Saturday, October 1, 2011

GURU di NEGERI BOHONG


Keteladanan adalah metode efektif dalam pendidikan karakter. Keteladanan menjadikan dinamika pendidikan membumi, konkret, dan kontekstual.

Bagaimanakah jadinya pendidikan jika harus dijalankan di negeri yang penuh kebohongan?

Pendidikan seharusnya membangun rasa bangga dan cinta peserta didik kepada negerinya. Ini hanya bisa berlangsung bila kualitas para pengelola negeri unggul dan berkarakter. Mereka layak diteladani karena menjadi pribadi yang merdeka dari kepentingan pribadi dan kelompok. Keadilan dan kesejahteraan hidup segenap rakyat adalah satu-satunya yang diperjuangkan.

Sayang, di negeri ini keteladanan semacam itu hampir raib. Krisis keteladanan menyergap seluruh sisi kehidupan. Keutamaan moral dilibas alasan ”sudah sesuai aturan”. Anak-anak kita hidup dalam ruang nihil kepekaan moral. Realitas akal-akalan dengan permainan aturan yang culas demi membenarkan diri adalah atmosfer yang mereka hirup. Rasa malu membebal. Kata Indra Tranggono, ”Tahu hukumannya ringan, kenapa kita tak jadi koruptor, ya (Kompas, 12/9)?”

Di negeri ini terhampar ragam realitas tumpul moral yang sulit diterangkan kepada para murid. Alasan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia saat memberikan remisi kepada para koruptor memusingkan guru yang harus menerangkan kepada para murid. Memang semua telah mengikuti aturan yang berlaku. Namun, terkait rasa keadilan dan kewajaran, para guru sulit menjelaskan dan meyakinkan para murid bahwa hukum adalah keniscayaan terjaminnya keadilan serta kemakmuran bagi segenap rakyat.

Pada realitas semacam itu, para murid justru belajar tentang perpaduan hukum dengan kuasa uang, yang justru menjadi cara efektif untuk menyelamatkan diri. Bagaimanakah guru harus menjelaskan secara nalar bahwa faktanya ada uang negara yang hilang pada kasus Century, tetapi tidak ada yang berkewajiban untuk bertanggung jawab serta mengembalikan uang itu secara utuh kepada rakyat?

Bagaimanakah guru harus menjelaskan dengan nalar sederhana murid bahwa faktanya ada pemalsuan surat yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi, tetapi pelakunya tidak ditemukan? Bagaimanakah guru harus menjelaskan kepada para murid ketika politisi mengatakan bahwa Nazaruddin kehilangan berat badan belasan kilogram tetapi penampilan fisiknya tak berbeda sebelum dan sesudah pelariannya?

Raibnya keteladanan tokoh publik, maraknya kebohongan, dan peristiwa ketidakadilan tak bertuan telah menenggelamkan anak-anak kita pada kubangan pembodohan dan pembebalan moral. Realitas keseharian yang mestinya menjadi objek pembelajaran akhirnya hanya menjadi realitas penuh dusta. Pembelajaran pun hanya dalam buaian mimpi, penuh kepura-puraan dan kepalsuan.

Gaung pengajaran tentang prinsip keadilan, nilai-nilai kehidupan, ajaran moral, hingga ragam aturan keagamaan segera senyap ketika tak terpetakan dalam hidup keseharian. Guru sering harus puas dengan jerih payahnya yang hanya menyentuh dimensi rasional. Realitas negeri yang penuh kebohongan telah menghancurkan prinsip pendidikan tentang rasionalitas yang seharusnya dapat dipertanggungjawabkan. Dampak tragisnya adalah lahirnya generasi pandai tetapi bebal moral.

Secercah harapan

Negeri kita sedang dalam keadaan tidak baik untuk membangun habitus berkarakter. Maraknya tingkah akal-akalan dengan aturan (hukum) dan kepura-puraan dalam jiwa tebar pesona—mulai rakyat biasa hingga pejabat—hanya melahirkan pribadi yang culas, semu, dan misterius. Karena itu, pendidik sebaiknya tak gegabah menjadikan pejabat publik yang hari-hari ini jejaknya dikenal baik sebagai model anak bangsa yang unggul kepada para murid. Hanya setelah ajal menjemput, mereka bisa dipertimbangkan untuk menjadi suatu model.

Namun, bangsa ini harus terus melahirkan pribadi yang unggul. Api yang membakar daya hidup untuk menjadi manusia berkarakter unggul dan nasionalis tak boleh padam oleh rusaknya kehidupan pada zaman edan ini.

Masih ada celah sempit yang bisa ditekuni. Pendidik perlu mengajak para murid menjadi tuan atas diri dan hidupnya sendiri. Para murid dimotivasi untuk pertama-tama meraih kemenangan pribadi (Stephen Covey, 1993).

Konkretnya, semua cara bekerja, pikiran, dan perasaan mesti diorientasikan demi martabat dan pemuliaan diri serta kehidupan yang mengakar pada nilai-nilai universal, bukan belajar dalam keterpesonaan pada tampilan para tokoh.

Apa boleh buat, tokoh-tokoh di negeri tuna-adab moral ini tak peduli kalau tingkah mereka menghancurkan karakter bangsa. Rasanya akan tetap bijak bila pendidik tak membohongi para murid dengan mengajarkan kepalsuan. Gairah mencintai negeri pun tak diredupkan karena tak hanyut dalam kekecewaan kepada tokoh publik yang sering berubah secara tak terduga.

Sunday, September 18, 2011

Rubella (campak Jerman)

Rubella, umumnya dikenal sebagai campak Jerman, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. Nama "rubella" berasal dari'',''Latin yang berarti sedikit merah. Rubella juga dikenal sebagai campak Jerman karena penyakit ini pertama kali dijelaskan oleh dokter Jerman pada pertengahan abad kedelapan belas. Penyakit ini sering ringan dan serangan sering berlalu tanpa diketahui. Penyakit ini bisa berlangsung satu sampai tiga hari. Anak-anak sembuh lebih cepat daripada orang dewasa. Infeksi ibu oleh virus Rubella saat hamil bisa serius, jika ibu terinfeksi dalam 20 minggu pertama kehamilan, anak dapat lahir dengan sindrom rubella bawaan (CRS), yang memerlukan berbagai penyakit tak tersembuhkan yang serius. Aborsi spontan terjadi pada sampai 20% kasus.

Rubella adalah infeksi anak umum biasanya dengan kesal sistemik yang minimal meskipun arthropathy transien dapat terjadi pada orang dewasa. Komplikasi serius sangat jarang. Terlepas dari dampak infeksi transplasenta pada janin berkembang, rubella merupakan infeksi yang relatif sepele.

