinan pada keadaan masyarakat yang ada. Ketika ilmu pengetahuan kehilangan hati nurani, maka ia berubah wujud menjadi senjata untuk memanipulasi manusia dan menghancurkan alam, tempat manusia hidup.
Pendidikan yang apolitis juga menjadi tempat untuk melestarikan beragam bentuk ketidakadilan yang ada, mulai dari diskriminasi sampai dengan kesenjangan sosial yang besar antara yang kaya dan miskin. Pendidikan yang apolitis membuat siswa menjadi tidak peka pada keadaan yang ada di depan matanya. Ia membuat pendidikan menjadi steril, dan karena itu juga melestarikan, dan juga memperbesar, masalah-masalah sosial yang ada.
Oleh karenanya pendidikan harus punya peran yang kritis terhadap keadaan sosial politik masyarakat. Di dalam kelas, anak diajak untuk berpikir dan berdiskusi terkait dengan persoalan-persoalan politik yang ada di luar kelas. Bahkan akan sangat baik, jika anak diajak terlibat langsung dalam satu gerakan sosial, dan melakukan aksi bersama, entah demonstrasi atau kampanye atas satu isu sosial yang dianggapnya penting.
Pendidikan harus menjadi kegiatan untuk merefleksikan keadaan politik yang ada di luar kelas. Ia mengubah siswa sungguh menjadi warga negara yang terlibat. Ia mempertanyakan krisis dan masalah-masalah sosial yang ada, serta berusaha mengusahakan alternatif jalan keluar yang mungkin. Dalam konteks ini, pendidikan berperan aktif di dalam proses perubahan sosial masyarakat.
Jadi, percuma kita memperbaiki strategi dan metode mengajar guru di kelas dengan model-model yang baik, ketika situasi sosial politik dan ekonomi masyarakat di luar kelas kacau balau. Dengan kata lain, percuma kita memotivasi guru, jika di luar kelas sedang terjadi perang dan konflik yang mengacaukan masyarakat. Maka, kata Anyon, pendidikan harus berbicara soal keadaan sosial politik masyarakat, karena pendidikan tidak pernah bisa dilepaskan dari faktor-faktor sosial politik yang ada.
Pendidikan harus membangkitkan kesadaran politis (politisches Bewusstsein) siswa sebagai warga negara suatu komunitas politis. Apapun yang terjadi di dalam komunitas itu juga akan mempengaruhi dirinya. Maka, ia tidak boleh pasif menunggu, melainkan sebaliknya, aktif turut terlibat sesuai dengan bidangnya di dalam perubahan sosial tersebut.

Bukan dipolitisir.
Pendidikan yang memiliki aspek politis bukanlah pendidikan yang dipolitisir. Yang terjadi di Indonesia adalah, pendidikan justru dijadikan proyek politik untuk melakukan korupsi, kolusi, maupun nepotisme antar pejabat negara dan perusahaan-perusahaan bisnis, mulai dari perusahaan alat tes sampai dengan penjual kertas. Pendidikan yang bersifat politis justru hendak secara kritis mempertanyakan praktek-praktek pendidikan yang dipolitisir tersebut.
Beberapa contoh mungkin bisa memperjelas. Ketika mengajar biologi, kita tidak hanya berdiskusi soal sistem pencernaan hewan, tetapi mengapa hewan-hewan tertentu punah dari muka bumi ini, dan apa peran manusia di dalam proses itu. Ketika mengajar soal gizi dan pertanian, kita tidak hanya berdiskusi soal bibit unggul, tetapi juga mengapa petani hidup miskin di Indonesia, dan apa yang bisa kita lakukan tentang masalah itu. Ketika mengajar soal ekonomi dan akuntansi, kita tidak hanya sibuk mengajarkan pembukuan terbuka atau tertutup, tetapi bagaimana perusahaan-perusahaan milik negara dan swasta di Indonesia membuat pembukuan ganda, guna menipu masyarakat luas.
Inilah esensi pendidikan politis. Ketika semua mata pelajaran dan sekolah menggunakan paradigma pendidikan politis ini, maka langkah untuk memperbaiki Indonesia bisa segera dimulai. Siswa menjadi warga negara yang peka dan mau terlibat di dalam pelbagai upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa.

Thursday, October 10, 2013

G O S I P .....



