Tuesday, December 27, 2011

Banalitas Realisme Politik

Politik adalah seni segala kemungkinan. Itulah adagium yang sangat populer di Indonesia. Bahkan bukan sekadar menjadi adagium, ”seni segala kemungkinan” itu telah menjelma sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan. Bukti-bukti konkret dapat ditampilkan. Permusuhan secara mendadak bisa berubah menjadi perkawanan. Kompetisi politik justru dapat menghasilkan koalisi untuk merengkuh kekuasaan. Tiada sahabat dan seteru abadi dalam domain politik semacam ini.

Kaum elite politik yang pernah bertikai pada masa silam seakan-akan dengan cepat menemukan kesepakatan damai. Semua itu bukan menandakan bahwa politik negeri ini mudah memberikan pengampunan. Seluruh rangkaian
perjumpaan politik yang diberi tajuk ”penjajakan berkoalisi” itu tak lebih dorongan untuk mendapatkan kekuasaan. Suara rakyat dalam pemilu diposisikan sebagai bahan bakar untuk menjalankan tawar-menawar. Suara rakyat bukan lagi suara Tuhan, melainkan suara rakyat disulap sebagai karpet merah untuk melempangkan jalan menuju kekuasaan.

Elite dari partai politik yang bisa meraih suara lebih besar bagaikan memiliki daya magnetis. Di sini kutub-kutub politik diformulasikan dan akan dibubarkan sesuai dengan kebutuhan untuk berkuasa, sebagaimana yang telah diagendakan. Tidak ada lagi ideologi yang menjadi rujukan untuk menciptakan ikatan politik. Ideologi politik bisa dibikin sesaat dan diubah-ubah untuk memenuhi kepentingan hasrat. Ideologi sebagai gagasan ideal yang hendak diperjuangkan secara konsisten hanya bernasib layaknya pakaian yang bisa dipertukarkan sesuai dengan kebutuhan pentas kekuasaan.

Bujuk rayu kekuasaan
Mengapa para elite politik begitu mudah terkena bujuk rayu kekuasaan? Dan, setelah mereka mendapatkan kekuasaan politik itu, mengapa mereka begitu enggan melepaskannya? Jawaban menarik diberikan Vaclav Havel ketika menerima Sonning Prize pada 28 Mei 1991 untuk kontribusinya bagi peradaban Eropa. Havel, sang sastrawan yang pernah menjadi Presiden Cekoslowakia (periode 1989-1993) dan Presiden Republik Ceko (periode 1993-2003), menyatakan, ada tiga dorongan yang menjadikan seseorang berkeinginan kuat menggapai kekuasaan politik.
Pertama, gagasan-gagasan lebih baik untuk mengorganisasikan masyarakat. Nilai- nilai dan ideal-ideal politik itu diperjuangkan ke dalam kenyataan sosial. Kedua, motivasi peneguhan diri. Kekuasaan memberikan peluang besar untuk membentuk dunia sebagaimana yang telah digambarkan dalam diri seseorang. Ketiga, menggapai berbagai keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan politik. Pada alasan inilah akan terlihat betapa kejamnya bujuk rayu kekuasaan.

Dirumuskan dalam bahasa yang lebih transparan, dorongan pertama bernama ideologi, dorongan kedua berupa cita-cita,dan dorongan ketiga adalah oportunisme. Dalam perpolitikan kita, apa yang disebut sebagai ideologi telah sirna karena ideologi tidak lebih berkedudukan sebagai label dagangan politik belaka. Mewujudkan cita-cita merupakan dorongan yang paling sering didengungkan, setidaknya fenomena ini tampak dalam sekian slogan kampanye dan iklan-iklan politik.
Namun, bukankah jargon dan iklan sekadar perkakas muslihat untuk meraih simpati massa? Jadi, dorongan ketiga, yakni oportunisme, merupakan hal yang paling sering dilakukan elite politik kita yang dibungkus dalam ideologi dan cita-cita.

Pada situasi itulah menarik menyimak apa yang dikatakan Havel bahwa ketiga dorongan kuat tersebut berjalinan. Selalu ada ambiguitas yang terdapat dalam kekuasaan politik. Pada satu sisi, kekuasaan memberikan peluang untuk meneguhkan diri, menyajikan identitas yang tidak mungkin disangkal, dan meninggalkan jejak yang begitu kasatmata.
Namun, pada sisi lain, kekuasaan juga menciptakan kebohongan yang berbahaya, yakni seakan- akan menegaskan eksistensi dan identitas kita, padahal kenyataannya justru merampok kita.


Perampok kekuasaan

Ketika hasrat berkuasa merampok ideologi dan cita-cita politik, peluang yang selalu terbuka adalah sebentuk oportunisme politik yang mendorong elite politik bertingkah sebagai perampok kekuasaan. Sosok perampok kekuasaan selalu berhitung dengan realitas yang mengitarinya, bukan dengan memuliakan idealitas yang menjadi keyakinannya. Bukan gejala yang janggal jika realpolitik membinasakan idealpolitik. Sebab, realpolitik merupakan rujukan bagi politik atau diplomasi yang secara primer didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan praktis ketimbang gagasan ideologis.
Realpolitik hanya berhitung pada kekuasaan yang ingin didapatkan sambil dengan aneka tipu daya mematikan idealitas,moralitas, dan prinsip-prinsip humanitas.

Realpolitik berkaitan erat dengan filsafat politik yang bernama realisme politik. Pada aliran filsafat politik ini, ungkap Alexander Moseley (2006), kekuasaan menjadi dan bahkan keharusan untuk dijadikan sebagai tujuan utama tindakan politik. Sadar atau tidak, filsafat realisme politik itu sangat kuat tertancap dalam diri kalangan elite politik negeri ini.
Memburu kekuasaan sesuai dengan kepentingan egoisme mereka telah demikian nyata terlihat, bahkan telah menjadi banalitas. Dan, setiap banalitas politik tidak hanya menyajikan kevulgaran tindakan meraih kekuasaan, tetapi juga kekasaran dalam mereduksi prinsip-prinsip etika politik.

Wednesday, December 21, 2011

Kekuasaan dan Kemunafikan

Dunia politik di Indonesia diwarnai kemunafikan. Para politisi mengumbar janji pada masa pemilu, guna mendapatkan suara dari rakyat. Namun setelah menduduki kursi kekuasaan, mereka lupa, dan menelantarkan rakyatnya. Tak hanya itu ketika menjabat, mereka melakukan korupsi atas uang rakyat, demi memperkaya diri mereka sendiri, atau menutup pengeluaran mereka, ketika pemilu. Seringkali uang hasil korupsi dibagi ke teman-teman dekat, bahkan ke institusi agama, untuk mencuci tangan. Jika sudah begitu mereka lalu mendapatkan dukungan moral dan politik dari teman-teman yang “kecipratan” uang, dan bahkan dukungan moral-religius dari institusi agama. Bukan rahasia lagi inilah pemandangan sehari-hari situasi politik di Indonesia. Kekuasaan diselubungi kemunafikan yang bermuara pada penghancuran kehidupan rakyat jelata.

Monday, December 19, 2011

Kaum Intelektual dan Kepemimpinan

Haruskah seorang pemimpin adalah seorang intelektual? Saya rasa tidak. Namun yang pasti walaupun seorang pemimpin bukanlah seorang intelektual murni, ia tetap harus memiliki kehidupan intelektual yang kaya. Artinya mereka harus mampu berpikir kritis, analitis, teknis, sekaligus reflektif, walaupun bukan seorang ilmuwan ataupun intelektual murni. Mereka harus cinta membaca, mendengar wacana ilmiah, dan berani mengajukan pendapat secara rasional dan seimbang di dalam menanggapi berbagai temuan ilmiah yang ada.

Sekarang ini banyak orang merasa tidak perlu berpikir teoritis. Bagi mereka teori dan praktek adalah dua hal yang berbeda. Yang penting adalah prakteknya bagaimana. Teori yang abstrak dan rumit tidak perlu untuk dipahami, karena hanya membuang waktu dan tenaga.

Namun bukankah masalah yang kita paham seringkali amat rumit, sehingga praktek yang tidak memperhatikan kerumitan tersebut justru akan memperparah masalah yang ada? Masalah yang sering kita alami dalam hidup sehari-hari tidak pernah terisolasi dari masalah-masalah lainnya yang lebih besar. Misalnya masalah kemalasan berpikir pekerja Indonesia terkait dengan sistem pendidikan dan sistem politik pemerintahan yang lebih besar. Di titik inilah kemampuan berpikir abstrak, teoritik, dan kompleks diperlukan.

Tanpa kemampuan berpikir abstrak, dan penguasaan teori-teori yang memadai, kita tidak akan dapat memahami akar dari masalah yang kita hadapi. Jika akar masalah tidak dipahami, maka tindakan yang kita lakukan (prakteknya) akan sia-sia, atau justru memperparah masalah. Saya tidak mau mengatakan, bahwa seorang pemimpin sekaligus adalah seorang ahli pendidikan, ekonomi, ataupun ahli politik. Namun seorang pemimpin harus mampu berdialog secara rasional dengan para ahli di bidang-bidang tersebut, supaya mampu memahami akar dari masalah yang ia hadapi, dan membuat keputusan yang tepat.

Dengan demikian kemampuan berkomunikasi dengan kaum intelektual adalah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam bahasa Gutting kaum intelektual adalah “konsumen yang cerdas dari pendapat-pendapat para ahli.” Mereka tidak asal terima pendapat para ahli, namun menelaahnya dulu secara kritis, dan disesuaikan dengan konteks masalah yang terjadi. Mereka tidak terpesona dengan gelar dan reputasi para ahli, namun sungguh bisa memahami pendapat mereka, serta menyesuaikannya dengan konteks masalah yang tengah dihadapi.

Friday, December 9, 2011

HIPERKONSUMERISME

"Apakah Anda bangga" bangsa ini menempati urutan atas pengguna jasa komunikasi maya? Sebagai pengguna Facebook terbesar kedua di dunia, terbesar ketiga untuk Twitter. Pengguna telepon seluler meningkat pesat dari tahun ke tahun. Lalu, sejumlah orang terinjak-injak ketika mengantre Blackberry yang dijual separuh harga di Pacific Place, Jakarta.

Saya sama sekali tidak bangga, bahkan prihatin. Kemajuan teknologi komunikasi telah sampai pada suatu "paradoks": dia memisahkan, bukan menghubungkan. Benar, dia menghubungkan seseorang dengan mereka yang jaraknya jauh dari lingkungan fisik-sosial. Hanya saja, sebaliknya pada saat bersamaan orang itu tercerabut dari ruang sosial di mana secara fisik kita semua hadir.

Bercampur dengan semangat hiperkonsumerisme, manusia-manusia yang telah kehilangan kesadaran atas ruang dan waktu (dalam bahasa lebih filosofis mikrokosmos-makrokosmos) mengalami apa yang diistilahkan Benjamin Barber sebagai civic schizophrenia alias "kegilaan warga".

Inikah yang dalam perbendaharaan lama disebut "zaman edan"? Pergeseran manusia dalam menghayati ruang dan waktu—yang secara eksistensial berarti bergesernya penghayatan atas makna hidup—terungkap dalam seluruh praktik kehidupan kita. Dari kehidupan pribadi sehari-hari di ruang privat sampai ke kehidupan sosial, termasuk di dalamnya dinamika politik.

Popularitas seorang pemimpin diukur lewat jajak pendapat menggunakan perangkat komunikasi masa kini yang disebut gadget. Di sana, politik menjadi bagian ”waktu luang” atau leisure dalam teori Thorstein Veblen atau free time dalam istilah Theodor Adorno.

"Politik waktu luang" adalah politik orang-orang iseng kelas menengah, kebanyakan waktu, kehilangan kontak dengan rakyat kecil yang banting tulang tak punya waktu luang. Realitas sosial tergantikan "realitas maya" dan terefleksikan dengan sempurna oleh televisi. Apa yang ada di televisi itulah realitas.

Kedermawanan presiden dan perhatiannya kepada rakyat kecil, misalnya, ditunjukkan lewat televisi dengan bagaimana ketika presiden mantu rakyat diperbolehkan ikut menikmati resepsi lewat layar lebar yang dipasang di lapangan. Perhatian presiden terhadap seni budaya ditunjukkan dengan presiden bergitar, menciptakan lagu.

Media massa kita, terutama media elektronik, menjadi penyokong utama dari apa yang kemudian diistilahkan para ahli sebagai "politik pencitraan". Mereka menciptakan "impresi instan", bukan pencatatan sistemis tentang kinerja.

Semua orang sadar betul mengenai hal itu sekarang. Maka, pidato di televisi, gaya rambut, model baju seragam, dan motif batik lebih penting daripada upaya sistemis menyelesaikan pekerjaan. Ini bukan hanya berlaku untuk kalangan politik. Pekerja perusahaan swasta juga dianggap sudah berprestasi jika bisa memberi impresi mengenai apa yang dikerjakan lewat presentasi dibantu program Power Point. Kinerja semu? Mungkin saja, soalnya ada buku yang topiknya lebih kurang: real CEO doesn’t use Power Point. Dia memilih memberi kacang ijo biar menu rakyat lebih bergizi.

Makna lebih jauh dari politik pencitraan adalah politik yang kehilangan kontak dengan realitas. Serupa dengan modus komunikasi zaman ini: orang terhubung dengan mereka yang jauh, tetapi terputus dengan ruang sosial secara fisik. Realitas fisik jadi kedodoran.

