Kita hidup dengan pengandaian-pengandaian yang dipercaya begitu saja. Misalnya bahwa orang yang beragama itu diandaikan pasti baik. Atau orang yang kaya secara ekonomi itu diandaikan pasti pintar. Namun seringkali pengandaian itu belum tentu benar. Sebelum mempercayai suatu pengandaian, ada baiknya kita menguji dulu pengandaian tersebut. Di tahun 2012 ini, kita perlu menggunakan paradigma “belum tentu”, sebelum salah sangka, atau malah tertipu.
Orang kaya belum tentu berhati baik. Di balik sumbangan yang diberikan, ia seringkali punya motif-motif tersembunyi yang tak selalu luhur. Ia seringkali punya agenda politik ataupun bisnis yang menipu. Tidak ada hubungan pasti antara kekayaan dan kebaikan hati.
Orang kaya belum tentu pintar atau seringkali dianggap orang cerdas.Banyak juga orang kaya, karena mendapat warisan. Bisa juga ia menang lotere, menang judi, menipu, atau korupsi, lalu menjadi kaya. Tidak ada hubungan yang pasti antara kekayaan dan kecerdasan.
Orang bergelar akademik panjang, seperti professor doktor, belum tentu orang cerdas. Seringkali mereka adalah orang-orang yang bekerja sebagai dosen puluhan tahun, tetapi tidak menghasilkan karya-karya bermutu yang mencerahkan masyarakat di bidang keahliannya. Dengan kata lain gelar akademik seringkali adalah gelar formalitas yang tak selalu mencerminkan kecerdasan orang-orang yang memakainya.
Orang sopan juga belum tentu baik. Seringkali ia menutupi maksud jahat dengan tata krama yang tampak baik. Kata-kata lembut dikeluarkan untuk memberi kedok bagi maksud jahat yang tetap tersembunyi di balik kata-kata. Sikap sopan hanyalah topeng dari sesuatu yang tak jelas dibaliknya.
Di Indonesia orang tergila-gila dengan tata krama. Sikap sopan langsung diangap sebagai tanda kebaikan. Kata-kata lembut dianggap amat penting, tak peduli maksud tersembunyi apa yang ada di baliknya. Penampilan dan tata krama adalah ukuran bagi kebaikan seseorang.
Paradigma “belum tentu” perlu diterapkan untuk melihat kesopanan. Yang jelas orang sopan belum tentu baik. Jangan sampai kita tertipu, karena hanya terpaku melihat etiket serta tata krama, namun buta pada karakter asli yang seringkali tersembunyi di baliknya.
Ada banyak lagi litani “belum tentu” dalam hidup kita. Orang miskin belum tentu bodoh. Orang miskin belum tentu tak bahagia. Bisa saja ia miskin, karena ditipu orang, atau karena hidup mempermainkannya tanpa tujuan. Bisa saja ia miskin, karena ia bahagia dengan kesederhanaan hidup, dan tak mau menjadi budak materi. Ada banyak kemungkinan.
Orang tua belum tentu bijaksana, karena bisa saja ia jarang menimba pelajaran dari pengalaman hidupnya. Orang muda belum tentu tidak tahu apa-apa, karena bisa saja ia amat reflektif di dalam menggali pelajaran dari pengalaman hidupnya. Ada banyak kemungkinan.
Orang yang berperilaku tidak lazim belum tentu sakit, atau gila. Bisa saja karena ia adalah orang yang amat kreatif, yang mampu melihat dunia dari sudut yang unik, yang tak dimiliki oleh orang-orang lainnya. Begitu pula sebaliknya; orang waras belum tentu sehat. Bisa saja ia menutupi kegilaannya dengan perilaku normal. Mayoritas pembunuh dan pemerkosa berantai adalah orang-orang yang sehari-harinya tampak normal.
Institusi ternama belum tentu bermutu. Sekolah terkenal belum tentu kualitas pendidikannya bagus. Universitas besar belum tentu mampu mendidik secara tepat. Perusahaan besar belum tentu memberikan kepuasan dan kebahagiaan pada pegawai maupun konsumennya. Ada banyak kemungkinan lain yang harus kita pertimbangkan lebih jauh.
Orang berjenggot, bersorban, dan tampak ganas belum tentu teroris. Begitu pula orang berpenampilan rapih belum tentu orang baik. Orang Batak (maaf) belum tentu jadi pengacara. Orang Tionghoa (maaf) belum tentu jadi pedagang. Ada banyak kemungkinan lain yang harus kita perhatikan.
Orang berijazah belum tentu mampu mampu bekerja dan punya karakter bagus. Dan sebaliknya juga benar, orang yang tak punya ijazah belum tentu tak mampu bekerja dan berkarakter jelek. Hasil ujian belum tentu mencerminkan kualitas diri peserta didik. Hasil psikotes belum tentu mencerminkan karakter, kepribadian, ataupun potensi diri si peserta tes. Ada banyak kemungkinan lain.
Di tahun 2012 ini, kita perlu lebih berpikir terbuka. Kita perlu untuk lebih menggunakan paradigma “belum tentu” di dalam hidup sehari-hari kita. Semakin banyak orang tidak bisa lagi digolongkan di dalam satu kategori pengandaian (beragama maka baik, atau sopan maka bermoral). Dunia kita semakin banyak diisi oleh hal-hal yang belum tentu
Jangan sampai kita tertipu, atau salah membuat tindakan, karena kita masih berpegang pada pengandaian-pengandaian naif yang tak terbuktikan. Ada banyak kemungkinan lain di balik pengandaian-pengandaian tersebut, yang justru merupakan peluang untuk bertindak kreatif dan menghasilkan hal-hal bermutu. Tahun 2012 adalah tahun baru, namun “belum tentu” kita semua bisa berpikir secara baru. Semoga yang terakhir ini tidak benar. Belum tentu !!!!
Monday, January 2, 2012
Tuesday, December 27, 2011
Banalitas Realisme Politik
Politik adalah seni segala kemungkinan. Itulah adagium yang sangat populer di Indonesia. Bahkan bukan sekadar menjadi adagium, ”seni segala kemungkinan” itu telah menjelma sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan. Bukti-bukti konkret dapat ditampilkan. Permusuhan secara mendadak bisa berubah menjadi perkawanan. Kompetisi politik justru dapat menghasilkan koalisi untuk merengkuh kekuasaan. Tiada sahabat dan seteru abadi dalam domain politik semacam ini.
Kaum elite politik yang pernah bertikai pada masa silam seakan-akan dengan cepat menemukan kesepakatan damai. Semua itu bukan menandakan bahwa politik negeri ini mudah memberikan pengampunan. Seluruh rangkaian
perjumpaan politik yang diberi tajuk ”penjajakan berkoalisi” itu tak lebih dorongan untuk mendapatkan kekuasaan. Suara rakyat dalam pemilu diposisikan sebagai bahan bakar untuk menjalankan tawar-menawar. Suara rakyat bukan lagi suara Tuhan, melainkan suara rakyat disulap sebagai karpet merah untuk melempangkan jalan menuju kekuasaan.
Elite dari partai politik yang bisa meraih suara lebih besar bagaikan memiliki daya magnetis. Di sini kutub-kutub politik diformulasikan dan akan dibubarkan sesuai dengan kebutuhan untuk berkuasa, sebagaimana yang telah diagendakan. Tidak ada lagi ideologi yang menjadi rujukan untuk menciptakan ikatan politik. Ideologi politik bisa dibikin sesaat dan diubah-ubah untuk memenuhi kepentingan hasrat. Ideologi sebagai gagasan ideal yang hendak diperjuangkan secara konsisten hanya bernasib layaknya pakaian yang bisa dipertukarkan sesuai dengan kebutuhan pentas kekuasaan.
Bujuk rayu kekuasaan
Mengapa para elite politik begitu mudah terkena bujuk rayu kekuasaan? Dan, setelah mereka mendapatkan kekuasaan politik itu, mengapa mereka begitu enggan melepaskannya? Jawaban menarik diberikan Vaclav Havel ketika menerima Sonning Prize pada 28 Mei 1991 untuk kontribusinya bagi peradaban Eropa. Havel, sang sastrawan yang pernah menjadi Presiden Cekoslowakia (periode 1989-1993) dan Presiden Republik Ceko (periode 1993-2003), menyatakan, ada tiga dorongan yang menjadikan seseorang berkeinginan kuat menggapai kekuasaan politik.
Pertama, gagasan-gagasan lebih baik untuk mengorganisasikan masyarakat. Nilai- nilai dan ideal-ideal politik itu diperjuangkan ke dalam kenyataan sosial. Kedua, motivasi peneguhan diri. Kekuasaan memberikan peluang besar untuk membentuk dunia sebagaimana yang telah digambarkan dalam diri seseorang. Ketiga, menggapai berbagai keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan politik. Pada alasan inilah akan terlihat betapa kejamnya bujuk rayu kekuasaan.
Dirumuskan dalam bahasa yang lebih transparan, dorongan pertama bernama ideologi, dorongan kedua berupa cita-cita,dan dorongan ketiga adalah oportunisme. Dalam perpolitikan kita, apa yang disebut sebagai ideologi telah sirna karena ideologi tidak lebih berkedudukan sebagai label dagangan politik belaka. Mewujudkan cita-cita merupakan dorongan yang paling sering didengungkan, setidaknya fenomena ini tampak dalam sekian slogan kampanye dan iklan-iklan politik.
Namun, bukankah jargon dan iklan sekadar perkakas muslihat untuk meraih simpati massa? Jadi, dorongan ketiga, yakni oportunisme, merupakan hal yang paling sering dilakukan elite politik kita yang dibungkus dalam ideologi dan cita-cita.