Sekarang ini di Indonesia, sikap beradab diancam oleh mentalitas dan kultur gosip yang bersifat menghancurkan. Orang lebih percaya gosip, daripada menggunakan akal budinya untuk berpikir sendiri, dan kemudian membuat keputusan. Akal budi dipasung oleh kemalasan dan kebodohan. Di balik rasa nikmat yang ditimbulkannya, gosip secara perlahan tapi pasti menghancurkan kepercayaan (trust) yang menjadi dasar dari kehidupan bersama.


Anatomi Gosip
Mengapa dan dari mana gosip itu muncul? Sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut secara lugas tanpa terjebak pada kesesatan. Di dalam proses untuk mencapai kebenaran, manusia seringkali dihalangi oleh idola-idola. Saya ingin mengajukan argumen, bahwa gosip tersusun dari idola-idola yang menutupi mata dan pikiran manusia dari kebenaran.

Ada empat macam bentuk idola (Bacon). Yang pertama adalah idola tribus, yakni kecenderungan manusia untuk melihat adanya tatanan di dalam sistem lebih daripada apa yang sebenarnya ada. Idola tribus menutupi mata dan pikiran manusia dari kebenaran.

Yang kedua adalah idola cava, yakni kecenderungan orang untuk menilai orang lain ataupun suatu peristiwa dengan berdasar pada sentimen pribadi, dan bukan dengan kejernihan akal budi. Idola cava juga menjauhkan manusia dari kebenaran.

Yang ketiga adalah idola fori, yakni kebingungan yang diciptakan, karena orang tidak memahami makna bahasa yang digunakan dalam konteks komunikasi sehari-hari. Akibatnya orang terjebak di dalam kesalahpahaman. Bahasa memang menjadi elemen kunci di dalam komunikasi. Jika orang tidak mampu berbahasa ataupun memahami makna bahasa yang digunakan secara tepat, maka komunikasi untuk mencapai kesepakatan akan sulit tercipta. Kebenaran pun semakin jauh dari genggaman tangan.

Yang keempat adalah idola theatri, yakni bangunan pemikiran ataupun teori yang dibentuk oleh pendekatan yang tidak tepat. Sehingga keyakinan ataupun pemikirannya didasarkan pada pendekatan yang sifatnya satu arah, karena mengabaikan fakta.  Idola theatri menghalangi manusia untuk sampai pada kebenaran. Keempat idola ini dirumuskan oleh Bacon di dalam bukunya yang berjudul Novum Organum (1620).

Ia memang hanya membatasi dirinya pada perumusan metode saintifik yang dapat menjamin kebenaran dari pengetahuan yang didapat. Baginya seorang ilmuwan haruslah membersihkan dirinya dari idola-idola yang menghalangi pikirannya untuk mencapai kebenaran. Namun saya merasa bahwa argumen Bacon tidak hanya cocok untuk para ilmuwan, tetapi juga untuk semua orang, terutama mereka yang pikiran dan tindakannya dipengaruhi oleh gosip, sehingga mereka tidak mampu menemukan kebenaran! Mereka perlu untuk membersihkan pikiran mereka dari idola-idola!

Membedakan Ruang Publik dan Ruang Privat
Kehidupan sosial manusia terdiri dari dua bentuk ruang, yakni ruang publik dan ruang privat. Ruang publik adalah tempat untuk membicarakan segala sesuatu yang terkait dengan kepentingan bersama. Misalnya masyarakat membicarakan tentang bagaimana menangani korban gempa, memerangi korupsi, memilih presiden, dan sebagainya. Ruang publik adalah ruang politis.

Di sisi lain masyarakat juga mengenal adanya ruang privat. Ruang privat adalah tempat bagi setiap pribadi untuk mengembangkan diri dan bertindak sesuai dengan dorongan pribadinya, tanpa perlu ada campur tangan dari orang lain. Misalnya saya ingin tidur terbalik, saya ingin punya lebih dari satu, atau saya makan sayur yang dicampur dengan buah. Semua itu adalah urusan privat. Orang lain tidak boleh dan tidak berhak untuk mencampurinya!

Dalam arti ini gosip adalah publikasi ruang privat. Artinya segala sesuatu yang sebenarnya urusan pribadi kini menjadi bahan pembicaraan publik. Gosip adalah pelanggaran atas privasi!

