Sistem parasit dlm demokrasi
Parasit hanya dapat hidup dengan ”menumpang” pada sebuah tempat hidup (host): pohon, tubuh, alam, partai, masyarakat, sistem, atau institusi. Ia ”penumpang gelap” yang tak hanya merusak tempat menumpang, tetapi juga segala yang hidup di dalamnya. Ia sang ”perusak sistem”, tak hanya merusak tempat, tetapi totalitas ekosistem yang membangunnya.
Tak ada sistem yang bebas parasit: sistem alam, sistem politik, sistem hukum, sistem pendidikan, sistem ekonomi, atau sistem demokrasi. Manusia parasit bagi alam, lingkungan, permukiman, masyarakat, institusi: politisi parasit partai, pegawai parasit lembaga, jaksa parasit kejaksaan, hakim parasit kehakiman. Manusia juga parasit bagi sesama dalam kelompok, ”jeruk makan jeruk”: politisi parasit politisi, jaksa parasit jaksa, hakim parasit hakim.
Bahkan, parasit politik dapat berlapis-lapis, tumpang tindih, atau timbal balik sehingga menciptakan ironi politik: korban parasit mengisap parasit, korban korupsi mengorup koruptor, tertuduh menuduh penuduh, polisi menangkap peniup peluit tetapi membebaskan pelaku sesungguhnya, menciptakan ruang gelap batas-batas: pelaku/korban, penuduh/tertuduh, koruptor/saksi, aparat/penjahat.
Zoon politicon tak hanya ”serigala bagi sesama” (Hobbes), tetapi juga ”parasit bagi sesama”. Inilah perbedaan antara manusia politik ”pemangsa” (predator) dan ”pengisap” (parasit). Manusia pemangsa sesama, yang kuat memangsa yang lemah, seperti dalam sistem totalitarianisme. Manusia jadi pengisap sesama, saling menggerogoti kekuasaan, karakter, atau citra.
Pembunuhan karakter adalah bentuk khusus parasitisisme, di mana seseorang membangun karakter diri (bersih, jujur, dan nasionalis) dengan menumpang hidup pada karakter orang lain sambil menggerogotinya dari dalam. Dengan menunggangi pencitraan orang lain sebagai politisi busuk, pembohong, dan kriminal, ia hendak membangun citra diri sebagai politisi bersih, jujur, dan baik. Sepak terjang parasit dalam sistem politik tak hanya individu, tetapi juga berkelompok dan berjejaring. Selain individu parasit, ada juga kelompok parasit. Pertama, ”komunitas parasit”, parasit berbentuk organisasi (partai parasit, ormas parasit, orpol parasit). Kedua, ”jejaring parasit”, yaitu jejaring parasit yang dibangun oleh (oknum) elite partai, parlemen, dan lembaga hukum.
Saturday, October 29, 2011
Friday, October 14, 2011
"Doktrin malu"

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), malu adalah merasa sangat tidak senang, rendah, hina, dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat, atau tidak disetujui oleh umumnya manusia. Istilah ini mengilhami banyak karya fiksi ataupun nonfiksi, seperti film nonfiksi garapan seorang penulis sekaligus sutradara kawakan, April Rouveyrol, berjudul Shy (2008), yang mengisahkan betapa rasa malu menjadi mahkota manusia yang sangat agung.
Timothy Bottoms, salah satu tokoh dalam film itu, rela melemparkan jabatan penting, mengasingkan diri dan hijrah ke sebuah kota kumuh di Amerika, bahkan ingin menjadi seorang petugas satpam lagi dengan penghasilan rendah hanya karena dirinya tak lagi memperoleh senyum dukungan dari para bawahannya, tak ada lagi dukungan politik dari masyarakat sekitarnya.
Begitu pun di alam nyata, manusia selalu menunjukkan rasa malunya untuk membuktikan kekuatan integritas atau kualitas kemanusiaannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Roh Moo-hyun, mantan Presiden Korea Selatan, yang terpaksa bunuh diri dengan cara terjun dari sebuah batu karang setinggi 20-30 meter di pegunungan bagian selatan Semenanjung Korea tahun 2009. Hal itu terjadi hanya karena ia harus menanggung malu akibat keterlibatannya dalam kasus korupsi.
Pertengahan 2010, Yukio Hatoyama berikrar mundur dari tampuk singgasana Perdana Menteri Jepang. Setali tiga uang dengan Roh Moo-hyun, keputusannya dilandasi rasa malu karena gagal dalam memenuhi janji kampanye memindahkan pangkalan Marinir AS di lepas pantai selatan Pulau Okinawa.