Pada situasi itulah menarik menyimak apa yang dikatakan Havel bahwa ketiga dorongan kuat tersebut berjalinan. Selalu ada ambiguitas yang terdapat dalam kekuasaan politik. Pada satu sisi, kekuasaan memberikan peluang untuk meneguhkan diri, menyajikan identitas yang tidak mungkin disangkal, dan meninggalkan jejak yang begitu kasatmata.
Namun, pada sisi lain, kekuasaan juga menciptakan kebohongan yang berbahaya, yakni seakan- akan menegaskan eksistensi dan identitas kita, padahal kenyataannya justru merampok kita.
Perampok kekuasaan
Ketika hasrat berkuasa merampok ideologi dan cita-cita politik, peluang yang selalu terbuka adalah sebentuk oportunisme politik yang mendorong elite politik bertingkah sebagai perampok kekuasaan. Sosok perampok kekuasaan selalu berhitung dengan realitas yang mengitarinya, bukan dengan memuliakan idealitas yang menjadi keyakinannya. Bukan gejala yang janggal jika realpolitik membinasakan idealpolitik. Sebab, realpolitik merupakan rujukan bagi politik atau diplomasi yang secara primer didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan praktis ketimbang gagasan ideologis.
Realpolitik hanya berhitung pada kekuasaan yang ingin didapatkan sambil dengan aneka tipu daya mematikan idealitas,moralitas, dan prinsip-prinsip humanitas.
Realpolitik berkaitan erat dengan filsafat politik yang bernama realisme politik. Pada aliran filsafat politik ini, ungkap Alexander Moseley (2006), kekuasaan menjadi dan bahkan keharusan untuk dijadikan sebagai tujuan utama tindakan politik. Sadar atau tidak, filsafat realisme politik itu sangat kuat tertancap dalam diri kalangan elite politik negeri ini.
Memburu kekuasaan sesuai dengan kepentingan egoisme mereka telah demikian nyata terlihat, bahkan telah menjadi banalitas. Dan, setiap banalitas politik tidak hanya menyajikan kevulgaran tindakan meraih kekuasaan, tetapi juga kekasaran dalam mereduksi prinsip-prinsip etika politik.
Kaum elite politik yang pernah bertikai pada masa silam seakan-akan dengan cepat menemukan kesepakatan damai. Semua itu bukan menandakan bahwa politik negeri ini mudah memberikan pengampunan. Seluruh rangkaian
perjumpaan politik yang diberi tajuk ”penjajakan berkoalisi” itu tak lebih dorongan untuk mendapatkan kekuasaan. Suara rakyat dalam pemilu diposisikan sebagai bahan bakar untuk menjalankan tawar-menawar. Suara rakyat bukan lagi suara Tuhan, melainkan suara rakyat disulap sebagai karpet merah untuk melempangkan jalan menuju kekuasaan.
Elite dari partai politik yang bisa meraih suara lebih besar bagaikan memiliki daya magnetis. Di sini kutub-kutub politik diformulasikan dan akan dibubarkan sesuai dengan kebutuhan untuk berkuasa, sebagaimana yang telah diagendakan. Tidak ada lagi ideologi yang menjadi rujukan untuk menciptakan ikatan politik. Ideologi politik bisa dibikin sesaat dan diubah-ubah untuk memenuhi kepentingan hasrat. Ideologi sebagai gagasan ideal yang hendak diperjuangkan secara konsisten hanya bernasib layaknya pakaian yang bisa dipertukarkan sesuai dengan kebutuhan pentas kekuasaan.
Bujuk rayu kekuasaan
Mengapa para elite politik begitu mudah terkena bujuk rayu kekuasaan? Dan, setelah mereka mendapatkan kekuasaan politik itu, mengapa mereka begitu enggan melepaskannya? Jawaban menarik diberikan Vaclav Havel ketika menerima Sonning Prize pada 28 Mei 1991 untuk kontribusinya bagi peradaban Eropa. Havel, sang sastrawan yang pernah menjadi Presiden Cekoslowakia (periode 1989-1993) dan Presiden Republik Ceko (periode 1993-2003), menyatakan, ada tiga dorongan yang menjadikan seseorang berkeinginan kuat menggapai kekuasaan politik.
Pertama, gagasan-gagasan lebih baik untuk mengorganisasikan masyarakat. Nilai- nilai dan ideal-ideal politik itu diperjuangkan ke dalam kenyataan sosial. Kedua, motivasi peneguhan diri. Kekuasaan memberikan peluang besar untuk membentuk dunia sebagaimana yang telah digambarkan dalam diri seseorang. Ketiga, menggapai berbagai keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan politik. Pada alasan inilah akan terlihat betapa kejamnya bujuk rayu kekuasaan.
Dirumuskan dalam bahasa yang lebih transparan, dorongan pertama bernama ideologi, dorongan kedua berupa cita-cita,dan dorongan ketiga adalah oportunisme. Dalam perpolitikan kita, apa yang disebut sebagai ideologi telah sirna karena ideologi tidak lebih berkedudukan sebagai label dagangan politik belaka. Mewujudkan cita-cita merupakan dorongan yang paling sering didengungkan, setidaknya fenomena ini tampak dalam sekian slogan kampanye dan iklan-iklan politik.
Namun, bukankah jargon dan iklan sekadar perkakas muslihat untuk meraih simpati massa? Jadi, dorongan ketiga, yakni oportunisme, merupakan hal yang paling sering dilakukan elite politik kita yang dibungkus dalam ideologi dan cita-cita.
Pada situasi itulah menarik menyimak apa yang dikatakan Havel bahwa ketiga dorongan kuat tersebut berjalinan. Selalu ada ambiguitas yang terdapat dalam kekuasaan politik. Pada satu sisi, kekuasaan memberikan peluang untuk meneguhkan diri, menyajikan identitas yang tidak mungkin disangkal, dan meninggalkan jejak yang begitu kasatmata.
Namun, pada sisi lain, kekuasaan juga menciptakan kebohongan yang berbahaya, yakni seakan- akan menegaskan eksistensi dan identitas kita, padahal kenyataannya justru merampok kita.
Perampok kekuasaan
Ketika hasrat berkuasa merampok ideologi dan cita-cita politik, peluang yang selalu terbuka adalah sebentuk oportunisme politik yang mendorong elite politik bertingkah sebagai perampok kekuasaan. Sosok perampok kekuasaan selalu berhitung dengan realitas yang mengitarinya, bukan dengan memuliakan idealitas yang menjadi keyakinannya. Bukan gejala yang janggal jika realpolitik membinasakan idealpolitik. Sebab, realpolitik merupakan rujukan bagi politik atau diplomasi yang secara primer didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan praktis ketimbang gagasan ideologis.
Realpolitik hanya berhitung pada kekuasaan yang ingin didapatkan sambil dengan aneka tipu daya mematikan idealitas,moralitas, dan prinsip-prinsip humanitas.
Realpolitik berkaitan erat dengan filsafat politik yang bernama realisme politik. Pada aliran filsafat politik ini, ungkap Alexander Moseley (2006), kekuasaan menjadi dan bahkan keharusan untuk dijadikan sebagai tujuan utama tindakan politik. Sadar atau tidak, filsafat realisme politik itu sangat kuat tertancap dalam diri kalangan elite politik negeri ini.
Memburu kekuasaan sesuai dengan kepentingan egoisme mereka telah demikian nyata terlihat, bahkan telah menjadi banalitas. Dan, setiap banalitas politik tidak hanya menyajikan kevulgaran tindakan meraih kekuasaan, tetapi juga kekasaran dalam mereduksi prinsip-prinsip etika politik.
Wednesday, December 21, 2011
Kekuasaan dan Kemunafikan
Dunia politik di Indonesia diwarnai kemunafikan. Para politisi mengumbar janji pada masa pemilu, guna mendapatkan suara dari rakyat. Namun setelah menduduki kursi kekuasaan, mereka lupa, dan menelantarkan rakyatnya. Tak hanya itu ketika menjabat, mereka melakukan korupsi atas uang rakyat, demi memperkaya diri mereka sendiri, atau menutup pengeluaran mereka, ketika pemilu. Seringkali uang hasil korupsi dibagi ke teman-teman dekat, bahkan ke institusi agama, untuk mencuci tangan. Jika sudah begitu mereka lalu mendapatkan dukungan moral dan politik dari teman-teman yang “kecipratan” uang, dan bahkan dukungan moral-religius dari institusi agama. Bukan rahasia lagi inilah pemandangan sehari-hari situasi politik di Indonesia. Kekuasaan diselubungi kemunafikan yang bermuara pada penghancuran kehidupan rakyat jelata.
Monday, December 19, 2011
Kaum Intelektual dan Kepemimpinan
Haruskah seorang pemimpin adalah seorang intelektual? Saya rasa tidak. Namun yang pasti walaupun seorang pemimpin bukanlah seorang intelektual murni, ia tetap harus memiliki kehidupan intelektual yang kaya. Artinya mereka harus mampu berpikir kritis, analitis, teknis, sekaligus reflektif, walaupun bukan seorang ilmuwan ataupun intelektual murni. Mereka harus cinta membaca, mendengar wacana ilmiah, dan berani mengajukan pendapat secara rasional dan seimbang di dalam menanggapi berbagai temuan ilmiah yang ada.
Sekarang ini banyak orang merasa tidak perlu berpikir teoritis. Bagi mereka teori dan praktek adalah dua hal yang berbeda. Yang penting adalah prakteknya bagaimana. Teori yang abstrak dan rumit tidak perlu untuk dipahami, karena hanya membuang waktu dan tenaga.
Namun bukankah masalah yang kita paham seringkali amat rumit, sehingga praktek yang tidak memperhatikan kerumitan tersebut justru akan memperparah masalah yang ada? Masalah yang sering kita alami dalam hidup sehari-hari tidak pernah terisolasi dari masalah-masalah lainnya yang lebih besar. Misalnya masalah kemalasan berpikir pekerja Indonesia terkait dengan sistem pendidikan dan sistem politik pemerintahan yang lebih besar. Di titik inilah kemampuan berpikir abstrak, teoritik, dan kompleks diperlukan.
