Tuesday, November 12, 2013

Pendidikan yang POLITIS



Apakah yang perlu diperbaiki supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih baik? Adalah pendidikan. Itulah yang pasti jawaban yang akan dikemukakan oleh mayoritas masyarakat. Mereka berpikir, ketika semua orang Indonesia bisa mendapatkan pendidikan bermutu, maka kemampuan sumber daya manusia akan meningkat, dan ini akan bisa memperbaiki situasi Indonesia. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah, pendidikan macam apa yang kita perlukan?

Pendidikan Apolitis
Jawaban yang seringkali muncul ialah, pendidikan sains dan pendidikan moral. Kemudian Pendidikan sains disamakan dengan pendidikan fisika, matematika, kimia, dan biologi. Sementara, pendidikan moral disamakan dengan pendidikan agama. Pada konsep inilah yang saya kurang setujui.
Pendidikan sains, dengan beragam cabangnya, tentu diperlukan. Pendidikan moral dan pendidikan agama tentu juga diperlukan. Namun, cara mengajarnya harus diubah. Dengan kata lain, paradigma mengajarnya harus diubah, sehingga bahan yang diajarkan juga ditafsirkan dengan cara yang sama sekali baru.
Pada hemat saya, pendidikan Indonesia sedang sakit, dan penyakit yang diderita adalah penyakit apolitis (eine apolitische Bildung). Apolitis berasal dari dua kata a, yang berarti anti, atau tidak/tanpa, dan politik, yang berasal dari bahasa Yunani kuno, Politikos, yang berarti segala sesuatu yang terkait dengan warga negara. Pendidikan yang apolitis berarti pendidikan yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal kewarganegaraan.
Artinya, pendidikan terputus dari keprihatinan sosial politik. Ia hanya terfokus pada soal ketrampilan untuk bisa bekerja di perusahaan-perusahaan. Ia hanya terfokus untuk mengabdi pasar dan agama, dan tidak pernah mempertanyakan peran pasar dan agama tersebut. Pendidikan seolah-olah adalah barang netral yang tak ada hubungannya dengan pertarungan sosial politik di luar kelas. Inilah penyakit pendidikan kita di Indonesia.

Krisis Pendidikan
Pendidikan juga hanya dilihat sebagai hubungan antar murid dan guru, seolah masyarakat di luar tak mempengaruhi proses pendidikan di dalam kelas. Penelitian-penelitian di dalam ilmu pendidikan pun mengabaikan pengaruh keadaan sosial politik yang ada di luar kelas. Ia menjadi penelitian yang netral dan basi, serta nyaris tak berguna, karena tak bisa menangkap kenyataan yang ada dari proses politik dan kekuasaan di luar kelas yang juga mempengaruhi dunia pendidikan.
Di sisi lain, pendidikan juga menjadikan segala bentuk tes sebagai ukuran dan tujuannya. Singkat kata, orang belajar, supaya ia bisa lulus tes. Titik. Sehingga menjadi tujuan utama pendidikan. Pendidikan menjadi begitu sempit dan dangkal, karena mengabaikan kekayaan sekaligus kerumitan diri manusia. Ia juga menjadi impoten, karena mengabaikan pengaruh sosial politik yang ada.
Konsep tes pun lalu juga disempitkan semata sebagai sebuah upaya untuk memuntahkan ulang apa yang telah dikatakan oleh guru dan buku. Seorang anak dianggap murid yang baik, ketika ia bisa membeo apa kata buku, atau apa kata gurunya. Tes lalu menjadi proses cuci otak. Pendidikan semacam ini tidak akan pernah memperbaiki keadaan Indonesia, melainkan justru memperparah kerusakan moral dan politik yang ada.

Sikap Kritis dan Kreativitas
Pendidikan yang apolitis ini juga membunuh sikap kritis. Padahal, sikap kritis sangat diperlukan, supaya orang bisa peka pada keadaan yang salah, lalu berusaha mempertanyakan dan memperbaikinya. Sikap kritis juga diperlukan, supaya orang bisa memilih pemimpin yang baik, terutama menjelang pemilu 2014 nanti. Dengan kata lain, sikap kritis adalah prasyarat dari warga negara yang baik di dalam masyarakat demokratis, seperti Indonesia. Apalagi sebagai kodrat manusia, kita dibekali pikiran untuk bertafakur.
Pendidikan yang inhumanis (unmenschliche Bildung) juga mengancam kreativitas berpikir. Padahal, kreativitas adalah kunci dari kemajuan budaya dan ekonomi suatu bangsa. Pendidikan yang inhumanis, sejauh saya mengerti, juga berarti pendidikan yang apolitis, yakni pendidikan yang mengabaikan pengaruh sosial politik. Pendidikan yang apolitis juga menghancurkan kreativitas itu sendiri.
Pendidikan yang apolitis adalah pendidikan yang tidak relevan. Ia menciptakan robot-robot patuh yang tidak mampu berpikir kritis dan kreatif. Ia juga menghasilkan robot-robot yang mampu menghafal buku dan kata-kata guru, tetapi tidak mampu membuat terobosan yang penting bagi perkembangan budaya, seni, dan teknologi itu sendiri. Tak heran, di Indonesia, penemuan amat sedikit, karena kreativitas dan sikap kritis, yang merupakan kunci dari terobosan baru, dibunuh oleh dogma budaya, dogma agama dan sikap apolitis dari birokrasi pendidikan.
Pendidikan yang apolitis, pada akhirnya, membunuh peradaban itu sendiri, dan hal-hal yang membentuk peradaban itu, seperti budaya, seni, dan ekonomi. Pendidikan politis menjadi noda bagi peradaban. Ia menciptakan ahli yang tak punya rasa kemanusiaan dan kepedulian pada keadaan masyarakatnya. Ia menghasilkan manusia-manusia arogan, tanpa cita rasa dan hati nurani.