Apa yang dilakukan oleh dua tokoh di atas—walau ekstrem dan radikal—sebenarnya tidak lain sebuah pembuktian bahwa mereka adalah bagian dari habitat manusia, habitat yang punya rasa malu. Secara langsung, saat yang bersamaan mereka juga menunjukkan eksistensinya sebagai manusia, makhluk yang berbudaya.
Filosofi "Lalat"
Belajar Berpikir Kritis
Bagi banyak orang, lalat adalah hewan yang menjijikan. Lalat terbang ke sana- kemari, ia hinggap di tempat sampah, di kotoran hewan, bahkan mungkin di makanan kita. Dengan keadaan seperti ini, lalat membawa banyak kuman di tubuhnya dan menjadi penyebar penyakit, sehingga banyak orang berusaha menjauhkan makanan dan minuman mereka dari lalat, agar tidak terkena penyakit seperti diare dan sebagainya. Maka, predikat hewan yang menjijikkan sangat tepat ditujukan kepada lalat.
Akan tetapi, jika kita bisa melihat secara detail bagian-bagian tubuh lalat, kita akan menemukan satu bagian lalat yang sungguh menjadi inspirasi bagi kita untuk belajar kritis. Bagian itu adalah mata lalat. Mengapa mata lalat bisa menjadi inspirasi belajar kritis? Mata lalat yang majemuk dapat memberikan inspirasi pada pikiran kita untuk berefleksi tentang sudut pandang dan cara berpikir para filsuf, yakni para pecinta kebjaksanaan. Sebab, mata majemuk lalat melihat suatu ‘hal’ dari beberapa pembagian mata majemuknya, sehingga lalat bisa menangkap obyek yang dilihatnya dengan jelas. Begitu pula belajar sikap kritis, ibarat mata lalat, pikiran kita diajak untuk mengenali sudut pandang para filsuf satu per satu dalam memahami dunia.
Hal ini bukanlah suatu hal yang biasa dan sia-sia, namun melatih pikiran kita untuk bisa ‘bergerak’ dalam berbagai sudut pandang, sehingga kita juga terbiasa melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang seperti mata majemuk lalat. Selain itu, belajar berpikir kritis menguntungkan kita dalam mengambil keputusan yang paling baik. Mengapa? Karena dengan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, kita dapat memahami masalah dengan lebih jelas, sehingga kita pun dapat mengambil solusi yang paling baik. Baik di sini dalam arti tepat dan adil untuk semua subjek yang terkait dengan masalah tersebut.
Penerapan
Dalam berbagai sudut pandang, ide yang tidak diwujudkan ibarat harimau ompong, yang hanya bisa mengaum tanpa bisa menggigit sasarannya. Begitu juga ide tentang mata majemuk lalat yang tertera di atas tidak akan bisa memberikan bukti perubahan yang nyata dalam kehidupan kita, jika tidak dituangkan dalam hidup kita sehari-hari. Maka, kita harus menarik kaki Sang ide, agar ide tersebut bisa membumi dan merubah kehidupan yang kita alami saat ini. Sebagai contoh, kemajemukan sudut pandang kita dapat digunakan untuk melihat masalah-masalah politik yang terjadi di negara kita, serta posisi dan tindakan apakah yang paling baik yang akan kita ambil, agar Indonesia semakin membaik kondisinya. Tentunya, kita sebagai masyarakat Indonesia juga mempunyai peran dalam membangun bangsa dan Negara.
Tantangan bagi kita adalah bagaimana kita dengan sikap kritis tersebut, kita bisa membawa perubahan yang radikal dalam hidup kita. Dengan modal latihan kemajemukan sudut pandang para Pecinta Kebijaksanaan, kita bisa memberikan kontribusi dalam membangun negara. Sehingga, bukan hanya sebagai komentator dalam pertandingan politik antara klub-klub partai politik, tetapi berpartisipasi dalam pertandingan sebagai pelatih yang memberikan instruksi kepada para pemain politik, agar bermain dengan baik, jujur dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat.
Kemajemukan sudut pandang dapat melatih sikap kritis kita terhadap segala sesuatu. Dan dengan sikap kritis, kita dapat ambil bagian dalam membangun Negara, agar lebih baik serta mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Bagi banyak orang, lalat adalah hewan yang menjijikan. Lalat terbang ke sana- kemari, ia hinggap di tempat sampah, di kotoran hewan, bahkan mungkin di makanan kita. Dengan keadaan seperti ini, lalat membawa banyak kuman di tubuhnya dan menjadi penyebar penyakit, sehingga banyak orang berusaha menjauhkan makanan dan minuman mereka dari lalat, agar tidak terkena penyakit seperti diare dan sebagainya. Maka, predikat hewan yang menjijikkan sangat tepat ditujukan kepada lalat.