Tanpa kemampuan berpikir abstrak, dan penguasaan teori-teori yang memadai, kita tidak akan dapat memahami akar dari masalah yang kita hadapi. Jika akar masalah tidak dipahami, maka tindakan yang kita lakukan (prakteknya) akan sia-sia, atau justru memperparah masalah. Saya tidak mau mengatakan, bahwa seorang pemimpin sekaligus adalah seorang ahli pendidikan, ekonomi, ataupun ahli politik. Namun seorang pemimpin harus mampu berdialog secara rasional dengan para ahli di bidang-bidang tersebut, supaya mampu memahami akar dari masalah yang ia hadapi, dan membuat keputusan yang tepat.
Dengan demikian kemampuan berkomunikasi dengan kaum intelektual adalah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam bahasa Gutting kaum intelektual adalah “konsumen yang cerdas dari pendapat-pendapat para ahli.” Mereka tidak asal terima pendapat para ahli, namun menelaahnya dulu secara kritis, dan disesuaikan dengan konteks masalah yang terjadi. Mereka tidak terpesona dengan gelar dan reputasi para ahli, namun sungguh bisa memahami pendapat mereka, serta menyesuaikannya dengan konteks masalah yang tengah dihadapi.
Sekarang ini banyak orang merasa tidak perlu berpikir teoritis. Bagi mereka teori dan praktek adalah dua hal yang berbeda. Yang penting adalah prakteknya bagaimana. Teori yang abstrak dan rumit tidak perlu untuk dipahami, karena hanya membuang waktu dan tenaga.
Namun bukankah masalah yang kita paham seringkali amat rumit, sehingga praktek yang tidak memperhatikan kerumitan tersebut justru akan memperparah masalah yang ada? Masalah yang sering kita alami dalam hidup sehari-hari tidak pernah terisolasi dari masalah-masalah lainnya yang lebih besar. Misalnya masalah kemalasan berpikir pekerja Indonesia terkait dengan sistem pendidikan dan sistem politik pemerintahan yang lebih besar. Di titik inilah kemampuan berpikir abstrak, teoritik, dan kompleks diperlukan.
Tanpa kemampuan berpikir abstrak, dan penguasaan teori-teori yang memadai, kita tidak akan dapat memahami akar dari masalah yang kita hadapi. Jika akar masalah tidak dipahami, maka tindakan yang kita lakukan (prakteknya) akan sia-sia, atau justru memperparah masalah. Saya tidak mau mengatakan, bahwa seorang pemimpin sekaligus adalah seorang ahli pendidikan, ekonomi, ataupun ahli politik. Namun seorang pemimpin harus mampu berdialog secara rasional dengan para ahli di bidang-bidang tersebut, supaya mampu memahami akar dari masalah yang ia hadapi, dan membuat keputusan yang tepat.
Dengan demikian kemampuan berkomunikasi dengan kaum intelektual adalah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam bahasa Gutting kaum intelektual adalah “konsumen yang cerdas dari pendapat-pendapat para ahli.” Mereka tidak asal terima pendapat para ahli, namun menelaahnya dulu secara kritis, dan disesuaikan dengan konteks masalah yang terjadi. Mereka tidak terpesona dengan gelar dan reputasi para ahli, namun sungguh bisa memahami pendapat mereka, serta menyesuaikannya dengan konteks masalah yang tengah dihadapi.
Friday, December 9, 2011
HIPERKONSUMERISME
"Apakah Anda bangga" bangsa ini menempati urutan atas pengguna jasa komunikasi maya? Sebagai pengguna Facebook terbesar kedua di dunia, terbesar ketiga untuk Twitter. Pengguna telepon seluler meningkat pesat dari tahun ke tahun. Lalu, sejumlah orang terinjak-injak ketika mengantre Blackberry yang dijual separuh harga di Pacific Place, Jakarta.
Saya sama sekali tidak bangga, bahkan prihatin. Kemajuan teknologi komunikasi telah sampai pada suatu "paradoks": dia memisahkan, bukan menghubungkan. Benar, dia menghubungkan seseorang dengan mereka yang jaraknya jauh dari lingkungan fisik-sosial. Hanya saja, sebaliknya pada saat bersamaan orang itu tercerabut dari ruang sosial di mana secara fisik kita semua hadir.
Bercampur dengan semangat hiperkonsumerisme, manusia-manusia yang telah kehilangan kesadaran atas ruang dan waktu (dalam bahasa lebih filosofis mikrokosmos-makrokosmos) mengalami apa yang diistilahkan Benjamin Barber sebagai civic schizophrenia alias "kegilaan warga".
Inikah yang dalam perbendaharaan lama disebut "zaman edan"? Pergeseran manusia dalam menghayati ruang dan waktu—yang secara eksistensial berarti bergesernya penghayatan atas makna hidup—terungkap dalam seluruh praktik kehidupan kita. Dari kehidupan pribadi sehari-hari di ruang privat sampai ke kehidupan sosial, termasuk di dalamnya dinamika politik.
Popularitas seorang pemimpin diukur lewat jajak pendapat menggunakan perangkat komunikasi masa kini yang disebut gadget. Di sana, politik menjadi bagian ”waktu luang” atau leisure dalam teori Thorstein Veblen atau free time dalam istilah Theodor Adorno.
"Politik waktu luang" adalah politik orang-orang iseng kelas menengah, kebanyakan waktu, kehilangan kontak dengan rakyat kecil yang banting tulang tak punya waktu luang. Realitas sosial tergantikan "realitas maya" dan terefleksikan dengan sempurna oleh televisi. Apa yang ada di televisi itulah realitas.
Kedermawanan presiden dan perhatiannya kepada rakyat kecil, misalnya, ditunjukkan lewat televisi dengan bagaimana ketika presiden mantu rakyat diperbolehkan ikut menikmati resepsi lewat layar lebar yang dipasang di lapangan. Perhatian presiden terhadap seni budaya ditunjukkan dengan presiden bergitar, menciptakan lagu.
Media massa kita, terutama media elektronik, menjadi penyokong utama dari apa yang kemudian diistilahkan para ahli sebagai "politik pencitraan". Mereka menciptakan "impresi instan", bukan pencatatan sistemis tentang kinerja.
Semua orang sadar betul mengenai hal itu sekarang. Maka, pidato di televisi, gaya rambut, model baju seragam, dan motif batik lebih penting daripada upaya sistemis menyelesaikan pekerjaan. Ini bukan hanya berlaku untuk kalangan politik. Pekerja perusahaan swasta juga dianggap sudah berprestasi jika bisa memberi impresi mengenai apa yang dikerjakan lewat presentasi dibantu program Power Point. Kinerja semu? Mungkin saja, soalnya ada buku yang topiknya lebih kurang: real CEO doesn’t use Power Point. Dia memilih memberi kacang ijo biar menu rakyat lebih bergizi.
Makna lebih jauh dari politik pencitraan adalah politik yang kehilangan kontak dengan realitas. Serupa dengan modus komunikasi zaman ini: orang terhubung dengan mereka yang jauh, tetapi terputus dengan ruang sosial secara fisik. Realitas fisik jadi kedodoran.
Untuk urusan pribadi, Anda silakan merefleksikan hubungan Anda sendiri dengan orang-orang terdekat. Menyebar wabah defisit atensi. Untuk lingkup sosial lebih luas, silakan lihat penelantaran kesejahteraan rakyat. Rakyat tambah miskin, murid-murid SD belajar di bangunan serupa kandang kambing, jembatan runtuh, dan seterusnya.
APA YANG NDA ABANGGAKAN?
Saya sama sekali tidak bangga, bahkan prihatin. Kemajuan teknologi komunikasi telah sampai pada suatu "paradoks": dia memisahkan, bukan menghubungkan. Benar, dia menghubungkan seseorang dengan mereka yang jaraknya jauh dari lingkungan fisik-sosial. Hanya saja, sebaliknya pada saat bersamaan orang itu tercerabut dari ruang sosial di mana secara fisik kita semua hadir.
Bercampur dengan semangat hiperkonsumerisme, manusia-manusia yang telah kehilangan kesadaran atas ruang dan waktu (dalam bahasa lebih filosofis mikrokosmos-makrokosmos) mengalami apa yang diistilahkan Benjamin Barber sebagai civic schizophrenia alias "kegilaan warga".
Inikah yang dalam perbendaharaan lama disebut "zaman edan"? Pergeseran manusia dalam menghayati ruang dan waktu—yang secara eksistensial berarti bergesernya penghayatan atas makna hidup—terungkap dalam seluruh praktik kehidupan kita. Dari kehidupan pribadi sehari-hari di ruang privat sampai ke kehidupan sosial, termasuk di dalamnya dinamika politik.
Popularitas seorang pemimpin diukur lewat jajak pendapat menggunakan perangkat komunikasi masa kini yang disebut gadget. Di sana, politik menjadi bagian ”waktu luang” atau leisure dalam teori Thorstein Veblen atau free time dalam istilah Theodor Adorno.
"Politik waktu luang" adalah politik orang-orang iseng kelas menengah, kebanyakan waktu, kehilangan kontak dengan rakyat kecil yang banting tulang tak punya waktu luang. Realitas sosial tergantikan "realitas maya" dan terefleksikan dengan sempurna oleh televisi. Apa yang ada di televisi itulah realitas.
Kedermawanan presiden dan perhatiannya kepada rakyat kecil, misalnya, ditunjukkan lewat televisi dengan bagaimana ketika presiden mantu rakyat diperbolehkan ikut menikmati resepsi lewat layar lebar yang dipasang di lapangan. Perhatian presiden terhadap seni budaya ditunjukkan dengan presiden bergitar, menciptakan lagu.