Acquired (yaitu tidak kongenital) rubella ditularkan melalui tetesan emisi udara dari saluran pernapasan atas kasus aktif. Virus ini juga dapat hadir dalam tinja urin, dan pada kulit. Tidak ada carrier: reservoir ada seluruhnya dalam kasus manusia aktif. Penyakit ini memiliki masa inkubasi 2 sampai 3 minggu.

Pada kebanyakan orang virus dengan cepat dihilangkan. Namun, mungkin bertahan selama beberapa bulan post partum pada bayi bertahan CRS. Anak-anak merupakan sumber signifikan dari infeksi pada bayi lain dan, lebih penting, ke kontak wanita hamil.

Nama''''rubella kadang-kadang bingung dengan''rubeola'', sebuah nama alternatif untuk campak di negara berbahasa Inggris, penyakit tidak berhubungan. Dalam beberapa bahasa Eropa lainnya,''''dan''rubela rubeola''adalah sinonim, dan''''rubeola bukan merupakan nama alternatif untuk campak.
Gejala Rubella

Setelah masa inkubasi 14-21 hari, gejala utama infeksi virus rubella adalah munculnya ruam (exanthem) pada wajah yang menyebar ke batang tubuh dan anggota badan dan biasanya memudar setelah tiga hari. Gejala lain termasuk demam ringan, pembengkakan kelenjar (limfadenopati leher rahim pasca), nyeri sendi, sakit kepala dan konjungtivitis. Kelenjar bengkak atau kelenjar getah bening bisa bertahan sampai seminggu dan demam jarang naik di atas 38 o C (100,4 o F). Ruam menghilang setelah beberapa hari tanpa pewarnaan atau mengupas kulit. Forchheimer tanda yang terjadi pada 20% kasus, dan ditandai oleh kecil, papula merah pada daerah langit-langit lunak.

Rubella dapat menyerang siapa saja dari segala usia dan umumnya merupakan penyakit ringan, jarang terjadi pada bayi atau mereka yang berusia lebih dari 40. Semakin tua seseorang adalah lebih parah gejala yang mungkin. Sampai dengan sepertiga anak perempuan lebih tua atau wanita mengalami nyeri sendi atau gejala jenis rematik dengan rubella. Virus ini dikontrak melalui saluran pernafasan dan memiliki masa inkubasi 2 sampai 3 minggu. Selama periode inkubasi, pembawa menular tetapi mungkin tidak menunjukkan gejala.
Rubella kongenital sindrom

Rubella dapat menyebabkan sindrom rubella bawaan pada yang baru lahir. Sindrom (CRS) mengikuti infeksi intrauterin oleh virus Rubella dan terdiri dari jantung, otak, mata dan cacat pendengaran. Hal ini juga dapat menyebabkan prematuritas, berat badan lahir rendah, dan trombositopenia neonatal, anemia dan hepatitis. Risiko cacat besar atau organogenesis tertinggi untuk infeksi pada trimester pertama. CRS adalah alasan utama vaksin untuk rubella dikembangkan. Banyak ibu yang terjangkit rubella dalam trimester kritis pertama baik memiliki keguguran atau bayi lahir masih. Jika bayi bertahan infeksi, itu bisa dilahirkan dengan gangguan jantung parah (PDA yang paling umum), kebutaan, tuli, atau kehidupan lain yang mengancam gangguan organ tubuh. Manifestasi kulit yang disebut "blueberry muffin lesi."
Rubella Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh virus Rubella, sebuah togavirus yang menyelimuti dan memiliki genom RNA beruntai tunggal. Virus ini ditularkan melalui jalur pernapasan dan bereplikasi di dalam nasofaring dan kelenjar getah bening. Virus ini ditemukan di dalam darah 5 sampai 7 hari setelah infeksi dan menyebar ke seluruh tubuh. Virus memiliki sifat teratogenik dan mampu melintasi plasenta dan menginfeksi janin di mana berhenti sel dari berkembang atau menghancurkan mereka.
Diagnosis Rubella

Rubella virus antibodi IgM spesifik yang hadir pada orang yang baru terinfeksi oleh virus Rubella, tetapi antibodi ini bisa bertahan selama lebih dari satu tahun dan hasil tes positif harus ditafsirkan dengan hati-hati. Kehadiran antibodi ini bersama dengan, atau waktu yang singkat setelah itu, karakteristik ruam menegaskan diagnosis.
Pencegahan Rubella

Infeksi Rubella yang dicegah dengan program imunisasi aktif menggunakan hidup, vaksin virus dinonaktifkan. Dua vaksin virus hidup dilemahkan, RA 27 / 3 dan strain Cendehill, yang efektif dalam pencegahan penyakit dewasa. Namun penggunaannya pada wanita prepubertile tidak menghasilkan penurunan yang signifikan pada angka kejadian keseluruhan dari CRS di Inggris. Penurunan hanya dicapai dengan imunisasi dari semua anak.

Vaksin ini sekarang diberikan sebagai bagian dari vaksin MMR. WHO merekomendasikan dosis pertama diberikan pada 12 sampai 18 bulan usia dengan dosis kedua pada 36 bulan. Wanita hamil biasanya diuji untuk kekebalan terhadap rubella sejak dini. Perempuan ditemukan rentan tidak divaksinasi sampai setelah bayi lahir karena vaksin mengandung virus hidup.

Program imunisasi telah cukup berhasil. Kuba menyatakan penyakit dihilangkan pada 1990-an, dan pada tahun 2004 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengumumkan bahwa baik bawaan dan diperoleh bentuk rubella telah dieliminasi dari Amerika Serikat.
Rubella Pengobatan

Tidak ada pengobatan khusus untuk Rubella, namun, manajemen adalah masalah menanggapi gejala untuk mengurangi ketidaknyamanan. Perawatan bayi baru lahir difokuskan pada pengelolaan komplikasi. Cacat jantung bawaan dan katarak dapat dikoreksi dengan operasi langsung. Manajemen untuk CRS mata mirip dengan yang untuk usia degenerasi makula terkait, termasuk konseling, pemantauan teratur, dan penyediaan perangkat low vision, jika diperlukan.
Rubella Prognosis

Rubella infeksi anak-anak dan orang dewasa biasanya ringan, membatasi diri dan sering asimtomatik. Prognosis pada anak yang lahir dengan CRS adalah miskin.
Rubella Epidemiologi

Rubella adalah penyakit yang terjadi di seluruh dunia. Virus ini cenderung ke puncak selama musim semi di negara dengan daerah beriklim sedang. Sebelum vaksin untuk rubella diperkenalkan pada tahun 1969, wabah biasanya terjadi setiap luas 6-9 tahun di Amerika Serikat dan 3-5 tahun di Eropa, sebagian besar mempengaruhi anak-anak dalam kelompok usia 5-9 tahun. Sejak diperkenalkannya vaksin, kejadian telah menjadi langka di negara-negara dengan tingkat penyerapan yang tinggi. Namun, di Inggris masih ada populasi besar orang rentan terhadap rubella yang belum divaksinasi. Wabah rubella terjadi antara laki-laki muda di Inggris pada tahun 1993 dan pada tahun 1996 infeksi itu ditularkan kepada wanita hamil, banyak dari mereka adalah imigran dan rentan. Wabah masih timbul, biasanya di negara-negara berkembang di mana vaksin ini tidak dapat diakses.