Untuk urusan pribadi, Anda silakan merefleksikan hubungan Anda sendiri dengan orang-orang terdekat. Menyebar wabah defisit atensi. Untuk lingkup sosial lebih luas, silakan lihat penelantaran kesejahteraan rakyat. Rakyat tambah miskin, murid-murid SD belajar di bangunan serupa kandang kambing, jembatan runtuh, dan seterusnya.

APA YANG NDA ABANGGAKAN?

Wednesday, November 30, 2011

Organisasi, Tujuan, dan Inspirasi di Baliknya

Setiap organisasi di dunia ini memiliki dua mimpi, yakni tetap ada, dan berkembang, baik segi kualitas maupun kuantitas. Untuk membuat dua mimpi tersebut menjadi nyata, banyak uang dikeluarkan, dan banyak usaha dilakukan. Namun sebagaimana dicatat oleh Baldoni, seringkali upaya tersebut, walaupun mulia, tidak fokus kena pada apa yang perlu dilakukan. Banyak organisasi lupa untuk menghayati satu hal yang amat penting, yang ada di dalam organisasi itu sendiri, yakni tujuan (purpose).

Tujuan yang demikian adalah dasar bagi visi organisasi. Tujuan juga merupakan pedoman nilai untuk melaksanakan misi praktis organisasi di dalam rutinitasnya. Tujuan organisasi pula yang menjadi dasar dari kultur organisasi tersebut. “Kultur organisasi lahir dari organisasi yang memiliki tujuan jelas, karena tujuan adalah sesuatu yang membentuk kepercayaan individual dan norma-norma organisasi.

Dengan tujuan yang jelas, dan dihayati, organisasi bisa melakukan hal-hal besar yang mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dengan tujuan yang jelas dan dihayati, organisasi bisa tetap ada, walaupun jaman berubah, dan terus berkembang, baik dalam soal kualitas maupun kuantitas. Dengan adanya tujuan yang jelas dan dihayati bersama, organisasi bisa mencapai kesuksesan yang diharapkan.

Terkait dengan para pekerja, sekarang ini, sikap patuh buta atau taat perintah sudah tidak terlalu dibutuhkan. Setiap organisasi membutuhkan pekerja yang merasa terlibat dengan tujuan maupun visi organisasi tersebut. Mereka datang ke tempat kerja dengan semangat, dan memiliki tujuan yang jelas. Ini semua terjadi karena mereka merasa dihargai sebagai manusia yang memiliki peran penting dalam mewujudkan tujuan organisasi.

Di dalam dunia yang terus berubah, hanya ada satu norma yang pasti, yakni ketidakpastian itu sendiri. Ketidakpastian dunia ini sebagai ambiguitas hidup. Banyak juga orang yang memandang ketidakpastian hidup ini sebagai sesuatu yang negatif, yang harus dilenyapkan. Namun sayangnya sikap takut pada ketidakpastian justru bermuara pada keputusan-keputusan yang didasarkan pada pikiran sempit, dan tindakan-tindakan yang reaksioner, yang justru malah merusak organisasi itu sendiri.

Pemimpin besar di dunia ini, baik pemimpin bisnis maupun politik, menjadikan ambiguitas hidup sebagai teman, bahkan sahabatnya. Dengan memeluk ambiguitas hidup, kita bisa melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terlihat sebelumnya, asal kita mau sabar dan cermat. Adanya tujuan organisasi yang jelas dan dihayati bersama juga membantu kita memeluk ketidakpastian, dan menangkap kemungkinan-kemungkinan yang muncul kemudian, yang pada akhirnya mengembangkan organisasi tersebut.

Sekarang ini banyak pula organisasi yang mengalami krisis kepemimpinan. Pimpinan hebat di masa lalu gagal melakukan regenerasi, sehingga ketika ia pergi, organisasi mengalami kesulitan. Padahal untuk bisa bertahan melalui lintasan waktu dan perubahan jaman, organisasi membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, yang berbasis pada nilai-nilai yang jelas.

Maka dari itu investasi perlu dilakukan, yakni dalam konteks pengembangan sumber daya manusia untuk menemukan calon-calon pemimpin di masa depan. Bahkan orang-orang muda di dalam organisasi perlu diajak bekerja sama secara langsung dengan para pemimpin yang ada, supaya terjalin hubungan yang lebih dalam, sehingga proses transfer nilai, dan refleksi atasnya, bisa terjadi secara nyata.

Langkah pertama seorang pemimpin adalah memahami dan menghayati tujuan dari organisasi yang dipimpinnya. Tujuan itu harus dibadankan, sehingga menjadi satu dengan cara berpikir dan gerak gerik dirinya. Dengan berpijak pada tujuan yang jelas, seorang pemimpin bisa mengajak pegawainya untuk terlibat, merasa berarti, dan bekerja sama untuk mencapai mimpi yang diharapkan. Dengan bekal semacam itu, ketidakpastian dan ambiguitas hidup bukanlah ancaman, melainkan justru kesempatan untuk berkembang.

Setiap pemimpin organisasi tidak hanya berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata, tetapi juga dengan perilaku rutin mereka. Perilaku yang terlibat membawa sejuta makna yang jauh lebih dalam daripada sekedar perintah kata-kata. Inilah kepemimpinan yang sejati, dan bukan sekedar bos, apalagi birokrat. Mereka terlibat di dalam semua dimensi kerja organisasinya. Dengan itu cinta mereka terhadap apa yang mereka kerjakan memancar keluar, dan menular ke komunitas sekitarnya.

Kesimpulanya adalah tujuan dari suatu organisasi harus dihayati sampai ke akar-akarnya, dan bukan hanya sekedar tempelan di ruang kerja, atau kata-kata indah dalam mars organisasi. Tujuan organisasi bisa menjadi roh yang mendorong lahirnya kreatifitas, keterlibatan, dan strategi yang efektif untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan. Di dalam semua proses tersebut, ada satu komponen yang kerap terlupakan, yakni kemampuan pemimpin untuk menginspirasi seluruh komunitas organisasinya.

Kita hidup di masyarakat yang amat suka mengukur kemampuan dan bakat orang. Tak heran banyak orang percaya begitu saja, sampai pada level naif, pada tes bakat, tes kepribadian, dan tes-tes lainnya. Namun sebagaimana dicatat oleh Kaufman, ada satu aspek yang amat penting, yang seringkali terlupakan dalam hidup kita, yakni inspirasi. Kemampuan orang untuk mendapatkan inspirasi, dan untuk menginspirasi orang lain, seringkali lolos dari berbagai tes-tes yang ada.

Apa itu inspirasi dan mengapa itu begitu penting? Inspirasi adalah dorongan dalam diri yang membangunkan kita pada kemungkinan-kemungkinan baru. Inspirasi adalah gejolak dalam diri yang mengajak kita untuk melampaui pengalaman rutinitas sehari-hari, dan melampaui batas-batas kita yang telah ada. Dengan inspirasi orang menjadi terlibat, dan memaksa dirinya untuk bekerja melampaui kemampuan diri sebelumnya.

Di dalam hidup sehari-hari, orang suka melupakan inspirasi. Itu masuk akal saja, karena memang inspirasi bukanlah barang rutin, melainkan barang luar biasa yang datang dan pergi tanpa diduga. Di beberapa tradisi pemikiran, inspirasi seringkali dikaitkan dengan wahyu supra natural yang berasal dari Tuhan, ataupun dewa dewi. Namun penelitian-penelitian terbaru, berhasil menunjukkan, bahwa inspirasi bisa dikondisikan untuk ada, dan dampaknya bisa amat luar biasa.

Menurutnya ada tiga aspek dasar dari inspirasi, yakni penyadaran, transendensi, dan motivasi. Inspirasi lahir dari proses penyadaran yang seringkali terjadi tanpa diduga. Proses tersebut mengangkat kita, walaupun sesaat, dari keterpakuan kita pada kepentingan maupun kekuasaan diri (transendensi diri). Pada titik itu kita memperoleh perspektif yang jernih tentang dunia, dan sadar atas adanya kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tak terlihat.

Ketika mendapatkan inspirasi orang seperti merasa “kerasukan”, yakni melihat dunia dengan cara lain, dan merasa mendapatkan visi besar tentang hidupnya yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan. Semua ini hanya dapat terjadi, jika ada motivasi yang cukup kuat dari individu untuk menciptakan, dan membuat mimpi terpendam menjadi kenyataan. Motivasi yang amat kuat akan melahirkan inspirasi yang tak terduga.

Dalam konteks ini inspirasi melibatkan dua hal, yakni orang yang terinspirasi oleh sesuatu, bisa mulai suara burung, hujan, dan sebagainya, lalu dia bertindak atas dasar inspirasi itu. Maka dari itu menurut Kaufman, orang-orang yang gampang terinspirasi biasanya memiliki ciri tertentu, yakni keterbukaan mereka pada pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya tak pernah dialami. Dari pengalaman baru mereka bisa menyerap hal-hal baru dengan mudah, dan mengintegrasikan itu semua ke dalam diri mereka.

Logikanya begini. Keterbukaan diri pada pengalaman-pengalaman baru adalah awal dari inspirasi. Dan dengan keterbukaan tersebut, orang justru bisa mendapatkan inspirasi dalam hidupnya. Artinya orang yang terbuka pada inspirasi hidup adalah orang-orang yang nantinya akan mendapatkan inspirasi tak terduga di dalam hidupnya. Maka keterbukaan diri adalah sesuatu yang amat penting.

Di sisi lain menurut Kaufman, orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki dorongan kuat untuk menguasai dengan baik apa yang menjadi profesi atau pekerjaan mereka. Walaupun begitu mereka tetap bukan individu-individu yang kompetitif. Mereka tidak membutuhkan panggung sebagai bukti, bahwa mereka lebih baik dari orang lain. Panggung semacam itu hanya diperlukan oleh orang-orang yang tak mampu melampaui egoisme dirinya.

Orang-orang yang inspiratif seringkali memiliki motivasi diri yang amat kuat untuk mengembangkan diri. Mereka tidak terlalu peduli pada dorongan eksternal. Dampaknya amat besar. Mereka bekerja bukan untuk alasan-alasan di luar pekerjaan itu sendiri, tetapi demi dan karena pekerjaan itu sendiri cocok dengan jiwa mereka. Orang-orang inspiratif adalah orang-orang yang berhasil mentransendensi egoisme dirinya sendiri.

Secara psikologis juga dapat dikatakan, bahwa orang-orang yang inspiratif memiliki karakter psikologis yang baik, seperti kepercayaan pada kemampuan diri mereka, serta optimisme yang tinggi dalam melihat hidup dan dunia. Orang-orang inspiratif memiliki gudang inspirasi mereka sendiri. Dengan inspirasi yang ada, mereka mampu menguasai dengan baik apa yang menjadi pekerjaan mereka, kreatif dalam menemukan hal-hal baru yang berguna, mampu menyerap hal-hal baru yang belum mereka ketahui, amat percaya diri, dan optimis di dalam hidupnya.

Namun sebagaimana diingatkan oleh Kaufman, inspirasi tidak sama dengan berpikir positif. Orang yang berpikir positif di dalam setiap keadaan bisa jatuh ke dalam kenaifan tersendiri, sehingga reaksi yang ia berikan tidak tepat dengan realitas yang terjadi. Sementara orang-orang yang inspiratif (karena terinspirasi oleh banyak hal) cenderung memasuki keadaan sementara yang penuh dengan makna dan spiritualitas, yang berada di luar kontrol mereka sendiri. Pikiran positif seringkali sifatnya jangka pendek dan disadari, sementara inspirasi terkait dengan semacam pengalaman mistik, yang penuh dengan harapan, bahwa ada hal yang lebih baik, lebih baru, dan lebih penting dari apa yang sudah ada sebelumnya.

Dengan inspirasi yang ada, orang bisa menjadi kreatif, yakni mencipta hal-hal baru. Dengan inspirasi yang ada, orang bisa melihat melampaui halangan-halangan yang ada, dan menemukan solusi yang pas untuk tantangan di depan mata. Konsekuensi logisnya orang-orang yang inspiratif, karena ia sendiri menemukan banyak inspirasi di sekitarnya, akan lebih mudah mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Ia akan merasa bahwa hidup yang dijalaninya bermakna, lepas dari berbagai tantangan yang ada.

Lepas dari semua teori yang ada tentang inspirasi, ada satu hal yang tetap harus dipegang teguh, bahwa inspirasi datang tak terduga. Inspirasi tak bisa dipaksakan. Kita hanya bisa berusaha dengan pikiran terbuka dan motivasi yang kuat. Namun semua itu belum pasti mendatangkan inspirasi. Kesadaran semacam ini membebaskan kita dari sikap memaksa diri yang berlebihan.

Namun sebaliknya juga benar, bahwa inspirasi tidak harus bersifat mistik, atau merupakan pancaran berkah ilahi. Inspirasi paling tepat dipikirkan sebagai “interaksi yang mengagetkan antara pengetahuan yang telah ada dan informasi baru yang kamu terima dari dunia.” Inspirasi adalah kombinasi ganjil antara apa yang sudah diketahui sebelumnya dengan informasi baru yang dialami. Dari kombinasi ganjil itulah lahir percikan-percikan ide tak terduga.

Kombinasi ganjil tersebut tetap dapat diusahakan, selama orang menerapkan keterbukaan pikiran, bersikap positif pada pelbagai peristiwa dunia, bekerja keras di dalam profesi terkait, dan termotivasi untuk melampaui batas-batas diri yang ada. Yang juga tak kalah penting adalah orang perlu untuk membaca, mempelajari, dan memahami kehidupan orang-orang yang inspiratif, seperti para pemimpin besar dunia, ataupun orang-orang besar lainnya yang telah mengubah dunia. Kehidupan mereka adalah gudang inspirasi yang amat berharga.