Media massa kita, terutama media elektronik, menjadi penyokong utama dari apa yang kemudian diistilahkan para ahli sebagai "politik pencitraan". Mereka menciptakan "impresi instan", bukan pencatatan sistemis tentang kinerja.
Semua orang sadar betul mengenai hal itu sekarang. Maka, pidato di televisi, gaya rambut, model baju seragam, dan motif batik lebih penting daripada upaya sistemis menyelesaikan pekerjaan. Ini bukan hanya berlaku untuk kalangan politik. Pekerja perusahaan swasta juga dianggap sudah berprestasi jika bisa memberi impresi mengenai apa yang dikerjakan lewat presentasi dibantu program Power Point. Kinerja semu? Mungkin saja, soalnya ada buku yang topiknya lebih kurang: real CEO doesn’t use Power Point. Dia memilih memberi kacang ijo biar menu rakyat lebih bergizi.
Makna lebih jauh dari politik pencitraan adalah politik yang kehilangan kontak dengan realitas. Serupa dengan modus komunikasi zaman ini: orang terhubung dengan mereka yang jauh, tetapi terputus dengan ruang sosial secara fisik. Realitas fisik jadi kedodoran.
Untuk urusan pribadi, Anda silakan merefleksikan hubungan Anda sendiri dengan orang-orang terdekat. Menyebar wabah defisit atensi. Untuk lingkup sosial lebih luas, silakan lihat penelantaran kesejahteraan rakyat. Rakyat tambah miskin, murid-murid SD belajar di bangunan serupa kandang kambing, jembatan runtuh, dan seterusnya.
APA YANG NDA ABANGGAKAN?
Wednesday, November 30, 2011
Organisasi, Tujuan, dan Inspirasi di Baliknya
Setiap organisasi di dunia ini memiliki dua mimpi, yakni tetap ada, dan berkembang, baik segi kualitas maupun kuantitas. Untuk membuat dua mimpi tersebut menjadi nyata, banyak uang dikeluarkan, dan banyak usaha dilakukan. Namun sebagaimana dicatat oleh Baldoni, seringkali upaya tersebut, walaupun mulia, tidak fokus kena pada apa yang perlu dilakukan. Banyak organisasi lupa untuk menghayati satu hal yang amat penting, yang ada di dalam organisasi itu sendiri, yakni tujuan (purpose).
Tujuan yang demikian adalah dasar bagi visi organisasi. Tujuan juga merupakan pedoman nilai untuk melaksanakan misi praktis organisasi di dalam rutinitasnya. Tujuan organisasi pula yang menjadi dasar dari kultur organisasi tersebut. “Kultur organisasi lahir dari organisasi yang memiliki tujuan jelas, karena tujuan adalah sesuatu yang membentuk kepercayaan individual dan norma-norma organisasi.
Dengan tujuan yang jelas, dan dihayati, organisasi bisa melakukan hal-hal besar yang mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dengan tujuan yang jelas dan dihayati, organisasi bisa tetap ada, walaupun jaman berubah, dan terus berkembang, baik dalam soal kualitas maupun kuantitas. Dengan adanya tujuan yang jelas dan dihayati bersama, organisasi bisa mencapai kesuksesan yang diharapkan.
Terkait dengan para pekerja, sekarang ini, sikap patuh buta atau taat perintah sudah tidak terlalu dibutuhkan. Setiap organisasi membutuhkan pekerja yang merasa terlibat dengan tujuan maupun visi organisasi tersebut. Mereka datang ke tempat kerja dengan semangat, dan memiliki tujuan yang jelas. Ini semua terjadi karena mereka merasa dihargai sebagai manusia yang memiliki peran penting dalam mewujudkan tujuan organisasi.
Di dalam dunia yang terus berubah, hanya ada satu norma yang pasti, yakni ketidakpastian itu sendiri. Ketidakpastian dunia ini sebagai ambiguitas hidup. Banyak juga orang yang memandang ketidakpastian hidup ini sebagai sesuatu yang negatif, yang harus dilenyapkan. Namun sayangnya sikap takut pada ketidakpastian justru bermuara pada keputusan-keputusan yang didasarkan pada pikiran sempit, dan tindakan-tindakan yang reaksioner, yang justru malah merusak organisasi itu sendiri.
Pemimpin besar di dunia ini, baik pemimpin bisnis maupun politik, menjadikan ambiguitas hidup sebagai teman, bahkan sahabatnya. Dengan memeluk ambiguitas hidup, kita bisa melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terlihat sebelumnya, asal kita mau sabar dan cermat. Adanya tujuan organisasi yang jelas dan dihayati bersama juga membantu kita memeluk ketidakpastian, dan menangkap kemungkinan-kemungkinan yang muncul kemudian, yang pada akhirnya mengembangkan organisasi tersebut.
Sekarang ini banyak pula organisasi yang mengalami krisis kepemimpinan. Pimpinan hebat di masa lalu gagal melakukan regenerasi, sehingga ketika ia pergi, organisasi mengalami kesulitan. Padahal untuk bisa bertahan melalui lintasan waktu dan perubahan jaman, organisasi membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, yang berbasis pada nilai-nilai yang jelas.
Maka dari itu investasi perlu dilakukan, yakni dalam konteks pengembangan sumber daya manusia untuk menemukan calon-calon pemimpin di masa depan. Bahkan orang-orang muda di dalam organisasi perlu diajak bekerja sama secara langsung dengan para pemimpin yang ada, supaya terjalin hubungan yang lebih dalam, sehingga proses transfer nilai, dan refleksi atasnya, bisa terjadi secara nyata.
Langkah pertama seorang pemimpin adalah memahami dan menghayati tujuan dari organisasi yang dipimpinnya. Tujuan itu harus dibadankan, sehingga menjadi satu dengan cara berpikir dan gerak gerik dirinya. Dengan berpijak pada tujuan yang jelas, seorang pemimpin bisa mengajak pegawainya untuk terlibat, merasa berarti, dan bekerja sama untuk mencapai mimpi yang diharapkan. Dengan bekal semacam itu, ketidakpastian dan ambiguitas hidup bukanlah ancaman, melainkan justru kesempatan untuk berkembang.
Setiap pemimpin organisasi tidak hanya berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata, tetapi juga dengan perilaku rutin mereka. Perilaku yang terlibat membawa sejuta makna yang jauh lebih dalam daripada sekedar perintah kata-kata. Inilah kepemimpinan yang sejati, dan bukan sekedar bos, apalagi birokrat. Mereka terlibat di dalam semua dimensi kerja organisasinya. Dengan itu cinta mereka terhadap apa yang mereka kerjakan memancar keluar, dan menular ke komunitas sekitarnya.
Kesimpulanya adalah tujuan dari suatu organisasi harus dihayati sampai ke akar-akarnya, dan bukan hanya sekedar tempelan di ruang kerja, atau kata-kata indah dalam mars organisasi. Tujuan organisasi bisa menjadi roh yang mendorong lahirnya kreatifitas, keterlibatan, dan strategi yang efektif untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan. Di dalam semua proses tersebut, ada satu komponen yang kerap terlupakan, yakni kemampuan pemimpin untuk menginspirasi seluruh komunitas organisasinya.
Kita hidup di masyarakat yang amat suka mengukur kemampuan dan bakat orang. Tak heran banyak orang percaya begitu saja, sampai pada level naif, pada tes bakat, tes kepribadian, dan tes-tes lainnya. Namun sebagaimana dicatat oleh Kaufman, ada satu aspek yang amat penting, yang seringkali terlupakan dalam hidup kita, yakni inspirasi. Kemampuan orang untuk mendapatkan inspirasi, dan untuk menginspirasi orang lain, seringkali lolos dari berbagai tes-tes yang ada.
Apa itu inspirasi dan mengapa itu begitu penting? Inspirasi adalah dorongan dalam diri yang membangunkan kita pada kemungkinan-kemungkinan baru. Inspirasi adalah gejolak dalam diri yang mengajak kita untuk melampaui pengalaman rutinitas sehari-hari, dan melampaui batas-batas kita yang telah ada. Dengan inspirasi orang menjadi terlibat, dan memaksa dirinya untuk bekerja melampaui kemampuan diri sebelumnya.
Di dalam hidup sehari-hari, orang suka melupakan inspirasi. Itu masuk akal saja, karena memang inspirasi bukanlah barang rutin, melainkan barang luar biasa yang datang dan pergi tanpa diduga. Di beberapa tradisi pemikiran, inspirasi seringkali dikaitkan dengan wahyu supra natural yang berasal dari Tuhan, ataupun dewa dewi. Namun penelitian-penelitian terbaru, berhasil menunjukkan, bahwa inspirasi bisa dikondisikan untuk ada, dan dampaknya bisa amat luar biasa.
Menurutnya ada tiga aspek dasar dari inspirasi, yakni penyadaran, transendensi, dan motivasi. Inspirasi lahir dari proses penyadaran yang seringkali terjadi tanpa diduga. Proses tersebut mengangkat kita, walaupun sesaat, dari keterpakuan kita pada kepentingan maupun kekuasaan diri (transendensi diri). Pada titik itu kita memperoleh perspektif yang jernih tentang dunia, dan sadar atas adanya kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tak terlihat.
Ketika mendapatkan inspirasi orang seperti merasa “kerasukan”, yakni melihat dunia dengan cara lain, dan merasa mendapatkan visi besar tentang hidupnya yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan. Semua ini hanya dapat terjadi, jika ada motivasi yang cukup kuat dari individu untuk menciptakan, dan membuat mimpi terpendam menjadi kenyataan. Motivasi yang amat kuat akan melahirkan inspirasi yang tak terduga.