Akan tetapi, jika kita bisa melihat secara detail bagian-bagian tubuh lalat, kita akan menemukan satu bagian lalat yang sungguh menjadi inspirasi bagi kita untuk belajar kritis. Bagian itu adalah mata lalat. Mengapa mata lalat bisa menjadi inspirasi belajar kritis? Mata lalat yang majemuk dapat memberikan inspirasi pada pikiran kita untuk berefleksi tentang sudut pandang dan cara berpikir para filsuf, yakni para pecinta kebjaksanaan. Sebab, mata majemuk lalat melihat suatu ‘hal’ dari beberapa pembagian mata majemuknya, sehingga lalat bisa menangkap obyek yang dilihatnya dengan jelas. Begitu pula belajar sikap kritis, ibarat mata lalat, pikiran kita diajak untuk mengenali sudut pandang para filsuf satu per satu dalam memahami dunia.
Hal ini bukanlah suatu hal yang biasa dan sia-sia, namun melatih pikiran kita untuk bisa ‘bergerak’ dalam berbagai sudut pandang, sehingga kita juga terbiasa melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang seperti mata majemuk lalat. Selain itu, belajar berpikir kritis menguntungkan kita dalam mengambil keputusan yang paling baik. Mengapa? Karena dengan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, kita dapat memahami masalah dengan lebih jelas, sehingga kita pun dapat mengambil solusi yang paling baik. Baik di sini dalam arti tepat dan adil untuk semua subjek yang terkait dengan masalah tersebut.
Penerapan
Dalam berbagai sudut pandang, ide yang tidak diwujudkan ibarat harimau ompong, yang hanya bisa mengaum tanpa bisa menggigit sasarannya. Begitu juga ide tentang mata majemuk lalat yang tertera di atas tidak akan bisa memberikan bukti perubahan yang nyata dalam kehidupan kita, jika tidak dituangkan dalam hidup kita sehari-hari. Maka, kita harus menarik kaki Sang ide, agar ide tersebut bisa membumi dan merubah kehidupan yang kita alami saat ini. Sebagai contoh, kemajemukan sudut pandang kita dapat digunakan untuk melihat masalah-masalah politik yang terjadi di negara kita, serta posisi dan tindakan apakah yang paling baik yang akan kita ambil, agar Indonesia semakin membaik kondisinya. Tentunya, kita sebagai masyarakat Indonesia juga mempunyai peran dalam membangun bangsa dan Negara.
Tantangan bagi kita adalah bagaimana kita dengan sikap kritis tersebut, kita bisa membawa perubahan yang radikal dalam hidup kita. Dengan modal latihan kemajemukan sudut pandang para Pecinta Kebijaksanaan, kita bisa memberikan kontribusi dalam membangun negara. Sehingga, bukan hanya sebagai komentator dalam pertandingan politik antara klub-klub partai politik, tetapi berpartisipasi dalam pertandingan sebagai pelatih yang memberikan instruksi kepada para pemain politik, agar bermain dengan baik, jujur dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat.
Kemajemukan sudut pandang dapat melatih sikap kritis kita terhadap segala sesuatu. Dan dengan sikap kritis, kita dapat ambil bagian dalam membangun Negara, agar lebih baik serta mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Saturday, October 1, 2011
GURU di NEGERI BOHONG

Keteladanan adalah metode efektif dalam pendidikan karakter. Keteladanan menjadikan dinamika pendidikan membumi, konkret, dan kontekstual.
Bagaimanakah jadinya pendidikan jika harus dijalankan di negeri yang penuh kebohongan?
Pendidikan seharusnya membangun rasa bangga dan cinta peserta didik kepada negerinya. Ini hanya bisa berlangsung bila kualitas para pengelola negeri unggul dan berkarakter. Mereka layak diteladani karena menjadi pribadi yang merdeka dari kepentingan pribadi dan kelompok. Keadilan dan kesejahteraan hidup segenap rakyat adalah satu-satunya yang diperjuangkan.
Sayang, di negeri ini keteladanan semacam itu hampir raib. Krisis keteladanan menyergap seluruh sisi kehidupan. Keutamaan moral dilibas alasan ”sudah sesuai aturan”. Anak-anak kita hidup dalam ruang nihil kepekaan moral. Realitas akal-akalan dengan permainan aturan yang culas demi membenarkan diri adalah atmosfer yang mereka hirup. Rasa malu membebal. Kata Indra Tranggono, ”Tahu hukumannya ringan, kenapa kita tak jadi koruptor, ya (Kompas, 12/9)?”