Dengan terus terbuka pada kemungkinan mendapatkan inspirasi, anda bisa menjadi pemimpin yang inspiratif. Itu digabungkan dengan kemampuan untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain sejalan dengan tujuan organisasi (i), kemampuan menyentuh setiap elemen organisasi secara personal dan manusiawi (ii), kemampuan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri (iii), serta keberanian untuk menantang pola berpikir lama yang mapan dan membuka diri untuk kreativitas (iv), orang akan menjadi pemimpin hebat yang mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk semua orang.

Sunday, November 27, 2011

"Pendidikan Karakter yang Kontekstual"

Pendidikan karakter bangsa kita sudah berjalan hampir satu abad yang lalu, namun hasilnya menggenaskan. Para pemimpin menunjukkan karakter tidak peduli dan tidak sensitif terhadap kehidupan masyarakat. Setiap orang yang memiliki kekuasaan berusaha membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri. Menghamburkan uang negara untuk diri sendiri tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat. Kehidupan bangsa saat ini berada pada titik nadir terendah. Di mana-mana terjadi kebobrokan moral, krisis dalam dunia politik, pengadilan, pendidikan, bahkan krisis di bidang pemerintahan dan kepemimpinan.

Penulis mempersoalkan apa yang kurang dari pendidikan karakter? Baru disadari akhir-akhir ini bahwa pendidikan karakter bangsa Indonesia kurang kontekstual, tidak menggali nilai-nilai budaya lokal yang baik dan unggul serta mengintegrasikannya dalam hidup sehari-hari.

Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah bukan hal yang baru dalam pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya menumbuhkan budi pekerti (character), pikiran (intellect), dan tubuh. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, supaya anak dapat tumbuh dengan sempurna. Jadi pendidikan karakter merupakan bagian penting yang tidak boleh dipisahkan dalam isi pendidikan di Indonesia. Mudji Sutrisno SJ menyetujui pendidikan karakter ini melalui jalur pendidikan, meski pendidikan merupakan reduksi dari “mencerdaskan kehidupan bangsa” (Seputar Indonesia, 9/XI/2011). Perlu diingat bahwa isi dari “mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah pendidikan kesadaran dan pendidikan kemartabatan. Dengan demikian, awal kebudayaan selalu menyatu dengan pendidikan sebab proses pendidikan adalah proses kebudayaan.

Pada tahun 1970-an, ada pelajaran budi pekerti, kemudian disusul dengan mata pelajaran agama dan PPKn yang semuanya memiliki tujuan yang sama ialah menumbuhkembangkan karakter. Betapa pentingnya mata pelajaran agama dan PPKn sampai-sampai nilai agama dan PPKn kurang dari 6, siswa tidak naik kelas. Hal ini menunjukkan bahwa mata pelajaran agama dan PPKn sebagai unsur penting untuk membentuk karakter siswa. Namun pendidikan karakter kurang mendapat perhatian dan penekanan dalam perjalanan sejarah pendidikan di negara kita. Lalu Kemdiknas (2009) mempunyai keinginan lagi untuk memberi penekanan karakter dalam pendidikan di Indonesia dewasa ini.

Negara-negara lain juga memberi perhatian pada pendidikan karakter. Negara Amerika Serikat membentuk task force yang bertugas untuk mencari pola pendidikan yang tepat di abad ke-21 pada awal 1990-an (Thomas Lickona, Educating for Character). Mereka menemukan seperangkat kompetensi yang sebagian besar skills-nya (21st Century Skills) merupakan aspek-aspek karakter. Cina membaharui pendidikan karakter yang merupakan reformasi pendidikan yang paling signifikan (Li Lanqing, Education for 1.3 Billion). Mereka menyadari bahwa pembaharuan pendidikan karakter harus dilakukan secara menyeluruh karena konsekuensi keterbukaan politik dan ekonomi yang dijalankan dan antisipasi perkembangan teknologi.

Apa itu pendidikan karakter? Menurut Helen G. Douglas, “karakter” tidak diwariskan melainkan sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, tindakan demi tindakan (Muchlas Samani dan Hariyanto, 2011, Konsep dan Model Pendidikan Karakter). Karakter sebagai identitas atau jati diri suatu bangsa merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antar manusia. Pelbagai karakter dapat dirumuskan secara universal sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar: kedamaian, menghargai, kerja sama, kebebasan, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, dan persatuan. Dengan demikian pendidikan karakter merupakan “upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya” (Sue Winton, 2010). Dewasa ini pendidikan karakter merupakan suatu upaya proaktif untuk membantu siswa mengembangkan inti pokok dari nilai-nilai etik dan nilai-nilai kinerja yang dilakukan baik oleh sekolah maupun pemerintah.

Menurut Doni Koesoema, ada tiga fokus pendidikan karakter dewasa ini (Kompas 19/VII/2010). Pertama, pendidikan karakter yang memusatkan diri pada pengajaran (teaching values). Siswa perlu mengetahui dan memahami isi nilai-nilai tertentu yang harus dipelajari serta sekumpulan kualitas keutamaan moral (kejujuran, keberanian, dan kemurahan hati). Dengan demikian fokus pendidikan karakter tipe pertama pada pengetahuan dan pengertian (intellectual).

Kedua, pendidikan karakter yang memusatkan diri pada klarifikasi nilai (value clarification). Siswa mesti memiliki proses penalaran moral dan pemilihan nilai. Dengan kata lain, fokus pendidikan karakter tipe kedua ini pada perilaku. Namun pendidikan karakter masih memprioritaskan pada pemahaman dan proses pembentukan serta pemilihan nilai.

Ketiga, pendidikan karakter yang memakai pendekatan pertumbuhan moral Kohlberg (character development). Siswa harus mengutamakan perilaku yang merefleksikan penerimaan nilai dan menekankan unsur motivasi, serta aspek-aspek kepribadian yang relatif stabil. Semua itu akan mengarahkan tindakan individu. Jadi, fokus pendidikan karakter tipe ketiga ini pada pertumbuhan motivasi internal dalam membentuk nilai yang selaras dengan tahap-tahap perkembangan moral individu.

Menggali Nilai-Nilai Unggul Budaya Lokal

Zainuddin Maliki memulai paparannya dengan menanyakan karakter apa yang dibutuhkan Indonesia ke depan dalam Seminar Nasional “Pendidikan Karakter: Menggali Nilai-Nilai Keunggulan Lokal untuk Membangun Karakter Bangsa melalui Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya pada tanggal 17 November 2011. Menurutnya, karakter yang dibutuhkan Indonesia adalah pemenuhan kebutuhan SDM yang berkepribadian holistik. Mengapa holistik? Karena Indonesia sedang mengalami kegagalan dalam pendidikan dan hasil manusia Indonesia yang memiliki 5D (Dorongan berprestasi lemah, Distrust, Disiplin rendah, Dorongan Instant dan Dekat dengan kekerasan). Solusi yang diajukan adalah memadukan budaya tradisi dan modern dalam proses terus menerus dan selalu berorientasi ke depan.

Sedangkan, Ayu Sutarto (2011) mengusulkan untuk memanfaatkan kearifan lokal yang dimiliki oleh pelbagai etnik di negara Indonesia. Yang dimaksud dengan kearifan lokal adalah “keunggulan lokal, yaitu berupa produk-produk kebudayaan lokal, baik yang bendawi (tangible) maupun yang nonbendawi (intangible) yang dapat dijadikan instrumen untuk menjawab berbagai atau dapat menjadi solusi dalam menghadapi prahara perubahan yang berdampak buruk kepada warga bangsa”.

Sutarto menguak pentingnya kearifan lokal bagi penguatan karakter dan pekerti bangsa. Ia juga memberi kiat bagaimana menanamkan kearifan lokal yang arif tersebut. Ia menandaskan bahwa kurikulum pendidikan kita harus kontekstual dan menggunakan metode cerita, bahkan cerita yang kreatif dalam penyampaiannya. Ia menjawab pertanyaan salah seorang peserta seminar nasional di Unesa dengan dongeng “kancil mencuri mentimun”. Pertanyaannya adalah mengapa penguasa-penguasa Indonesia yang nota bene telah mendapatkan pendidikan karakter, banyak yang mencuri? Karena mereka hanya mengingat “mencuri”-nya (tidak mengingat kancilnya) dan kurikulum pendidikan kita berbasis pada isi (tidak kontekstual).

Bangsa Indonesia memiliki banyak kearifan lokal. Kearifan lokal yang terkait dengan kebhinekaan dan kemajemukan misalnya ungkapan-ungkapan yang tertulis: “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”; “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Ada yang terkait dengan persatuan dan kesatuan misalnya ungkapan-ungkapan: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Contoh lain dari kearifan lokal yang terkait dengan etos belajar dan tidak boros terungkap dalam: “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Ada yang terkait dengan rasa senasib sepenanggungan: “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.

Pendidikan karakter dimulai dari kearifan lokal yang terkait dengan keadilan. Siswa-siswa sekolah mempunyai program live-in ke daerah-daerah supaya mereka tidak terlibas dengan arus pragmatisme di masyarakat kota. Dasar dari pendidikan kesadaran melalui program live-in ini adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang ramah terhadap pendidikan. Pendidikan kesadaran yang ditawarkan kepada siswa-siswa ini, penulis teringat akan konsientisasi-nya Paulo Freire (1921-1997). Penyadaran tersebut dibangun dalam realitas sosial dan budaya guru dan murid. Realitas ini akan memunculkan unsur-unsur tematik, isi, keputusan pedagogis (kurikulum dan pengajaran). Dengan demikian, penyadaran merupakan perpaduan teori dan praktek yang memberikan kekuatan bagi semua.

Kesimpulan

1. Pendidikan karakter dapat dipahami asal kita mampu memetakan persoalan serta berani bertindak untuk menjawab tantangan bagi pengembangan pendidikan karakter.

2. Menjadi tantangan bagi setiap pendidik dan pengambil keputusan untuk selalu terbuka pada perbaikan, termasuk memberi ruang bagi dialog, debat, diskusi, kritik yang terbuka, jika kita ingin mengembangkan pendidikan karakter yang berkesinambungan.

3. Filsafat pendidikan Indonesia rupanya harus diarahkan menuju pembangunan konsientisasi (penyadaran) besar-besaran mengenai manusia Indonesia yang berada dalam kemajemukan agama, ras, suku, daerah dan juga kepentingan. Pertanyaan yang bisa timbul adalah ke-Jawa-an menyumbang apa bagi ke Indonesiaan, ke-Bugis-an menyumbang apa bagi keIndonesiaan, dan seterusnya

Saturday, November 5, 2011

"Makna Qurban"

Qurban dalam bahasa Arab dari kata qa-ru-ba artinya dekat. Ibadah qurban yang didalamnya terdapat penyembelihan hewan qurban adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah qurban disebut juga “udlhiyah’” artinya penyembelihan binatang pada waktu pagi? Duha sebagai qurban/upaya mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Tentang penyariatan ibadah qurban ini ditetapkan berdasarkan Al-Qur-an maupun hadist. Al-Qur’an menyinggung soal Qurban di dalam surah Al-kautsar “ Maka dirikanlah shalat untuk Tuhamu dan menyembelihlah “. (Al- Kautsar:2)

KEUTAMAAN QURBAN
Perintah melaksanakan ibadah Qurban mempunyai beberapa keutamaan.
Pertama, pengampunan dari Alloh. Rasululloh SAW telah bersabda kepada anaknya Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan Qurban.
“Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah : Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Alloh SWT, Rabb semesta alam semesta. (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi)
Kedua, adalah keridhaan Alloh. Alloh SWT berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Alloh, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. Al Hajj : 37)
Ketiga, ibadah qurban merupakan amalan yang paling dicintai Alloh pada hari Raya Idul Adha. “Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Alloh dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan qurban”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim)
Keempat, hewan qurban sebagai saksi di hari kiamat. “Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban telah terletak disuatu tempat disisi Alloh sebelum mengalir ditanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim)
Kelima, mendapatkan pahala yang besar. Pahala yang amat besar, yakni diumpamakan seperti banyaknya bulu dari binatang yang disembelih, ini merupakan penggambaran saja tentang betapa besarnya pahala itu, hal ini dinyatakan oleh Rasululloh SAW. “Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

HUKUM QURBAN
Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan fuqaha(ahli fiqih) menyatakan bahwa hukum qurban adalah sunnah muakkadah bagi mereka yang mampu.
Ukuran kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan qurban, khususnya di hari raya ieduk Adha dan tiga hari tasyriq maka berarti ia mampu.


KAPAN MENJADI WAJIB?
Meskipun hukum asalnya sunnah mu’akkadah, namun qurban bias menjadi wajib dalam keadaan dua hal ;
1.Jika telah bernadzar untuk melakukan korban, sebagaimana hadits; “ Seseorang yang bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Alloh, hendaklah ia melakukan ketaatan itu, dan jika ia bernadzar untuk bermaksiat maka janganlah melakukan maksiat” (HR Al-Bukhari)
2.Jika telah berniat untuk melakukan korban. Menurut Imam Malik, seseorang yang membeli binatang dengan mengatakan, ini untuk korban. Menurut Imam Malik, seseorang yang membeli binatang dengan mengatakan, ini untuk korban maka ia berkewajiban untuk melaksanakan niatnya.