Masyarakat yang beradab mengenal betul pembedaan antara ruang publik dan ruang privat. Kedua ruang itu tidak boleh dicampurkan. Sebaliknya masyarakat yang tidak beradab mencampurkan keduanya begitu saja. Masyarakat gosip adalah masyarakat yang menjadikan urusan privat sebagai urusan publik. Masyarakat gosip adalah masyarakat yang tidak beradab!

Jika ingin menjadi bangsa yang beradab, orang Indonesia perlu untuk mencegah publikasi ruang privat. Orang Indonesia perlu untuk menghormati privasi setiap orang. Orang Indonesia juga perlu untuk membicarakan masalah publik dalam konteks debat yang rasional. Ruang publik bukanlah ruang gosip, melainkan ruang untuk mencapai keadilan bagi kehidupan bersama. Gosip harus dimusnahkan!

Gosip juga seringkali mencemari nama baik seseorang. Sebuah fakta dipelintir sedemikian rupa, sehingga kebenaran tidak lagi terkandung di dalamnya. Akibatnya reputasi seseorang 
 menjadi jelek di mata masyarakat!

Berfikir ilmiah sebagai Anti Gosip
 Berfikir Ilmiah merupakan suatu pemikiran atau tindakan seorang manusia yang menggunakan dasar-dasar dan ilmu tertentu. Sehingga ide tersebut dapat diterima orang lain. Berpikir ilmiah juga harus melalui proses yang panjang dan benar karena akan menyangkut kebenaran. Dalam berpikir ilmiah seseorang harus memperhatikan dasar-dasarnya. Yang didalamnya menyangkut apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Biasanya hal itu digunakan untuk mencari rumusan masalah dan mencari solusi atau kesimpulan suatu masalah

Jika ditempatkan secara tepat, prinsip berfikir ilmiah mampu mencegah kita mengambil kesimpulan yang searah dan jauh dari kebenaran. Berfikir ilmiah mengajak kita untuk bersikap obyektif di dalam membuat keputusan. Jika orang menerapkan prinsip ini di dalam hidupnya, ia tidak akan dibingungkan oleh gosip. Jika masyarakat menerapkan prinsip ini sesuai konteksnya, maka mereka akan menjadi masyarakat yang beradab.

Memang pada akhirnya kehidupan manusia baru berharga dan bermakna, jika diarahkan untuk mencapai kebenaran. Di dalam kebenaran manusia akan menemukan kebahagiaan. Kebenaran yang mungkin awalnya menyakitkan, tetapi secara perlahan akan menumbuhkan kesadaran kita sebagai manusia yang otentik. Sikap hidup yang semakin jarang ditemukan di masyarakat kita sekarang ini.

Wednesday, October 2, 2013

ANTRI ,,,,,,,,,

Belajar antri itu lebih penting daripada belajar matematika. Antri itu mencerminkan sikap hidup yang luar biasa mendalam. Antri adalah keutamaan hidup yang penting, yang menyangkut sikap moral, yang jauh lebih penting daripada sekedar menguasai rumus-rumus matematika

Keutamaan Antri
Antri adalah tanda dari kesabaran. Jelas, orang antri perlu untuk sabar. Orang perlu menunggu, sampai gilirannya tiba. Dalam hidup, orang pun juga perlu untuk sabar. Ia perlu menunggu, kapan gilirannya untuk maju tiba, sambil sebelumnya mempersilahkan orang yang ada terlebih dahulu untuk maju. Semua ada waktunya. Sabar..

Antri adalah tanda kemampuan manusia untuk berproses. Ketika antri, orang harus menjalani proses menunggu, terkadang cukup lama, supaya bisa mendapatkan kebutuhannya. Dalam hidup, orang pun harus berani berproses. Untuk menjadi pintar dan sukses, orang perlu berproses dengan belajar dan berusaha. Orang yang tidak mau berproses, maunya cepat pintar dan cepat kaya, biasanya terjebak dalam korupsi, dan merugikan banyak orang dengan tindakannya.

Antri adalah tanda bagi kreativitas, yakni kreativitas untuk mengisi waktu luang. Ketika antri, kita punya banyak waktu kosong. Kita bisa mengisinya dengan bengong, atau dengan tindakan-tindakan bermutu, seperti membaca misalnya. Sehingga membuat waktu berjalan lebih cepat dan waktu menunggu antrianpun tidak terasa terlalu lama.