Pendidikan yang Politis
Dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang tanpa hati nurani. Ini terjadi  karena pendidikan sains dan teknologi diputus dari analisis sosial politik di luar kelas, yang menghasilkan keprihatinan pada keadaan masyarakat yang ada. Ketika ilmu pengetahuan kehilangan hati nurani, maka ia berubah wujud menjadi senjata untuk memanipulasi manusia dan menghancurkan alam, tempat manusia hidup.
Pendidikan yang apolitis juga menjadi tempat untuk melestarikan beragam bentuk ketidakadilan yang ada, mulai dari diskriminasi sampai dengan kesenjangan sosial yang besar antara yang kaya dan miskin. Pendidikan yang apolitis membuat siswa menjadi tidak peka pada keadaan yang ada di depan matanya. Ia membuat pendidikan menjadi steril, dan karena itu juga melestarikan, dan juga memperbesar, masalah-masalah sosial yang ada.
Oleh karenanya pendidikan harus punya peran yang kritis terhadap keadaan sosial politik masyarakat. Di dalam kelas, anak diajak untuk berpikir dan berdiskusi terkait dengan persoalan-persoalan politik yang ada di luar kelas. Bahkan akan sangat baik, jika anak diajak terlibat langsung dalam satu gerakan sosial, dan melakukan aksi bersama, entah demonstrasi atau kampanye atas satu isu sosial yang dianggapnya penting.
Pendidikan harus menjadi kegiatan untuk merefleksikan keadaan politik yang ada di luar kelas. Ia mengubah siswa sungguh menjadi warga negara yang terlibat. Ia mempertanyakan krisis dan masalah-masalah sosial yang ada, serta berusaha mengusahakan alternatif jalan keluar yang mungkin. Dalam konteks ini, pendidikan berperan aktif di dalam proses perubahan sosial masyarakat.
Jadi, percuma kita memperbaiki strategi dan metode mengajar guru di kelas dengan model-model yang baik, ketika situasi sosial politik dan ekonomi masyarakat di luar kelas kacau balau. Dengan kata lain, percuma kita memotivasi guru, jika di luar kelas sedang terjadi perang dan konflik yang mengacaukan masyarakat. Maka, kata Anyon, pendidikan harus berbicara soal keadaan sosial politik masyarakat, karena pendidikan tidak pernah bisa dilepaskan dari faktor-faktor sosial politik yang ada.
Pendidikan harus membangkitkan kesadaran politis (politisches Bewusstsein) siswa sebagai warga negara suatu komunitas politis. Apapun yang terjadi di dalam komunitas itu juga akan mempengaruhi dirinya. Maka, ia tidak boleh pasif menunggu, melainkan sebaliknya, aktif turut terlibat sesuai dengan bidangnya di dalam perubahan sosial tersebut.

Bukan dipolitisir.
Pendidikan yang memiliki aspek politis bukanlah pendidikan yang dipolitisir. Yang terjadi di Indonesia adalah, pendidikan justru dijadikan proyek politik untuk melakukan korupsi, kolusi, maupun nepotisme antar pejabat negara dan perusahaan-perusahaan bisnis, mulai dari perusahaan alat tes sampai dengan penjual kertas. Pendidikan yang bersifat politis justru hendak secara kritis mempertanyakan praktek-praktek pendidikan yang dipolitisir tersebut.
Beberapa contoh mungkin bisa memperjelas. Ketika mengajar biologi, kita tidak hanya berdiskusi soal sistem pencernaan hewan, tetapi mengapa hewan-hewan tertentu punah dari muka bumi ini, dan apa peran manusia di dalam proses itu. Ketika mengajar soal gizi dan pertanian, kita tidak hanya berdiskusi soal bibit unggul, tetapi juga mengapa petani hidup miskin di Indonesia, dan apa yang bisa kita lakukan tentang masalah itu. Ketika mengajar soal ekonomi dan akuntansi, kita tidak hanya sibuk mengajarkan pembukuan terbuka atau tertutup, tetapi bagaimana perusahaan-perusahaan milik negara dan swasta di Indonesia membuat pembukuan ganda, guna menipu masyarakat luas.
Inilah esensi pendidikan politis. Ketika semua mata pelajaran dan sekolah menggunakan paradigma pendidikan politis ini, maka langkah untuk memperbaiki Indonesia bisa segera dimulai. Siswa menjadi warga negara yang peka dan mau terlibat di dalam pelbagai upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa.

Thursday, October 10, 2013

G O S I P .....



Sekarang ini di Indonesia, sikap beradab diancam oleh mentalitas dan kultur gosip yang bersifat menghancurkan. Orang lebih percaya gosip, daripada menggunakan akal budinya untuk berpikir sendiri, dan kemudian membuat keputusan. Akal budi dipasung oleh kemalasan dan kebodohan. Di balik rasa nikmat yang ditimbulkannya, gosip secara perlahan tapi pasti menghancurkan kepercayaan (trust) yang menjadi dasar dari kehidupan bersama.


Anatomi Gosip
Mengapa dan dari mana gosip itu muncul? Sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut secara lugas tanpa terjebak pada kesesatan. Di dalam proses untuk mencapai kebenaran, manusia seringkali dihalangi oleh idola-idola. Saya ingin mengajukan argumen, bahwa gosip tersusun dari idola-idola yang menutupi mata dan pikiran manusia dari kebenaran.

Ada empat macam bentuk idola (Bacon). Yang pertama adalah idola tribus, yakni kecenderungan manusia untuk melihat adanya tatanan di dalam sistem lebih daripada apa yang sebenarnya ada. Idola tribus menutupi mata dan pikiran manusia dari kebenaran.

Yang kedua adalah idola cava, yakni kecenderungan orang untuk menilai orang lain ataupun suatu peristiwa dengan berdasar pada sentimen pribadi, dan bukan dengan kejernihan akal budi. Idola cava juga menjauhkan manusia dari kebenaran.

Yang ketiga adalah idola fori, yakni kebingungan yang diciptakan, karena orang tidak memahami makna bahasa yang digunakan dalam konteks komunikasi sehari-hari. Akibatnya orang terjebak di dalam kesalahpahaman. Bahasa memang menjadi elemen kunci di dalam komunikasi. Jika orang tidak mampu berbahasa ataupun memahami makna bahasa yang digunakan secara tepat, maka komunikasi untuk mencapai kesepakatan akan sulit tercipta. Kebenaran pun semakin jauh dari genggaman tangan.

Yang keempat adalah idola theatri, yakni bangunan pemikiran ataupun teori yang dibentuk oleh pendekatan yang tidak tepat. Sehingga keyakinan ataupun pemikirannya didasarkan pada pendekatan yang sifatnya satu arah, karena mengabaikan fakta.  Idola theatri menghalangi manusia untuk sampai pada kebenaran. Keempat idola ini dirumuskan oleh Bacon di dalam bukunya yang berjudul Novum Organum (1620).

Ia memang hanya membatasi dirinya pada perumusan metode saintifik yang dapat menjamin kebenaran dari pengetahuan yang didapat. Baginya seorang ilmuwan haruslah membersihkan dirinya dari idola-idola yang menghalangi pikirannya untuk mencapai kebenaran. Namun saya merasa bahwa argumen Bacon tidak hanya cocok untuk para ilmuwan, tetapi juga untuk semua orang, terutama mereka yang pikiran dan tindakannya dipengaruhi oleh gosip, sehingga mereka tidak mampu menemukan kebenaran! Mereka perlu untuk membersihkan pikiran mereka dari idola-idola!

Membedakan Ruang Publik dan Ruang Privat
Kehidupan sosial manusia terdiri dari dua bentuk ruang, yakni ruang publik dan ruang privat. Ruang publik adalah tempat untuk membicarakan segala sesuatu yang terkait dengan kepentingan bersama. Misalnya masyarakat membicarakan tentang bagaimana menangani korban gempa, memerangi korupsi, memilih presiden, dan sebagainya. Ruang publik adalah ruang politis.