Selama epidemi di Amerika Serikat antara 1962-1965, infeksi virus Rubella selama kehamilan diperkirakan telah menyebabkan 30.000 kelahiran dan 20.000 anak masih akan lahir cacat atau cacat sebagai akibat dari CRS.

Imunisasi universal memproduksi tingkat tinggi kekebalan kawanan penting dalam mengendalikan epidemi rubella.
Rubella Sejarah

Rubella pertama kali dijelaskan pada pertengahan abad kedelapan belas. Friedrich Hoffmann membuat gambaran klinis rubella pertama tahun 1740, yang dikonfirmasi oleh de Bergen di 1752 dan Orlow pada 1758.

Pada tahun 1814, George de Maton pertama kali menyarankan bahwa hal itu dianggap suatu penyakit yang berbeda dari kedua campak dan demam berdarah. Semua dokter itu Jerman, dan penyakit ini dikenal sebagai Rötheln (dari nama Jerman''Röteln''), maka nama umum "campak Jerman". Henry Veale, bahasa Inggris Kerajaan bedah Artileri, dijelaskan wabah di India. Dia menciptakan nama "rubella" (dari bahasa Latin, yang berarti "merah kecil") pada tahun 1866.

Ini secara resmi diakui sebagai entitas individu dalam tahun 1881, pada Kongres Internasional Kedokteran di London. Pada tahun 1914, Alfred Fabian Hess berteori bahwa rubela disebabkan oleh virus, berdasarkan pekerjaan dengan monyet. Pada tahun 1938, Hiro dan Tosaka menegaskan hal ini dengan melewatkan penyakit kepada anak-anak menggunakan pencucian hidung disaring dari kasus akut.

Pada tahun 1969 vaksin virus hidup dilemahkan adalah berlisensi. Pada awal 1970-an, vaksin dilemahkan yang mengandung tiga campak, gondok dan rubella (MMR) virus diperkenalkan.

Wednesday, September 14, 2011

MARX, KAPITALISME dan KEPEMIMPINAN

Sekitar dua abad yang lalu, Karl Marx, seorang filsuf asal Jerman di abad 19, sudah meramalkan, bahwa kapitalisme akan mengalami masalah besar. Beberapa ramalannya tidak terjadi. Namun beberapa telah terjadi. Di dalam tulisannya Umar Haque (2011) memberikan beberapa catatan.

Ramalan Marx

Yang pertama Marx menyatakan, bahwa kapitalisme akan memiskinkan kaum buruh. Kaum buruh akan diperlakukan semata sebagai alat, dan akan diekspoitasi habis-habisan oleh para pemilik modal. Gaji akan tetap sementara harga barang-barang kebutuhan akan terus meningkat, dan situasi kerja akan semakin tidak manusiawi.

Inilah yang sekarang ini terjadi. Seperti dicatat oleh Haque, di negara-negara maju, pendapatan per orang hampir tidak bertambah. Sementara harga barang-barang produksi terus bertambah, dan hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang yang memiliki sumber daya ekonomi besar. Bukankah ini yang juga terjadi di Indonesia?

Krisis

Yang kedua Marx meramalkan, bahwa kapitalisme akan mengalami krisis, di mana jumlah barang produksi akan bertambah, sementara daya beli tidak berubah. Yang kemudian terjadi adalah orang-orang akan berhutang; hutang yang belum tentu bisa mereka bayar. Dalam skala global yang terjadi adalah krisis hutang global, seperti sekarang ini.

Marx menyebutnya dengan istilah yang bagus sekali, yakni “kemiskinan di tengah kumpulan orang-orang yang kaya.” Inilah yang sekarang ini terjadi di seluruh dunia. Seperti dicatat oleh Haque, tiga dekade belakangan ini, dunia ditandai dengan krisis global dalam bentuk produksi berlebih, yakni suatu situasi, di mana permintaan (karena lemahnya daya beli) jauh di bawah ketersediaan barang. Yang terjadi adalah orang lalu berhutang untuk menutupi kelemahan daya belinya.

Stagnasi

Yang ketiga Marx meramalkan akan terjadi stagnasi ekonomi, di mana keuntungan real akan berkurang, karena barang produksi tak laku terjual (lemahnya daya beli masyarakat). Ini pula yang sekarang terjadi.

Sekilas tampaknya Marx salah. Banyak perusahaan mendapatkan keuntungan besar. Namun seperti diingatkan oleh Haque, yang dimaksudkan oleh Marx adalah keuntungan real, bukan hanya sekedar kumpulan data angka yang sebelumnya telah dimanipulasi oleh para akuntan palsu. Inilah yang disebut sebagai keuntungan artifisial yang bertentangan dengan keuntungan real.

Di dalam konsep keuntungan artifisial, keuntungan dipandang sebagai nilai transfer, dan bukan penciptaan nilai. Artinya di atas kertas, nilai suatu perusahaan meningkat. Namun di dalam realitas, perusahaan tersebut tidak memiliki apa yang disebut Michael Porter sebagai nilai yang dirasakan bersama (shared value).

Hal ini juga berarti, tidak ada keuntungan real. Jika banyak perusahaan mengalami ini, maka yang sesungguhnya terjadi adalah stagnasi total. Ekonomi hanya seolahnya tampak maju, walaupun sejatinya stagnan, dan bahkan cenderung menurun.

Keterasingan

Yang keempat Marx juga menyatakan, bahwa kaum buruh, dan pekerja pada umumnya, akan mengalami keterasingan. Mereka terputus secara emosional dan eksistensial dari proses maupun hasil kerjanya. Mereka merasa tak memiliki hasil kerja kerasnya sendiri.

Bekerja lalu menjadi terpaksa. Karena mayoritas hidup manusia diisi dengan bekerja, maka manusia pun menjalani hidup dengan kering dan tak bermakna. Ia menjadi terasing dari pekerjaannya, dari lingkungannya, dan bahkan dari dirinya sendiri. Marx dengan jeli melihat situasi ini di dalam kehidupan kaum buruh abad 19.