Dalam hidup, kita juga punya banyak waktu luang. Sepulang kerja, apa yang kita lakukan? Apakah kita sibuk ngegosip tentang hal-hal tak bermutu dengan teman-teman kita, atau kita membaca? Apakah kita sudah menghabiskan waktu luang kita dengan orang-orang yang sungguh kita cintai? Apakah kita sudah kreatif menghabiskan waktu kosong kita, sehingga bisa menjadi waktu yang baik untuk mengembangkan diri, dan membantu orang lain?

Pada level yang lebih dalam, antri adalah simbol dari keadilan. Orang kaya ataupun orang miskin harus antri, tidak ada perkecualian. Orang cantik ataupun orang “kurang” cantik, seturut dengan ukuran tertentu, harus antri, juga tidak ada perkecualian. Kalau mau dilayani lebih cepat, anda harus datang terlebih dahulu, juga tidak ada perkecualian.

Dilihat seperti ini, antri adalah simbol kesetaraan. Semua orang menjadi setara, ketika mereka sedang antri. Tidak ada raja, tidak ada ratu, yang sukanya menyerobot antrian, karena mereka merasa dirinya lebih tinggi. Keadilan dan kesetaraan antar manusia adalah konsep penting, yang bisa menjamin terciptanya hidup bersama yang damai.

Keteraturan
Sikap menciptakan keteraturan, inilah yang perlu untuk kita teladani bersama. Dengan adanya keteraturan, suasana damai bisa tercipta dan terjaga. Orang tak perlu bertengkar, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil, karena tidak adanya keteraturan. Orang bisa memperoleh kebutuhannya dengan hati tenang, karena ia percaya, bahwa dengan menunggu dan bersabar, ia akan memperoleh kebutuhannya dengan pasti.
Keteraturan menghadirkan rasa percaya. Rasa percaya menghasilkan kenyamanan hidup. Bukankah kita semua ingin hidup dengan nyaman, yakni diperlakukan dengan adil dan percaya, bahwa kebutuhan kita akan terpenuhi, jika kita mau belajar, berusaha, dan antri? Jika mau hidup dengan nyaman dan damai, belajarlah bersama-sama untuk antri. Tidak ada jalan lain.
Di Indonesia, sejauh ini orang antri malah memperoleh ketidakadilan dan kekecewaan.

Sulit Antri?
Ada banyak penyebab. Yang paling utama adalah tidak adanya aturan yang kuat. Tidak adanya penjaga aturan yang tegas dan berani. Akhirnya, orang menyerobot bagaikan orang biadab, karena ia tahu, ia tidak akan dihukum. Tidak ada sistem yang menjamin, bahwa orang yang antri dengan baik akan memperoleh kebutuhannya dengan adil.

Aturan lalu dikangkangi oleh uang dan kekuatan koneksi. Jika kamu anak jendral, maka kamu bisa memotong jalur Trans-Jakarta-bussway, dan kabur dari kemacetan. Jika kamu punya uang banyak, dan bersedia membayar lebih, kamu bisa memotong antrian langsung. Diskriminasi atas dasar uang dan kekuatan koneksi inilah yang membuat sikap antri, yang amat penting untuk perdamaian dan kenyamanan hidup, menjadi sulit di Indonesia.

Bahkan, tidak perlu uang dan koneksi, selama orang berani teriak-teriak ngotot di hadapan umum, ia pun bisa memotong antrian. Artinya, selama orang tidak punya malu, dan bersikap bagaikan orang tak berpendidikan, ia malah bisa memotong antrian. Jarang ada yang mau menegur, bahkan petugas resmi yang harusnya menegakkan aturan. Aturan memang ada, namun tak ada yang menghormati dan mematuhinya, karena mereka tahu, aturan itu dengan mudah dilanggar dengan uang, koneksi, atau bahkan sikap tak beradab dalam bentuk teriak-teriak di depan umum layaknya orang gila.

Tanpa adanya aturan yang berlaku, orang hidup dalam ketidakpastian. Ketidakpastian menciptakan ketakutan. Ketakutan mendorong orang untuk melakukan hal-hal jelek, misalnya bertengkar, memaki-maki di depan umum, atau korupsi. Ketakutan pulalah yang mendorong orang untuk menyuap, mencuri, dan korupsi.