Dalam konteks ini inspirasi melibatkan dua hal, yakni orang yang terinspirasi oleh sesuatu, bisa mulai suara burung, hujan, dan sebagainya, lalu dia bertindak atas dasar inspirasi itu. Maka dari itu menurut Kaufman, orang-orang yang gampang terinspirasi biasanya memiliki ciri tertentu, yakni keterbukaan mereka pada pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya tak pernah dialami. Dari pengalaman baru mereka bisa menyerap hal-hal baru dengan mudah, dan mengintegrasikan itu semua ke dalam diri mereka.
Logikanya begini. Keterbukaan diri pada pengalaman-pengalaman baru adalah awal dari inspirasi. Dan dengan keterbukaan tersebut, orang justru bisa mendapatkan inspirasi dalam hidupnya. Artinya orang yang terbuka pada inspirasi hidup adalah orang-orang yang nantinya akan mendapatkan inspirasi tak terduga di dalam hidupnya. Maka keterbukaan diri adalah sesuatu yang amat penting.
Di sisi lain menurut Kaufman, orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki dorongan kuat untuk menguasai dengan baik apa yang menjadi profesi atau pekerjaan mereka. Walaupun begitu mereka tetap bukan individu-individu yang kompetitif. Mereka tidak membutuhkan panggung sebagai bukti, bahwa mereka lebih baik dari orang lain. Panggung semacam itu hanya diperlukan oleh orang-orang yang tak mampu melampaui egoisme dirinya.
Orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki motivasi diri yang amat kuat untuk mengembangkan diri. Mereka tidak terlalu peduli pada dorongan eksternal. Dampaknya amat besar. Mereka bekerja bukan untuk alasan-alasan di luar pekerjaan itu sendiri, tetapi demi dan karena pekerjaan itu sendiri cocok dengan jiwa mereka. Orang-orang inspiratif adalah orang-orang yang berhasil mentransendensi egoisme dirinya sendiri.
Secara psikologis juga dapat dikatakan, bahwa orang-orang yang inspiratif memiliki karakter psikologis yang baik, seperti kepercayaan pada kemampuan diri mereka, serta optimisme yang tinggi dalam melihat hidup dan dunia. Orang-orang inspiratif memiliki gudang inspirasi mereka sendiri. Dengan inspirasi yang ada, mereka mampu menguasai dengan baik apa yang menjadi pekerjaan mereka, kreatif dalam menemukan hal-hal baru yang berguna, mampu menyerap hal-hal baru yang belum mereka ketahui, amat percaya diri, dan optimis di dalam hidupnya.
Namun sebagaimana diingatkan oleh Kaufman, inspirasi tidak sama dengan berpikir positif. Orang yang berpikir positif di dalam setiap keadaan bisa jatuh ke dalam kenaifan tersendiri, sehingga reaksi yang ia berikan tidak tepat dengan realitas yang terjadi. Sementara orang-orang yang inspiratif (karena terinspirasi oleh banyak hal) cenderung memasuki keadaan sementara yang penuh dengan makna dan spiritualitas, yang berada di luar kontrol mereka sendiri. Pikiran positif seringkali sifatnya jangka pendek dan disadari, sementara inspirasi terkait dengan semacam pengalaman mistik, yang penuh dengan harapan, bahwa ada hal yang lebih baik, lebih baru, dan lebih penting dari apa yang sudah ada sebelumnya.
Dengan inspirasi yang ada, orang bisa menjadi kreatif, yakni mencipta hal-hal baru. Dengan inspirasi yang ada, orang bisa melihat melampaui halangan-halangan yang ada, dan menemukan solusi yang pas untuk tantangan di depan mata. Konsekuensi logisnya orang-orang yang inspiratif, karena ia sendiri menemukan banyak inspirasi di sekitarnya, akan lebih mudah mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Ia akan merasa bahwa hidup yang dijalaninya bermakna, lepas dari berbagai tantangan yang ada.
Lepas dari semua teori yang ada tentang inspirasi, ada satu hal yang tetap harus dipegang teguh, bahwa inspirasi datang tak terduga. Inspirasi tak bisa dipaksakan. Kita hanya bisa berusaha dengan pikiran terbuka dan motivasi yang kuat. Namun semua itu belum pasti mendatangkan inspirasi. Kesadaran semacam ini membebaskan kita dari sikap memaksa diri yang berlebihan.
Namun sebaliknya juga benar, bahwa inspirasi tidak harus bersifat mistik, atau merupakan pancaran berkah ilahi. Inspirasi paling tepat dipikirkan sebagai “interaksi yang mengagetkan antara pengetahuan yang telah ada dan informasi baru yang kamu terima dari dunia.” Inspirasi adalah kombinasi ganjil antara apa yang sudah diketahui sebelumnya dengan informasi baru yang dialami. Dari kombinasi ganjil itulah lahir percikan-percikan ide tak terduga.
Kombinasi ganjil tersebut tetap dapat diusahakan, selama orang menerapkan keterbukaan pikiran, bersikap positif pada pelbagai peristiwa dunia, bekerja keras di dalam profesi terkait, dan termotivasi untuk melampaui batas-batas diri yang ada. Yang juga tak kalah penting adalah orang perlu untuk membaca, mempelajari, dan memahami kehidupan orang-orang yang inspiratif, seperti para pemimpin besar dunia, ataupun orang-orang besar lainnya yang telah mengubah dunia. Kehidupan mereka adalah gudang inspirasi yang amat berharga.
Dengan terus terbuka pada kemungkinan mendapatkan inspirasi, anda bisa menjadi pemimpin yang inspiratif. Itu digabungkan dengan kemampuan untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain sejalan dengan tujuan organisasi (i), kemampuan menyentuh setiap elemen organisasi secara personal dan manusiawi (ii), kemampuan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri (iii), serta keberanian untuk menantang pola berpikir lama yang mapan dan membuka diri untuk kreativitas (iv), orang akan menjadi pemimpin hebat yang mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk semua orang.
Tujuan yang demikian adalah dasar bagi visi organisasi. Tujuan juga merupakan pedoman nilai untuk melaksanakan misi praktis organisasi di dalam rutinitasnya. Tujuan organisasi pula yang menjadi dasar dari kultur organisasi tersebut. “Kultur organisasi lahir dari organisasi yang memiliki tujuan jelas, karena tujuan adalah sesuatu yang membentuk kepercayaan individual dan norma-norma organisasi.
Dengan tujuan yang jelas, dan dihayati, organisasi bisa melakukan hal-hal besar yang mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dengan tujuan yang jelas dan dihayati, organisasi bisa tetap ada, walaupun jaman berubah, dan terus berkembang, baik dalam soal kualitas maupun kuantitas. Dengan adanya tujuan yang jelas dan dihayati bersama, organisasi bisa mencapai kesuksesan yang diharapkan.
Terkait dengan para pekerja, sekarang ini, sikap patuh buta atau taat perintah sudah tidak terlalu dibutuhkan. Setiap organisasi membutuhkan pekerja yang merasa terlibat dengan tujuan maupun visi organisasi tersebut. Mereka datang ke tempat kerja dengan semangat, dan memiliki tujuan yang jelas. Ini semua terjadi karena mereka merasa dihargai sebagai manusia yang memiliki peran penting dalam mewujudkan tujuan organisasi.
Di dalam dunia yang terus berubah, hanya ada satu norma yang pasti, yakni ketidakpastian itu sendiri. Ketidakpastian dunia ini sebagai ambiguitas hidup. Banyak juga orang yang memandang ketidakpastian hidup ini sebagai sesuatu yang negatif, yang harus dilenyapkan. Namun sayangnya sikap takut pada ketidakpastian justru bermuara pada keputusan-keputusan yang didasarkan pada pikiran sempit, dan tindakan-tindakan yang reaksioner, yang justru malah merusak organisasi itu sendiri.
Pemimpin besar di dunia ini, baik pemimpin bisnis maupun politik, menjadikan ambiguitas hidup sebagai teman, bahkan sahabatnya. Dengan memeluk ambiguitas hidup, kita bisa melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terlihat sebelumnya, asal kita mau sabar dan cermat. Adanya tujuan organisasi yang jelas dan dihayati bersama juga membantu kita memeluk ketidakpastian, dan menangkap kemungkinan-kemungkinan yang muncul kemudian, yang pada akhirnya mengembangkan organisasi tersebut.
Sekarang ini banyak pula organisasi yang mengalami krisis kepemimpinan. Pimpinan hebat di masa lalu gagal melakukan regenerasi, sehingga ketika ia pergi, organisasi mengalami kesulitan. Padahal untuk bisa bertahan melalui lintasan waktu dan perubahan jaman, organisasi membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, yang berbasis pada nilai-nilai yang jelas.
Maka dari itu investasi perlu dilakukan, yakni dalam konteks pengembangan sumber daya manusia untuk menemukan calon-calon pemimpin di masa depan. Bahkan orang-orang muda di dalam organisasi perlu diajak bekerja sama secara langsung dengan para pemimpin yang ada, supaya terjalin hubungan yang lebih dalam, sehingga proses transfer nilai, dan refleksi atasnya, bisa terjadi secara nyata.
Langkah pertama seorang pemimpin adalah memahami dan menghayati tujuan dari organisasi yang dipimpinnya. Tujuan itu harus dibadankan, sehingga menjadi satu dengan cara berpikir dan gerak gerik dirinya. Dengan berpijak pada tujuan yang jelas, seorang pemimpin bisa mengajak pegawainya untuk terlibat, merasa berarti, dan bekerja sama untuk mencapai mimpi yang diharapkan. Dengan bekal semacam itu, ketidakpastian dan ambiguitas hidup bukanlah ancaman, melainkan justru kesempatan untuk berkembang.