Apakah analisis Marx masih berlaku untuk awal abad 21? Jawabannya adalah ya. Bahkan di perusahaan-perusahaan besar, yang memiliki fasilitas luar biasa mewah, situasi kerja seringkali menyesakkan dada. Banyak rapat menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan hasilnya seringkali mengecewakan. Tugas-tugas yang harus dijalankan seringkali membuat otak menjadi buntu, dan seringkali linu.

Target yang harus dicapai terkesan tidak realistis, dan membuat orang merasa tertekan. Tak heran banyak pekerja merasa terasing dengan pekerjaannya, lepas dari besar gaji maupun jenis perusahaan tempatnya bekerja. Orang menjadi terasing, merasa tak terlibat, moralnya menurun, tidak termotivasi, dan tidak ada inspirasi di dalam bekerja, maupun hidupnya.


Kesadaran Palsu


Yang kelima Marx juga berbicara soal kesadaran palsu, yakni suatu situasi, di mana orang tidak sadar, bahwa ia sebenarnya sedang ditindas. Di dalam masyarakat kapitalis, kata Marx, kaum buruh mengalami penindasan, tetapi mereka tidak merasakannya sebagai penindasan, dan bahkan merayakan penindasan itu.

Di dalam kajian psikologi, hal ini seringkali disebut sebagai sindrom Stockholm, yakni suatu situasi, di mana korban/tawanan merasakan empati pada pelaku kejahatan. Banyak kaum buruh membela tuannya, walaupun tuannya telah jelas-jelas bersikap tidak adil dan tidak manusiawi terhadap dirinya.

Fetisisme

Yang keenam Marx pernah menulis soal fetisisme komoditas. Obyek fetis adalah sesuatu yang telah dimaknai lebih dari sekedar simbol. Obyek itu diyakini memiliki kekuatan nyata, seperti pada simbol-simbol religius. Sekarang ini barang-barang konsumsi diperlakukan sebagai fetis; dinilai secara berlebih.

Barang-barang konsumsi “menjadi seperti jimat, disembah melalui pertukaran transaksional, dianggap memiliki kekuatan mistik yang memberinya nilai internal, dan salah mengartikan nilai benda itu..” (Haque, 2011) Apakah analisis Marx masih berlaku sekarang? Coba lihat antrian membeli HP, smartphone, ataupun tablet terbaru.

Seperti dicatat oleh Haque, kritik Marx terhadap kapitalisme masih amat relevan sekarang ini. Dan seperti diketahui banyak orang, solusinya adalah dengan melakukan revolusi, mengubah sistem, melenyapkan hak milik pribadi, dan semuanya akan beres. Tentu saja solusi ini tidak masuk akal, karena terlalu banyak korban dan ketidakpastian di dalamnya. Mungkin lebih bijak jika kita mempelajari analisis Marx saja, tanpa terlalu terpikat pada solusi yang diberikannya.

Jadi apa masalah sebenarnya? Mengapa ramalan Marx masih menjadi nyata di abad 21 ini?

Masalah Kepemimpinan

Masalah utamanya adalah kepemimpinan. Saya ingin mengajukan pertanyaan kecil, apa bedanya negara kita dengan negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara? Bedanya hanya satu. Kita memahami teori tetapi tidak menjalankannya, sementara negara-negara maju memahami teori, dan menjalankannya.

Supaya teori bisa dijalankan, bangsa kita butuh kepemimpinan yang kuat. Tentu saja ada banyak aspek yang perlu diperhatikan di dalam kepemimpinan. Saya hanya ingin menyoroti satu hal disini, yakni aspek elegansi di dalam kepemimpinan.

Elegansi kepemimpinan adalah salah satu aspek dari kepemimpinan yang berupa kemampuan untuk mengarahkan “emosi dan reaksi dengan cara yang tidak membuat semua pihak khawatir”, ketika keputusan penting harus dibuat.

Fokus Diri

Seorang pemimpin bukanlah Tuhan. Ia jelas memiliki kelemahan yang menghambat perkembangan diri maupun kelompok yang ia pimpin. Dalam situasi ini aspek elegansi didorong oleh kesadaran penuh, bahwa kepentingan organisasi lebih tinggi daripada kepentingan pribadi sang pimpinan. Kesadaran ini akan menuntunnya pada fokus diri, yang jelas amat diperlukan untuk memimpin.

Fokus pada apa? Jelas seorang pemimpin harus fokus pada tujuan keberadaan dari organisasinya; jangan campur adukan perusahaan dengan institusi pendidikan, ataupun institusi lainnya yang memiliki tujuan spesifik. Dengan memegang teguh tujuan dari organisasi yang ia pimpin, seorang pemimpin akan bisa terus fokus pada apa yang penting, terutama pada saat krisis melanda.

“Pikiran dan emosi anda akan secara alamiah tersambung pada tujuan yang penting, dan sebagai dampak sampingnya, anda akan melihat bahwa dorongan untuk takut dan panik berkurang banyak,” demikian tulis Menkes. Tujuan keberadaan suatu organisasi bukanlah formalitas belaka, tetapi justru menjadi pegangan untuk tetap bergerak di arah yang benar, ketika krisis melanda.

Bentuk nyata dari fokus diri adalah ketenangan hati. Bahkan di dalam krisis dan stagnasi yang sedang terjadi, senyum dan sapaan ramah bisa membawa dampak yang luar biasa besar bagi moral dan motivasi organisasi. Di dalam masa yang semakin tidak pasti, seperti yang diramalkan oleh Marx (dan terjadi), kemampuan untuk mempertahankan fokus diri pada tujuan yang terpenting, dan kemampuan memberikan inspirasi dari ketenangan hati tidak boleh terlupakan.

Marx boleh saja benar. Analisisnya tajam dan akurat. Namun solusi yang ditawarkan problematis di abad 21 ini. Revolusi beresiko besar dan memakan banyak sekali korban jiwa. Yang mungkin lebih tepat adalah merombak semua aspek kepemimpinan dari organisasi yang ada di dalam masyarakat kapitalis. Dengan mengasah dimensi kepemimpinan, kita bisa keluar dari krisis dan stagnasi global yang tidak hanya merusak dimensi ekonomi, melainkan juga moralitas dan eksistensi kita sebagai manusia.

