Sunday, August 14, 2011

INDONESIA


"Refleksi Kepemimpinan Indonesia di
HUT RI ke - 66
"

Di Indonesia kita mengalami krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin di berbagai level tidak mampu melihat situasi, menganalisis, dan melakukan hal-hal yang penting untuk memperbaiki situasi. Mereka memiliki rasionalitas namun tak digunakan untuk memahami situasi yang ada. Inilah salah satu alasan, mengapa bangsa kita mengalami krisis di berbagai dimensi, mulai dari korupsi, konflik sosial, sampai terorisme.

Di sisi lain orang-orang yang menggunakan rasionalitasnya secara tepat ternyata tidak mampu berkomunikasi secara baik. Akibatnya ia tidak dikenali, tidak dipercaya, dan sulit untuk memimpin secara baik. Rasionalitas, dalam bentuk kemampuan memahami situasi dan bertindak secara tepat, di dalam kepemimpinan perlu untuk disampaikan dengan “bahasa” yang tepat, sehingga bisa dipahami, dan kemudian menumbuhkan kepercayaan.

Juga di Indonesia banyak pemimpin di berbagai level kepemimpinan tidak memiliki nilai-nilai luhur di dalam pikiran maupun tindakannya. Mereka berpikir dan bertindak untuk memenuhi kepentingan sendiri, ataupun golongan (partai?). Mereka juga tidak punya cita-cita tinggi untuk kepentingan pihak-pihak yang dipimpinnya. Karena kepemimpinan yang ada kacau, maka seluruh jajaran birokrasi dan praktek sehari-hari pun juga kacau.

Banyak pimpinan berbicara teknis, bukan dari hati. Apa yang bukan dari hati, tidak pernah akan menyentuh hati lainnya. Tanpa komunikasi antar hati, kepercayaan tidak akan tumbuh. Tak heran banyak orang sudah merasa tidak peduli dengan pelbagai krisis yang terjadi di Indonesia. Mereka mengurung diri dalam kepentingan pribadi, dan berputar tanpa arah di dalamnya.

Dan yang terakhir yang cukup jelas terlihat, banyak pemimpin di Indonesia tidak peduli dengan pihak-pihak yang ia pimpin. Mereka sibuk memperkaya diri ataupun kelompoknya. Mereka melihat diri sebagai penguasa yang lebih tinggi, maka harus dilayani dan dipuja puji. Tak heran kebijakan maupun keputusan yang mencerminkan kerakusan serta kebodohan, dan amat miskin kepedulian yang manusiawi.

Pola komunikasi mereka mencerminkan kedangkalan berpikir dan kedangkalan refleksi. Rasa tidak peduli terlihat bukan hanya dari kata yang keluar, tetapi juga dari mimik muka yang tampil ke depan. Rasa peduli adalah seni yang hilang (the lost art) di dalam praktek kepemimpinan di Indonesia. Yang tinggal tersisa adalah arogansi dan kedangkalan semata.

Kepemimpinan memiliki “bahasa” yang khas. Yang pertama adalah bahasa rasionalitas yang dikomunikasikan dengan keyakinan penuh ke publik. Yang kedua adalah bahasa otentisitas yang dipenuhi dengan nilai-nilai kehidupan serta cita-cita yang tinggi untuk kebaikan bersama, yang kemudian juga dikomunikasikan dengan penuh keyakinan ke publik. Dan yang ketiga adalah bahasa empati yang berisi rasa peduli setulus hati dan manusiawi kepada setiap orang. Rasa peduli yang ditunjukan dalam kegiatan sehari-hari.

“Bahasa” kepemimpinan inilah yang kita perlukan di Indonesia. Rasionalitas, otentisitas, dan empati haruslah disampaikan secara ramah dan dengan penuh keyakinan ke komunitas terkait, supaya tumbuh rasa percaya kepada pimpinannya. Dengan begitu ia akan diingat sebagai seorang pemimpin sejati, sekaligus guru yang perlu menjadi acuan, walaupun waktu dan peristiwa mengikis ingatan…..

Tuesday, August 9, 2011

Putra Mahkota

Oleh Komaruddin Hidayat
(rektor UIN syahida jkt)

www.funkymonkeybedrooms.co.uk

Alkisah, hidup seorang raja kaya raya dan dicintai rakyat, tetapi sudah mulai uzur sehingga harus menyerahkan takhta kerajaan kepada calon putra mahkotanya. Namun, raja ragu. Benarkah putranya sudah siap menerima tugas berat dan mulia itu?