Di negeri ini terhampar ragam realitas tumpul moral yang sulit diterangkan kepada para murid. Alasan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia saat memberikan remisi kepada para koruptor memusingkan guru yang harus menerangkan kepada para murid. Memang semua telah mengikuti aturan yang berlaku. Namun, terkait rasa keadilan dan kewajaran, para guru sulit menjelaskan dan meyakinkan para murid bahwa hukum adalah keniscayaan terjaminnya keadilan serta kemakmuran bagi segenap rakyat.
Pada realitas semacam itu, para murid justru belajar tentang perpaduan hukum dengan kuasa uang, yang justru menjadi cara efektif untuk menyelamatkan diri. Bagaimanakah guru harus menjelaskan secara nalar bahwa faktanya ada uang negara yang hilang pada kasus Century, tetapi tidak ada yang berkewajiban untuk bertanggung jawab serta mengembalikan uang itu secara utuh kepada rakyat?
Bagaimanakah guru harus menjelaskan dengan nalar sederhana murid bahwa faktanya ada pemalsuan surat yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi, tetapi pelakunya tidak ditemukan? Bagaimanakah guru harus menjelaskan kepada para murid ketika politisi mengatakan bahwa Nazaruddin kehilangan berat badan belasan kilogram tetapi penampilan fisiknya tak berbeda sebelum dan sesudah pelariannya?
Raibnya keteladanan tokoh publik, maraknya kebohongan, dan peristiwa ketidakadilan tak bertuan telah menenggelamkan anak-anak kita pada kubangan pembodohan dan pembebalan moral. Realitas keseharian yang mestinya menjadi objek pembelajaran akhirnya hanya menjadi realitas penuh dusta. Pembelajaran pun hanya dalam buaian mimpi, penuh kepura-puraan dan kepalsuan.
Gaung pengajaran tentang prinsip keadilan, nilai-nilai kehidupan, ajaran moral, hingga ragam aturan keagamaan segera senyap ketika tak terpetakan dalam hidup keseharian. Guru sering harus puas dengan jerih payahnya yang hanya menyentuh dimensi rasional. Realitas negeri yang penuh kebohongan telah menghancurkan prinsip pendidikan tentang rasionalitas yang seharusnya dapat dipertanggungjawabkan. Dampak tragisnya adalah lahirnya generasi pandai tetapi bebal moral.
Secercah harapan
Negeri kita sedang dalam keadaan tidak baik untuk membangun habitus berkarakter. Maraknya tingkah akal-akalan dengan aturan (hukum) dan kepura-puraan dalam jiwa tebar pesona—mulai rakyat biasa hingga pejabat—hanya melahirkan pribadi yang culas, semu, dan misterius. Karena itu, pendidik sebaiknya tak gegabah menjadikan pejabat publik yang hari-hari ini jejaknya dikenal baik sebagai model anak bangsa yang unggul kepada para murid. Hanya setelah ajal menjemput, mereka bisa dipertimbangkan untuk menjadi suatu model.
Namun, bangsa ini harus terus melahirkan pribadi yang unggul. Api yang membakar daya hidup untuk menjadi manusia berkarakter unggul dan nasionalis tak boleh padam oleh rusaknya kehidupan pada zaman edan ini.
Masih ada celah sempit yang bisa ditekuni. Pendidik perlu mengajak para murid menjadi tuan atas diri dan hidupnya sendiri. Para murid dimotivasi untuk pertama-tama meraih kemenangan pribadi (Stephen Covey, 1993).
Konkretnya, semua cara bekerja, pikiran, dan perasaan mesti diorientasikan demi martabat dan pemuliaan diri serta kehidupan yang mengakar pada nilai-nilai universal, bukan belajar dalam keterpesonaan pada tampilan para tokoh.
Apa boleh buat, tokoh-tokoh di negeri tuna-adab moral ini tak peduli kalau tingkah mereka menghancurkan karakter bangsa. Rasanya akan tetap bijak bila pendidik tak membohongi para murid dengan mengajarkan kepalsuan. Gairah mencintai negeri pun tak diredupkan karena tak hanyut dalam kekecewaan kepada tokoh publik yang sering berubah secara tak terduga.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Antagonis - Politik
Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...
-
Sekilas tentang Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Apa itu Pemanasan Global? Pemanasan Global adalah proses kenaikan suhu rat...
-
Rubella, umumnya dikenal sebagai campak Jerman, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. Nama "rubella" berasal dari...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sains dan tekhnologi saling bedampingan. Seiring semakin pesatnya perkembangan tekhnologi, maka diperlu...