Thursday, September 8, 2011

Ke Pemimpin An, Ke Putus AN, dan Ke Jernih an Jiwa

Setiap hari kita diminta membuat keputusan. Mulai dari hal kecil, seperti belok kiri atau kanan, sampai hal besar, seperti mau bikin rumah atau beli, dimana, berapa besarnya atau menentukan akan menikah atau tidak, jika ya lalu dengan siapa, kita diminta untuk memutuskan. Kadang banyak hambatan seperti tak cukup waktu, tak cukup data, tak cukup pengetahuan, dan sebagainya. Namun keputusan tetap harus dibuat.

Di dalam membuat keputusan, orang perlu memperhatikan jiwanya. Aspek material seperti sumber daya uang ataupun barang tetap perlu diperhatikan. Namun yang tak kalah penting adalah perhatian pada aspek gerak jiwa, terutama gerak jiwa para pemegang keputusan. Inilah yang sekarang ini kerap terlupakan.

Mekanisme Jiwa

Syarat pertama di dalam membuat keputusan adalah kebebasan. Dalam hal ini kebebasan selalu mencakup dua hal, yakni kebebasan dari tekanan eksternal, dan kebebasan batin. Kebebasan dari tekanan eksternal cukup jelas artinya, yakni tidak adanya paksaan dari luar diri. Sementara kebebasan batin memiliki arti yang sedikit lebih rumit.

Kebebasan batin berarti bebas dari empat hal. Yang pertama adalah bebas dari keinginan untuk melihat pola pada hal-hal yang sebenarnya tak berpola. Orang cenderung menghubungkan hal-hal yang sebenarnya tak berhubungan. Akibatnya ia terjebak pada kesalahan berpikir, dan akhirnya pada kesalahan bertindak yang amat mungkin semakin memperbesar masalah.

Yang kedua adalah bebas dari keinginan untuk tunduk pada pandangan umum. Orang cenderung mendengarkan pendapat orang lain yang tak selalu memahami keseluruhan konteks dari keputusan yang perlu diambil. Pandangan orang lain dan pandangan umum seringkali membingungkan dan tak tepat. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk sungguh berdiam diri, melakukan refleksi, lalu membuat keputusan berdasarkan pertimbangan diri dan situasi.

Yang ketiga adalah bebas dari emosi. Kemarahan dan kesedihan seringkali mendorong orang membuat keputusan terburu-buru. Masalahnya di dalam situasi marah dan sedih, pikiran tak jernih. Pikiran yang tak jernih kemungkinan besar bermuara pada keputusan yang salah.

Yang keempat adalah bebas dari prasangka. Tak jarang prasangka mengotori pandangan kita, dan membuat kita tak melihat realitas apa adanya. Prasangka bisa lahir dari pengalaman masa lalu yang kemudian di paksakan untuk saat ini. Prasangka mengaburkan pandangan dan menggiring kita pada kesalahan.

Keputusan tidak boleh hanya melibatkan aspek material semata, tetapi juga aspek spiritual. Saya tidak berbicara tentang agama, tetapi berbicara soal situasi jiwa. Keputusan yang tepat akan membawa ketenangan pada jiwa. Sementara keputusan yang salah akan membawa kegelisahan.

Di dalam latihan rohani ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yang pertama (ketenangan jiwa) disebut sebagai konsolasi. Sementara yang kedua (kegelisahan) disebut sebagai desolasi. Sekilas hal ini terlihat amat sederhana. Namun orang suka lupa menerapkannya.

Keputusan juga memerlukan komitmen. Jika keputusan sudah dibuat, maka orang punya tanggung jawab untuk menjalankannya, seberat apapun keputusan itu. Yang perlu dengan jeli diperhatikan adalah proses (material maupun spiritual) pembuatan keputusan. Jika sudah keputusan sudah jadi, jalankan, terima konsekuensi, lalu lakukan evaluasi.

Situasi Kita

Apakah para pemimpin kita di berbagai bidang sudah memperhatikan mekanisme jiwa di dalam proses pembuatan keputusan? Jawabannya jelas tidak. Banyak keputusan lahir dari rasa terpaksa, karena tekanan politik ataupun ekonomi. Akibatnya keputusan itu tidak menyelesaikan, melainkan justru memperbesar masalah.

Banyak pula keputusan lahir dari kesalahan berpikir. Hal-hal yang tak berhubungan dilihat seolah terhubung. Lalu kebijakan pun dibuat berdasarkan hubungan semu tersebut. Tak heran kebijakan itu justru melahirkan masalah-masalah baru yang sebelumnya tak ada.

Banyak pula keputusan lahir dari emosi yang tak stabil, maupun dari prasangka, baik itu prasangka etnis, ras, agama, maupun kelas ekonomi. Keputusan-keputusan yang lahir dari emosi tak stabil ataupun prasangka tak akan membawa kebaikan. Bahkan kesadaran bahwa banyak keputusan lahir dalam konteks emosi yang tak stabil dan prasangka pun belum ada. Kita berjalan menuju jurang, tanpa sadar, bahwa kita berjalan menuju jurang.

Para pemimpin juga tidak berupaya menyadari situasi jiwa, ketika mereka membuat keputusan. Proses berdiam diri dan berefleksi tak terjadi. Tidak ada kesempatan untuk melihat jiwa, merasakan ketenangan ataupun kegelisahan jiwa, yang sebenarnya amat penting di dalam membuat keputusan. Yang banyak terjadi adalah apa yang disebut Martin Heidegger sebagai gejala abad ke-20, yakni ketidakberpikiran.

Komitmen juga tak tampak. Berbagai undang-undang dan kebijakan dibuat, namun pelaksanaannya terhambat. Peraturan bertumpuk namun tak ada yang berniat memastikan penerapannya. Tanpa ada komitmen aturan dan kebijakan hanyalah kata tanpa makna.

Maka sekali lagi mekanisme jiwa adalah hal yang amat penting di dalam pembuatan keputusan. Para pemimpin dan pembuat keputusan harus menengok ke dalam dirinya sendiri, sebelum mempertimbangkan hal-hal material keputusannya. Di dalam jiwa terdapat visi jernih yang merupakan komponen esensial kepemimpinan. Di dalam jiwa terdapat nurani yang sekarang ini menjadi barang langka di Indonesia

Sunday, August 14, 2011

INDONESIA


"Refleksi Kepemimpinan Indonesia di
HUT RI ke - 66
"

Di Indonesia kita mengalami krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin di berbagai level tidak mampu melihat situasi, menganalisis, dan melakukan hal-hal yang penting untuk memperbaiki situasi. Mereka memiliki rasionalitas namun tak digunakan untuk memahami situasi yang ada. Inilah salah satu alasan, mengapa bangsa kita mengalami krisis di berbagai dimensi, mulai dari korupsi, konflik sosial, sampai terorisme.