Untuk menepis keraguan itu, Sang Raja ingin menguji putranya apakah layak dipercaya untuk memikul beban yang begitu berat sebagai calon penggantinya. Maka dipanggillah dia, dinasihati dan diberi tahu bahwa takhta kerajaan ini akan segera dilimpahkan kepadanya. Namun, sebelum itu, Sang Raja menyuruh putranya bersemadi dan tinggal di hutan setahun.

Tiba hari yang ditetapkan, berangkatlah putra mahkota itu dengan bekal dan pengawal sekadarnya. Dalam bulan-bulan pertama dia bingung. Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh ayahnya dan apa yang mesti dilakukan di hutan?

Maka, selain bersemadi, dia juga mengamati berbagai ragam pohon dan hewan penghuni hutan sehingga mengenal beragam buah-buahan dan rasanya. Dia pun mengenal aneka hewan dan suaranya serta jenis makanannya.

Putra mahkota tadi menghitung hari dan bulan, kapan saatnya kembali ke kerajaan menghadap ayahnya lalu dinobatkan di depan rakyat sebagai raja. Singkat cerita, setelah genap setahun, putra mahkota pulang dengan gembira, membayangkan pesta pengangkatan sebagai raja muda yang akan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik serta pengawal yang selalu melayani dan menjaganya.

Setiba di kerajaan, setelah istirahat dan beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan istana, ayahnya memanggil dan bertanya, ”Coba ceritakan kepadaku pengalaman apa yang kau dapatkan setelah setahun bermeditasi dan tinggal di hutan.” Putra mahkota menjawab dan menjelaskan panjang lebar tentang beragam tumbuhan dengan aneka ragam bunga dan buahnya serta rasanya. Selain itu, aneka ragam hewan, dari warnanya, makanannya, hingga suaranya.

Setelah selesai menceritakan pengalamannya dengan semangat dan panjang lebar, ayahnya berkata, ”Engkau mesti pergi lagi setahun tinggal di hutan. Aku belum yakin engkau akan mampu menerima amanat sebagai raja menggantikan diriku. Minggu depan engkau mesti pergi lagi.”

Dengan hati gundah dan pikiran bingung, putra mahkota pergi lagi ke hutan. Dia berpikir keras, apa yang kurang dan apa yang dikehendaki ayahnya sehingga dirinya mesti kembali lagi hidup di hutan. Sesampai di hutan dia melakukan meditasi dan perenungan kemudian mengisi hari-harinya dengan menikmati udaranya yang sejuk dan bau harum bunga serta mendengarkan suara berbagai hewan.

Pada tahun kedua ini, dia lebih jeli. Semakin tajam mata, telinga, dan intuisinya mengamati serta membaca apa pun yang ada di sekitarnya. Sampai-sampai dia mampu memahami bahasa hewan dan tumbuhan-tumbuhan serta isyarat alam. Bahkan, ia sudah mampu membaca tanda-tanda kalau akan terjadi bencana alam. Merasa sudah menyatu dengan alam, putra mahkota tadi semakin betah dan tidak berpikir lagi hendak pulang ke istana. Sampai-sampai setelah setahun berlalu, karena putranya belum juga pulang, sang ayah mengirim utusan untuk menjemputnya.

Banyak topeng di istana

Setelah cukup istirahat, Sang Raja bertanya kepada anaknya yang diharapkan menjadi peng- gantinya mengenai pengalaman apa saja yang didapat setelah dua tahun tinggal di hutan. Maka, sang anak pun bercerita panjang lebar bahwa pada tahun kedua tersebut dia semakin betah di hutan karena merasa telah menyatu dengan semua penghuni hutan. Bahkan, dia sudah memahami semua bahasa hewan, tumbuh-tumbuhan, air, api, serta angin.

Wajah sang ayah pun menjadi ceria karena merasa berhasil mempersiapkan calon pengganti raja. ”Ketahuilah anakku,” kata sang ayah, ”menjadi pemimpin itu harus mampu mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Mampu melihat apa yang tidak terlihat. Mampu membaca apa yang tidak tertulis. Kalau kamu sudah mampu membaca dan mendengarkan suara serta perilaku alam, itu merupakan modal besar bagimu untuk menjadi pemimpin di negeri ini.”