Di sisi lain masyarakat juga mengenal adanya ruang privat. Ruang privat adalah tempat bagi setiap pribadi untuk mengembangkan diri dan bertindak sesuai dengan dorongan pribadinya, tanpa perlu ada campur tangan dari orang lain. Misalnya saya ingin tidur terbalik, saya ingin punya lebih dari satu, atau saya makan sayur yang dicampur dengan buah. Semua itu adalah urusan privat. Orang lain tidak boleh dan tidak berhak untuk mencampurinya!

Dalam arti ini gosip adalah publikasi ruang privat. Artinya segala sesuatu yang sebenarnya urusan pribadi kini menjadi bahan pembicaraan publik. Gosip adalah pelanggaran atas privasi!

Masyarakat yang beradab mengenal betul pembedaan antara ruang publik dan ruang privat. Kedua ruang itu tidak boleh dicampurkan. Sebaliknya masyarakat yang tidak beradab mencampurkan keduanya begitu saja. Masyarakat gosip adalah masyarakat yang menjadikan urusan privat sebagai urusan publik. Masyarakat gosip adalah masyarakat yang tidak beradab!

Jika ingin menjadi bangsa yang beradab, orang Indonesia perlu untuk mencegah publikasi ruang privat. Orang Indonesia perlu untuk menghormati privasi setiap orang. Orang Indonesia juga perlu untuk membicarakan masalah publik dalam konteks debat yang rasional. Ruang publik bukanlah ruang gosip, melainkan ruang untuk mencapai keadilan bagi kehidupan bersama. Gosip harus dimusnahkan!

Gosip juga seringkali mencemari nama baik seseorang. Sebuah fakta dipelintir sedemikian rupa, sehingga kebenaran tidak lagi terkandung di dalamnya. Akibatnya reputasi seseorang 
 menjadi jelek di mata masyarakat!

Berfikir ilmiah sebagai Anti Gosip
 Berfikir Ilmiah merupakan suatu pemikiran atau tindakan seorang manusia yang menggunakan dasar-dasar dan ilmu tertentu. Sehingga ide tersebut dapat diterima orang lain. Berpikir ilmiah juga harus melalui proses yang panjang dan benar karena akan menyangkut kebenaran. Dalam berpikir ilmiah seseorang harus memperhatikan dasar-dasarnya. Yang didalamnya menyangkut apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana. Biasanya hal itu digunakan untuk mencari rumusan masalah dan mencari solusi atau kesimpulan suatu masalah

Jika ditempatkan secara tepat, prinsip berfikir ilmiah mampu mencegah kita mengambil kesimpulan yang searah dan jauh dari kebenaran. Berfikir ilmiah mengajak kita untuk bersikap obyektif di dalam membuat keputusan. Jika orang menerapkan prinsip ini di dalam hidupnya, ia tidak akan dibingungkan oleh gosip. Jika masyarakat menerapkan prinsip ini sesuai konteksnya, maka mereka akan menjadi masyarakat yang beradab.

Memang pada akhirnya kehidupan manusia baru berharga dan bermakna, jika diarahkan untuk mencapai kebenaran. Di dalam kebenaran manusia akan menemukan kebahagiaan. Kebenaran yang mungkin awalnya menyakitkan, tetapi secara perlahan akan menumbuhkan kesadaran kita sebagai manusia yang otentik. Sikap hidup yang semakin jarang ditemukan di masyarakat kita sekarang ini.

Wednesday, October 2, 2013

ANTRI ,,,,,,,,,

Belajar antri itu lebih penting daripada belajar matematika. Antri itu mencerminkan sikap hidup yang luar biasa mendalam. Antri adalah keutamaan hidup yang penting, yang menyangkut sikap moral, yang jauh lebih penting daripada sekedar menguasai rumus-rumus matematika

Keutamaan Antri
Antri adalah tanda dari kesabaran. Jelas, orang antri perlu untuk sabar. Orang perlu menunggu, sampai gilirannya tiba. Dalam hidup, orang pun juga perlu untuk sabar. Ia perlu menunggu, kapan gilirannya untuk maju tiba, sambil sebelumnya mempersilahkan orang yang ada terlebih dahulu untuk maju. Semua ada waktunya. Sabar..

Antri adalah tanda kemampuan manusia untuk berproses. Ketika antri, orang harus menjalani proses menunggu, terkadang cukup lama, supaya bisa mendapatkan kebutuhannya. Dalam hidup, orang pun harus berani berproses. Untuk menjadi pintar dan sukses, orang perlu berproses dengan belajar dan berusaha. Orang yang tidak mau berproses, maunya cepat pintar dan cepat kaya, biasanya terjebak dalam korupsi, dan merugikan banyak orang dengan tindakannya.

Antri adalah tanda bagi kreativitas, yakni kreativitas untuk mengisi waktu luang. Ketika antri, kita punya banyak waktu kosong. Kita bisa mengisinya dengan bengong, atau dengan tindakan-tindakan bermutu, seperti membaca misalnya. Sehingga membuat waktu berjalan lebih cepat dan waktu menunggu antrianpun tidak terasa terlalu lama.

Dalam hidup, kita juga punya banyak waktu luang. Sepulang kerja, apa yang kita lakukan? Apakah kita sibuk ngegosip tentang hal-hal tak bermutu dengan teman-teman kita, atau kita membaca? Apakah kita sudah menghabiskan waktu luang kita dengan orang-orang yang sungguh kita cintai? Apakah kita sudah kreatif menghabiskan waktu kosong kita, sehingga bisa menjadi waktu yang baik untuk mengembangkan diri, dan membantu orang lain?

Pada level yang lebih dalam, antri adalah simbol dari keadilan. Orang kaya ataupun orang miskin harus antri, tidak ada perkecualian. Orang cantik ataupun orang “kurang” cantik, seturut dengan ukuran tertentu, harus antri, juga tidak ada perkecualian. Kalau mau dilayani lebih cepat, anda harus datang terlebih dahulu, juga tidak ada perkecualian.

Dilihat seperti ini, antri adalah simbol kesetaraan. Semua orang menjadi setara, ketika mereka sedang antri. Tidak ada raja, tidak ada ratu, yang sukanya menyerobot antrian, karena mereka merasa dirinya lebih tinggi. Keadilan dan kesetaraan antar manusia adalah konsep penting, yang bisa menjamin terciptanya hidup bersama yang damai.

Keteraturan
Sikap menciptakan keteraturan, inilah yang perlu untuk kita teladani bersama. Dengan adanya keteraturan, suasana damai bisa tercipta dan terjaga. Orang tak perlu bertengkar, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil, karena tidak adanya keteraturan. Orang bisa memperoleh kebutuhannya dengan hati tenang, karena ia percaya, bahwa dengan menunggu dan bersabar, ia akan memperoleh kebutuhannya dengan pasti.
Keteraturan menghadirkan rasa percaya. Rasa percaya menghasilkan kenyamanan hidup. Bukankah kita semua ingin hidup dengan nyaman, yakni diperlakukan dengan adil dan percaya, bahwa kebutuhan kita akan terpenuhi, jika kita mau belajar, berusaha, dan antri? Jika mau hidup dengan nyaman dan damai, belajarlah bersama-sama untuk antri. Tidak ada jalan lain.
Di Indonesia, sejauh ini orang antri malah memperoleh ketidakadilan dan kekecewaan.