Setiap pemimpin organisasi tidak hanya berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata, tetapi juga dengan perilaku rutin mereka. Perilaku yang terlibat membawa sejuta makna yang jauh lebih dalam daripada sekedar perintah kata-kata. Inilah kepemimpinan yang sejati, dan bukan sekedar bos, apalagi birokrat. Mereka terlibat di dalam semua dimensi kerja organisasinya. Dengan itu cinta mereka terhadap apa yang mereka kerjakan memancar keluar, dan menular ke komunitas sekitarnya.
Kesimpulanya adalah tujuan dari suatu organisasi harus dihayati sampai ke akar-akarnya, dan bukan hanya sekedar tempelan di ruang kerja, atau kata-kata indah dalam mars organisasi. Tujuan organisasi bisa menjadi roh yang mendorong lahirnya kreatifitas, keterlibatan, dan strategi yang efektif untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan. Di dalam semua proses tersebut, ada satu komponen yang kerap terlupakan, yakni kemampuan pemimpin untuk menginspirasi seluruh komunitas organisasinya.
Kita hidup di masyarakat yang amat suka mengukur kemampuan dan bakat orang. Tak heran banyak orang percaya begitu saja, sampai pada level naif, pada tes bakat, tes kepribadian, dan tes-tes lainnya. Namun sebagaimana dicatat oleh Kaufman, ada satu aspek yang amat penting, yang seringkali terlupakan dalam hidup kita, yakni inspirasi. Kemampuan orang untuk mendapatkan inspirasi, dan untuk menginspirasi orang lain, seringkali lolos dari berbagai tes-tes yang ada.
Apa itu inspirasi dan mengapa itu begitu penting? Inspirasi adalah dorongan dalam diri yang membangunkan kita pada kemungkinan-kemungkinan baru. Inspirasi adalah gejolak dalam diri yang mengajak kita untuk melampaui pengalaman rutinitas sehari-hari, dan melampaui batas-batas kita yang telah ada. Dengan inspirasi orang menjadi terlibat, dan memaksa dirinya untuk bekerja melampaui kemampuan diri sebelumnya.
Di dalam hidup sehari-hari, orang suka melupakan inspirasi. Itu masuk akal saja, karena memang inspirasi bukanlah barang rutin, melainkan barang luar biasa yang datang dan pergi tanpa diduga. Di beberapa tradisi pemikiran, inspirasi seringkali dikaitkan dengan wahyu supra natural yang berasal dari Tuhan, ataupun dewa dewi. Namun penelitian-penelitian terbaru, berhasil menunjukkan, bahwa inspirasi bisa dikondisikan untuk ada, dan dampaknya bisa amat luar biasa.
Menurutnya ada tiga aspek dasar dari inspirasi, yakni penyadaran, transendensi, dan motivasi. Inspirasi lahir dari proses penyadaran yang seringkali terjadi tanpa diduga. Proses tersebut mengangkat kita, walaupun sesaat, dari keterpakuan kita pada kepentingan maupun kekuasaan diri (transendensi diri). Pada titik itu kita memperoleh perspektif yang jernih tentang dunia, dan sadar atas adanya kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tak terlihat.
Ketika mendapatkan inspirasi orang seperti merasa “kerasukan”, yakni melihat dunia dengan cara lain, dan merasa mendapatkan visi besar tentang hidupnya yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan. Semua ini hanya dapat terjadi, jika ada motivasi yang cukup kuat dari individu untuk menciptakan, dan membuat mimpi terpendam menjadi kenyataan. Motivasi yang amat kuat akan melahirkan inspirasi yang tak terduga.
Dalam konteks ini inspirasi melibatkan dua hal, yakni orang yang terinspirasi oleh sesuatu, bisa mulai suara burung, hujan, dan sebagainya, lalu dia bertindak atas dasar inspirasi itu. Maka dari itu menurut Kaufman, orang-orang yang gampang terinspirasi biasanya memiliki ciri tertentu, yakni keterbukaan mereka pada pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya tak pernah dialami. Dari pengalaman baru mereka bisa menyerap hal-hal baru dengan mudah, dan mengintegrasikan itu semua ke dalam diri mereka.
Logikanya begini. Keterbukaan diri pada pengalaman-pengalaman baru adalah awal dari inspirasi. Dan dengan keterbukaan tersebut, orang justru bisa mendapatkan inspirasi dalam hidupnya. Artinya orang yang terbuka pada inspirasi hidup adalah orang-orang yang nantinya akan mendapatkan inspirasi tak terduga di dalam hidupnya. Maka keterbukaan diri adalah sesuatu yang amat penting.
Di sisi lain menurut Kaufman, orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki dorongan kuat untuk menguasai dengan baik apa yang menjadi profesi atau pekerjaan mereka. Walaupun begitu mereka tetap bukan individu-individu yang kompetitif. Mereka tidak membutuhkan panggung sebagai bukti, bahwa mereka lebih baik dari orang lain. Panggung semacam itu hanya diperlukan oleh orang-orang yang tak mampu melampaui egoisme dirinya.
Orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki motivasi diri yang amat kuat untuk mengembangkan diri. Mereka tidak terlalu peduli pada dorongan eksternal. Dampaknya amat besar. Mereka bekerja bukan untuk alasan-alasan di luar pekerjaan itu sendiri, tetapi demi dan karena pekerjaan itu sendiri cocok dengan jiwa mereka. Orang-orang inspiratif adalah orang-orang yang berhasil mentransendensi egoisme dirinya sendiri.
Secara psikologis juga dapat dikatakan, bahwa orang-orang yang inspiratif memiliki karakter psikologis yang baik, seperti kepercayaan pada kemampuan diri mereka, serta optimisme yang tinggi dalam melihat hidup dan dunia. Orang-orang inspiratif memiliki gudang inspirasi mereka sendiri. Dengan inspirasi yang ada, mereka mampu menguasai dengan baik apa yang menjadi pekerjaan mereka, kreatif dalam menemukan hal-hal baru yang berguna, mampu menyerap hal-hal baru yang belum mereka ketahui, amat percaya diri, dan optimis di dalam hidupnya.
Namun sebagaimana diingatkan oleh Kaufman, inspirasi tidak sama dengan berpikir positif. Orang yang berpikir positif di dalam setiap keadaan bisa jatuh ke dalam kenaifan tersendiri, sehingga reaksi yang ia berikan tidak tepat dengan realitas yang terjadi. Sementara orang-orang yang inspiratif (karena terinspirasi oleh banyak hal) cenderung memasuki keadaan sementara yang penuh dengan makna dan spiritualitas, yang berada di luar kontrol mereka sendiri. Pikiran positif seringkali sifatnya jangka pendek dan disadari, sementara inspirasi terkait dengan semacam pengalaman mistik, yang penuh dengan harapan, bahwa ada hal yang lebih baik, lebih baru, dan lebih penting dari apa yang sudah ada sebelumnya.
Dengan inspirasi yang ada, orang bisa menjadi kreatif, yakni mencipta hal-hal baru. Dengan inspirasi yang ada, orang bisa melihat melampaui halangan-halangan yang ada, dan menemukan solusi yang pas untuk tantangan di depan mata. Konsekuensi logisnya orang-orang yang inspiratif, karena ia sendiri menemukan banyak inspirasi di sekitarnya, akan lebih mudah mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Ia akan merasa bahwa hidup yang dijalaninya bermakna, lepas dari berbagai tantangan yang ada.
Lepas dari semua teori yang ada tentang inspirasi, ada satu hal yang tetap harus dipegang teguh, bahwa inspirasi datang tak terduga. Inspirasi tak bisa dipaksakan. Kita hanya bisa berusaha dengan pikiran terbuka dan motivasi yang kuat. Namun semua itu belum pasti mendatangkan inspirasi. Kesadaran semacam ini membebaskan kita dari sikap memaksa diri yang berlebihan.
Namun sebaliknya juga benar, bahwa inspirasi tidak harus bersifat mistik, atau merupakan pancaran berkah ilahi. Inspirasi paling tepat dipikirkan sebagai “interaksi yang mengagetkan antara pengetahuan yang telah ada dan informasi baru yang kamu terima dari dunia.” Inspirasi adalah kombinasi ganjil antara apa yang sudah diketahui sebelumnya dengan informasi baru yang dialami. Dari kombinasi ganjil itulah lahir percikan-percikan ide tak terduga.
Kombinasi ganjil tersebut tetap dapat diusahakan, selama orang menerapkan keterbukaan pikiran, bersikap positif pada pelbagai peristiwa dunia, bekerja keras di dalam profesi terkait, dan termotivasi untuk melampaui batas-batas diri yang ada. Yang juga tak kalah penting adalah orang perlu untuk membaca, mempelajari, dan memahami kehidupan orang-orang yang inspiratif, seperti para pemimpin besar dunia, ataupun orang-orang besar lainnya yang telah mengubah dunia. Kehidupan mereka adalah gudang inspirasi yang amat berharga.
Dengan terus terbuka pada kemungkinan mendapatkan inspirasi, anda bisa menjadi pemimpin yang inspiratif. Itu digabungkan dengan kemampuan untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain sejalan dengan tujuan organisasi (i), kemampuan menyentuh setiap elemen organisasi secara personal dan manusiawi (ii), kemampuan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri (iii), serta keberanian untuk menantang pola berpikir lama yang mapan dan membuka diri untuk kreativitas (iv), orang akan menjadi pemimpin hebat yang mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk semua orang.
Sunday, November 27, 2011
"Pendidikan Karakter yang Kontekstual"
Pendidikan karakter bangsa kita sudah berjalan hampir satu abad yang lalu, namun hasilnya menggenaskan. Para pemimpin menunjukkan karakter tidak peduli dan tidak sensitif terhadap kehidupan masyarakat. Setiap orang yang memiliki kekuasaan berusaha membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri. Menghamburkan uang negara untuk diri sendiri tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat. Kehidupan bangsa saat ini berada pada titik nadir terendah. Di mana-mana terjadi kebobrokan moral, krisis dalam dunia politik, pengadilan, pendidikan, bahkan krisis di bidang pemerintahan dan kepemimpinan.