”Ketahuilah anakku,” tutur sang ayah, ”dari zaman ke zaman antara istana dan rakyat itu selalu terdapat tembok yang membatasi sehingga, jika kamu tidak memiliki ketajaman hati, pikiran, dan intusisi, kamu tidak akan memahami apa yang tengah dirasakan dan dipikirkan rakyatmu. Kamu tidak akan paham apakah rakyatmu mencintaimu atau membencimu.”

”Ketahuilah anakku,” ujar sang ayah lagi, ”istana itu ibarat gudang madu dan segala makanan yang enak, yang mengundang semut, tikus, dan berbagai hewan akan mendekat untuk ikut menikmatinya. Ingat dan pegang teguh pesanku ketika suatu saat kamu telah duduk menggantikan posisiku.”

”Tidak semua yang ada di sekelilingmu adalah teman setiamu karena teman sejati baru akan ketahuan ketika kamu menangis, ketika kamu dalam bahaya, bukannya ketika kamu senang-senang berpesta ria. Orang-orang di sekelilingmu akan selalu memuji kamu sehingga kamu jarang mendengarkan kritik serta kata tidak di istana ini.”

”Asah terus ketajaman mata, telinga, pikiran, dan kebeningan hati yang telah engkau latih selama kamu tinggal di hutan belantara karena di istana akan kamu temui orang-orang yang bertopeng sehingga kamu harus mampu membaca hati dan pikiran yang tersembunyi di belakangnya.”

Mendengar nasihat sang ayah, putra mahkota baru menyadari betapa orangtuanya sangat bijak serta sangat mencintai negeri dan rakyatnya. Di balik pakaian kebesarannya sebagai raja, ayahnya ternyata memiliki hati yang sangat lembut, yang mudah tersayat ketika melihat dan mendengar rakyatnya menangis karena sakit atau lapar.

Rupanya ayahnya juga sering mengenakan topeng, pergi menyamar mendengarkan obrolan rakyatnya dari dekat karena apa yang dilihat dan didengarkan di istana sangat jauh berbeda daripada realitas di luarnya.

Semoga puasa Ramadhan ini akan mempertajam kembali pancaran hati nurani kita, terutama bagi siapa pun yang hendak atau tengah memegang jabatan sebagai pemimpin di negeri ini.

Pendidikan Reflektif untuk Indonesia


Tujuan tertinggi hidup manusia adalah mencapai kebijaksanaan. Di dalam kebijaksanaan orang juga bisa mendapatkan kebahagiaan. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya jalan mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah dengan belajar seumur hidup, tanpa kenal lelah. Orang perlu menjadi mahluk pembelajar, supaya ia bisa mencecap kebahagiaan dan kebijaksanaan di dalam hidupnya.

Namun belajar pun ada banyak macamnya. Yang seringkali kita temukan adalah pola belajar menghafal, lalu menuangkan semua yang ada ke dalam ujian yang ada. Banyak ahli pendidikan yang sudah mengritik habis pola ini, namun percuma, karena pola itu tetap berjalan. Pola belajar semacam ini tidak hanya sia-sia, tetapi justru memperbodoh, dan membuat peserta didik menjadi robot-robot yang miskin kreativitas.

Yang kita perlukan adalah pedagogi pendidikan reflektif. Pedagogi ini tepat berkebalikan dengan pola menghafal. Yang diutamakan bukanlah banyaknya informasi, tetapi sedalam apakah informasi yang telah ada dianalisis dan dimaknai untuk sampai pada nilai-nilai luhur kehidupan. Inilah jalan yang perlu ditempuh, supaya pendidikan bisa membawa peserta didik menuju pada kebijaksanaan.

Pengalaman

Langkah pertama di dalam pedagogi reflektif adalah memperoleh pengalaman. Pengalaman adalah bahan mentah untuk proses analisis dan refleksi kehidupan. Tanpa pengalaman orang tak punya bahan untuk dianalisis maupun direfleksikan. Tanpa pengalaman hidupnya akan steril, dan semakin jauh dari kebijaksanaan.