BINATANG QURBAN
Binatang yang dibolehkan untuk menjadi qurban adalah unta, sapi dan kambing atau domba. Tidak boleh berkorban dengan selain ketiga macam binatang tersebut.
Adapun pelaksanaan korban, binatang tersebut ditentukan; “Dari jabir, berkata: rasululloh SAW bersabda : Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, akan tetapi kalian merasa berat hendaklah menyembelih kambing Al-Jadza’ah (HR. Muslim dan Abu Daud).
Yang dimaksud dengan Musinnah yaitu jenis unta, sapi dan kambing atau domba. Umur kambing adalah ketika sudah sempurna usia setahun dan memasuki tahun kedua, untuk sapi telah sempurna usia dua tahun dan masuk tahun ketiga, sedangkan unta telah sempurna usia lima tahun dan telah menginjak tahun keenam. Menurut Ibnu at-Tin, yang dinamakan musinnah adalah ketika sudah berganti gigi. Sedangkan jadza’ah yaitu kambing atau domba yang berumur setahun pas menurut pendapat jumhur ulama. Tetapi ada yang berpendapat, kambing usia 6 bulan sudah masuk jadza’ah.

Hewan yang Dilarang Dijadikan Qurban
Ada beberapa cacat pada binatang yang menyebabkan ia tidak boleh dijadikan binatang korban. Larangan itu telah dijelaskan oleh Rasululloh SAW. “Ada empat hal yang tidak boleh dalam berkorban, 1) buta sebelah mata, yang tampak jelas kebutaannya 2) sakit yang jelas sakitnya. 3) pincang yang nyata-nyata pincangnya, dan 4) kurus tidak berlemak” (HR. Abu Dawud)
Selain keempat tersebut Rasululloh SAW juga melarang berkorban dengan binatang yang tanduknya pecah, atau telinganya hilang sebagian. Dari Ali, ia berkata. “Rasululloh SAW melarang berkorban dengan binatang yang pecah tanduknya dan telinganya (at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)


WAKTU PENYEMBELIHAN
Permulaan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban adalah setelah selesai shalat Ied Adha. Hal ini didasarkan kepada hadits; “Dari Barra bin Azib ra, ia berkata : aku mendengar Rasululloh SAW berkhutbah, beliau bersabda: Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami” (HR al-Bukhari)
“Dan barang siapa yang telah menyembelih (sebelum shalat), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban, pada hari kedua dan ketiga setelah hari Ied. Dan batas akhir penyembelihan adalah hari tasyriq yang terkahir, sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Jubair bin Muth’im bahwasanya beliau SAW bersabda: “ Setiap hari tasyriq ada sembelihan.” (HR. Ahmad)


TEMPAT MENYEMBELIH
Dalam rangka menampakkan syiar Islam dan kaum muslimin, disunnahkan menyembelih di lapangan tempat shalat Ied, sebagaimana hadits dari Ibnu Umar,”bahwa Nabi SAW: menyembelih di tempat shalat Ied.” (HR. Bukhari)


CARA MENYEMBELIH
Dalam menyembelih binatang diharuskan untuk menimalisir rasa sakit. Diantara cara yang bisa meminimalisasi rasa sakit adalah dengan pisau tajam. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits : “Sesungguhnya Alloh telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan semeblihannya. (Riwayat Muslim)


Sebelum menyembelih mengucapkan “bismillah wallahu akbar, haadzaa minka wailaika” membaringkan sembelihan pada sisi kirinya karena yang demikian mudah bagi si penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya, dan menahan lehernya dengan tangan kiri. “ Dari Anas bin Malik, dia berkata:Bahwasanya Nabi SAW menyembelih dua ekor dombanya yang bagus dan bertanduk. Anas berkata, aku melihat beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri dan aku melihat beliau meletakkan kakinya di samping lehernya dan mengucapkan basmallah dan takbir.” (HR. Muslim)
Selain membaca basmallah dan takbir, juga membaca do’a, allahuma hadza ‘an fulan (nama yang berkorban). Tetapi khusus untuk Rasululloh SAW, ketika menyembelih menyertakan seluruh ummat beliau, seperti disebutkan di dalam riwayat berikut : “ Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “ Aku mengikuti Rasulullah SAW shalat Idul Adha di tanah lapang, setelah selesai berkhutbah beliau turun dari mimbarnya dan mendatangi dombanya, lalu Rasulullah SAW menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri seraya berkata “Bismillah Wallahu Akbar, ini (kurban) dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih.” (HR. Abu Dawud)
Berdasarkan hadits di atas pula orang yang berkorban disunnahkan untuk memotong hewan kurbannya. Tetapi kalau tidak bisa menyembelih sendiri boleh diwakilkan kepada orang lain. Meskipun demikian disunnahkan baginya untuk menyaksikan penyembelihannya dan membaca, inna shalati wa nusuki…


MEMBAGIKAN DAGING KURBAN
Bagi yang berkurban disunnahkan makan daging qurbannya, menghadiahkan karib kerabatnya, bershadaqah pada fakir miskin, dan menyimpan sebagian dari dagingnya. Daging sembelihan, kulitnya, rambutnya dan yang bermanfaat dari kurban tersebut tidak boleh diperjualbelikan menurut pendapat jumhur ulama, dan seorang tukang sembelih tidak boleh mendapatkan daging kurban. Tetapi yang dia dapatkan hanyalah upah dari yang berkurban : “ Dari Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata : Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk menyembelih hewan kurbannya dan membagi-bagi dagingnya, kulitnya, dan alat-alat untuk melindungi tubuhnya, dan tidak member tukang potong sedikitpun dari kurban tersebut. Tetapi kami memberinya dari harta kami” (HR. Bukhari Muslim).
Membagikan kepada non-Muslim
Imam Al-Hasan Al-Basri,Al-Imam Abu Hanifah dan Abu Tsaur berpendapat bahwa boleh daging kurban itu diberikan kepada fakir miskin dari kalangan non muslim. Sedangkan Al-Imam Malik berpendapat sebaliknya, beliau memakruhkannya. Al-Laits mengatakan bila daging itu dimasak dulu kemudian orang kafir zimmi diajak makan, maka hukumnya boleh. Sementara Al-Imam An-Nawawi mengatakan bahwa umumnya ulama membedakan antara hokum qurban sunnah dengan qurban wajib. Bila daging itu berasal dari qurban sunnah, maka boleh diberikan kepada non muslim. Sedangkan bila dari qurban yang hukumnya wajib, hukumnya tidak boleh.

Saturday, October 29, 2011

SISTEM PARASIT

Sistem parasit dlm demokrasi

Parasit hanya dapat hidup dengan ”menumpang” pada sebuah tempat hidup (host): pohon, tubuh, alam, partai, masyarakat, sistem, atau institusi. Ia ”penumpang gelap” yang tak hanya merusak tempat menumpang, tetapi juga segala yang hidup di dalamnya. Ia sang ”perusak sistem”, tak hanya merusak tempat, tetapi totalitas ekosistem yang membangunnya.

Tak ada sistem yang bebas parasit: sistem alam, sistem politik, sistem hukum, sistem pendidikan, sistem ekonomi, atau sistem demokrasi. Manusia parasit bagi alam, lingkungan, permukiman, masyarakat, institusi: politisi parasit partai, pegawai parasit lembaga, jaksa parasit kejaksaan, hakim parasit kehakiman. Manusia juga parasit bagi sesama dalam kelompok, ”jeruk makan jeruk”: politisi parasit politisi, jaksa parasit jaksa, hakim parasit hakim.

Bahkan, parasit politik dapat berlapis-lapis, tumpang tindih, atau timbal balik sehingga menciptakan ironi politik: korban parasit mengisap parasit, korban korupsi mengorup koruptor, tertuduh menuduh penuduh, polisi menangkap peniup peluit tetapi membebaskan pelaku sesungguhnya, menciptakan ruang gelap batas-batas: pelaku/korban, penuduh/tertuduh, koruptor/saksi, aparat/penjahat.

Zoon politicon tak hanya ”serigala bagi sesama” (Hobbes), tetapi juga ”parasit bagi sesama”. Inilah perbedaan antara manusia politik ”pemangsa” (predator) dan ”pengisap” (parasit). Manusia pemangsa sesama, yang kuat memangsa yang lemah, seperti dalam sistem totalitarianisme. Manusia jadi pengisap sesama, saling menggerogoti kekuasaan, karakter, atau citra.

Pembunuhan karakter adalah bentuk khusus parasitisisme, di mana seseorang membangun karakter diri (bersih, jujur, dan nasionalis) dengan menumpang hidup pada karakter orang lain sambil menggerogotinya dari dalam. Dengan menunggangi pencitraan orang lain sebagai politisi busuk, pembohong, dan kriminal, ia hendak membangun citra diri sebagai politisi bersih, jujur, dan baik. Sepak terjang parasit dalam sistem politik tak hanya individu, tetapi juga berkelompok dan berjejaring. Selain individu parasit, ada juga kelompok parasit. Pertama, ”komunitas parasit”, parasit berbentuk organisasi (partai parasit, ormas parasit, orpol parasit). Kedua, ”jejaring parasit”, yaitu jejaring parasit yang dibangun oleh (oknum) elite partai, parlemen, dan lembaga hukum.

Friday, October 14, 2011

"Doktrin malu"



Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), malu adalah merasa sangat tidak senang, rendah, hina, dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat, atau tidak disetujui oleh umumnya manusia. Istilah ini mengilhami banyak karya fiksi ataupun nonfiksi, seperti film nonfiksi garapan seorang penulis sekaligus sutradara kawakan, April Rouveyrol, berjudul Shy (2008), yang mengisahkan betapa rasa malu menjadi mahkota manusia yang sangat agung.

Timothy Bottoms, salah satu tokoh dalam film itu, rela melemparkan jabatan penting, mengasingkan diri dan hijrah ke sebuah kota kumuh di Amerika, bahkan ingin menjadi seorang petugas satpam lagi dengan penghasilan rendah hanya karena dirinya tak lagi memperoleh senyum dukungan dari para bawahannya, tak ada lagi dukungan politik dari masyarakat sekitarnya.

Begitu pun di alam nyata, manusia selalu menunjukkan rasa malunya untuk membuktikan kekuatan integritas atau kualitas kemanusiaannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Roh Moo-hyun, mantan Presiden Korea Selatan, yang terpaksa bunuh diri dengan cara terjun dari sebuah batu karang setinggi 20-30 meter di pegunungan bagian selatan Semenanjung Korea tahun 2009. Hal itu terjadi hanya karena ia harus menanggung malu akibat keterlibatannya dalam kasus korupsi.

Pertengahan 2010, Yukio Hatoyama berikrar mundur dari tampuk singgasana Perdana Menteri Jepang. Setali tiga uang dengan Roh Moo-hyun, keputusannya dilandasi rasa malu karena gagal dalam memenuhi janji kampanye memindahkan pangkalan Marinir AS di lepas pantai selatan Pulau Okinawa.

Apa yang dilakukan oleh dua tokoh di atas—walau ekstrem dan radikal—sebenarnya tidak lain sebuah pembuktian bahwa mereka adalah bagian dari habitat manusia, habitat yang punya rasa malu. Secara langsung, saat yang bersamaan mereka juga menunjukkan eksistensinya sebagai manusia, makhluk yang berbudaya.

Filosofi "Lalat"

Belajar Berpikir Kritis

Bagi banyak orang, lalat adalah hewan yang menjijikan. Lalat terbang ke sana- kemari, ia hinggap di tempat sampah, di kotoran hewan, bahkan mungkin di makanan kita. Dengan keadaan seperti ini, lalat membawa banyak kuman di tubuhnya dan menjadi penyebar penyakit, sehingga banyak orang berusaha menjauhkan makanan dan minuman mereka dari lalat, agar tidak terkena penyakit seperti diare dan sebagainya. Maka, predikat hewan yang menjijikkan sangat tepat ditujukan kepada lalat.

Akan tetapi, jika kita bisa melihat secara detail bagian-bagian tubuh lalat, kita akan menemukan satu bagian lalat yang sungguh menjadi inspirasi bagi kita untuk belajar kritis. Bagian itu adalah mata lalat. Mengapa mata lalat bisa menjadi inspirasi belajar kritis? Mata lalat yang majemuk dapat memberikan inspirasi pada pikiran kita untuk berefleksi tentang sudut pandang dan cara berpikir para filsuf, yakni para pecinta kebjaksanaan. Sebab, mata majemuk lalat melihat suatu ‘hal’ dari beberapa pembagian mata majemuknya, sehingga lalat bisa menangkap obyek yang dilihatnya dengan jelas. Begitu pula belajar sikap kritis, ibarat mata lalat, pikiran kita diajak untuk mengenali sudut pandang para filsuf satu per satu dalam memahami dunia.

Hal ini bukanlah suatu hal yang biasa dan sia-sia, namun melatih pikiran kita untuk bisa ‘bergerak’ dalam berbagai sudut pandang, sehingga kita juga terbiasa melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang seperti mata majemuk lalat. Selain itu, belajar berpikir kritis menguntungkan kita dalam mengambil keputusan yang paling baik. Mengapa? Karena dengan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, kita dapat memahami masalah dengan lebih jelas, sehingga kita pun dapat mengambil solusi yang paling baik. Baik di sini dalam arti tepat dan adil untuk semua subjek yang terkait dengan masalah tersebut.