Sulit Antri?
Ada banyak penyebab. Yang paling utama adalah tidak adanya aturan yang kuat. Tidak adanya penjaga aturan yang tegas dan berani. Akhirnya, orang menyerobot bagaikan orang biadab, karena ia tahu, ia tidak akan dihukum. Tidak ada sistem yang menjamin, bahwa orang yang antri dengan baik akan memperoleh kebutuhannya dengan adil.

Aturan lalu dikangkangi oleh uang dan kekuatan koneksi. Jika kamu anak jendral, maka kamu bisa memotong jalur Trans-Jakarta-bussway, dan kabur dari kemacetan. Jika kamu punya uang banyak, dan bersedia membayar lebih, kamu bisa memotong antrian langsung. Diskriminasi atas dasar uang dan kekuatan koneksi inilah yang membuat sikap antri, yang amat penting untuk perdamaian dan kenyamanan hidup, menjadi sulit di Indonesia.

Bahkan, tidak perlu uang dan koneksi, selama orang berani teriak-teriak ngotot di hadapan umum, ia pun bisa memotong antrian. Artinya, selama orang tidak punya malu, dan bersikap bagaikan orang tak berpendidikan, ia malah bisa memotong antrian. Jarang ada yang mau menegur, bahkan petugas resmi yang harusnya menegakkan aturan. Aturan memang ada, namun tak ada yang menghormati dan mematuhinya, karena mereka tahu, aturan itu dengan mudah dilanggar dengan uang, koneksi, atau bahkan sikap tak beradab dalam bentuk teriak-teriak di depan umum layaknya orang gila.

Tanpa adanya aturan yang berlaku, orang hidup dalam ketidakpastian. Ketidakpastian menciptakan ketakutan. Ketakutan mendorong orang untuk melakukan hal-hal jelek, misalnya bertengkar, memaki-maki di depan umum, atau korupsi. Ketakutan pulalah yang mendorong orang untuk menyuap, mencuri, dan korupsi.

Antri dan Demokrasi
Uang memang penting. Namun, uang bukan segalanya. Michael Sandel, di dalam bukunya yang berjudul Was man für Geld nicht kaufen kann: Die moralischen Grenzen des Marktes, menyatakan dengan tegas, bahwa antri adalah tindakan etis di dalam masyarakat demokratis, yang tidak bisa digantikan dengan apapun juga. Orang kaya pun harus antri, walaupun ia punya uang, guna memotong antrian yang ada. Uang menurunkan kualitas moral suatu tindakan, dan bahkan menjadikannya buruk, begitu kata Sandel. (Sandel, 2012)

Di dalam masyarakat demokrasi, kata Sandel, ada hal-hal yang tidak bisa, dan tidak boleh, dibeli dengan uang. Salah satunya adalah antri. Demokrasi membutuhkan warga negara yang memiliki budaya antri. Dengan antri, orang bisa memperoleh kebutuhannya dengan nyaman dan damai. Tidak perlu ada ketakutan dan konflik. Tidak perlu ada diskriminasi dan ketidakadilan.

Lebih dari itu, antri adalah syarat untuk kebersamaan. Budaya antri juga bisa dilihat sebagai tanda, bahwa saya mengakui keberadaan orang lain. 

Antri memang tindakan kecil dan sederhana. Namun, maknanya sangat mendalam. Kita perlu belajar antri, kalau kita mau hidup bersama secara nyaman dan damai dengan orang lain. Tak ada pilihan lain. TITIK

Wednesday, July 31, 2013

Membangun Idealisme dengan Visi

Pendidikan jelas merupakan alat paling jitu untuk membangun dan mengembangkan idealisme suatu bangsa. Walaupun memiliki peran amat penting, sekolah formal tidak bisa dijadikan satu-satunya penggerak pendidikan. Pendidikan yang tertinggi dan terutama adalah teladan hidup langsung dari orang-orang yang sudah ada sebelumnya. tindakan jauh lebih kuat dari kata-kata, dan itu paling jelas di dalam pendidikan moral (Bourdieu)

Sulit membuat pendidikan anti korupsi, ketika hampir semua golongan tua di Indonesia melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme setiap harinya, seringkali tanpa disadari. Sulit mengajak bangsa ini untuk memiliki nilai moral tinggi, ketika nyaris semua golongan tua hidup untuk menipu dan meraup kekayaan, seringkali dengan cara-cara yang biadab. Sulit mengajak bangsa ini untuk jujur, ketika guru mengajarkan siswanya untuk menyontek saat ujian nasional. Jelaslah, teladan hidup dari orang-orang yang sudah hidup sebelumnya memainkan peranan amat penting dalam pemberadaban bangsa.

Sebagai bagian dari idealisme, visi tak akan pernah utuh menjadi kenyataan. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendekati visi tersebut, walaupun tak pernah bisa identik sepenuhnya. Itulah sebabnya, di dalam kata idealisme terdapat kata ide, karena itu adalah harapan dan visi, yang perlu terus dikejar sepanjang hidup, walaupun tak bisa direngkuh sepenuhnya.

Friday, July 26, 2013

"what is not enough"

Kita hidup dalam dunia yang selalu tidak cukup. Banyak hal muncul dalam bentuk yang kurang, dari yang kita harapkan. Gaji yang tak pernah cukup mencukupi kebutuhan hidup. Waktu yang selalu tidak cukup untuk keluarga, atau orang-orang yang kita cintai.

kata orang, kita harus berbicara benar. Atau, kita harus mengatakan kebenaran. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Bahasa kita tidak cukup untuk mengatakan kebenaran. Bahasa kita terlalu miskin untuk menyatakan kebenaran.

Ketika kita berkata, bahasa langsung mengurung maksud kita ke dalam kata dan grammar. Ada jarak yang cukup besar antara kata yang terucap dan maksud di dalam hati. Kata-kata dan bahasa kita tidak cukup untuk mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan.

Apa yang kita tangkap dengan pikiran kita hanyalah sebagian kecil dari kekayaan realitas yang ada. Dengan kata lain, pikiran kita tidak cukup untuk menangkap keluasan kenyataan yang ada. Kenyataan atau realitas yang sesungguhnya jauh lebih kaya daripada apa yang bisa kita tangkap dan pahami dengan pikiran kita.
Kita bertindak berdasarkan maksud, berdasarkan harapan. Akan tetapi, tindakan kita tidak pernah cukup mewujudkan harapan kita. Seorang ayah amat mencintai anaknya. Namun, tindakannya tidak akan pernah cukup menggambarkan cintanya pada anaknya. Begitu juga tentang seorang yang mencintai pasanganya, tindakannya tidak akan pernah cukup menggambarkan cintanya pada pasanganya tersebut. Ada jarak antara apa yang kita rasakan sesungguhnya, dan tindakan yang kita lakukan untuk menampilkan perasaan tersebut.