Pengalaman bisa dua macam, yakni pengalaman langsung dan tidak langsung. Pengalaman langsung lahir dari peristiwa yang dialami langsung. Sementara pengalaman tidak langsung lahir dari mendengar atau membaca kisah orang lain. Keduanya amat berharga sebagai bahan mentah untuk proses analisis dan refleksi atas kehidupan.

Pengalaman juga tidak harus pengalaman yang besar. Pengalaman sehari-hari seperti berjumpa dengan teman pun bisa menjadi bahan analisis maupun refleksi yang mendalam. Yang diperlukan adalah kepekaan hati di dalam melihat serta mengalami beragam peristiwa yang ada. Hanya dengan begitu orang memiliki cukup “bahan mentah” untuk menjadi bijaksana.

Penting juga dicatat bahwa banyaknya pengalaman sama sekali bukan jaminan, bahwa orang itu bijaksana. Pengalaman yang berlimpah ruah, namun tak disertai proses analisis dan refleksi yang mendalam, tidak akan pernah berbuah menjadi butir-butir yang mengarahkan orang untuk menjadi bijaksana. Ia akan menjadi old fool, atau bahkan busy fool. Sebaliknya orang yang sedikit pengalaman, namun rajin melakukan analisis dan refleksi yang mendalam, akan lebih dekat ke arah kebijaksanaan, walaupun usianya mungkin saja masih muda.

Analisis

Langkah kedua adalah melakukan analisis atas pengalaman yang ada. Di dalam analisis orang diminta untuk mengajukan pertanyaan yang amat penting, yakni “mengapa” pengalaman tersebut terjadi pada saya? Dan mengapa pengalaman itu bisa ada? Pertanyaan “mengapa” adalah pertanyaan penelitian yang paling menarik, penting, sekaligus sulit untuk dijawab.

Misalnya orang memiliki pengalaman berjalan di pemukiman kumuh di tengah kota. Pada level analisis ia bisa mengajukan pertanyaan berikut, “Mengapa pemukiman kumuh ini bisa ada di tengah-tengah kota?” Pada level analisis peserta didik diajak untuk berpikir secara ilmiah menanggapi beragam fenomena kehidupan yang ada. Ia juga diajak untuk melihat gambaran besar dari berbagai peristiwa yang dialaminya.

Pada level analisis untuk bisa menjawab pertanyaan “mengapa”, orang perlu membaca dan berdiskusi secukupnya. Ia perlu mendapat masukan, guna bisa menganalisis secara tajam apa yang dialaminya. Hasil dari analisis adalah kesadaran diri yang bisa menuntun orang untuk semakin bijak bersikap di dalam hidupnya. Ia bisa menempatkan diri dengan pas di tengah berbagai fenomena kehidupan yang mengelilinginya.

Refleksi

Langkah ketiga adalah langkah yang terpenting, yakni proses refleksi diri. Pada langkah analisis orang masih menggunakan kekuatan intelektual untuk memahami gejala yang dialami. Ia menjadi seorang ilmuwan yang hendak berusaha memahami alam, natural maupun sosial, yang memang penuh teka teki. Namun pada level refleksi, pertanyaan berubah dari “mengapa” menjadi “apa makna peristiwa ini bagi perkembangan pribadi saya sebagai manusia?”

Pertanyaan tentang makna mengajak orang untuk mendalami pengalaman hidupnya. Pengalaman tidak lagi tinggal menjadi pengalaman, tetapi berubah menjadi nilai-nilai hidup yang menggerakan dirinya untuk menjadi semakin bijaksana. Ia mengalami perubahan hati dan pikiran di dalam hidupnya. Ia menjadi manusia baru yang juga melihat dunia dengan cara yang baru.

Proses refleksi adalah jantung hati pendidikan. Di dalam proses refleksi, pengalaman dan informasi yang diperoleh diubah menjadi nilai-nilai kehidupan yang menggerakan hati, pikiran, dan tindakan. Di dalam proses refleksi, seluruh proses pendidikan berubah menjadi proses yang penuh inspirasi dan kebijaksanaan. Kepekaan hati bertambah, daya analisis meningkat tajam, dan proses pembuatan keputusan menjadi jauh lebih tercerahkan. Itulah buah-buah proses refleksi di dalam pendidikan.