Penerapan

Dalam berbagai sudut pandang, ide yang tidak diwujudkan ibarat harimau ompong, yang hanya bisa mengaum tanpa bisa menggigit sasarannya. Begitu juga ide tentang mata majemuk lalat yang tertera di atas tidak akan bisa memberikan bukti perubahan yang nyata dalam kehidupan kita, jika tidak dituangkan dalam hidup kita sehari-hari. Maka, kita harus menarik kaki Sang ide, agar ide tersebut bisa membumi dan merubah kehidupan yang kita alami saat ini. Sebagai contoh, kemajemukan sudut pandang kita dapat digunakan untuk melihat masalah-masalah politik yang terjadi di negara kita, serta posisi dan tindakan apakah yang paling baik yang akan kita ambil, agar Indonesia semakin membaik kondisinya. Tentunya, kita sebagai masyarakat Indonesia juga mempunyai peran dalam membangun bangsa dan Negara.

Tantangan bagi kita adalah bagaimana kita dengan sikap kritis tersebut, kita bisa membawa perubahan yang radikal dalam hidup kita. Dengan modal latihan kemajemukan sudut pandang para Pecinta Kebijaksanaan, kita bisa memberikan kontribusi dalam membangun negara. Sehingga, bukan hanya sebagai komentator dalam pertandingan politik antara klub-klub partai politik, tetapi berpartisipasi dalam pertandingan sebagai pelatih yang memberikan instruksi kepada para pemain politik, agar bermain dengan baik, jujur dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat.

Kemajemukan sudut pandang dapat melatih sikap kritis kita terhadap segala sesuatu. Dan dengan sikap kritis, kita dapat ambil bagian dalam membangun Negara, agar lebih baik serta mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Saturday, October 1, 2011

GURU di NEGERI BOHONG


Keteladanan adalah metode efektif dalam pendidikan karakter. Keteladanan menjadikan dinamika pendidikan membumi, konkret, dan kontekstual.

Bagaimanakah jadinya pendidikan jika harus dijalankan di negeri yang penuh kebohongan?

Pendidikan seharusnya membangun rasa bangga dan cinta peserta didik kepada negerinya. Ini hanya bisa berlangsung bila kualitas para pengelola negeri unggul dan berkarakter. Mereka layak diteladani karena menjadi pribadi yang merdeka dari kepentingan pribadi dan kelompok. Keadilan dan kesejahteraan hidup segenap rakyat adalah satu-satunya yang diperjuangkan.

Sayang, di negeri ini keteladanan semacam itu hampir raib. Krisis keteladanan menyergap seluruh sisi kehidupan. Keutamaan moral dilibas alasan ”sudah sesuai aturan”. Anak-anak kita hidup dalam ruang nihil kepekaan moral. Realitas akal-akalan dengan permainan aturan yang culas demi membenarkan diri adalah atmosfer yang mereka hirup. Rasa malu membebal. Kata Indra Tranggono, ”Tahu hukumannya ringan, kenapa kita tak jadi koruptor, ya (Kompas, 12/9)?”

Di negeri ini terhampar ragam realitas tumpul moral yang sulit diterangkan kepada para murid. Alasan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia saat memberikan remisi kepada para koruptor memusingkan guru yang harus menerangkan kepada para murid. Memang semua telah mengikuti aturan yang berlaku. Namun, terkait rasa keadilan dan kewajaran, para guru sulit menjelaskan dan meyakinkan para murid bahwa hukum adalah keniscayaan terjaminnya keadilan serta kemakmuran bagi segenap rakyat.

Pada realitas semacam itu, para murid justru belajar tentang perpaduan hukum dengan kuasa uang, yang justru menjadi cara efektif untuk menyelamatkan diri. Bagaimanakah guru harus menjelaskan secara nalar bahwa faktanya ada uang negara yang hilang pada kasus Century, tetapi tidak ada yang berkewajiban untuk bertanggung jawab serta mengembalikan uang itu secara utuh kepada rakyat?

Bagaimanakah guru harus menjelaskan dengan nalar sederhana murid bahwa faktanya ada pemalsuan surat yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi, tetapi pelakunya tidak ditemukan? Bagaimanakah guru harus menjelaskan kepada para murid ketika politisi mengatakan bahwa Nazaruddin kehilangan berat badan belasan kilogram tetapi penampilan fisiknya tak berbeda sebelum dan sesudah pelariannya?

Raibnya keteladanan tokoh publik, maraknya kebohongan, dan peristiwa ketidakadilan tak bertuan telah menenggelamkan anak-anak kita pada kubangan pembodohan dan pembebalan moral. Realitas keseharian yang mestinya menjadi objek pembelajaran akhirnya hanya menjadi realitas penuh dusta. Pembelajaran pun hanya dalam buaian mimpi, penuh kepura-puraan dan kepalsuan.

Gaung pengajaran tentang prinsip keadilan, nilai-nilai kehidupan, ajaran moral, hingga ragam aturan keagamaan segera senyap ketika tak terpetakan dalam hidup keseharian. Guru sering harus puas dengan jerih payahnya yang hanya menyentuh dimensi rasional. Realitas negeri yang penuh kebohongan telah menghancurkan prinsip pendidikan tentang rasionalitas yang seharusnya dapat dipertanggungjawabkan. Dampak tragisnya adalah lahirnya generasi pandai tetapi bebal moral.

Secercah harapan

Negeri kita sedang dalam keadaan tidak baik untuk membangun habitus berkarakter. Maraknya tingkah akal-akalan dengan aturan (hukum) dan kepura-puraan dalam jiwa tebar pesona—mulai rakyat biasa hingga pejabat—hanya melahirkan pribadi yang culas, semu, dan misterius. Karena itu, pendidik sebaiknya tak gegabah menjadikan pejabat publik yang hari-hari ini jejaknya dikenal baik sebagai model anak bangsa yang unggul kepada para murid. Hanya setelah ajal menjemput, mereka bisa dipertimbangkan untuk menjadi suatu model.

Namun, bangsa ini harus terus melahirkan pribadi yang unggul. Api yang membakar daya hidup untuk menjadi manusia berkarakter unggul dan nasionalis tak boleh padam oleh rusaknya kehidupan pada zaman edan ini.

Masih ada celah sempit yang bisa ditekuni. Pendidik perlu mengajak para murid menjadi tuan atas diri dan hidupnya sendiri. Para murid dimotivasi untuk pertama-tama meraih kemenangan pribadi (Stephen Covey, 1993).

Konkretnya, semua cara bekerja, pikiran, dan perasaan mesti diorientasikan demi martabat dan pemuliaan diri serta kehidupan yang mengakar pada nilai-nilai universal, bukan belajar dalam keterpesonaan pada tampilan para tokoh.

Apa boleh buat, tokoh-tokoh di negeri tuna-adab moral ini tak peduli kalau tingkah mereka menghancurkan karakter bangsa. Rasanya akan tetap bijak bila pendidik tak membohongi para murid dengan mengajarkan kepalsuan. Gairah mencintai negeri pun tak diredupkan karena tak hanyut dalam kekecewaan kepada tokoh publik yang sering berubah secara tak terduga.

Sunday, September 18, 2011

Rubella (campak Jerman)

Rubella, umumnya dikenal sebagai campak Jerman, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. Nama "rubella" berasal dari'',''Latin yang berarti sedikit merah. Rubella juga dikenal sebagai campak Jerman karena penyakit ini pertama kali dijelaskan oleh dokter Jerman pada pertengahan abad kedelapan belas. Penyakit ini sering ringan dan serangan sering berlalu tanpa diketahui. Penyakit ini bisa berlangsung satu sampai tiga hari. Anak-anak sembuh lebih cepat daripada orang dewasa. Infeksi ibu oleh virus Rubella saat hamil bisa serius, jika ibu terinfeksi dalam 20 minggu pertama kehamilan, anak dapat lahir dengan sindrom rubella bawaan (CRS), yang memerlukan berbagai penyakit tak tersembuhkan yang serius. Aborsi spontan terjadi pada sampai 20% kasus.

Rubella adalah infeksi anak umum biasanya dengan kesal sistemik yang minimal meskipun arthropathy transien dapat terjadi pada orang dewasa. Komplikasi serius sangat jarang. Terlepas dari dampak infeksi transplasenta pada janin berkembang, rubella merupakan infeksi yang relatif sepele.

Acquired (yaitu tidak kongenital) rubella ditularkan melalui tetesan emisi udara dari saluran pernapasan atas kasus aktif. Virus ini juga dapat hadir dalam tinja urin, dan pada kulit. Tidak ada carrier: reservoir ada seluruhnya dalam kasus manusia aktif. Penyakit ini memiliki masa inkubasi 2 sampai 3 minggu.

Pada kebanyakan orang virus dengan cepat dihilangkan. Namun, mungkin bertahan selama beberapa bulan post partum pada bayi bertahan CRS. Anak-anak merupakan sumber signifikan dari infeksi pada bayi lain dan, lebih penting, ke kontak wanita hamil.

Nama''''rubella kadang-kadang bingung dengan''rubeola'', sebuah nama alternatif untuk campak di negara berbahasa Inggris, penyakit tidak berhubungan. Dalam beberapa bahasa Eropa lainnya,''''dan''rubela rubeola''adalah sinonim, dan''''rubeola bukan merupakan nama alternatif untuk campak.
Gejala Rubella

Setelah masa inkubasi 14-21 hari, gejala utama infeksi virus rubella adalah munculnya ruam (exanthem) pada wajah yang menyebar ke batang tubuh dan anggota badan dan biasanya memudar setelah tiga hari. Gejala lain termasuk demam ringan, pembengkakan kelenjar (limfadenopati leher rahim pasca), nyeri sendi, sakit kepala dan konjungtivitis. Kelenjar bengkak atau kelenjar getah bening bisa bertahan sampai seminggu dan demam jarang naik di atas 38 o C (100,4 o F). Ruam menghilang setelah beberapa hari tanpa pewarnaan atau mengupas kulit. Forchheimer tanda yang terjadi pada 20% kasus, dan ditandai oleh kecil, papula merah pada daerah langit-langit lunak.

Rubella dapat menyerang siapa saja dari segala usia dan umumnya merupakan penyakit ringan, jarang terjadi pada bayi atau mereka yang berusia lebih dari 40. Semakin tua seseorang adalah lebih parah gejala yang mungkin. Sampai dengan sepertiga anak perempuan lebih tua atau wanita mengalami nyeri sendi atau gejala jenis rematik dengan rubella. Virus ini dikontrak melalui saluran pernafasan dan memiliki masa inkubasi 2 sampai 3 minggu. Selama periode inkubasi, pembawa menular tetapi mungkin tidak menunjukkan gejala.
Rubella kongenital sindrom

Rubella dapat menyebabkan sindrom rubella bawaan pada yang baru lahir. Sindrom (CRS) mengikuti infeksi intrauterin oleh virus Rubella dan terdiri dari jantung, otak, mata dan cacat pendengaran. Hal ini juga dapat menyebabkan prematuritas, berat badan lahir rendah, dan trombositopenia neonatal, anemia dan hepatitis. Risiko cacat besar atau organogenesis tertinggi untuk infeksi pada trimester pertama. CRS adalah alasan utama vaksin untuk rubella dikembangkan. Banyak ibu yang terjangkit rubella dalam trimester kritis pertama baik memiliki keguguran atau bayi lahir masih. Jika bayi bertahan infeksi, itu bisa dilahirkan dengan gangguan jantung parah (PDA yang paling umum), kebutaan, tuli, atau kehidupan lain yang mengancam gangguan organ tubuh. Manifestasi kulit yang disebut "blueberry muffin lesi."
Rubella Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh virus Rubella, sebuah togavirus yang menyelimuti dan memiliki genom RNA beruntai tunggal. Virus ini ditularkan melalui jalur pernapasan dan bereplikasi di dalam nasofaring dan kelenjar getah bening. Virus ini ditemukan di dalam darah 5 sampai 7 hari setelah infeksi dan menyebar ke seluruh tubuh. Virus memiliki sifat teratogenik dan mampu melintasi plasenta dan menginfeksi janin di mana berhenti sel dari berkembang atau menghancurkan mereka.
Diagnosis Rubella

Rubella virus antibodi IgM spesifik yang hadir pada orang yang baru terinfeksi oleh virus Rubella, tetapi antibodi ini bisa bertahan selama lebih dari satu tahun dan hasil tes positif harus ditafsirkan dengan hati-hati. Kehadiran antibodi ini bersama dengan, atau waktu yang singkat setelah itu, karakteristik ruam menegaskan diagnosis.
Pencegahan Rubella

Infeksi Rubella yang dicegah dengan program imunisasi aktif menggunakan hidup, vaksin virus dinonaktifkan. Dua vaksin virus hidup dilemahkan, RA 27 / 3 dan strain Cendehill, yang efektif dalam pencegahan penyakit dewasa. Namun penggunaannya pada wanita prepubertile tidak menghasilkan penurunan yang signifikan pada angka kejadian keseluruhan dari CRS di Inggris. Penurunan hanya dicapai dengan imunisasi dari semua anak.

Vaksin ini sekarang diberikan sebagai bagian dari vaksin MMR. WHO merekomendasikan dosis pertama diberikan pada 12 sampai 18 bulan usia dengan dosis kedua pada 36 bulan. Wanita hamil biasanya diuji untuk kekebalan terhadap rubella sejak dini. Perempuan ditemukan rentan tidak divaksinasi sampai setelah bayi lahir karena vaksin mengandung virus hidup.