Di sisi lain orang-orang yang menggunakan rasionalitasnya secara tepat ternyata tidak mampu berkomunikasi secara baik. Akibatnya ia tidak dikenali, tidak dipercaya, dan sulit untuk memimpin secara baik. Rasionalitas, dalam bentuk kemampuan memahami situasi dan bertindak secara tepat, di dalam kepemimpinan perlu untuk disampaikan dengan “bahasa” yang tepat, sehingga bisa dipahami, dan kemudian menumbuhkan kepercayaan.

Juga di Indonesia banyak pemimpin di berbagai level kepemimpinan tidak memiliki nilai-nilai luhur di dalam pikiran maupun tindakannya. Mereka berpikir dan bertindak untuk memenuhi kepentingan sendiri, ataupun golongan (partai?). Mereka juga tidak punya cita-cita tinggi untuk kepentingan pihak-pihak yang dipimpinnya. Karena kepemimpinan yang ada kacau, maka seluruh jajaran birokrasi dan praktek sehari-hari pun juga kacau.

Banyak pimpinan berbicara teknis, bukan dari hati. Apa yang bukan dari hati, tidak pernah akan menyentuh hati lainnya. Tanpa komunikasi antar hati, kepercayaan tidak akan tumbuh. Tak heran banyak orang sudah merasa tidak peduli dengan pelbagai krisis yang terjadi di Indonesia. Mereka mengurung diri dalam kepentingan pribadi, dan berputar tanpa arah di dalamnya.

Dan yang terakhir yang cukup jelas terlihat, banyak pemimpin di Indonesia tidak peduli dengan pihak-pihak yang ia pimpin. Mereka sibuk memperkaya diri ataupun kelompoknya. Mereka melihat diri sebagai penguasa yang lebih tinggi, maka harus dilayani dan dipuja puji. Tak heran kebijakan maupun keputusan yang mencerminkan kerakusan serta kebodohan, dan amat miskin kepedulian yang manusiawi.

Pola komunikasi mereka mencerminkan kedangkalan berpikir dan kedangkalan refleksi. Rasa tidak peduli terlihat bukan hanya dari kata yang keluar, tetapi juga dari mimik muka yang tampil ke depan. Rasa peduli adalah seni yang hilang (the lost art) di dalam praktek kepemimpinan di Indonesia. Yang tinggal tersisa adalah arogansi dan kedangkalan semata.

Kepemimpinan memiliki “bahasa” yang khas. Yang pertama adalah bahasa rasionalitas yang dikomunikasikan dengan keyakinan penuh ke publik. Yang kedua adalah bahasa otentisitas yang dipenuhi dengan nilai-nilai kehidupan serta cita-cita yang tinggi untuk kebaikan bersama, yang kemudian juga dikomunikasikan dengan penuh keyakinan ke publik. Dan yang ketiga adalah bahasa empati yang berisi rasa peduli setulus hati dan manusiawi kepada setiap orang. Rasa peduli yang ditunjukan dalam kegiatan sehari-hari.

“Bahasa” kepemimpinan inilah yang kita perlukan di Indonesia. Rasionalitas, otentisitas, dan empati haruslah disampaikan secara ramah dan dengan penuh keyakinan ke komunitas terkait, supaya tumbuh rasa percaya kepada pimpinannya. Dengan begitu ia akan diingat sebagai seorang pemimpin sejati, sekaligus guru yang perlu menjadi acuan, walaupun waktu dan peristiwa mengikis ingatan…..

Tuesday, August 9, 2011

Putra Mahkota

Oleh Komaruddin Hidayat
(rektor UIN syahida jkt)

www.funkymonkeybedrooms.co.uk

Alkisah, hidup seorang raja kaya raya dan dicintai rakyat, tetapi sudah mulai uzur sehingga harus menyerahkan takhta kerajaan kepada calon putra mahkotanya. Namun, raja ragu. Benarkah putranya sudah siap menerima tugas berat dan mulia itu?

Untuk menepis keraguan itu, Sang Raja ingin menguji putranya apakah layak dipercaya untuk memikul beban yang begitu berat sebagai calon penggantinya. Maka dipanggillah dia, dinasihati dan diberi tahu bahwa takhta kerajaan ini akan segera dilimpahkan kepadanya. Namun, sebelum itu, Sang Raja menyuruh putranya bersemadi dan tinggal di hutan setahun.

Tiba hari yang ditetapkan, berangkatlah putra mahkota itu dengan bekal dan pengawal sekadarnya. Dalam bulan-bulan pertama dia bingung. Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh ayahnya dan apa yang mesti dilakukan di hutan?

Maka, selain bersemadi, dia juga mengamati berbagai ragam pohon dan hewan penghuni hutan sehingga mengenal beragam buah-buahan dan rasanya. Dia pun mengenal aneka hewan dan suaranya serta jenis makanannya.

Putra mahkota tadi menghitung hari dan bulan, kapan saatnya kembali ke kerajaan menghadap ayahnya lalu dinobatkan di depan rakyat sebagai raja. Singkat cerita, setelah genap setahun, putra mahkota pulang dengan gembira, membayangkan pesta pengangkatan sebagai raja muda yang akan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik serta pengawal yang selalu melayani dan menjaganya.

Setiba di kerajaan, setelah istirahat dan beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan istana, ayahnya memanggil dan bertanya, ”Coba ceritakan kepadaku pengalaman apa yang kau dapatkan setelah setahun bermeditasi dan tinggal di hutan.” Putra mahkota menjawab dan menjelaskan panjang lebar tentang beragam tumbuhan dengan aneka ragam bunga dan buahnya serta rasanya. Selain itu, aneka ragam hewan, dari warnanya, makanannya, hingga suaranya.

Setelah selesai menceritakan pengalamannya dengan semangat dan panjang lebar, ayahnya berkata, ”Engkau mesti pergi lagi setahun tinggal di hutan. Aku belum yakin engkau akan mampu menerima amanat sebagai raja menggantikan diriku. Minggu depan engkau mesti pergi lagi.”

Dengan hati gundah dan pikiran bingung, putra mahkota pergi lagi ke hutan. Dia berpikir keras, apa yang kurang dan apa yang dikehendaki ayahnya sehingga dirinya mesti kembali lagi hidup di hutan. Sesampai di hutan dia melakukan meditasi dan perenungan kemudian mengisi hari-harinya dengan menikmati udaranya yang sejuk dan bau harum bunga serta mendengarkan suara berbagai hewan.