Aksi/Kreasi

Refleksi akan mendorong orang untuk berubah dalam hidupnya. Ia akan memiliki perilaku baru yang sebelumnya tak ada. Proses refleksi yang amat dalam akan mengubah orang sampai ke hatinya. Ia akan menjadi manusia baru yang lebih bijaksana.

Refleksi akan mendorong aksi. Aksi bisa berupa macam-macam hal, mulai dari perubahan hati, sampai proses kreasi. Ia akan mencipta sesuatu sebagai ekspresi dari kedalaman refleksi diri. Hasil ciptaannya biasanya terkait dengan profesinya, atau kemampuan yang tertanam di dalam dirinya.

Seorang guru yang melakukan proses refleksi secara mendalam akan mengajar dengan penuh hati dan cinta. Ia akan mengembangkan metode mengajar yang paling pas untuk anak didiknya. Ia akan menjadi guru yang inspiratif sekaligus teladan bagi kehidupan anak didinya.

Seorang dokter yang melakukan proses refleksi yang mendalam akan membantu orang di dalam sakitnya dengan hati, perhatian, serta pengetahuannya. Ia akan melayani dengan cinta, dan menghindari diskriminasi di dalam prakteknya. Ia tidak akan memeras uang dari orang yang tengah menderita. Ia tidak hanya menyembuhkan tubuh yang luka, tetapi juga menyembuhkan hati yang merindukan harapan.

Refleksi akan mendorong lahirnya tindakan. Tindakan akan menciptakan pengalaman. Pengalaman itu kemudian dianalisis, direfleksikan, dan akan melahirkan tindakan mencipta yang baru. Tindakan mencipta akan melahirkan pengalaman, dan begitu seterusnya. Inilah proses belajar reflektif yang perlu diterapkan di Indonesia.

Untuk Indonesia

Mengapa pola pendidikan reflektif ini amat penting untuk Indonesia? Saya setidaknya melihat tiga alasan utama. Pertama, pola pendidikan reflektif adalah pendidikan yang sesungguhnya. Pola ini tidak hanya mengedepankan aspek intelektual-menghafal semata, tetapi juga menghidupi, serta mengolah apa yang dipelajari menjadi nilai-nilai hidup yang utama. Pola ini membuat para peserta didik mengalami perubahan berpikir secara mendasar di dalam hidupnya.

Dua, dengan pola pendidikan reflektif, peserta didik tidak hanya diajarkan untuk menjadi pelayan dunia bisnis dan industri, seperti yang sekarang ini banyak terjadi di berbagai institusi pendidikan di Indonesia, tetapi juga menjadi manusia dalam arti yang seutuhnya. Ia dididik untuk menjadi well rounded person, yakni pribadi yang memiliki karakter kuat di dalam hidupnya, dan terampil di dalam profesinya.

Semua ini terjadi karena proses pendidikan dilakukan dengan pola analisis dan refleksi yang terus menerus, sampai peserta didik mampu melangkah untuk semakin bijak dalam hidupnya. Peserta didik bukanlah “tukang” yang hanya bekerja tanpa kreativitas dan cinta. Ia menjadi manusia yang bekerja dengan penuh cinta, hasrat, serta kreativitas yang berkobar-kobar untuk mengembangkan diri dan komunitasnya.

Jika setiap orang di Indonesia menerapkan pola belajar reflektif ini di dalam hidupnya, dan setiap institusi pendidikan menerapkan pedagogi reflektif di dalam kegiatan belajar mengajarnya, maka bangsa Indonesia telah berada di jalan yang benar untuk menjadi bangsa yang maju secara ilmu, teknologi, ekonomi, dan besar secara moral maupun hati nurani. Jadi tunggu apa lagi?***

Saturday, August 6, 2011

SATU RAHASIA BESAR dibalik PUASA

Dalam keadaan normal tubuh kita mendapatkan energi dan nutrisi dari luar tubuh melalui makanan, minuman dan radiasi. Ketika kita puasa disiang hari, dimana tidak ada asupan makan, aktifitas dan gerak kita akan membakar energi hingga habis.

Pertama-tama energi akan diperoleh dari glucosa hasil makan (sahur), setelah habis, energi diperoleh dari glicogen dalam darah. Bila kandungan glicogen berkurang, otak menyatakan lapar lalu menyuruh kita makan. Bila kita sedang berpuasa otak akan otomatis menghidupkan PROGRAM AUTOLISIS.