Program imunisasi telah cukup berhasil. Kuba menyatakan penyakit dihilangkan pada 1990-an, dan pada tahun 2004 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengumumkan bahwa baik bawaan dan diperoleh bentuk rubella telah dieliminasi dari Amerika Serikat.
Rubella Pengobatan

Tidak ada pengobatan khusus untuk Rubella, namun, manajemen adalah masalah menanggapi gejala untuk mengurangi ketidaknyamanan. Perawatan bayi baru lahir difokuskan pada pengelolaan komplikasi. Cacat jantung bawaan dan katarak dapat dikoreksi dengan operasi langsung. Manajemen untuk CRS mata mirip dengan yang untuk usia degenerasi makula terkait, termasuk konseling, pemantauan teratur, dan penyediaan perangkat low vision, jika diperlukan.
Rubella Prognosis

Rubella infeksi anak-anak dan orang dewasa biasanya ringan, membatasi diri dan sering asimtomatik. Prognosis pada anak yang lahir dengan CRS adalah miskin.
Rubella Epidemiologi

Rubella adalah penyakit yang terjadi di seluruh dunia. Virus ini cenderung ke puncak selama musim semi di negara dengan daerah beriklim sedang. Sebelum vaksin untuk rubella diperkenalkan pada tahun 1969, wabah biasanya terjadi setiap luas 6-9 tahun di Amerika Serikat dan 3-5 tahun di Eropa, sebagian besar mempengaruhi anak-anak dalam kelompok usia 5-9 tahun. Sejak diperkenalkannya vaksin, kejadian telah menjadi langka di negara-negara dengan tingkat penyerapan yang tinggi. Namun, di Inggris masih ada populasi besar orang rentan terhadap rubella yang belum divaksinasi. Wabah rubella terjadi antara laki-laki muda di Inggris pada tahun 1993 dan pada tahun 1996 infeksi itu ditularkan kepada wanita hamil, banyak dari mereka adalah imigran dan rentan. Wabah masih timbul, biasanya di negara-negara berkembang di mana vaksin ini tidak dapat diakses.

Selama epidemi di Amerika Serikat antara 1962-1965, infeksi virus Rubella selama kehamilan diperkirakan telah menyebabkan 30.000 kelahiran dan 20.000 anak masih akan lahir cacat atau cacat sebagai akibat dari CRS.

Imunisasi universal memproduksi tingkat tinggi kekebalan kawanan penting dalam mengendalikan epidemi rubella.
Rubella Sejarah

Rubella pertama kali dijelaskan pada pertengahan abad kedelapan belas. Friedrich Hoffmann membuat gambaran klinis rubella pertama tahun 1740, yang dikonfirmasi oleh de Bergen di 1752 dan Orlow pada 1758.

Pada tahun 1814, George de Maton pertama kali menyarankan bahwa hal itu dianggap suatu penyakit yang berbeda dari kedua campak dan demam berdarah. Semua dokter itu Jerman, dan penyakit ini dikenal sebagai Rötheln (dari nama Jerman''Röteln''), maka nama umum "campak Jerman". Henry Veale, bahasa Inggris Kerajaan bedah Artileri, dijelaskan wabah di India. Dia menciptakan nama "rubella" (dari bahasa Latin, yang berarti "merah kecil") pada tahun 1866.

Ini secara resmi diakui sebagai entitas individu dalam tahun 1881, pada Kongres Internasional Kedokteran di London. Pada tahun 1914, Alfred Fabian Hess berteori bahwa rubela disebabkan oleh virus, berdasarkan pekerjaan dengan monyet. Pada tahun 1938, Hiro dan Tosaka menegaskan hal ini dengan melewatkan penyakit kepada anak-anak menggunakan pencucian hidung disaring dari kasus akut.

Pada tahun 1969 vaksin virus hidup dilemahkan adalah berlisensi. Pada awal 1970-an, vaksin dilemahkan yang mengandung tiga campak, gondok dan rubella (MMR) virus diperkenalkan.

Wednesday, September 14, 2011

MARX, KAPITALISME dan KEPEMIMPINAN

Sekitar dua abad yang lalu, Karl Marx, seorang filsuf asal Jerman di abad 19, sudah meramalkan, bahwa kapitalisme akan mengalami masalah besar. Beberapa ramalannya tidak terjadi. Namun beberapa telah terjadi. Di dalam tulisannya Umar Haque (2011) memberikan beberapa catatan.

Ramalan Marx

Yang pertama Marx menyatakan, bahwa kapitalisme akan memiskinkan kaum buruh. Kaum buruh akan diperlakukan semata sebagai alat, dan akan diekspoitasi habis-habisan oleh para pemilik modal. Gaji akan tetap sementara harga barang-barang kebutuhan akan terus meningkat, dan situasi kerja akan semakin tidak manusiawi.

Inilah yang sekarang ini terjadi. Seperti dicatat oleh Haque, di negara-negara maju, pendapatan per orang hampir tidak bertambah. Sementara harga barang-barang produksi terus bertambah, dan hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang yang memiliki sumber daya ekonomi besar. Bukankah ini yang juga terjadi di Indonesia?

Krisis

Yang kedua Marx meramalkan, bahwa kapitalisme akan mengalami krisis, di mana jumlah barang produksi akan bertambah, sementara daya beli tidak berubah. Yang kemudian terjadi adalah orang-orang akan berhutang; hutang yang belum tentu bisa mereka bayar. Dalam skala global yang terjadi adalah krisis hutang global, seperti sekarang ini.

Marx menyebutnya dengan istilah yang bagus sekali, yakni “kemiskinan di tengah kumpulan orang-orang yang kaya.” Inilah yang sekarang ini terjadi di seluruh dunia. Seperti dicatat oleh Haque, tiga dekade belakangan ini, dunia ditandai dengan krisis global dalam bentuk produksi berlebih, yakni suatu situasi, di mana permintaan (karena lemahnya daya beli) jauh di bawah ketersediaan barang. Yang terjadi adalah orang lalu berhutang untuk menutupi kelemahan daya belinya.

Stagnasi

Yang ketiga Marx meramalkan akan terjadi stagnasi ekonomi, di mana keuntungan real akan berkurang, karena barang produksi tak laku terjual (lemahnya daya beli masyarakat). Ini pula yang sekarang terjadi.

Sekilas tampaknya Marx salah. Banyak perusahaan mendapatkan keuntungan besar. Namun seperti diingatkan oleh Haque, yang dimaksudkan oleh Marx adalah keuntungan real, bukan hanya sekedar kumpulan data angka yang sebelumnya telah dimanipulasi oleh para akuntan palsu. Inilah yang disebut sebagai keuntungan artifisial yang bertentangan dengan keuntungan real.

Di dalam konsep keuntungan artifisial, keuntungan dipandang sebagai nilai transfer, dan bukan penciptaan nilai. Artinya di atas kertas, nilai suatu perusahaan meningkat. Namun di dalam realitas, perusahaan tersebut tidak memiliki apa yang disebut Michael Porter sebagai nilai yang dirasakan bersama (shared value).

Hal ini juga berarti, tidak ada keuntungan real. Jika banyak perusahaan mengalami ini, maka yang sesungguhnya terjadi adalah stagnasi total. Ekonomi hanya seolahnya tampak maju, walaupun sejatinya stagnan, dan bahkan cenderung menurun.

Keterasingan

Yang keempat Marx juga menyatakan, bahwa kaum buruh, dan pekerja pada umumnya, akan mengalami keterasingan. Mereka terputus secara emosional dan eksistensial dari proses maupun hasil kerjanya. Mereka merasa tak memiliki hasil kerja kerasnya sendiri.

Bekerja lalu menjadi terpaksa. Karena mayoritas hidup manusia diisi dengan bekerja, maka manusia pun menjalani hidup dengan kering dan tak bermakna. Ia menjadi terasing dari pekerjaannya, dari lingkungannya, dan bahkan dari dirinya sendiri. Marx dengan jeli melihat situasi ini di dalam kehidupan kaum buruh abad 19.

Apakah analisis Marx masih berlaku untuk awal abad 21? Jawabannya adalah ya. Bahkan di perusahaan-perusahaan besar, yang memiliki fasilitas luar biasa mewah, situasi kerja seringkali menyesakkan dada. Banyak rapat menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan hasilnya seringkali mengecewakan. Tugas-tugas yang harus dijalankan seringkali membuat otak menjadi buntu, dan seringkali linu.

Target yang harus dicapai terkesan tidak realistis, dan membuat orang merasa tertekan. Tak heran banyak pekerja merasa terasing dengan pekerjaannya, lepas dari besar gaji maupun jenis perusahaan tempatnya bekerja. Orang menjadi terasing, merasa tak terlibat, moralnya menurun, tidak termotivasi, dan tidak ada inspirasi di dalam bekerja, maupun hidupnya.


Kesadaran Palsu


Yang kelima Marx juga berbicara soal kesadaran palsu, yakni suatu situasi, di mana orang tidak sadar, bahwa ia sebenarnya sedang ditindas. Di dalam masyarakat kapitalis, kata Marx, kaum buruh mengalami penindasan, tetapi mereka tidak merasakannya sebagai penindasan, dan bahkan merayakan penindasan itu.

Di dalam kajian psikologi, hal ini seringkali disebut sebagai sindrom Stockholm, yakni suatu situasi, di mana korban/tawanan merasakan empati pada pelaku kejahatan. Banyak kaum buruh membela tuannya, walaupun tuannya telah jelas-jelas bersikap tidak adil dan tidak manusiawi terhadap dirinya.

Fetisisme

Yang keenam Marx pernah menulis soal fetisisme komoditas. Obyek fetis adalah sesuatu yang telah dimaknai lebih dari sekedar simbol. Obyek itu diyakini memiliki kekuatan nyata, seperti pada simbol-simbol religius. Sekarang ini barang-barang konsumsi diperlakukan sebagai fetis; dinilai secara berlebih.

Barang-barang konsumsi “menjadi seperti jimat, disembah melalui pertukaran transaksional, dianggap memiliki kekuatan mistik yang memberinya nilai internal, dan salah mengartikan nilai benda itu..” (Haque, 2011) Apakah analisis Marx masih berlaku sekarang? Coba lihat antrian membeli HP, smartphone, ataupun tablet terbaru.

Seperti dicatat oleh Haque, kritik Marx terhadap kapitalisme masih amat relevan sekarang ini. Dan seperti diketahui banyak orang, solusinya adalah dengan melakukan revolusi, mengubah sistem, melenyapkan hak milik pribadi, dan semuanya akan beres. Tentu saja solusi ini tidak masuk akal, karena terlalu banyak korban dan ketidakpastian di dalamnya. Mungkin lebih bijak jika kita mempelajari analisis Marx saja, tanpa terlalu terpikat pada solusi yang diberikannya.

Jadi apa masalah sebenarnya? Mengapa ramalan Marx masih menjadi nyata di abad 21 ini?

Masalah Kepemimpinan

Masalah utamanya adalah kepemimpinan. Saya ingin mengajukan pertanyaan kecil, apa bedanya negara kita dengan negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara? Bedanya hanya satu. Kita memahami teori tetapi tidak menjalankannya, sementara negara-negara maju memahami teori, dan menjalankannya.

Supaya teori bisa dijalankan, bangsa kita butuh kepemimpinan yang kuat. Tentu saja ada banyak aspek yang perlu diperhatikan di dalam kepemimpinan. Saya hanya ingin menyoroti satu hal disini, yakni aspek elegansi di dalam kepemimpinan.

Elegansi kepemimpinan adalah salah satu aspek dari kepemimpinan yang berupa kemampuan untuk mengarahkan “emosi dan reaksi dengan cara yang tidak membuat semua pihak khawatir”, ketika keputusan penting harus dibuat.

Fokus Diri

Seorang pemimpin bukanlah Tuhan. Ia jelas memiliki kelemahan yang menghambat perkembangan diri maupun kelompok yang ia pimpin. Dalam situasi ini aspek elegansi didorong oleh kesadaran penuh, bahwa kepentingan organisasi lebih tinggi daripada kepentingan pribadi sang pimpinan. Kesadaran ini akan menuntunnya pada fokus diri, yang jelas amat diperlukan untuk memimpin.

Fokus pada apa? Jelas seorang pemimpin harus fokus pada tujuan keberadaan dari organisasinya; jangan campur adukan perusahaan dengan institusi pendidikan, ataupun institusi lainnya yang memiliki tujuan spesifik. Dengan memegang teguh tujuan dari organisasi yang ia pimpin, seorang pemimpin akan bisa terus fokus pada apa yang penting, terutama pada saat krisis melanda.

“Pikiran dan emosi anda akan secara alamiah tersambung pada tujuan yang penting, dan sebagai dampak sampingnya, anda akan melihat bahwa dorongan untuk takut dan panik berkurang banyak,” demikian tulis Menkes. Tujuan keberadaan suatu organisasi bukanlah formalitas belaka, tetapi justru menjadi pegangan untuk tetap bergerak di arah yang benar, ketika krisis melanda.

Bentuk nyata dari fokus diri adalah ketenangan hati. Bahkan di dalam krisis dan stagnasi yang sedang terjadi, senyum dan sapaan ramah bisa membawa dampak yang luar biasa besar bagi moral dan motivasi organisasi. Di dalam masa yang semakin tidak pasti, seperti yang diramalkan oleh Marx (dan terjadi), kemampuan untuk mempertahankan fokus diri pada tujuan yang terpenting, dan kemampuan memberikan inspirasi dari ketenangan hati tidak boleh terlupakan.