Penulis mempersoalkan apa yang kurang dari pendidikan karakter? Baru disadari akhir-akhir ini bahwa pendidikan karakter bangsa Indonesia kurang kontekstual, tidak menggali nilai-nilai budaya lokal yang baik dan unggul serta mengintegrasikannya dalam hidup sehari-hari.
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah bukan hal yang baru dalam pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya menumbuhkan budi pekerti (character), pikiran (intellect), dan tubuh. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, supaya anak dapat tumbuh dengan sempurna. Jadi pendidikan karakter merupakan bagian penting yang tidak boleh dipisahkan dalam isi pendidikan di Indonesia. Mudji Sutrisno SJ menyetujui pendidikan karakter ini melalui jalur pendidikan, meski pendidikan merupakan reduksi dari “mencerdaskan kehidupan bangsa” (Seputar Indonesia, 9/XI/2011). Perlu diingat bahwa isi dari “mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah pendidikan kesadaran dan pendidikan kemartabatan. Dengan demikian, awal kebudayaan selalu menyatu dengan pendidikan sebab proses pendidikan adalah proses kebudayaan.
Pada tahun 1970-an, ada pelajaran budi pekerti, kemudian disusul dengan mata pelajaran agama dan PPKn yang semuanya memiliki tujuan yang sama ialah menumbuhkembangkan karakter. Betapa pentingnya mata pelajaran agama dan PPKn sampai-sampai nilai agama dan PPKn kurang dari 6, siswa tidak naik kelas. Hal ini menunjukkan bahwa mata pelajaran agama dan PPKn sebagai unsur penting untuk membentuk karakter siswa. Namun pendidikan karakter kurang mendapat perhatian dan penekanan dalam perjalanan sejarah pendidikan di negara kita. Lalu Kemdiknas (2009) mempunyai keinginan lagi untuk memberi penekanan karakter dalam pendidikan di Indonesia dewasa ini.
Negara-negara lain juga memberi perhatian pada pendidikan karakter. Negara Amerika Serikat membentuk task force yang bertugas untuk mencari pola pendidikan yang tepat di abad ke-21 pada awal 1990-an (Thomas Lickona, Educating for Character). Mereka menemukan seperangkat kompetensi yang sebagian besar skills-nya (21st Century Skills) merupakan aspek-aspek karakter. Cina membaharui pendidikan karakter yang merupakan reformasi pendidikan yang paling signifikan (Li Lanqing, Education for 1.3 Billion). Mereka menyadari bahwa pembaharuan pendidikan karakter harus dilakukan secara menyeluruh karena konsekuensi keterbukaan politik dan ekonomi yang dijalankan dan antisipasi perkembangan teknologi.
Apa itu pendidikan karakter? Menurut Helen G. Douglas, “karakter” tidak diwariskan melainkan sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, tindakan demi tindakan (Muchlas Samani dan Hariyanto, 2011, Konsep dan Model Pendidikan Karakter). Karakter sebagai identitas atau jati diri suatu bangsa merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antar manusia. Pelbagai karakter dapat dirumuskan secara universal sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar: kedamaian, menghargai, kerja sama, kebebasan, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, dan persatuan. Dengan demikian pendidikan karakter merupakan “upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya” (Sue Winton, 2010). Dewasa ini pendidikan karakter merupakan suatu upaya proaktif untuk membantu siswa mengembangkan inti pokok dari nilai-nilai etik dan nilai-nilai kinerja yang dilakukan baik oleh sekolah maupun pemerintah.
Menurut Doni Koesoema, ada tiga fokus pendidikan karakter dewasa ini (Kompas 19/VII/2010). Pertama, pendidikan karakter yang memusatkan diri pada pengajaran (teaching values). Siswa perlu mengetahui dan memahami isi nilai-nilai tertentu yang harus dipelajari serta sekumpulan kualitas keutamaan moral (kejujuran, keberanian, dan kemurahan hati). Dengan demikian fokus pendidikan karakter tipe pertama pada pengetahuan dan pengertian (intellectual).
Kedua, pendidikan karakter yang memusatkan diri pada klarifikasi nilai (value clarification). Siswa mesti memiliki proses penalaran moral dan pemilihan nilai. Dengan kata lain, fokus pendidikan karakter tipe kedua ini pada perilaku. Namun pendidikan karakter masih memprioritaskan pada pemahaman dan proses pembentukan serta pemilihan nilai.
Ketiga, pendidikan karakter yang memakai pendekatan pertumbuhan moral Kohlberg (character development). Siswa harus mengutamakan perilaku yang merefleksikan penerimaan nilai dan menekankan unsur motivasi, serta aspek-aspek kepribadian yang relatif stabil. Semua itu akan mengarahkan tindakan individu. Jadi, fokus pendidikan karakter tipe ketiga ini pada pertumbuhan motivasi internal dalam membentuk nilai yang selaras dengan tahap-tahap perkembangan moral individu.
Menggali Nilai-Nilai Unggul Budaya Lokal
Zainuddin Maliki memulai paparannya dengan menanyakan karakter apa yang dibutuhkan Indonesia ke depan dalam Seminar Nasional “Pendidikan Karakter: Menggali Nilai-Nilai Keunggulan Lokal untuk Membangun Karakter Bangsa melalui Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya pada tanggal 17 November 2011. Menurutnya, karakter yang dibutuhkan Indonesia adalah pemenuhan kebutuhan SDM yang berkepribadian holistik. Mengapa holistik? Karena Indonesia sedang mengalami kegagalan dalam pendidikan dan hasil manusia Indonesia yang memiliki 5D (Dorongan berprestasi lemah, Distrust, Disiplin rendah, Dorongan Instant dan Dekat dengan kekerasan). Solusi yang diajukan adalah memadukan budaya tradisi dan modern dalam proses terus menerus dan selalu berorientasi ke depan.
Sedangkan, Ayu Sutarto (2011) mengusulkan untuk memanfaatkan kearifan lokal yang dimiliki oleh pelbagai etnik di negara Indonesia. Yang dimaksud dengan kearifan lokal adalah “keunggulan lokal, yaitu berupa produk-produk kebudayaan lokal, baik yang bendawi (tangible) maupun yang nonbendawi (intangible) yang dapat dijadikan instrumen untuk menjawab berbagai atau dapat menjadi solusi dalam menghadapi prahara perubahan yang berdampak buruk kepada warga bangsa”.
Sutarto menguak pentingnya kearifan lokal bagi penguatan karakter dan pekerti bangsa. Ia juga memberi kiat bagaimana menanamkan kearifan lokal yang arif tersebut. Ia menandaskan bahwa kurikulum pendidikan kita harus kontekstual dan menggunakan metode cerita, bahkan cerita yang kreatif dalam penyampaiannya. Ia menjawab pertanyaan salah seorang peserta seminar nasional di Unesa dengan dongeng “kancil mencuri mentimun”. Pertanyaannya adalah mengapa penguasa-penguasa Indonesia yang nota bene telah mendapatkan pendidikan karakter, banyak yang mencuri? Karena mereka hanya mengingat “mencuri”-nya (tidak mengingat kancilnya) dan kurikulum pendidikan kita berbasis pada isi (tidak kontekstual).
Bangsa Indonesia memiliki banyak kearifan lokal. Kearifan lokal yang terkait dengan kebhinekaan dan kemajemukan misalnya ungkapan-ungkapan yang tertulis: “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”; “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Ada yang terkait dengan persatuan dan kesatuan misalnya ungkapan-ungkapan: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Contoh lain dari kearifan lokal yang terkait dengan etos belajar dan tidak boros terungkap dalam: “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Ada yang terkait dengan rasa senasib sepenanggungan: “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.
Pendidikan karakter dimulai dari kearifan lokal yang terkait dengan keadilan. Siswa-siswa sekolah mempunyai program live-in ke daerah-daerah supaya mereka tidak terlibas dengan arus pragmatisme di masyarakat kota. Dasar dari pendidikan kesadaran melalui program live-in ini adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang ramah terhadap pendidikan. Pendidikan kesadaran yang ditawarkan kepada siswa-siswa ini, penulis teringat akan konsientisasi-nya Paulo Freire (1921-1997). Penyadaran tersebut dibangun dalam realitas sosial dan budaya guru dan murid. Realitas ini akan memunculkan unsur-unsur tematik, isi, keputusan pedagogis (kurikulum dan pengajaran). Dengan demikian, penyadaran merupakan perpaduan teori dan praktek yang memberikan kekuatan bagi semua.
Kesimpulan
1. Pendidikan karakter dapat dipahami asal kita mampu memetakan persoalan serta berani bertindak untuk menjawab tantangan bagi pengembangan pendidikan karakter.
2. Menjadi tantangan bagi setiap pendidik dan pengambil keputusan untuk selalu terbuka pada perbaikan, termasuk memberi ruang bagi dialog, debat, diskusi, kritik yang terbuka, jika kita ingin mengembangkan pendidikan karakter yang berkesinambungan.
3. Filsafat pendidikan Indonesia rupanya harus diarahkan menuju pembangunan konsientisasi (penyadaran) besar-besaran mengenai manusia Indonesia yang berada dalam kemajemukan agama, ras, suku, daerah dan juga kepentingan. Pertanyaan yang bisa timbul adalah ke-Jawa-an menyumbang apa bagi ke Indonesiaan, ke-Bugis-an menyumbang apa bagi keIndonesiaan, dan seterusnya
Penulis mempersoalkan apa yang kurang dari pendidikan karakter? Baru disadari akhir-akhir ini bahwa pendidikan karakter bangsa Indonesia kurang kontekstual, tidak menggali nilai-nilai budaya lokal yang baik dan unggul serta mengintegrasikannya dalam hidup sehari-hari.