Semua makhluk hidup di bumi dibekali dengan sistem (fithrah) autolisis yang khas:
- Pohon berpuasa dengan menggugurkan daun
- Rumput dan biji berpuasa dengan berhenti tumbuh (dorman)
- Beruang berpuasa selama musim dingin
- Buaya berpuasa (aestivasi) selama musim panas
- Ikan paus dan burung berpuasa ketika bermigrasi
- Ikan salmon, pinguin, berpuasa ketika musim kawin
- Kuda, kucing, berpuasa ketika terserang penyakit hingga sembuh

Ketika autolisis diaktifkan, maka ia segera beraksi. Autolisis akan mencari database rancangan dasar (fithrah) manusia. Secara keseluruhan ada sekitar 50 trilyun sel penyusun tubuh yang terdiri dari sekitar 200 jenis sel. Berbekal data detail setiap sel autolisis menjelajah seluruh tubuh.

Autolisis mengerti bagaimana seharusnya kondisi sehat dari setiap jenis sel, dibagian tubuh mana seharusnya sel itu berada, dan berapa banyak jumlah dari tiap jenis sel yang ideal bagi tubuh.

Ia akan menghampiri sel-sel liar yang tidak terdapat dalam daftar fithrah, mengubah asam amino dan gula. Bila sel-sel liar habis, ia akan mendatangi timbunan lemak dalam tubuh dan membakar (oksidasi lemak) menjadi keton.

Dengan demikian Autolisis akan menghilangkan sel-sel rusak, sel sel mati, BENJOLAN hingga TUMOR serta timbunan lemak yang sering menjadi sarang zat beracun (baca:penyakit).

Sel-sel liar dan lemak yang telah dihancurkan akan dibawa ke Hati. Saat kita puasa, hati tidak disibukkan oleh hasil serapan dari Usus. Oleh karena itu hati akan bekerja penuh menyaring RACUN-RACUN hasil AUTOLISIS. Selanjutnya RACUN akan dibuang keluar tubuh. Disinilah proses DETOKSIFIKASI (pengeluaran racun/penyakit) terjadi.

Ketika berpuasa darah juga akan dipenuhi energi dan nutrisi yang sehat dan berkualitas tinggi, sehingga penggantian sel mati, perbaikan sel rusak, dan pembentukan sel baru, terjadi dengan kualitas prima.. Tubuh kita segera memiliki sel- sel baru dengan kualitas fithrah, sehat dan berfungsi baik kembali.

Ketika kita berpuasa, energi yang dihemat dari sistem pencernaan, akan digunakan untuk aktifitas sistem kekebalan tubuh dan proses berpikir oleh otak. Oleh karena itu dengan puasa penyakit lebih mudah disembuhkan dan kita lebih mudah menerima pelajaran maupun saat berpikir.

Namun dibalik semua itu, rahasia kemampuan autolisis terletak pada NIAT. Autolisis hanya akan aktif bila kadar glicogen darah berkurang dan otak menyimpulkan kita lapar dan harus makan namun kita berniat tidak makan alias BERPUASA. Autolisis tidak akan terjadi ketika tidak niat berpuasa. Inilah salah satu RAHASIA besar berpuasa...

Secara sederhana autolisis adalah sistem automatisasi dalam tubuh yang memformat ulang kondisi tubuh ke kondisi ideal.

Jika kita perhatikan uraian diatas, maka amat mengena sekali sabda Rasulullah SAW : Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan puasa Romadhan dan aku telah mensunnahkan menegakkan shalatnya (terawih), maka barangsiapa berpuasa dan menegakkannya mengharapkan ridho Allah SWT maka keluar dari dosa-dosanya seperti hari ibunya melahirkannya. (HR. Imam Ahmad, Nasai , Ibnu Majh).

Mengapa Puasa Dibatasi Subuh sampai Maghrib?
Produksi Enzim oksidasi asam lemak dalam tubuh terbatas dan akan habis bila kita berpuasa 16 jam. Bila kita memaksakan diri berpuasa maka kadar asam lemak dalam darah meningkat sehingga menyebabkan otak kita membengkak, pusing bahkan bisa menyebabkan koma. Oleh karena itu makan sahurlah mendekati imsyak dan segeralah berbuka waktu masuk waktu maghrib. Jadi kurang lebih kita berpuasa 13 - 14 jam. Subhanallah, 1400 tahun lalu Rosulullah pernah mengajarkannya pada kita.