Pada tahun kedua ini, dia lebih jeli. Semakin tajam mata, telinga, dan intuisinya mengamati serta membaca apa pun yang ada di sekitarnya. Sampai-sampai dia mampu memahami bahasa hewan dan tumbuhan-tumbuhan serta isyarat alam. Bahkan, ia sudah mampu membaca tanda-tanda kalau akan terjadi bencana alam. Merasa sudah menyatu dengan alam, putra mahkota tadi semakin betah dan tidak berpikir lagi hendak pulang ke istana. Sampai-sampai setelah setahun berlalu, karena putranya belum juga pulang, sang ayah mengirim utusan untuk menjemputnya.

Banyak topeng di istana

Setelah cukup istirahat, Sang Raja bertanya kepada anaknya yang diharapkan menjadi peng- gantinya mengenai pengalaman apa saja yang didapat setelah dua tahun tinggal di hutan. Maka, sang anak pun bercerita panjang lebar bahwa pada tahun kedua tersebut dia semakin betah di hutan karena merasa telah menyatu dengan semua penghuni hutan. Bahkan, dia sudah memahami semua bahasa hewan, tumbuh-tumbuhan, air, api, serta angin.

Wajah sang ayah pun menjadi ceria karena merasa berhasil mempersiapkan calon pengganti raja. ”Ketahuilah anakku,” kata sang ayah, ”menjadi pemimpin itu harus mampu mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Mampu melihat apa yang tidak terlihat. Mampu membaca apa yang tidak tertulis. Kalau kamu sudah mampu membaca dan mendengarkan suara serta perilaku alam, itu merupakan modal besar bagimu untuk menjadi pemimpin di negeri ini.”

”Ketahuilah anakku,” tutur sang ayah, ”dari zaman ke zaman antara istana dan rakyat itu selalu terdapat tembok yang membatasi sehingga, jika kamu tidak memiliki ketajaman hati, pikiran, dan intusisi, kamu tidak akan memahami apa yang tengah dirasakan dan dipikirkan rakyatmu. Kamu tidak akan paham apakah rakyatmu mencintaimu atau membencimu.”

”Ketahuilah anakku,” ujar sang ayah lagi, ”istana itu ibarat gudang madu dan segala makanan yang enak, yang mengundang semut, tikus, dan berbagai hewan akan mendekat untuk ikut menikmatinya. Ingat dan pegang teguh pesanku ketika suatu saat kamu telah duduk menggantikan posisiku.”

”Tidak semua yang ada di sekelilingmu adalah teman setiamu karena teman sejati baru akan ketahuan ketika kamu menangis, ketika kamu dalam bahaya, bukannya ketika kamu senang-senang berpesta ria. Orang-orang di sekelilingmu akan selalu memuji kamu sehingga kamu jarang mendengarkan kritik serta kata tidak di istana ini.”

”Asah terus ketajaman mata, telinga, pikiran, dan kebeningan hati yang telah engkau latih selama kamu tinggal di hutan belantara karena di istana akan kamu temui orang-orang yang bertopeng sehingga kamu harus mampu membaca hati dan pikiran yang tersembunyi di belakangnya.”

Mendengar nasihat sang ayah, putra mahkota baru menyadari betapa orangtuanya sangat bijak serta sangat mencintai negeri dan rakyatnya. Di balik pakaian kebesarannya sebagai raja, ayahnya ternyata memiliki hati yang sangat lembut, yang mudah tersayat ketika melihat dan mendengar rakyatnya menangis karena sakit atau lapar.

Rupanya ayahnya juga sering mengenakan topeng, pergi menyamar mendengarkan obrolan rakyatnya dari dekat karena apa yang dilihat dan didengarkan di istana sangat jauh berbeda daripada realitas di luarnya.

Semoga puasa Ramadhan ini akan mempertajam kembali pancaran hati nurani kita, terutama bagi siapa pun yang hendak atau tengah memegang jabatan sebagai pemimpin di negeri ini.

Pendidikan Reflektif untuk Indonesia


Tujuan tertinggi hidup manusia adalah mencapai kebijaksanaan. Di dalam kebijaksanaan orang juga bisa mendapatkan kebahagiaan. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya jalan mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah dengan belajar seumur hidup, tanpa kenal lelah. Orang perlu menjadi mahluk pembelajar, supaya ia bisa mencecap kebahagiaan dan kebijaksanaan di dalam hidupnya.

Namun belajar pun ada banyak macamnya. Yang seringkali kita temukan adalah pola belajar menghafal, lalu menuangkan semua yang ada ke dalam ujian yang ada. Banyak ahli pendidikan yang sudah mengritik habis pola ini, namun percuma, karena pola itu tetap berjalan. Pola belajar semacam ini tidak hanya sia-sia, tetapi justru memperbodoh, dan membuat peserta didik menjadi robot-robot yang miskin kreativitas.

Yang kita perlukan adalah pedagogi pendidikan reflektif. Pedagogi ini tepat berkebalikan dengan pola menghafal. Yang diutamakan bukanlah banyaknya informasi, tetapi sedalam apakah informasi yang telah ada dianalisis dan dimaknai untuk sampai pada nilai-nilai luhur kehidupan. Inilah jalan yang perlu ditempuh, supaya pendidikan bisa membawa peserta didik menuju pada kebijaksanaan.

Pengalaman

Langkah pertama di dalam pedagogi reflektif adalah memperoleh pengalaman. Pengalaman adalah bahan mentah untuk proses analisis dan refleksi kehidupan. Tanpa pengalaman orang tak punya bahan untuk dianalisis maupun direfleksikan. Tanpa pengalaman hidupnya akan steril, dan semakin jauh dari kebijaksanaan.

Pengalaman bisa dua macam, yakni pengalaman langsung dan tidak langsung. Pengalaman langsung lahir dari peristiwa yang dialami langsung. Sementara pengalaman tidak langsung lahir dari mendengar atau membaca kisah orang lain. Keduanya amat berharga sebagai bahan mentah untuk proses analisis dan refleksi atas kehidupan.

Pengalaman juga tidak harus pengalaman yang besar. Pengalaman sehari-hari seperti berjumpa dengan teman pun bisa menjadi bahan analisis maupun refleksi yang mendalam. Yang diperlukan adalah kepekaan hati di dalam melihat serta mengalami beragam peristiwa yang ada. Hanya dengan begitu orang memiliki cukup “bahan mentah” untuk menjadi bijaksana.

Penting juga dicatat bahwa banyaknya pengalaman sama sekali bukan jaminan, bahwa orang itu bijaksana. Pengalaman yang berlimpah ruah, namun tak disertai proses analisis dan refleksi yang mendalam, tidak akan pernah berbuah menjadi butir-butir yang mengarahkan orang untuk menjadi bijaksana. Ia akan menjadi old fool, atau bahkan busy fool. Sebaliknya orang yang sedikit pengalaman, namun rajin melakukan analisis dan refleksi yang mendalam, akan lebih dekat ke arah kebijaksanaan, walaupun usianya mungkin saja masih muda.