Antri dan Demokrasi
Uang memang penting. Namun, uang bukan segalanya. Michael Sandel, di dalam bukunya yang berjudul Was man für Geld nicht kaufen kann: Die moralischen Grenzen des Marktes, menyatakan dengan tegas, bahwa antri adalah tindakan etis di dalam masyarakat demokratis, yang tidak bisa digantikan dengan apapun juga. Orang kaya pun harus antri, walaupun ia punya uang, guna memotong antrian yang ada. Uang menurunkan kualitas moral suatu tindakan, dan bahkan menjadikannya buruk, begitu kata Sandel. (Sandel, 2012)

Di dalam masyarakat demokrasi, kata Sandel, ada hal-hal yang tidak bisa, dan tidak boleh, dibeli dengan uang. Salah satunya adalah antri. Demokrasi membutuhkan warga negara yang memiliki budaya antri. Dengan antri, orang bisa memperoleh kebutuhannya dengan nyaman dan damai. Tidak perlu ada ketakutan dan konflik. Tidak perlu ada diskriminasi dan ketidakadilan.

Lebih dari itu, antri adalah syarat untuk kebersamaan. Budaya antri juga bisa dilihat sebagai tanda, bahwa saya mengakui keberadaan orang lain. 

Antri memang tindakan kecil dan sederhana. Namun, maknanya sangat mendalam. Kita perlu belajar antri, kalau kita mau hidup bersama secara nyaman dan damai dengan orang lain. Tak ada pilihan lain. TITIK

Wednesday, July 31, 2013

Membangun Idealisme dengan Visi

Pendidikan jelas merupakan alat paling jitu untuk membangun dan mengembangkan idealisme suatu bangsa. Walaupun memiliki peran amat penting, sekolah formal tidak bisa dijadikan satu-satunya penggerak pendidikan. Pendidikan yang tertinggi dan terutama adalah teladan hidup langsung dari orang-orang yang sudah ada sebelumnya. tindakan jauh lebih kuat dari kata-kata, dan itu paling jelas di dalam pendidikan moral (Bourdieu)

Sulit membuat pendidikan anti korupsi, ketika hampir semua golongan tua di Indonesia melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme setiap harinya, seringkali tanpa disadari. Sulit mengajak bangsa ini untuk memiliki nilai moral tinggi, ketika nyaris semua golongan tua hidup untuk menipu dan meraup kekayaan, seringkali dengan cara-cara yang biadab. Sulit mengajak bangsa ini untuk jujur, ketika guru mengajarkan siswanya untuk menyontek saat ujian nasional. Jelaslah, teladan hidup dari orang-orang yang sudah hidup sebelumnya memainkan peranan amat penting dalam pemberadaban bangsa.

Sebagai bagian dari idealisme, visi tak akan pernah utuh menjadi kenyataan. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendekati visi tersebut, walaupun tak pernah bisa identik sepenuhnya. Itulah sebabnya, di dalam kata idealisme terdapat kata ide, karena itu adalah harapan dan visi, yang perlu terus dikejar sepanjang hidup, walaupun tak bisa direngkuh sepenuhnya.

Friday, July 26, 2013

"what is not enough"

Kita hidup dalam dunia yang selalu tidak cukup. Banyak hal muncul dalam bentuk yang kurang, dari yang kita harapkan. Gaji yang tak pernah cukup mencukupi kebutuhan hidup. Waktu yang selalu tidak cukup untuk keluarga, atau orang-orang yang kita cintai.

kata orang, kita harus berbicara benar. Atau, kita harus mengatakan kebenaran. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Bahasa kita tidak cukup untuk mengatakan kebenaran. Bahasa kita terlalu miskin untuk menyatakan kebenaran.

Ketika kita berkata, bahasa langsung mengurung maksud kita ke dalam kata dan grammar. Ada jarak yang cukup besar antara kata yang terucap dan maksud di dalam hati. Kata-kata dan bahasa kita tidak cukup untuk mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan.

Apa yang kita tangkap dengan pikiran kita hanyalah sebagian kecil dari kekayaan realitas yang ada. Dengan kata lain, pikiran kita tidak cukup untuk menangkap keluasan kenyataan yang ada. Kenyataan atau realitas yang sesungguhnya jauh lebih kaya daripada apa yang bisa kita tangkap dan pahami dengan pikiran kita.
Kita bertindak berdasarkan maksud, berdasarkan harapan. Akan tetapi, tindakan kita tidak pernah cukup mewujudkan harapan kita. Seorang ayah amat mencintai anaknya. Namun, tindakannya tidak akan pernah cukup menggambarkan cintanya pada anaknya. Begitu juga tentang seorang yang mencintai pasanganya, tindakannya tidak akan pernah cukup menggambarkan cintanya pada pasanganya tersebut. Ada jarak antara apa yang kita rasakan sesungguhnya, dan tindakan yang kita lakukan untuk menampilkan perasaan tersebut.