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah bukan hal yang baru dalam pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya menumbuhkan budi pekerti (character), pikiran (intellect), dan tubuh. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, supaya anak dapat tumbuh dengan sempurna. Jadi pendidikan karakter merupakan bagian penting yang tidak boleh dipisahkan dalam isi pendidikan di Indonesia. Mudji Sutrisno SJ menyetujui pendidikan karakter ini melalui jalur pendidikan, meski pendidikan merupakan reduksi dari “mencerdaskan kehidupan bangsa” (Seputar Indonesia, 9/XI/2011). Perlu diingat bahwa isi dari “mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah pendidikan kesadaran dan pendidikan kemartabatan. Dengan demikian, awal kebudayaan selalu menyatu dengan pendidikan sebab proses pendidikan adalah proses kebudayaan.
Pada tahun 1970-an, ada pelajaran budi pekerti, kemudian disusul dengan mata pelajaran agama dan PPKn yang semuanya memiliki tujuan yang sama ialah menumbuhkembangkan karakter. Betapa pentingnya mata pelajaran agama dan PPKn sampai-sampai nilai agama dan PPKn kurang dari 6, siswa tidak naik kelas. Hal ini menunjukkan bahwa mata pelajaran agama dan PPKn sebagai unsur penting untuk membentuk karakter siswa. Namun pendidikan karakter kurang mendapat perhatian dan penekanan dalam perjalanan sejarah pendidikan di negara kita. Lalu Kemdiknas (2009) mempunyai keinginan lagi untuk memberi penekanan karakter dalam pendidikan di Indonesia dewasa ini.
Negara-negara lain juga memberi perhatian pada pendidikan karakter. Negara Amerika Serikat membentuk task force yang bertugas untuk mencari pola pendidikan yang tepat di abad ke-21 pada awal 1990-an (Thomas Lickona, Educating for Character). Mereka menemukan seperangkat kompetensi yang sebagian besar skills-nya (21st Century Skills) merupakan aspek-aspek karakter. Cina membaharui pendidikan karakter yang merupakan reformasi pendidikan yang paling signifikan (Li Lanqing, Education for 1.3 Billion). Mereka menyadari bahwa pembaharuan pendidikan karakter harus dilakukan secara menyeluruh karena konsekuensi keterbukaan politik dan ekonomi yang dijalankan dan antisipasi perkembangan teknologi.
Apa itu pendidikan karakter? Menurut Helen G. Douglas, “karakter” tidak diwariskan melainkan sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, tindakan demi tindakan (Muchlas Samani dan Hariyanto, 2011, Konsep dan Model Pendidikan Karakter). Karakter sebagai identitas atau jati diri suatu bangsa merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antar manusia. Pelbagai karakter dapat dirumuskan secara universal sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar: kedamaian, menghargai, kerja sama, kebebasan, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, dan persatuan. Dengan demikian pendidikan karakter merupakan “upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya” (Sue Winton, 2010). Dewasa ini pendidikan karakter merupakan suatu upaya proaktif untuk membantu siswa mengembangkan inti pokok dari nilai-nilai etik dan nilai-nilai kinerja yang dilakukan baik oleh sekolah maupun pemerintah.
Menurut Doni Koesoema, ada tiga fokus pendidikan karakter dewasa ini (Kompas 19/VII/2010). Pertama, pendidikan karakter yang memusatkan diri pada pengajaran (teaching values). Siswa perlu mengetahui dan memahami isi nilai-nilai tertentu yang harus dipelajari serta sekumpulan kualitas keutamaan moral (kejujuran, keberanian, dan kemurahan hati). Dengan demikian fokus pendidikan karakter tipe pertama pada pengetahuan dan pengertian (intellectual).
Kedua, pendidikan karakter yang memusatkan diri pada klarifikasi nilai (value clarification). Siswa mesti memiliki proses penalaran moral dan pemilihan nilai. Dengan kata lain, fokus pendidikan karakter tipe kedua ini pada perilaku. Namun pendidikan karakter masih memprioritaskan pada pemahaman dan proses pembentukan serta pemilihan nilai.
Ketiga, pendidikan karakter yang memakai pendekatan pertumbuhan moral Kohlberg (character development). Siswa harus mengutamakan perilaku yang merefleksikan penerimaan nilai dan menekankan unsur motivasi, serta aspek-aspek kepribadian yang relatif stabil. Semua itu akan mengarahkan tindakan individu. Jadi, fokus pendidikan karakter tipe ketiga ini pada pertumbuhan motivasi internal dalam membentuk nilai yang selaras dengan tahap-tahap perkembangan moral individu.
Menggali Nilai-Nilai Unggul Budaya Lokal
Zainuddin Maliki memulai paparannya dengan menanyakan karakter apa yang dibutuhkan Indonesia ke depan dalam Seminar Nasional “Pendidikan Karakter: Menggali Nilai-Nilai Keunggulan Lokal untuk Membangun Karakter Bangsa melalui Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya pada tanggal 17 November 2011. Menurutnya, karakter yang dibutuhkan Indonesia adalah pemenuhan kebutuhan SDM yang berkepribadian holistik. Mengapa holistik? Karena Indonesia sedang mengalami kegagalan dalam pendidikan dan hasil manusia Indonesia yang memiliki 5D (Dorongan berprestasi lemah, Distrust, Disiplin rendah, Dorongan Instant dan Dekat dengan kekerasan). Solusi yang diajukan adalah memadukan budaya tradisi dan modern dalam proses terus menerus dan selalu berorientasi ke depan.
Sedangkan, Ayu Sutarto (2011) mengusulkan untuk memanfaatkan kearifan lokal yang dimiliki oleh pelbagai etnik di negara Indonesia. Yang dimaksud dengan kearifan lokal adalah “keunggulan lokal, yaitu berupa produk-produk kebudayaan lokal, baik yang bendawi (tangible) maupun yang nonbendawi (intangible) yang dapat dijadikan instrumen untuk menjawab berbagai atau dapat menjadi solusi dalam menghadapi prahara perubahan yang berdampak buruk kepada warga bangsa”.
Sutarto menguak pentingnya kearifan lokal bagi penguatan karakter dan pekerti bangsa. Ia juga memberi kiat bagaimana menanamkan kearifan lokal yang arif tersebut. Ia menandaskan bahwa kurikulum pendidikan kita harus kontekstual dan menggunakan metode cerita, bahkan cerita yang kreatif dalam penyampaiannya. Ia menjawab pertanyaan salah seorang peserta seminar nasional di Unesa dengan dongeng “kancil mencuri mentimun”. Pertanyaannya adalah mengapa penguasa-penguasa Indonesia yang nota bene telah mendapatkan pendidikan karakter, banyak yang mencuri? Karena mereka hanya mengingat “mencuri”-nya (tidak mengingat kancilnya) dan kurikulum pendidikan kita berbasis pada isi (tidak kontekstual).
Bangsa Indonesia memiliki banyak kearifan lokal. Kearifan lokal yang terkait dengan kebhinekaan dan kemajemukan misalnya ungkapan-ungkapan yang tertulis: “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”; “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Ada yang terkait dengan persatuan dan kesatuan misalnya ungkapan-ungkapan: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Contoh lain dari kearifan lokal yang terkait dengan etos belajar dan tidak boros terungkap dalam: “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Ada yang terkait dengan rasa senasib sepenanggungan: “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.
Pendidikan karakter dimulai dari kearifan lokal yang terkait dengan keadilan. Siswa-siswa sekolah mempunyai program live-in ke daerah-daerah supaya mereka tidak terlibas dengan arus pragmatisme di masyarakat kota. Dasar dari pendidikan kesadaran melalui program live-in ini adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang ramah terhadap pendidikan. Pendidikan kesadaran yang ditawarkan kepada siswa-siswa ini, penulis teringat akan konsientisasi-nya Paulo Freire (1921-1997). Penyadaran tersebut dibangun dalam realitas sosial dan budaya guru dan murid. Realitas ini akan memunculkan unsur-unsur tematik, isi, keputusan pedagogis (kurikulum dan pengajaran). Dengan demikian, penyadaran merupakan perpaduan teori dan praktek yang memberikan kekuatan bagi semua.
Kesimpulan
1. Pendidikan karakter dapat dipahami asal kita mampu memetakan persoalan serta berani bertindak untuk menjawab tantangan bagi pengembangan pendidikan karakter.
2. Menjadi tantangan bagi setiap pendidik dan pengambil keputusan untuk selalu terbuka pada perbaikan, termasuk memberi ruang bagi dialog, debat, diskusi, kritik yang terbuka, jika kita ingin mengembangkan pendidikan karakter yang berkesinambungan.
3. Filsafat pendidikan Indonesia rupanya harus diarahkan menuju pembangunan konsientisasi (penyadaran) besar-besaran mengenai manusia Indonesia yang berada dalam kemajemukan agama, ras, suku, daerah dan juga kepentingan. Pertanyaan yang bisa timbul adalah ke-Jawa-an menyumbang apa bagi ke Indonesiaan, ke-Bugis-an menyumbang apa bagi keIndonesiaan, dan seterusnya
Subscribe to:
Posts (Atom)
Antagonis - Politik
Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...
-
Sekilas tentang Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Apa itu Pemanasan Global? Pemanasan Global adalah proses kenaikan suhu rat...
-
Rubella, umumnya dikenal sebagai campak Jerman, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. Nama "rubella" berasal dari...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sains dan tekhnologi saling bedampingan. Seiring semakin pesatnya perkembangan tekhnologi, maka diperlu...