Ketika kita berusaha memahami sesuatu, kita menggunakan konsep. Kita menggunakan konsep, tidak hanya di dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga di dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, setiap konsep atau teori tidak akan pernah bisa menangkap kekayaan kenyataan yang ada. Konsep atau teori (rumusan ilmiah) tidak pernah cukup untuk menangkap apa yang sesungguhnya terjadi.

Misalnya, seorang siswa mendapatkan nilai rendah dalam ujiannya. Padahal, ia telah belajar dengan keras. Nilai-nilai sebelumnya juga baik. Hanya saja, ketika ujian akhir datang, ia merasa gugup, dan tak mampu mengerjakan soal-soal yang diberikan dengan tenang. Akhirnya, nilainya rendah. Ia pun gagal dalam ujian akhirnya.

Hasil ujian tidak pernah bisa menangkap usaha belajar seseorang. Nilai tidak pernah cukup menandakan kerja keras seorang murid. Inilah yang harus disadari oleh semua pendidik di Indonesia. Proses belajar, yang merupakan proses yang berkelanjutan dan dinamis, tidak akan pernah bisa dipahami hanya dengan melihat nilai.

Kenyataan hidup juga tidak akan pernah cukup untuk mewujudkan seluruh harapan kita. Harapan adalah gambaran ideal tentang kenyataan. Walaupun pikiran dan bahasa kita tidak akan pernah bisa menangkap kekayaan kenyataan yang ada, kenyataan itu sendiri pun masih terlalu sempit untuk harapan manusiawi kita. Harapan selalu lebih luas dari kenyataan.

Setiap hari, kita membuat janji. Kita, tentu, berusaha menepatinya. Namun, tidak pernah kita 100 persen bisa menepati janji kita. Tindakan menepati janji selalu tidak cukup untuk mewujudkan janji itu sendiri, walaupun segala upaya telah dilakukan.

Pada akhirnya, kita harus belajar untuk memahami apa yang tidak cukup dalam hidup kita. Kita harus mengembangkan di dalam diri kita kesadaran akan ketidakcukupan. Di dalam hidup yang begitu kaya dan dinamis ini, kesadaran akan ketidakcukupan adalah suatu bentuk kebijaksanaan. Hidup memang selalu kurang. Namun, mungkin saja bukan hidup yang kurang, melainkan diri kita sendiri, sebagai manusia, yang juga kurang

Thursday, July 18, 2013

HIDUP dan MIMPI

Bolehkah kita bermimpi dalam hidup kita? Apakah ada gunanya? Ataukah kita harus melepaskan mimpi kita, dan hidup apa adanya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu memahami terlebih dahulu, apa itu mimpi, dan bagaimana ia di dalam perjalanan bisa tersesat.

Mimpi adalah bentukan dari harapan dari dalam diri manusia tentang masa depannya. Ia bukan hanya bunga tidur, tetapi juga cita-cita yang mengarahkan hidup seseorang pada satu titik. Mimpi seseorang seringkali menjadi tujuan sekaligus makna hidupnya. Ia menjadi motivasi yang mendorong orang untuk terus berusaha, walaupun kesulitan datang silih berganti.

Manusia adalah mahluk bertubuh dan berbulu halus, mengarungi hidup menuju kematian, dan di antaranya dia berhadapan dengan kecenderungan untuk menguasai dan dikuasai, berusaha untuk berdialog, mengontrol kekuasaan yang ada, supaya tidak semena-mena, dan memiliki mimpi-mimpi yang menghantuinya. Di antara lahir dan mati, mimpi adalah makna hidup manusia, yang memberinya tujuan untuk setiap hari bangun dan beraktivitas.

Namun, mimpi tidak selalu tepat. Mimpi juga bisa menyesatkan, ketika ia tidak diolah dengan pemikiran kritis, yakni pemikiran yang terus mempertanyakan, dan mengolah lebih jauh. Mimpi justru bisa mengaburkan makna hidup seseorang, dan menggiring dia pada kehancuran hidup. Mimpi semacam ini adalah hasil dari kesalahan berpikir, yang biasanya muncul dari anggapan umum yang ditelan tanpa pemikiran lebih dalam.


Wednesday, July 10, 2013

Dasar Shalat Tarawih

Dalil Tarawih 20 Rakaat
Mayoritas ulama berpendapat bahwa bilangan rakaat shalat Tarawih yang paling afdhal adalah dua puluh rakaat.
Berikut ini adalah dalil-dalil yang di jadikan pijakan untuk mendukung pendapat tersebut.
 

1. Hadis mauquf.
“Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari `Urwah bin al-Zubair, dari Abd. Rahman bin Abd. al-Qari, ia berkata: “Pada suatu malam di bulan Ramadhan, saya keluar ke masjid bersama Umar bin al-Khatthab. Kami mendapati masyarakat terbagi menjadi beberapa kelompok yang terpisah-pisah. Sebagian orang ada yang shalat sendirian. Sebagian yang lain melakukan shalat berjamaah dengan beberapa orang saja.
Kemudian Umar berkata: “Menurutku akan lebih baik jika aku kumpulkan mereka pada satu imam.” Lalu Umar berketetapan dan mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka`ab. Pada kesempatan malam yang lain, aku (Rahman bin Abd. al-Qari) keluar lagi bersama Umar. (dan aku menyaksikan) masyarakat melakukan shalat secara berjamaah mengikuti imamnya. Umar berkata: “Ini adalah sebaik-baik bid`ah…” (HR. Bukhari).

Di dalam hadis yang lain disebutkan, bilangan rakaat shalat Tarawih yang dilaksanakan pada masa Khalifah Umar bin al-Khatthab adalah dua puluh.
“Diriwayatkan dari al-Sa`ib bin Yazid radhiyallahu `anhu. Dia berkata : “Mereka (para shahabat) melakukan qiyam Ramadhan pada masa Umar bin al-Khatthab sebanyak dua puluh rakaat.”
Hadis kedua ini diriwayatkan oleh Imal al-Baihaqi di dalam al-Sunan al-Kubro, I/496. dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-`Aini, Imam al-Qasthallani, Imam al-Iraqi, Imam al-Nawawi, Imam al-Subki, Imam al-Zaila`i, Imam Ali al-Qari, Imam al-Kamal bin al-Hammam dan lain-lain.