Ketika kita berusaha memahami sesuatu, kita menggunakan konsep. Kita menggunakan konsep, tidak hanya di dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga di dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, setiap konsep atau teori tidak akan pernah bisa menangkap kekayaan kenyataan yang ada. Konsep atau teori (rumusan ilmiah) tidak pernah cukup untuk menangkap apa yang sesungguhnya terjadi.

Misalnya, seorang siswa mendapatkan nilai rendah dalam ujiannya. Padahal, ia telah belajar dengan keras. Nilai-nilai sebelumnya juga baik. Hanya saja, ketika ujian akhir datang, ia merasa gugup, dan tak mampu mengerjakan soal-soal yang diberikan dengan tenang. Akhirnya, nilainya rendah. Ia pun gagal dalam ujian akhirnya.

Hasil ujian tidak pernah bisa menangkap usaha belajar seseorang. Nilai tidak pernah cukup menandakan kerja keras seorang murid. Inilah yang harus disadari oleh semua pendidik di Indonesia. Proses belajar, yang merupakan proses yang berkelanjutan dan dinamis, tidak akan pernah bisa dipahami hanya dengan melihat nilai.

Kenyataan hidup juga tidak akan pernah cukup untuk mewujudkan seluruh harapan kita. Harapan adalah gambaran ideal tentang kenyataan. Walaupun pikiran dan bahasa kita tidak akan pernah bisa menangkap kekayaan kenyataan yang ada, kenyataan itu sendiri pun masih terlalu sempit untuk harapan manusiawi kita. Harapan selalu lebih luas dari kenyataan.

Setiap hari, kita membuat janji. Kita, tentu, berusaha menepatinya. Namun, tidak pernah kita 100 persen bisa menepati janji kita. Tindakan menepati janji selalu tidak cukup untuk mewujudkan janji itu sendiri, walaupun segala upaya telah dilakukan.

Pada akhirnya, kita harus belajar untuk memahami apa yang tidak cukup dalam hidup kita. Kita harus mengembangkan di dalam diri kita kesadaran akan ketidakcukupan. Di dalam hidup yang begitu kaya dan dinamis ini, kesadaran akan ketidakcukupan adalah suatu bentuk kebijaksanaan. Hidup memang selalu kurang. Namun, mungkin saja bukan hidup yang kurang, melainkan diri kita sendiri, sebagai manusia, yang juga kurang

Thursday, July 18, 2013

HIDUP dan MIMPI

Bolehkah kita bermimpi dalam hidup kita? Apakah ada gunanya? Ataukah kita harus melepaskan mimpi kita, dan hidup apa adanya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu memahami terlebih dahulu, apa itu mimpi, dan bagaimana ia di dalam perjalanan bisa tersesat.

Mimpi adalah bentukan dari harapan dari dalam diri manusia tentang masa depannya. Ia bukan hanya bunga tidur, tetapi juga cita-cita yang mengarahkan hidup seseorang pada satu titik. Mimpi seseorang seringkali menjadi tujuan sekaligus makna hidupnya. Ia menjadi motivasi yang mendorong orang untuk terus berusaha, walaupun kesulitan datang silih berganti.

Manusia adalah mahluk bertubuh dan berbulu halus, mengarungi hidup menuju kematian, dan di antaranya dia berhadapan dengan kecenderungan untuk menguasai dan dikuasai, berusaha untuk berdialog, mengontrol kekuasaan yang ada, supaya tidak semena-mena, dan memiliki mimpi-mimpi yang menghantuinya. Di antara lahir dan mati, mimpi adalah makna hidup manusia, yang memberinya tujuan untuk setiap hari bangun dan beraktivitas.

Namun, mimpi tidak selalu tepat. Mimpi juga bisa menyesatkan, ketika ia tidak diolah dengan pemikiran kritis, yakni pemikiran yang terus mempertanyakan, dan mengolah lebih jauh. Mimpi justru bisa mengaburkan makna hidup seseorang, dan menggiring dia pada kehancuran hidup. Mimpi semacam ini adalah hasil dari kesalahan berpikir, yang biasanya muncul dari anggapan umum yang ditelan tanpa pemikiran lebih dalam.


Antagonis - Politik

Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...