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.” (HR. Ahmad)

Sungguh..... Allah tidak butuh apa-apa dari makhluk, tetapi Allah memberi petunjuk pada Makhluk agar kehidupan makhluk penuh dengan NIKMAT.

Thursday, August 4, 2011

Apakah Institusi PENDIDIKAN adalah BUDAK dari Bisnis dan Industri?

Haruskah pendidikan tunduk pada dunia kerja? Haruskah pendidikan mengubah kurikulumnya sesuai dengan tuntutan bisnis dan industri semata? Itulah pertanyaan yang mesti kita jawab sekarang.

Sekolah dan perguruan tinggi berlomba mengubah kurikulum, supaya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Berbagai hal praktis yang harusnya bisa dipelajari sendiri juga dimasukan ke dalam kurikulum untuk menarik siswa. Dunia bisnis dan industri pun meminta sekolah dan perguruan tinggi untuk melakukan ini. Bahkan mereka bersedia melakukan investasi.

Sekilas kita melihat adanya penyempitan tujuan pendidikan hanya semata sebagai pemenuh lapangan kerja saja. Namun saya tidak melihat adanya penyempitan semacam itu di dalamnya. Sebaliknya yang justru terjadi adalah dunia kerja semakin membutuhkan manusia yang memiliki kualitas unggul, yang sesungguhnya amat sesuai dengan tujuan pendidikan yang ada. Maka yang perlu dilakukan bukanlah mengubah kurikulum menjadi semakin dangkal (semakin teknis dan praktis semata), tetapi justru meradikalkan kurikulum yang ada, supaya semakin setia dan dekat dengan tujuan pendidikan sejati yang telah ada.

Tujuan Pendidikan

Untuk merefleksikan masalah ini, saya rasa kita kembali harus ingat, apa tujuan dasar dari diselenggarakannya pendidikan. Untuk ini saya menyebutnya sebagai tiga P, yakni Pembebasan, Pendewasaan, dan Penyadaran.

P pertama adalah pembebasan, yakni usaha institusi pendidikan untuk melepaskan anak didik dari kebodohan dan kemiskinan. Anak jadi memahami pengetahuan dasar, dan tidak diperbodoh oleh lingkungan. Anak juga bisa mengatur dirinya sendiri, memiliki ketrampilan, sehingga bisa hidup dan bekerja secara maksimal, serta lepas dari jaring-jaring kemiskinan.

P yang kedua adalah pendewasaan, yakni usaha institusi pendidikan untuk membuat anak didik mampu berpikir rasional di dalam hidupnya, dan bertanggung jawab atas semua tindakannya. Berpikir rasional berarti anak didik untuk diajak melakukan analisis dari semua pengalaman maupun masalah yang dihadapinya. Bertanggung jawab berarti ia berani mengaku salah, bila ternyata ia berbuat salah dalam hidupnya.

P yang ketiga adalah penyadaran, yakni usaha untuk membawa anak didik sadar akan posisinya di dalam masyarakat, dan apa yang bisa sungguh diperbuatnya untuk menciptakan keadaan yang lebih baik bagi semua. Anak didik diminta untuk peka pada situasi sekitarnya. Ia diajak untuk bisa menempatkan diri secara tepat di dalam komunitasnya.

Inilah tiga P yang merupakan tujuan dari pendidikan. Yang kita perlukan adalah radikalisasi pendidikan untuk mewujudkan ketiga P tersebut. Yang harus kita hindari adalah pendangkalan kurikulum pendidikan menjadi teknis dan praktis semata. Hanya dengan begitu pendidikan bisa menyediakan tenaga kerja yang bermutu bagi industri dan bisnis, sekaligus mampu membentuk anak didik menjadi manusia yang seutuhnya.

Apa yang Dibutuhkan Dunia Kerja?

Dunia bisnis dan industri sekarang ini membutuhkan orang-orang yang berkualitas untuk mengembangkan sayapnya. Salah satu kualitas yang amat dibutuhkan adalah kemampuan untuk bekerja sama.