Menurut disiplin ilmu hadis, hadis ini di sebut hadis mauquf (Hadis yang mata rantainya berhenti pada shahabat dan tidak bersambung pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Walaupun mauquf, hadis ini dapat dijadikan sebagai hujjah dalam pengambilan hukum (lahu hukmu al-marfu`). Karena masalah shalat Tarawih termasuk jumlah rakaatnya bukanlah masalah ijtihadiyah (laa majala fihi li al-ijtihad), bukan pula masalah yang bersumber dari pendapat seseorang (laa yuqolu min qibal al-ra`yi).(11)

2. Ijma` para shahabat Nabi.
Ketika Sayyidina Ubay bin Ka`ab mengimami shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat, tidak ada satupun shahabat yang protes, ingkar atau menganggap bertentangan dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apabila yang beliau lakukan itu menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mengapa para shahabat semuanya diam? Ini menunjukkan bahwa mereka setuju dengan apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ubay bin Ka`ab. Anggapan bahwa mereka takut terhadap Sayyidina Umar bin al-Khatthab adalah pelecehan yang sangat keji terhadap para shahabat. Para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang terkenal pemberani dan tak kenal takut melawan kebatilan, orang-orang yang laa yakhofuna fi Allah laumata laa`im. Bagaimana mungkin para shahabat sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidah A`isyah dan seabrek shahabat senior lainnya (radhiyallahu `anhum ajma`in) kalah berani dengan seorang wanita yang berani memprotes keras kebijakan Sayyidina Umar bin al-Khatthab yang dianggap bertentangan dengan Al-Qur`an ketika beliau hendak membatasi besarnya mahar?

Konsensus (ijma`) para shahabat ini kemudian diikuti oleh para tabi`in dan generasi setelahnya. Di masjid al-Haram Makkah, semenjak masa Khalifah Umar bin al-Khatthab radhiyallahu `anhu hingga saat ini, shalat Tarawih selalu dilakukan sebanyak dua puluh rakaat. KH. Ahmad Dahlan, pendiri Perserikatan Muhammadiyah juga melakukan shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat, sebagaimana informasi dari salah seorang anggota Lajnah Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sekaligus pembantu Rektor Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Para ulama salaf tidak ada yang menentang hal ini. Mereka hanya berbeda pendapat mengenai kebolehan melakukan shalat Tarawih melebihi dua puluh rakaat. Imam Ibnu Taimiyah yang di agung-agungkan oleh kelompok pendukung Tarawih delapan rakaat, dalam kumpulan fatwanya mengatakan:

“Sesungguhnya telah tsabit (terbukti) bahwa Ubay bin Ka`ab mengimami shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan Witir tiga rakaat. Maka banyak ulama berpendapat bahwa hal itu adalah sunnah, karena Ubay bin Ka`ab melakukannya di hadapan para shahabat Muhajirin dan Anshar dan tidak ada satupun di antara mereka yang mengingkari…”

Di samping kedua dalil yang sangat kuat di atas, ada beberapa dalil lain yang sering digunakan oleh para pendukung Tarawih dua puluh rakaat. Namun, menurut hemat penulis, tidak perlu mencantumkan semua dalil-dalil tersebut. Karena di samping dha`if, kedua dalil di atas sudah lebih dari cukup.


Dalil Tarawih 8 Rakaat
Sebagian ulama ada yang berpendapat shalat Tarawih delapan rakaat lebih afdhal. Bahkan ada yang ekstrim, yaitu sebagian umat Islam yang berkeyakinan shalat Tarawih tidak boleh melebihi delapan rakaat. Syekh Muhammad Nashir al-Din al-Albani berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih dari sebelas rakaat itu sama saja dengan shalat Zhuhur lima rakaat.(15)
Berikut ini adalah beberapa dalil yang biasa mereka gunakan untuk membenarkan pendapatnya sekaligus sanggahannya.

1. Hadis Ubay bin Ka`ab :
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : “Ubay bin Ka`ab datang menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata : “Wahai Rasulullah tadi malam ada sesuatu yang saya lakukan, maksudnya pada bulan Ramadhan.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Apakah itu, wahai Ubay?” Ubay menjawab : “Orang-orang wanita di rumah saya mengatakan, mereka tidak dapat membaca Al-Qur`an. Mereka minta saya untuk mengimami shalat mereka. Maka saya shalat bersama mereka delapan rakaat, kemudian saya shalat Witir.” Jabir kemudian berkata : “Maka hal itu sepertinya diridhai Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan beliau tidak berkata apa-apa.” (HR. Ibnu Hibban).
Hadis ini kualitasnya lemah sekali. Karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Isa bin Jariyah. Menurut Imam Ibnu Ma`in dan Imam Nasa`i, Isa bin Jariyah adalah sangat lemah hadisnya. Bahkan Imam Nasa`i pernah mengatakan bahwa Isa bin Jariyah adalah matruk (hadisnya semi palsu karena ia pendusta). Di dalam hadis ini juga terdapat rawi bernama Ya`qub al-Qummi. Menurut Imam al-Daruquthni, Ya`qub al-Qummi adalah lemah (laisa bi al-qawi).(16)

2. Hadis Jabir :
Dari Jabir, ia berkata : “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengimami kami shalat pada bulan Ramadhan delapan rakaat dan Witir.” (HR. Thabarani).(17)
Hadis ini kualitasnya sama dengan Hadis Ubay bin Ka`ab di atas, yaitu lemah bahkan matruk (semi palsu). karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang sama, yaitu Isa bin Jariyah dan Ya`qub al-Qummi.(18)

3. Hadis Sayyidah A`isyah tentang shalat Witir :
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak pernah menambahi, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan, dari sebelas rakaat.” (Muttafaq `alaih).
Menurut kelompok pendukung Tarawih delapan rakaat, sebelas rakaat yang di maksud pada hadis ini adalah delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir.
Dari segi sanad, hadis ini tidak diragukan lagi keshahihannya. Karena di riwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan lain-lain (muttafaq `alaih). Hanya saja, penggunaan hadis ini sebagai dalil shalat Tarawih perlu di kritisi dan di koreksi ulang.
Berikut ini adalah beberapa kritikan dan sanggahan yang perlu diperhatikan oleh para pendukung Tarawih delapan rakaat :

1. Pemotongan hadis.
Kawan-kawan yang sering menjadikan hadis ini sebagai dalil shalat Tarawih, biasanya tidak membacanya secara utuh, akan tetapi mengambil potongannya saja sebagaimana disebutkan di atas. Bunyi hadis ini secara sempurna adalah sebagai berikut :
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أخبره أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ –رضي الله عنها- : كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي رَمَضَانَ ؟ قَالَتْ : مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا ، قَالَتْ عَائِشَةُ : فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي.
dari Abi Salamah bin Abd al-Rahman, ia pernah bertanya kepada Sayyidah A`isyah radhiyallahu `anha perihal shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. A`isyah menjawab : “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambahi, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan, dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, dan jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat, dan jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat. A`isyah kemudian berkata : “Saya berkata, wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum shalat Witir?” Beliau menjawab : “Wahai A`isyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, akan tetapi hatiku tidak tidur.”
Pemotongan hadis boleh-boleh saja dilakukan, dengan syarat, orang yang memotong adalah orang alim dan bagian yang tidak disebutkan tidak berkaitan dengan bagian yang disebutkan. Dalam arti, pemotongan tersebut tidak boleh menimbulkan kerancuan pemahaman dan kesimpulan yang berbeda.(19) Pemotongan pada hadis di atas, berpotensi menimbulkan kesimpulan berbeda, karena jika di baca secara utuh, konteks hadis ini sangat jelas berbicara tentang shalat Witir, bukan shalat Tarawih, karena pada akhir hadis ini, A`isyah menanyakan shalat Witir kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.(20)