Marx boleh saja benar. Analisisnya tajam dan akurat. Namun solusi yang ditawarkan problematis di abad 21 ini. Revolusi beresiko besar dan memakan banyak sekali korban jiwa. Yang mungkin lebih tepat adalah merombak semua aspek kepemimpinan dari organisasi yang ada di dalam masyarakat kapitalis. Dengan mengasah dimensi kepemimpinan, kita bisa keluar dari krisis dan stagnasi global yang tidak hanya merusak dimensi ekonomi, melainkan juga moralitas dan eksistensi kita sebagai manusia.

Thursday, September 8, 2011

Ke Pemimpin An, Ke Putus AN, dan Ke Jernih an Jiwa

Setiap hari kita diminta membuat keputusan. Mulai dari hal kecil, seperti belok kiri atau kanan, sampai hal besar, seperti mau bikin rumah atau beli, dimana, berapa besarnya atau menentukan akan menikah atau tidak, jika ya lalu dengan siapa, kita diminta untuk memutuskan. Kadang banyak hambatan seperti tak cukup waktu, tak cukup data, tak cukup pengetahuan, dan sebagainya. Namun keputusan tetap harus dibuat.

Di dalam membuat keputusan, orang perlu memperhatikan jiwanya. Aspek material seperti sumber daya uang ataupun barang tetap perlu diperhatikan. Namun yang tak kalah penting adalah perhatian pada aspek gerak jiwa, terutama gerak jiwa para pemegang keputusan. Inilah yang sekarang ini kerap terlupakan.

Mekanisme Jiwa

Syarat pertama di dalam membuat keputusan adalah kebebasan. Dalam hal ini kebebasan selalu mencakup dua hal, yakni kebebasan dari tekanan eksternal, dan kebebasan batin. Kebebasan dari tekanan eksternal cukup jelas artinya, yakni tidak adanya paksaan dari luar diri. Sementara kebebasan batin memiliki arti yang sedikit lebih rumit.

Kebebasan batin berarti bebas dari empat hal. Yang pertama adalah bebas dari keinginan untuk melihat pola pada hal-hal yang sebenarnya tak berpola. Orang cenderung menghubungkan hal-hal yang sebenarnya tak berhubungan. Akibatnya ia terjebak pada kesalahan berpikir, dan akhirnya pada kesalahan bertindak yang amat mungkin semakin memperbesar masalah.

Yang kedua adalah bebas dari keinginan untuk tunduk pada pandangan umum. Orang cenderung mendengarkan pendapat orang lain yang tak selalu memahami keseluruhan konteks dari keputusan yang perlu diambil. Pandangan orang lain dan pandangan umum seringkali membingungkan dan tak tepat. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk sungguh berdiam diri, melakukan refleksi, lalu membuat keputusan berdasarkan pertimbangan diri dan situasi.

Yang ketiga adalah bebas dari emosi. Kemarahan dan kesedihan seringkali mendorong orang membuat keputusan terburu-buru. Masalahnya di dalam situasi marah dan sedih, pikiran tak jernih. Pikiran yang tak jernih kemungkinan besar bermuara pada keputusan yang salah.

Yang keempat adalah bebas dari prasangka. Tak jarang prasangka mengotori pandangan kita, dan membuat kita tak melihat realitas apa adanya. Prasangka bisa lahir dari pengalaman masa lalu yang kemudian di paksakan untuk saat ini. Prasangka mengaburkan pandangan dan menggiring kita pada kesalahan.

Keputusan tidak boleh hanya melibatkan aspek material semata, tetapi juga aspek spiritual. Saya tidak berbicara tentang agama, tetapi berbicara soal situasi jiwa. Keputusan yang tepat akan membawa ketenangan pada jiwa. Sementara keputusan yang salah akan membawa kegelisahan.

Di dalam latihan rohani ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yang pertama (ketenangan jiwa) disebut sebagai konsolasi. Sementara yang kedua (kegelisahan) disebut sebagai desolasi. Sekilas hal ini terlihat amat sederhana. Namun orang suka lupa menerapkannya.

Keputusan juga memerlukan komitmen. Jika keputusan sudah dibuat, maka orang punya tanggung jawab untuk menjalankannya, seberat apapun keputusan itu. Yang perlu dengan jeli diperhatikan adalah proses (material maupun spiritual) pembuatan keputusan. Jika sudah keputusan sudah jadi, jalankan, terima konsekuensi, lalu lakukan evaluasi.

Situasi Kita

Apakah para pemimpin kita di berbagai bidang sudah memperhatikan mekanisme jiwa di dalam proses pembuatan keputusan? Jawabannya jelas tidak. Banyak keputusan lahir dari rasa terpaksa, karena tekanan politik ataupun ekonomi. Akibatnya keputusan itu tidak menyelesaikan, melainkan justru memperbesar masalah.

Banyak pula keputusan lahir dari kesalahan berpikir. Hal-hal yang tak berhubungan dilihat seolah terhubung. Lalu kebijakan pun dibuat berdasarkan hubungan semu tersebut. Tak heran kebijakan itu justru melahirkan masalah-masalah baru yang sebelumnya tak ada.

Banyak pula keputusan lahir dari emosi yang tak stabil, maupun dari prasangka, baik itu prasangka etnis, ras, agama, maupun kelas ekonomi. Keputusan-keputusan yang lahir dari emosi tak stabil ataupun prasangka tak akan membawa kebaikan. Bahkan kesadaran bahwa banyak keputusan lahir dalam konteks emosi yang tak stabil dan prasangka pun belum ada. Kita berjalan menuju jurang, tanpa sadar, bahwa kita berjalan menuju jurang.

Para pemimpin juga tidak berupaya menyadari situasi jiwa, ketika mereka membuat keputusan. Proses berdiam diri dan berefleksi tak terjadi. Tidak ada kesempatan untuk melihat jiwa, merasakan ketenangan ataupun kegelisahan jiwa, yang sebenarnya amat penting di dalam membuat keputusan. Yang banyak terjadi adalah apa yang disebut Martin Heidegger sebagai gejala abad ke-20, yakni ketidakberpikiran.

Komitmen juga tak tampak. Berbagai undang-undang dan kebijakan dibuat, namun pelaksanaannya terhambat. Peraturan bertumpuk namun tak ada yang berniat memastikan penerapannya. Tanpa ada komitmen aturan dan kebijakan hanyalah kata tanpa makna.

Maka sekali lagi mekanisme jiwa adalah hal yang amat penting di dalam pembuatan keputusan. Para pemimpin dan pembuat keputusan harus menengok ke dalam dirinya sendiri, sebelum mempertimbangkan hal-hal material keputusannya. Di dalam jiwa terdapat visi jernih yang merupakan komponen esensial kepemimpinan. Di dalam jiwa terdapat nurani yang sekarang ini menjadi barang langka di Indonesia

Sunday, August 14, 2011

INDONESIA


"Refleksi Kepemimpinan Indonesia di
HUT RI ke - 66
"

Di Indonesia kita mengalami krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin di berbagai level tidak mampu melihat situasi, menganalisis, dan melakukan hal-hal yang penting untuk memperbaiki situasi. Mereka memiliki rasionalitas namun tak digunakan untuk memahami situasi yang ada. Inilah salah satu alasan, mengapa bangsa kita mengalami krisis di berbagai dimensi, mulai dari korupsi, konflik sosial, sampai terorisme.

Di sisi lain orang-orang yang menggunakan rasionalitasnya secara tepat ternyata tidak mampu berkomunikasi secara baik. Akibatnya ia tidak dikenali, tidak dipercaya, dan sulit untuk memimpin secara baik. Rasionalitas, dalam bentuk kemampuan memahami situasi dan bertindak secara tepat, di dalam kepemimpinan perlu untuk disampaikan dengan “bahasa” yang tepat, sehingga bisa dipahami, dan kemudian menumbuhkan kepercayaan.

Juga di Indonesia banyak pemimpin di berbagai level kepemimpinan tidak memiliki nilai-nilai luhur di dalam pikiran maupun tindakannya. Mereka berpikir dan bertindak untuk memenuhi kepentingan sendiri, ataupun golongan (partai?). Mereka juga tidak punya cita-cita tinggi untuk kepentingan pihak-pihak yang dipimpinnya. Karena kepemimpinan yang ada kacau, maka seluruh jajaran birokrasi dan praktek sehari-hari pun juga kacau.

Banyak pimpinan berbicara teknis, bukan dari hati. Apa yang bukan dari hati, tidak pernah akan menyentuh hati lainnya. Tanpa komunikasi antar hati, kepercayaan tidak akan tumbuh. Tak heran banyak orang sudah merasa tidak peduli dengan pelbagai krisis yang terjadi di Indonesia. Mereka mengurung diri dalam kepentingan pribadi, dan berputar tanpa arah di dalamnya.

Dan yang terakhir yang cukup jelas terlihat, banyak pemimpin di Indonesia tidak peduli dengan pihak-pihak yang ia pimpin. Mereka sibuk memperkaya diri ataupun kelompoknya. Mereka melihat diri sebagai penguasa yang lebih tinggi, maka harus dilayani dan dipuja puji. Tak heran kebijakan maupun keputusan yang mencerminkan kerakusan serta kebodohan, dan amat miskin kepedulian yang manusiawi.

Pola komunikasi mereka mencerminkan kedangkalan berpikir dan kedangkalan refleksi. Rasa tidak peduli terlihat bukan hanya dari kata yang keluar, tetapi juga dari mimik muka yang tampil ke depan. Rasa peduli adalah seni yang hilang (the lost art) di dalam praktek kepemimpinan di Indonesia. Yang tinggal tersisa adalah arogansi dan kedangkalan semata.

Kepemimpinan memiliki “bahasa” yang khas. Yang pertama adalah bahasa rasionalitas yang dikomunikasikan dengan keyakinan penuh ke publik. Yang kedua adalah bahasa otentisitas yang dipenuhi dengan nilai-nilai kehidupan serta cita-cita yang tinggi untuk kebaikan bersama, yang kemudian juga dikomunikasikan dengan penuh keyakinan ke publik. Dan yang ketiga adalah bahasa empati yang berisi rasa peduli setulus hati dan manusiawi kepada setiap orang. Rasa peduli yang ditunjukan dalam kegiatan sehari-hari.

“Bahasa” kepemimpinan inilah yang kita perlukan di Indonesia. Rasionalitas, otentisitas, dan empati haruslah disampaikan secara ramah dan dengan penuh keyakinan ke komunitas terkait, supaya tumbuh rasa percaya kepada pimpinannya. Dengan begitu ia akan diingat sebagai seorang pemimpin sejati, sekaligus guru yang perlu menjadi acuan, walaupun waktu dan peristiwa mengikis ingatan…..

Tuesday, August 9, 2011

Putra Mahkota

Oleh Komaruddin Hidayat
(rektor UIN syahida jkt)

www.funkymonkeybedrooms.co.uk

Alkisah, hidup seorang raja kaya raya dan dicintai rakyat, tetapi sudah mulai uzur sehingga harus menyerahkan takhta kerajaan kepada calon putra mahkotanya. Namun, raja ragu. Benarkah putranya sudah siap menerima tugas berat dan mulia itu?

Untuk menepis keraguan itu, Sang Raja ingin menguji putranya apakah layak dipercaya untuk memikul beban yang begitu berat sebagai calon penggantinya. Maka dipanggillah dia, dinasihati dan diberi tahu bahwa takhta kerajaan ini akan segera dilimpahkan kepadanya. Namun, sebelum itu, Sang Raja menyuruh putranya bersemadi dan tinggal di hutan setahun.

Tiba hari yang ditetapkan, berangkatlah putra mahkota itu dengan bekal dan pengawal sekadarnya. Dalam bulan-bulan pertama dia bingung. Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh ayahnya dan apa yang mesti dilakukan di hutan?

Maka, selain bersemadi, dia juga mengamati berbagai ragam pohon dan hewan penghuni hutan sehingga mengenal beragam buah-buahan dan rasanya. Dia pun mengenal aneka hewan dan suaranya serta jenis makanannya.

Putra mahkota tadi menghitung hari dan bulan, kapan saatnya kembali ke kerajaan menghadap ayahnya lalu dinobatkan di depan rakyat sebagai raja. Singkat cerita, setelah genap setahun, putra mahkota pulang dengan gembira, membayangkan pesta pengangkatan sebagai raja muda yang akan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik serta pengawal yang selalu melayani dan menjaganya.

Setiba di kerajaan, setelah istirahat dan beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan istana, ayahnya memanggil dan bertanya, ”Coba ceritakan kepadaku pengalaman apa yang kau dapatkan setelah setahun bermeditasi dan tinggal di hutan.” Putra mahkota menjawab dan menjelaskan panjang lebar tentang beragam tumbuhan dengan aneka ragam bunga dan buahnya serta rasanya. Selain itu, aneka ragam hewan, dari warnanya, makanannya, hingga suaranya.

Setelah selesai menceritakan pengalamannya dengan semangat dan panjang lebar, ayahnya berkata, ”Engkau mesti pergi lagi setahun tinggal di hutan. Aku belum yakin engkau akan mampu menerima amanat sebagai raja menggantikan diriku. Minggu depan engkau mesti pergi lagi.”

Dengan hati gundah dan pikiran bingung, putra mahkota pergi lagi ke hutan. Dia berpikir keras, apa yang kurang dan apa yang dikehendaki ayahnya sehingga dirinya mesti kembali lagi hidup di hutan. Sesampai di hutan dia melakukan meditasi dan perenungan kemudian mengisi hari-harinya dengan menikmati udaranya yang sejuk dan bau harum bunga serta mendengarkan suara berbagai hewan.