Dengan fokus pada tiga P, sebagaimana saya jelaskan sebelumnya, anak didik akan terbebaskan dari kebodohan, terampil bekerja, mampu bernalar secara baik di dalam menghadapi masalah-masalah yang ada, bertanggung jawab pada keputusan maupun tindakannya, serta peka pada komunitas tempat kerjanya. Ia pun bisa bekerja sama dengan baik dengan kolega maupun atasannya.

Sekali lagi; yang kita perlukan adalah radikalisasi kurikulum di dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang ada (pembebasan, pendewasaan, dan penyadaran), dan bukan pendangkalan kurikulum yang hanya mengajarkan hal-hal teknis dan praktis semata.

Kualitas kedua yang amat penting di dalam dunia kerja adalah kemampuan untuk menerima kritik. Ia perlu untuk mendengar masukan ataupun kritik tajam dari lingkungannya. Hanya dengan begitu ia bisa memperbaiki diri, dan menjadi manusia yang semakin baik di kesempatan berikutnya.

Pendidikan yang berfokus pada tiga P akan mengajak orang untuk terbuka menerima kritik. Ia terbebas dari kebodohan yang seringkali berbentuk arogansi dan sikap tertutup terhadap masukan. Ia akan belajar untuk mengaku salah, ketika ia memang bersalah dalam satu tindakan atau keputusan. Ia akan sadar bahwa ia hidup dalam kebersamaan, maka harus terus peka pada segala yang terjadi di dalam kebersamaan tersebut.

Kualitas ketiga yang amat penting di dalam dunia kerja adalah kemampuan untuk memotivasi diri dan orang lain. Dengan fokus mengembangkan tiga P di dalam pendidikan, anak didik akan menjadi pribadi yang sadar diri, sadar lingkungan, dewasa, dan cerdas, sehingga ia mampu memotivasi dirinya, ketika situasi sulit, dan memotivasi orang lain, ketika itu sedang amat diperlukan.

Kualitas keempat yang diperlukan di dalam dunia kerja adalah kemampuan untuk menciptakan relasi yang mendalam, baik dengan konsumen maupun dengan partner kerja. Ini juga hanya dicapai, jika pendidikan fokus mengembangkan tiga P yang dijabarkan sebelumnya. Relasi yang mendalam membutuhkan kepekaan yang bersifat amat lembut dan manusiawi, bukan ketrampilan teknis dan praktis semata.

Kualitas terakhir yang amat dibutuhkan di dalam dunia kerja adalah kemampuan untuk menelurkan serta menerapkan ide-ide baru yang segar dan bermakna. Ini semua hanya mungkin, jika anak didik tidak hanya diajarkan semata-mata hal teknis dan praktis, tetapi juga filosofis, yang memaksanya untuk berpikir luas, mendalam, kritis, dan dewasa. Maka sekali lagi saya tekankan, kurikulum pendidikan tidak pernah boleh diubah menjadi semakin teknis dan praktis, tetapi justru harus semakin radikal di dalam proses pembebasan, pendewasaan, dan penyadaran, sebagaimana saya jabarkan sebelumnya!

Kembali kepada pertanyaan yang tertulis sebagai judul tulisan ini, apakah pendidikan merupakan “budak” dunia kerja semata? Jawabannya jelas tidak karena keduanya jelas memiliki visi yang sama tentang manusia. Kedua bidang ini membutuhkan orang-orang yang berkualitas, yakni yang terampil dalam bekerja, dewasa di dalam tindakan maupun keputusan, serta peka pada posisi diri di dalam komunitasnya. Maka upaya berbagai institusi pendidikan untuk membuat kurikulum pendidikannya semakin praktis dan teknis adalah salah arah, dan malah merugikan kita semua.

Yang kita perlukan adalah kurikulum yang semakin radikal dalam upaya membebaskan anak didik dari kemiskinan serta kebodohan, mendewasakan di dalam berpikir (rasional) dan bertindak (bertanggung jawab), serta membuatnya sadar akan situasi diri maupun masyarakatnya. Namun pertama-tama para guru dan dosennya harus menghayati terlebih dahulu semangat ini. Karena seringkali masalahnya bukan di anak didik, tetapi di dalam diri para pendidik yang, mungkin saja, belum pantas disebut sebagai pendidik

Antagonis - Politik

Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...