2. Kesalahan dalam memahami maksud hadis.
Dalam hadis di atas, Sayyidah A`isyah dengan tegas menyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat melebihi sebelas rakaat baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain. Shalat yang dilakukan sepanjang tahun, baik pada bulan Ramadhan maupun bulan lainnya, tentu bukanlah shalat Tarawih. Karena shalat Tarawih hanya ada pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu para ulama berpendapat bahwa hadis ini bukanlah dalil shalat Tarawih. Akan tetapi dalil shalat Witir.
Kesimpulan ini diperkuat oleh hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Sayyidah A`isyah radhiyallahu `anha.
عن عائشة – رضي الله عنها – : قالت : « كان النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصلِّي من الليل ثلاثَ عَشْرَةَ ركعة ، منها الوتْرُ وركعتا الفجر ».
Dari A`isyah radhiyallahu `anha, ia berkata : “Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat malam tiga belas rakaat, antara lain shalat Witir dan dua rakaat Fajar.” (HR. Bukhari).(21)
3. Pemenggalan Hadis.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kawan-kawan pendukung Tarawih delapan rakaat mengatakan bahwa maksud dari pada sebelas rakaat pada hadis di atas adalah delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir. Hal ini tidak tepat. Karena ini berarti satu hadis yang merupakan dalil untuk satu paket shalat dipenggal menjadi dua, delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir.(22)
Di sisi lain, jika kita menyetujui pemenggalan ini, maka kita harus menyetujui bahwa selama bulan Ramadhan Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya melakukan shalat Witir tiga rakaat saja. Ini tidak pantas bagi beliau yang merupakan tauladan bagi umat dalam hal ibadah. Imam al-Tirmidzi mengatakan : “Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat Witir 13, 11, 9, 7, 5, 3 dan 1 rakaat.”(23) Apabila di selain bulan Ramadhan saja beliau melakukan shalat Witir sebanyak 13 atau 11 rakaat, pantaskah beliau hanya melakukan shalat Witir hanya tiga rakaat saja pada bulan Ramadhan yang merupakan bulan ibadah?

4. Inkonsisten dalam mengamalkan hadis.
Dalam hadis di atas secara jelas dinyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat melebihi sebelas rakaat baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain. Kalau mau konsisten, kawan-kawan yang memahami bahwa sebelas rakaat pada hadis di atas maksudnya adalah delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir, seharusnya mereka melakukan shalat Tarawih dan Witir sepanjang tahun, dan bukan pada bulan Ramadhan saja. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Entah dasar apa yang mereka pakai untuk memenggal hadis tersebut pada bulan Ramadhan saja.
5. Kontradiksi dengan pemahaman para shahabat Nabi.
Pemenggalan hadis seperti itu juga bertentangan dengan konsensus (ijma`) para shahabat radhiyallahu `anhum termasuk diantaranya Khulafa` al-Rasyidin yang melakukan shalat Tarawih dua puluh rakaat. Hal itu berarti juga bertentangan dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mengikuti jejak para Khulafa` al-Rasyidin. Dalam sebuah hadis disebutkan :
“Ikutilah sunnahku dan sunnah al-Khulafa` al-Rasyidin setelahku!” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah,  Ibnu Hibban dan al-Hakim).(24)
Dalam hadis yang lain disebutkan :
اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ
“Ikutilah orang-orang setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar!” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain).(25)
Dalam hadis yang lain juga disebutkan :
إن الله جعل الحق على لسان عمر وقلبه
“Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim, al-Tirmidzi dan lain-lain).(26)

6. Kerancuan linguistik.
Kata tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kata tarwihah, yang secara kebahasaan berarti mengistirahatkan atau istirahat sekali. Jika di jamakkan, maka akan berarti istirahat beberapa kali, minimal tiga kali. Karena minimal jamak dalam bahasa Arab adalah tiga. Shalat qiyam Ramadhan disebut dengan shalat Tarawih, karena orang-orang yang melakukannya beristirahat tiap sehabis empat rakaat.(27)[i] Maka Dari sudut bahasa, shalat Tarawih adalah shalat yang banyak istirahatnya, minimal tiga kali. Hal ini pada gilirannya menunjukkan bahwa rakaat shalat Tarawih lebih dari delapan, minimal enam belas. Karena jika seandainya shalat Tarawih hanya delapan rakaat, maka istirahatnya hanya sekali. Tentu hal ini sangatlah rancu ditinjau dari segi kebahasaan.(28)

Kesimpulan Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa shalat Tarawih dua puluh rakaat lebih afdhal dibanding delapan rakaat. Dengan dalil ijma` shahabat di dukung hadis mauquf berkualitas shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam al-Sunan al-Kubro. Sementara tidak ada dalil shahih yang mendukung keutamaan shalat Tarawih delapan rakaat atas shalat Tarawih dua puluh rakaat. Yang ada hanyalah dalil-dalil dha`if, bahkan matruk (semi palsu) atau dalil shahih yang di salah-pahami.

Namun perlu di ingat, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, perbedaan ini hanyalah berkisar seputar mana yang lebih afdhal? Jadi, tidak selayaknya kelompok yang lebih memilih melaksanakan shalat Tarawih dua puluh rakaat melecehkan atau menyesatkan kelompok yang memilih melakukannya delapan rakaat. Begitu pula sebaliknya. Apalagi sampai saling mengkafirkan. Sungguh sangat disesalkan, di bulan Ramadhan yang agung, bulan untuk berlomba-lomba mencari pahala, berkah, rahmah dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta`ala, justru dikotori dengan saling hina, saling menyalahkan bahkan saling mengkufurkan antara kelompok xmasyarakat yang lebih memilih shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat dengan kelompok masyarakat yang memilih delapan rakaat saja. Apakah kiranya yang mendorong kedua kelompok ini untuk tidak pernah berhenti bertikai? Manakah yang lebih berharga bagi mereka antara persatuan sesama Muslim dibanding sikap arogan, egois, fanatik serta pembelaan mati-matian terhadap madzhab yang mereka anut? Mengapa toleransi antar umat beragama yang berbeda lebih mereka perjuangkan daripada persatuan saudara seagama? Apakah umat non Muslim lebih layak untuk dihormati dan diayomi dibanding saudara sendiri sesama Muslim?