Analisis

Langkah kedua adalah melakukan analisis atas pengalaman yang ada. Di dalam analisis orang diminta untuk mengajukan pertanyaan yang amat penting, yakni “mengapa” pengalaman tersebut terjadi pada saya? Dan mengapa pengalaman itu bisa ada? Pertanyaan “mengapa” adalah pertanyaan penelitian yang paling menarik, penting, sekaligus sulit untuk dijawab.

Misalnya orang memiliki pengalaman berjalan di pemukiman kumuh di tengah kota. Pada level analisis ia bisa mengajukan pertanyaan berikut, “Mengapa pemukiman kumuh ini bisa ada di tengah-tengah kota?” Pada level analisis peserta didik diajak untuk berpikir secara ilmiah menanggapi beragam fenomena kehidupan yang ada. Ia juga diajak untuk melihat gambaran besar dari berbagai peristiwa yang dialaminya.

Pada level analisis untuk bisa menjawab pertanyaan “mengapa”, orang perlu membaca dan berdiskusi secukupnya. Ia perlu mendapat masukan, guna bisa menganalisis secara tajam apa yang dialaminya. Hasil dari analisis adalah kesadaran diri yang bisa menuntun orang untuk semakin bijak bersikap di dalam hidupnya. Ia bisa menempatkan diri dengan pas di tengah berbagai fenomena kehidupan yang mengelilinginya.

Refleksi

Langkah ketiga adalah langkah yang terpenting, yakni proses refleksi diri. Pada langkah analisis orang masih menggunakan kekuatan intelektual untuk memahami gejala yang dialami. Ia menjadi seorang ilmuwan yang hendak berusaha memahami alam, natural maupun sosial, yang memang penuh teka teki. Namun pada level refleksi, pertanyaan berubah dari “mengapa” menjadi “apa makna peristiwa ini bagi perkembangan pribadi saya sebagai manusia?”

Pertanyaan tentang makna mengajak orang untuk mendalami pengalaman hidupnya. Pengalaman tidak lagi tinggal menjadi pengalaman, tetapi berubah menjadi nilai-nilai hidup yang menggerakan dirinya untuk menjadi semakin bijaksana. Ia mengalami perubahan hati dan pikiran di dalam hidupnya. Ia menjadi manusia baru yang juga melihat dunia dengan cara yang baru.

Proses refleksi adalah jantung hati pendidikan. Di dalam proses refleksi, pengalaman dan informasi yang diperoleh diubah menjadi nilai-nilai kehidupan yang menggerakan hati, pikiran, dan tindakan. Di dalam proses refleksi, seluruh proses pendidikan berubah menjadi proses yang penuh inspirasi dan kebijaksanaan. Kepekaan hati bertambah, daya analisis meningkat tajam, dan proses pembuatan keputusan menjadi jauh lebih tercerahkan. Itulah buah-buah proses refleksi di dalam pendidikan.

Aksi/Kreasi

Refleksi akan mendorong orang untuk berubah dalam hidupnya. Ia akan memiliki perilaku baru yang sebelumnya tak ada. Proses refleksi yang amat dalam akan mengubah orang sampai ke hatinya. Ia akan menjadi manusia baru yang lebih bijaksana.

Refleksi akan mendorong aksi. Aksi bisa berupa macam-macam hal, mulai dari perubahan hati, sampai proses kreasi. Ia akan mencipta sesuatu sebagai ekspresi dari kedalaman refleksi diri. Hasil ciptaannya biasanya terkait dengan profesinya, atau kemampuan yang tertanam di dalam dirinya.

Seorang guru yang melakukan proses refleksi secara mendalam akan mengajar dengan penuh hati dan cinta. Ia akan mengembangkan metode mengajar yang paling pas untuk anak didiknya. Ia akan menjadi guru yang inspiratif sekaligus teladan bagi kehidupan anak didinya.

Seorang dokter yang melakukan proses refleksi yang mendalam akan membantu orang di dalam sakitnya dengan hati, perhatian, serta pengetahuannya. Ia akan melayani dengan cinta, dan menghindari diskriminasi di dalam prakteknya. Ia tidak akan memeras uang dari orang yang tengah menderita. Ia tidak hanya menyembuhkan tubuh yang luka, tetapi juga menyembuhkan hati yang merindukan harapan.

Refleksi akan mendorong lahirnya tindakan. Tindakan akan menciptakan pengalaman. Pengalaman itu kemudian dianalisis, direfleksikan, dan akan melahirkan tindakan mencipta yang baru. Tindakan mencipta akan melahirkan pengalaman, dan begitu seterusnya. Inilah proses belajar reflektif yang perlu diterapkan di Indonesia.

Untuk Indonesia

Mengapa pola pendidikan reflektif ini amat penting untuk Indonesia? Saya setidaknya melihat tiga alasan utama. Pertama, pola pendidikan reflektif adalah pendidikan yang sesungguhnya. Pola ini tidak hanya mengedepankan aspek intelektual-menghafal semata, tetapi juga menghidupi, serta mengolah apa yang dipelajari menjadi nilai-nilai hidup yang utama. Pola ini membuat para peserta didik mengalami perubahan berpikir secara mendasar di dalam hidupnya.

Dua, dengan pola pendidikan reflektif, peserta didik tidak hanya diajarkan untuk menjadi pelayan dunia bisnis dan industri, seperti yang sekarang ini banyak terjadi di berbagai institusi pendidikan di Indonesia, tetapi juga menjadi manusia dalam arti yang seutuhnya. Ia dididik untuk menjadi well rounded person, yakni pribadi yang memiliki karakter kuat di dalam hidupnya, dan terampil di dalam profesinya.

Semua ini terjadi karena proses pendidikan dilakukan dengan pola analisis dan refleksi yang terus menerus, sampai peserta didik mampu melangkah untuk semakin bijak dalam hidupnya. Peserta didik bukanlah “tukang” yang hanya bekerja tanpa kreativitas dan cinta. Ia menjadi manusia yang bekerja dengan penuh cinta, hasrat, serta kreativitas yang berkobar-kobar untuk mengembangkan diri dan komunitasnya.

Jika setiap orang di Indonesia menerapkan pola belajar reflektif ini di dalam hidupnya, dan setiap institusi pendidikan menerapkan pedagogi reflektif di dalam kegiatan belajar mengajarnya, maka bangsa Indonesia telah berada di jalan yang benar untuk menjadi bangsa yang maju secara ilmu, teknologi, ekonomi, dan besar secara moral maupun hati nurani. Jadi tunggu apa lagi?***

Antagonis - Politik

Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...