Pada tahun kedua ini, dia lebih jeli. Semakin tajam mata, telinga, dan intuisinya mengamati serta membaca apa pun yang ada di sekitarnya. Sampai-sampai dia mampu memahami bahasa hewan dan tumbuhan-tumbuhan serta isyarat alam. Bahkan, ia sudah mampu membaca tanda-tanda kalau akan terjadi bencana alam. Merasa sudah menyatu dengan alam, putra mahkota tadi semakin betah dan tidak berpikir lagi hendak pulang ke istana. Sampai-sampai setelah setahun berlalu, karena putranya belum juga pulang, sang ayah mengirim utusan untuk menjemputnya.

Banyak topeng di istana

Setelah cukup istirahat, Sang Raja bertanya kepada anaknya yang diharapkan menjadi peng- gantinya mengenai pengalaman apa saja yang didapat setelah dua tahun tinggal di hutan. Maka, sang anak pun bercerita panjang lebar bahwa pada tahun kedua tersebut dia semakin betah di hutan karena merasa telah menyatu dengan semua penghuni hutan. Bahkan, dia sudah memahami semua bahasa hewan, tumbuh-tumbuhan, air, api, serta angin.

Wajah sang ayah pun menjadi ceria karena merasa berhasil mempersiapkan calon pengganti raja. ”Ketahuilah anakku,” kata sang ayah, ”menjadi pemimpin itu harus mampu mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Mampu melihat apa yang tidak terlihat. Mampu membaca apa yang tidak tertulis. Kalau kamu sudah mampu membaca dan mendengarkan suara serta perilaku alam, itu merupakan modal besar bagimu untuk menjadi pemimpin di negeri ini.”

”Ketahuilah anakku,” tutur sang ayah, ”dari zaman ke zaman antara istana dan rakyat itu selalu terdapat tembok yang membatasi sehingga, jika kamu tidak memiliki ketajaman hati, pikiran, dan intusisi, kamu tidak akan memahami apa yang tengah dirasakan dan dipikirkan rakyatmu. Kamu tidak akan paham apakah rakyatmu mencintaimu atau membencimu.”

”Ketahuilah anakku,” ujar sang ayah lagi, ”istana itu ibarat gudang madu dan segala makanan yang enak, yang mengundang semut, tikus, dan berbagai hewan akan mendekat untuk ikut menikmatinya. Ingat dan pegang teguh pesanku ketika suatu saat kamu telah duduk menggantikan posisiku.”

”Tidak semua yang ada di sekelilingmu adalah teman setiamu karena teman sejati baru akan ketahuan ketika kamu menangis, ketika kamu dalam bahaya, bukannya ketika kamu senang-senang berpesta ria. Orang-orang di sekelilingmu akan selalu memuji kamu sehingga kamu jarang mendengarkan kritik serta kata tidak di istana ini.”

”Asah terus ketajaman mata, telinga, pikiran, dan kebeningan hati yang telah engkau latih selama kamu tinggal di hutan belantara karena di istana akan kamu temui orang-orang yang bertopeng sehingga kamu harus mampu membaca hati dan pikiran yang tersembunyi di belakangnya.”

Mendengar nasihat sang ayah, putra mahkota baru menyadari betapa orangtuanya sangat bijak serta sangat mencintai negeri dan rakyatnya. Di balik pakaian kebesarannya sebagai raja, ayahnya ternyata memiliki hati yang sangat lembut, yang mudah tersayat ketika melihat dan mendengar rakyatnya menangis karena sakit atau lapar.

Rupanya ayahnya juga sering mengenakan topeng, pergi menyamar mendengarkan obrolan rakyatnya dari dekat karena apa yang dilihat dan didengarkan di istana sangat jauh berbeda daripada realitas di luarnya.

Semoga puasa Ramadhan ini akan mempertajam kembali pancaran hati nurani kita, terutama bagi siapa pun yang hendak atau tengah memegang jabatan sebagai pemimpin di negeri ini.

Pendidikan Reflektif untuk Indonesia


Tujuan tertinggi hidup manusia adalah mencapai kebijaksanaan. Di dalam kebijaksanaan orang juga bisa mendapatkan kebahagiaan. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya jalan mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah dengan belajar seumur hidup, tanpa kenal lelah. Orang perlu menjadi mahluk pembelajar, supaya ia bisa mencecap kebahagiaan dan kebijaksanaan di dalam hidupnya.

Namun belajar pun ada banyak macamnya. Yang seringkali kita temukan adalah pola belajar menghafal, lalu menuangkan semua yang ada ke dalam ujian yang ada. Banyak ahli pendidikan yang sudah mengritik habis pola ini, namun percuma, karena pola itu tetap berjalan. Pola belajar semacam ini tidak hanya sia-sia, tetapi justru memperbodoh, dan membuat peserta didik menjadi robot-robot yang miskin kreativitas.

Yang kita perlukan adalah pedagogi pendidikan reflektif. Pedagogi ini tepat berkebalikan dengan pola menghafal. Yang diutamakan bukanlah banyaknya informasi, tetapi sedalam apakah informasi yang telah ada dianalisis dan dimaknai untuk sampai pada nilai-nilai luhur kehidupan. Inilah jalan yang perlu ditempuh, supaya pendidikan bisa membawa peserta didik menuju pada kebijaksanaan.

Pengalaman

Langkah pertama di dalam pedagogi reflektif adalah memperoleh pengalaman. Pengalaman adalah bahan mentah untuk proses analisis dan refleksi kehidupan. Tanpa pengalaman orang tak punya bahan untuk dianalisis maupun direfleksikan. Tanpa pengalaman hidupnya akan steril, dan semakin jauh dari kebijaksanaan.

Pengalaman bisa dua macam, yakni pengalaman langsung dan tidak langsung. Pengalaman langsung lahir dari peristiwa yang dialami langsung. Sementara pengalaman tidak langsung lahir dari mendengar atau membaca kisah orang lain. Keduanya amat berharga sebagai bahan mentah untuk proses analisis dan refleksi atas kehidupan.

Pengalaman juga tidak harus pengalaman yang besar. Pengalaman sehari-hari seperti berjumpa dengan teman pun bisa menjadi bahan analisis maupun refleksi yang mendalam. Yang diperlukan adalah kepekaan hati di dalam melihat serta mengalami beragam peristiwa yang ada. Hanya dengan begitu orang memiliki cukup “bahan mentah” untuk menjadi bijaksana.

Penting juga dicatat bahwa banyaknya pengalaman sama sekali bukan jaminan, bahwa orang itu bijaksana. Pengalaman yang berlimpah ruah, namun tak disertai proses analisis dan refleksi yang mendalam, tidak akan pernah berbuah menjadi butir-butir yang mengarahkan orang untuk menjadi bijaksana. Ia akan menjadi old fool, atau bahkan busy fool. Sebaliknya orang yang sedikit pengalaman, namun rajin melakukan analisis dan refleksi yang mendalam, akan lebih dekat ke arah kebijaksanaan, walaupun usianya mungkin saja masih muda.

Analisis

Langkah kedua adalah melakukan analisis atas pengalaman yang ada. Di dalam analisis orang diminta untuk mengajukan pertanyaan yang amat penting, yakni “mengapa” pengalaman tersebut terjadi pada saya? Dan mengapa pengalaman itu bisa ada? Pertanyaan “mengapa” adalah pertanyaan penelitian yang paling menarik, penting, sekaligus sulit untuk dijawab.

Misalnya orang memiliki pengalaman berjalan di pemukiman kumuh di tengah kota. Pada level analisis ia bisa mengajukan pertanyaan berikut, “Mengapa pemukiman kumuh ini bisa ada di tengah-tengah kota?” Pada level analisis peserta didik diajak untuk berpikir secara ilmiah menanggapi beragam fenomena kehidupan yang ada. Ia juga diajak untuk melihat gambaran besar dari berbagai peristiwa yang dialaminya.

Pada level analisis untuk bisa menjawab pertanyaan “mengapa”, orang perlu membaca dan berdiskusi secukupnya. Ia perlu mendapat masukan, guna bisa menganalisis secara tajam apa yang dialaminya. Hasil dari analisis adalah kesadaran diri yang bisa menuntun orang untuk semakin bijak bersikap di dalam hidupnya. Ia bisa menempatkan diri dengan pas di tengah berbagai fenomena kehidupan yang mengelilinginya.

Refleksi

Langkah ketiga adalah langkah yang terpenting, yakni proses refleksi diri. Pada langkah analisis orang masih menggunakan kekuatan intelektual untuk memahami gejala yang dialami. Ia menjadi seorang ilmuwan yang hendak berusaha memahami alam, natural maupun sosial, yang memang penuh teka teki. Namun pada level refleksi, pertanyaan berubah dari “mengapa” menjadi “apa makna peristiwa ini bagi perkembangan pribadi saya sebagai manusia?”

Pertanyaan tentang makna mengajak orang untuk mendalami pengalaman hidupnya. Pengalaman tidak lagi tinggal menjadi pengalaman, tetapi berubah menjadi nilai-nilai hidup yang menggerakan dirinya untuk menjadi semakin bijaksana. Ia mengalami perubahan hati dan pikiran di dalam hidupnya. Ia menjadi manusia baru yang juga melihat dunia dengan cara yang baru.

Proses refleksi adalah jantung hati pendidikan. Di dalam proses refleksi, pengalaman dan informasi yang diperoleh diubah menjadi nilai-nilai kehidupan yang menggerakan hati, pikiran, dan tindakan. Di dalam proses refleksi, seluruh proses pendidikan berubah menjadi proses yang penuh inspirasi dan kebijaksanaan. Kepekaan hati bertambah, daya analisis meningkat tajam, dan proses pembuatan keputusan menjadi jauh lebih tercerahkan. Itulah buah-buah proses refleksi di dalam pendidikan.

Aksi/Kreasi

Refleksi akan mendorong orang untuk berubah dalam hidupnya. Ia akan memiliki perilaku baru yang sebelumnya tak ada. Proses refleksi yang amat dalam akan mengubah orang sampai ke hatinya. Ia akan menjadi manusia baru yang lebih bijaksana.

Refleksi akan mendorong aksi. Aksi bisa berupa macam-macam hal, mulai dari perubahan hati, sampai proses kreasi. Ia akan mencipta sesuatu sebagai ekspresi dari kedalaman refleksi diri. Hasil ciptaannya biasanya terkait dengan profesinya, atau kemampuan yang tertanam di dalam dirinya.

Seorang guru yang melakukan proses refleksi secara mendalam akan mengajar dengan penuh hati dan cinta. Ia akan mengembangkan metode mengajar yang paling pas untuk anak didiknya. Ia akan menjadi guru yang inspiratif sekaligus teladan bagi kehidupan anak didinya.

Seorang dokter yang melakukan proses refleksi yang mendalam akan membantu orang di dalam sakitnya dengan hati, perhatian, serta pengetahuannya. Ia akan melayani dengan cinta, dan menghindari diskriminasi di dalam prakteknya. Ia tidak akan memeras uang dari orang yang tengah menderita. Ia tidak hanya menyembuhkan tubuh yang luka, tetapi juga menyembuhkan hati yang merindukan harapan.

Refleksi akan mendorong lahirnya tindakan. Tindakan akan menciptakan pengalaman. Pengalaman itu kemudian dianalisis, direfleksikan, dan akan melahirkan tindakan mencipta yang baru. Tindakan mencipta akan melahirkan pengalaman, dan begitu seterusnya. Inilah proses belajar reflektif yang perlu diterapkan di Indonesia.

Untuk Indonesia

Mengapa pola pendidikan reflektif ini amat penting untuk Indonesia? Saya setidaknya melihat tiga alasan utama. Pertama, pola pendidikan reflektif adalah pendidikan yang sesungguhnya. Pola ini tidak hanya mengedepankan aspek intelektual-menghafal semata, tetapi juga menghidupi, serta mengolah apa yang dipelajari menjadi nilai-nilai hidup yang utama. Pola ini membuat para peserta didik mengalami perubahan berpikir secara mendasar di dalam hidupnya.

Dua, dengan pola pendidikan reflektif, peserta didik tidak hanya diajarkan untuk menjadi pelayan dunia bisnis dan industri, seperti yang sekarang ini banyak terjadi di berbagai institusi pendidikan di Indonesia, tetapi juga menjadi manusia dalam arti yang seutuhnya. Ia dididik untuk menjadi well rounded person, yakni pribadi yang memiliki karakter kuat di dalam hidupnya, dan terampil di dalam profesinya.

Semua ini terjadi karena proses pendidikan dilakukan dengan pola analisis dan refleksi yang terus menerus, sampai peserta didik mampu melangkah untuk semakin bijak dalam hidupnya. Peserta didik bukanlah “tukang” yang hanya bekerja tanpa kreativitas dan cinta. Ia menjadi manusia yang bekerja dengan penuh cinta, hasrat, serta kreativitas yang berkobar-kobar untuk mengembangkan diri dan komunitasnya.

Jika setiap orang di Indonesia menerapkan pola belajar reflektif ini di dalam hidupnya, dan setiap institusi pendidikan menerapkan pedagogi reflektif di dalam kegiatan belajar mengajarnya, maka bangsa Indonesia telah berada di jalan yang benar untuk menjadi bangsa yang maju secara ilmu, teknologi, ekonomi, dan besar secara moral maupun hati nurani. Jadi tunggu apa lagi?***

Antagonis - Politik

Antagonis - Politik Faktor Penyebab Beberapa sebab utama dari krisis politik ini, yakni feodalisme, oligarki dan banalitas kejahat...