Sebenarnya kalau mau introspeksi, ada hal yang jauh lebih penting yang harus mereka perhatikan daripada mengurusi jumlah rakaat shalat Tarawih orang lain. Yaitu kebiasaan berlomba-lomba untuk terburu-buru dalam melaksanakan shalat Tarawih serta berbangga diri ketika shalat Tarawihnya selesai terlebih dahulu. Tidak jarang karena terlalu cepatnya shalat Tarawih yang mereka lakukan, mengakibatkan sebagian kewajiban tidak dilaksanakan. Seperti melaksanakan ruku`, i`tidal dan sujud tanpa thuma`ninah atau membaca al-Fatihah dengan sangat cepat sehingga menggugurkan salah satu hurufnya atau menggabungkan dua huruf menjadi satu. Dengan begitu, shalat yang mereka laksanakan menjadi tidak sah, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa darinya kecuali rasa capek (tuas kesel : Jawa). Ironisnya mereka tidak mengerti akan hal itu bahkan membanggakannya, sehingga mereka tidak pernah mengakui kesalahannya.(29)
Dari itu, waspadalah dan sadarlah wahai saudara-saudaraku..! Marilah kita bersatu dan saling mengingatkan antara satu sama lain bi al-hikmah wa al-mau`idzah al-hasanah. Marilah kita laksanakan shalat Tarawih dan shalat-shalat lainnya dengan benar. Marilah kita laksanakan shalat dengan khusyu`, khudhur, memenuhi segala syarat dan rukun serta penuh adab. Jangan biarkan syetan menguasai kita..! karena sesungguhnya syetan tidak dapat menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Syetan hanya dapat menguasai orang-orang yang mengasihinya dan orang-orang yang musyrik. Maka janganlah kita termasuk diantara mereka.

forsan salaf
Dalil Nagli: Jumlah Raka’at Shalat Tarawih Menurut Madhab Empat
Ada beberapa pendapat mengenai bilangan rakaat yang dilakukan kaum muslimin pada bulan Ramadhan sebagai berikut:

1. Madzhab Hanafi
Sebagaimana dikatakan Imam Hanafi dalam kitab Fathul Qadir bahwa Disunnahkan kaum muslimin berkumpul pada bulan Ramadhan sesudah Isya’, lalu mereka shalat bersama imamnya lima Tarawih (istirahat), setiap istirahat dua salam, atau dua istirahat mereka duduk sepanjang istirahat, kemudian mereka witir (ganjil).
Walhasil, bahwa bilangan rakaatnya 20 rakaat selain witir jumlahnya 5 istirahat dan setiap istirahat dua salam dan setiap salam dua rakaat = 2 x 2 x 5 = 20 rakaat.

2. Madzhab Maliki
Dalam kitab Al-Mudawwanah al Kubro, Imam Malik berkata, Amir Mukminin mengutus utusan kepadaku dan dia ingin mengurangi Qiyam Ramadhan yang dilakukan umat di Madinah. Lalu Ibnu Qasim (perawi madzhab Malik) berkata “Tarawih itu 39 rakaat termasuk witir, 36 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir” lalu Imam Malik berkata “Maka saya melarangnya mengurangi dari itu sedikitpun”. Aku berkata kepadanya, “inilah yang kudapati orang-orang melakukannya”, yaitu perkara lama yang masih dilakukan  umat.
Dari kitab Al-muwaththa’, dari Muhammad bin Yusuf dari al-Saib bin Yazid bahwa Imam Malik berkata, “Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim al-Dari untuk shalat bersama umat 11 rakaat”. Dia berkata “bacaan surahnya panjang-panjang” sehingga kita terpaksa berpegangan tongkat karena lama-nya berdiri dan kita baru selesai menjelang fajar menyingsing. Melalui Yazid bin Ruman dia berkata, “Orang-orang melakukan shalat pada masa Umar bin al-Khattab di bulan Ramadhan 23 rakaat”.
Imam Malik meriwayatkan juga melalui Yazid bin Khasifah dari al-Saib bin Yazid ialah 20 rakaat. Ini dilaksanakan tanpa wiitr. Juga diriwayatkan dari Imam Malik 46 rakaat 3 witir. Inilah yang masyhur dari Imam Malik.

3. Madzhab as-Syafi’i
Imam Syafi’i menjelaskan dalam kitabnya Al-Umm, “bahwa shalat malam bulan Ramadhan itu, secara sendirian itu lebih aku sukai, dan saya melihat umat di madinah melaksanakan 39 rakaat, tetapi saya lebih suka 20 rakaat, karena itu diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab. Demikian pula umat melakukannya di makkah dan mereka witir 3 rakaat.
Lalu beliau menjelaskan dalam Syarah al-Manhaj yang menjadi pegangan pengikut Syafi’iyah di Al-Azhar al-Syarif, Kairo Mesir bahwa shalat Tarawih dilakukan 20 rakaat dengan 10 salam dan witir 3 rakaat di setiap malam Ramadhan.

4. Madzhab Hanbali
Imam Hanbali menjelaskan dalam Al-Mughni  suatu masalah, ia berkata, “shalat malam Ramadhan itu 20 rakaat, yakni shalat Tarawih”, sampai mengatakan, “yang terpilih bagi Abu Abdillah (Ahmad Muhammad bin Hanbal) mengenai Tarawih adalah 20 rakaat”.
Menurut Imam Hanbali bahwa Khalifah Umar ra, setelah kaum muslimin dikumpulkan (berjamaah) bersama Ubay bin Ka’ab, dia shalat bersama mereka 20 rakaat. Dan al-Hasan bercerita bahwa Umar mengumpulkan kaum muslimin melalui Ubay bin Ka’ab, lalu dia shalat bersama mereka 20 rakaat dan tidak memanjangkan shalat bersama mereka kecuali pada separo sisanya. Maka 10 hari terakhir Ubay tertinggal lalu shalat dirumahnya maka mereka mengatakan, “Ubay lari”, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan as-Saib bin Yazid.

Kesimpulan Dari apa yang kami sebutkan itu kita tahu bahwa para ulama’ dalam empat madzhab sepakat bahwa bilangan Tarawih 20 rakaat. Kecuali Imam Malik karena ia mengutamakan bilangan rakaatnya 36 rakaat atau 46 rakaat. Tetapi ini khusus untuk penduduk Madinah. Adapun selain penduduk Madinah, maka ia setuju dengan mereka juga bilangan rakaatnya 20 rakaat.
Para ulama ini beralasan bahwa shahabat melakukan shalat pada masa khalifah Umar bin al-Khattab ra di bulan Ramadhan 20 rakaat atas perintah beliau. Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih dan lain-lainnya, dan disetujui oleh para shahabat serta terdengar diantara  mereka ada yang menolak. Karenanya hal itu menjadi ijma’, dan ijma’ shahabat itu menjadi hujjah (alasan) yang pasti sebagaimana ditetapkan dalam Ushul al-Fiqh.

Antagonis - Politik

Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...